ISTRI PAJANGAN Bagian 85: Pembeli Aneh

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Siang itu, Zulaikha merencanakan sesuatu yang buruk buat Rihana.

Dengan memberi upah pada seseorang, dia memborong makanan yang dijual Rihana.

Tentu saja, Rihana senang dan merasa makanan yang dia jual, rasanya enak.

Di jam sepuluh itu, rumah makan Bintang milik Rihana, baru buka. Seorang perempuan muda, dilihatnya turun dari dalam mobil HRV.

“Mbak saya mau semua makanan yang ada di etalase. Bungkus semua dengan nasi sekalian,” sebut Sartika.

Rihana sedikit terperangah dengan pembeli pertamanya itu.

“Maksudnya Mbak?!” tanya Rihana sedikit bingung.

“Saya mau semua makanan yang ada di etalase ini,” ulang Sartika lagi.

Rihana masih bingung meresponnya.

“Semua?!” tanya Rihana ingin memastikan permintaan perempuan itu.

“Iya. Mbak ini nggak dengar ya?!” wajah Rihana memerah menahan emosi.

Rihana merasa perempuan itu gelagatnya nggak bagus. Tapi, bagaimana pun juga Rihana harus percaya apa yang dikatakan perempuan itu.

“Andai bukan pembeli pertama, sudah aku lempar ke wajah dia, sambel cabe rawitnya ini,” Rihana kesal.

“Mbak. Tapi ini masakannya dijamin bersih kan, proses memasaknya?” Sartika nyinyir saat mengatakan itu. Terkesan merendahkan.

“Maksud dia apa ya,” Rihana kesal.
“Mbak. Kalau nggak jadi beli, nggak apa-apa. Saya akan berikan makanan ini ke anjing. Karena, menurut pandangan saya, anjing lebih mulia dibandingkan kamu, Mbak?!” balas Rihana yang berniat balas dendam dengan kata-kata yang menyakitkan.

“Jangan kurang ajar kamu ya Mbak. Masih untung saya mau beli di warung murahan yang seperti ini,” celetuk Sartika dengan nada meninggi.

“Nggak jadi beli juga nggak masalah Mbak?!” balas Rihana yang terpancing emosi.

“Sombong banget. Baru juga rumah makan Padang murahan begini. Penjualnya sombong banget!” Sartika terus merendahkan Rihana.

Akhirnya Sartika pergi meninggalkan rumah makan Rihana.

BACA JUGA:  Banyak yang Tidak Percaya Kiki Amalia Melahirkan Secara Normal di Usia 42 Tahun

Tak lama, berselang satu jam kemudian, pembeli kedua yang kelakuannya sama seperti Sartika, datang.

Katanya, dia juga memborong makanan yang ada di etalase.

“Semua bisa dibungkus nggak Mbak ya?!” katanya sembari memeriksa makanan yang ada di etalase.

Rihana sedikit heran. Dia tak langsung menjawab pertanyaan perempuan itu.

Kenapa hari ini ada dua pembeli yang aneh kelakuannya.
Kasusnya sama persis seperti pembeli pertama, mau memborong dagangannya.

“Jangan-jangan dia ini komplotan yang cewek pertama datang tadi nggak ya!” batin Rihana.

“Mbak! Hallo!” katanya bertanya lagi pada Rihana.

“Oh bisa bisa banget. Mau berapa bungkus ya keperluannya?!” tanya Rihana.

“Awas aja kalau dia ini buat aku emosi seperti perempuan pertama itu!” batin Rihana sedikit masih menaruh rasa curiga.

“Pokoknya semua ini bisa nggak dibungkus?!” desaknya.

“Iya Mbak bisa. Tapi Mbak nya butuh berapa bungkus?!” pelan-pelan Rihana mulai emosi dengan ulah perempuan ini.

“Seharusnya Mbak ini bisa memperhitungkan makanan yang dipajang di etalase ini kalau dibungkus bisa jadi berapa bungkus. Eh ini malah ditanyain, nggak tahu?!” perempuan ini persis seperti komplotan cewek pertama. Kelakuannya seperti iblis.

Rihana diam. Tak lama Rihana akhirnya to the point menuduh kedatangannya ke rumah makan Rihana, punya niat buruk.

“Mbak sebenarnya kamu niat beli atau nggak. Atau memang niatnya hanya cari gara-gara di rumah makan saya?!” Rihana tak kuasa membendung emosinya.

“Penjual judes. Pembeli itu adalah raja. Seharusnya layani pembeli dengan baik. Ini malah dituduh yang macem-macem.” bantah perempuan aneh itu.

“Lebih baik kamu pergi aja Mbak dari rumah makan saya. Soalnya saya nggak berniat menjual makanan ini ke kamu! Masih banyak pembeli lainnya yang baik.” Rihana langsung mengusirnya.

Tanpa banyak berpikir lagi, pembeli aneh itu akhirnya angkat kaki dari rumah makan Rihana.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 86: Fera Minta Dibelikan Tiket PP

Malamnya, Rihana menceritakan kejadian aneh itu ke Cahyo.

Dia nggak habis pikir kenapa ada pembeli aneh di hari itu, sampai dua orang.

“Terus gimana ceritanya?!” tanya Cahyo penasaran.

“Aku usir mereka Mas. Aneh aja soalnya. Di hari yang sama, ada dua pembeli yang kelakuannya seperti iblis. Mereka menghina rumah makan aku, katanya tempat nya jelek lah. Makanannya murahan. Aneh kan….kalau memang mau beli makanan yang mahal-mahal kenapa juga mereka datang ke rumah makan aku?” cerita Rihana kesal.

“Ah biarin saja. Itu paling pembeli iseng buat ngerjain kamu. Supaya kamu emosi. Tapi ya sudahlah. Nggak usah dibahas. Tetap semangat dan abaikan saja hal-hal yang mengganggu.” ucap Cahyo memberi nasehat.

“Iya sih. Tadi aku benar-benar kepancing emosi. Terus aku usir saja mereka! Pembeli pertama awalnya bilang mau bungkus semua makanan yang ada. Terus dia tanya ke aku. Dijamin bersih nggak proses masak makanannya. Jadi, aku emosi. Pembeli aneh kan kalau seperti itu. Setelah emosi dan aku usir dia. Eh tak lama, sekitar sejam kemudian, datang lagi pembeli kedua yang sama anehnya seperti pembeli pertama.” jelas Rihana penuh emosi.

“Sudah. Nggak usah dibahas. Nanti energi negatifnya nggak pergi-pergi dari rumah makan itu. Biarkan saja. Lupakan kejadian tadi. Buat saja seolah-olah tak ada kejadian.” tambah Cahyo berusaha menenangkan istrinya.

“Oke Mas!” jawab Rihana mantap.


Di pagi ini, Rihana berharap dagangannya laris manis tanpa sedikit pun tersisa.

“Ya Allah laris kan dagangan aku.” pinta Rihana, berdoa dalam hati.
Rihana bersemangat buka usaha karena dapat dukungan dari Cahyo.

“Selamat Pagi Bu. Bisa nggak saya pesan makanannya, semua. Saya mau ada acara!” kata perempuan muda itu.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 82: Rihana Menangis di Depan Ka'bah

“Ya Allah. Aku baru buka. Jangan sampai ada kejadian seperti kemarin. Pembeli aneh yang bikin hati aku emosi,” batin Rihana.

“Seporsi nya berapa ya Mbak?” tanya pembeli itu.

“Lima belas ribu Mbak.” jawab Rihana bersemangat.

“Hah mahal banget!” protesnya.

“Ya ela Mbak. Hari gini apa-apa mahal Mbak. Nasi lima belas ribu itu sudah murah Mbak!” sebut Rihana.

Dia mulai sedikit curiga dengan gelagat perempuan itu.
“Datang pakai mobil bagus. Beli nasi lima belas ribu pun ditawar! Keterlaluan!” batin Rihana emosi.

“Biasa saya beli di langganan, ada porsi sepuluh ribu. Lauk ayam atau ikan, boleh.” jelas perempuan itu.

“Mohon maaf ya Mbak. Lebih baik mbak nya nggak usah beli di tempat saya. Soalnya mahal kan?!” Rihana kesal.

“Mbak ini aneh. Kita mau beli malah dilarang. Penjual aneh!” tukasnya.

“Mbak yang aneh. Kenapa harus beli di saya kalau memang mahal. Beli saja di langganan Mbak.” ucap Rihana serius.

Hingga akhirnya perempuan itu angkat kaki, dan meninggalkan rumah makannya.

Rihana geleng-geleng mengingat kejadian dia hari belakangan ini. “Sebenernya apa ini maknanya?!” Rihana bingung.

Dia kembali menceritakan kejadian itu pada Cahyo dan Cahyo tak ingin menanggapinya. Karena Cahyo tak ingin dia menyerap energi negatif dari cerita Rihana.

“Sudah jangan dibahas lagi. Kalau kejadian lagi, ya lupakan lagi,” pesan Cahyo penuh makna.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *