ISTRI PAJANGAN Bagian 89: Hadiah Kedua dari Cahyo

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sebuah truk pengangkut barang. Berhenti tak jauh dari ruko tempat kontrakan Rihana.

Ada beberapa perabotan rumah tangga yang diturunkan dari kendaraan yang terbuka bagian belakangnya itu.

Ada tetangga baru, pikir Rihana. Tapi dia syok berat setelah melihat kehadiran tetangga barunya itu ternyata Zulaikha.

Rihana menepuk jidatnya.
“Allahu Akbar. Cobaan apa lagi ini ya Allah. Kenapa dia harus pindah ke dekat kontrakan aku.” Rihana kesal.

Dia langsung memberitahu Cahyo yang sedang berada di kantornya. Cahyo baru saja satu jam yang lalu, berangkat ke kantornya.

“Mas. Lagi sibuk ya di kantor?!” tanya Rihana.

Rihana tak sabaran ingin segera menyampaikan soal kepindahan Zulaikha yang tinggal di dekat kontrakan ruko nya.

Lama tak ada jawaban. Apalagi, pesan Rihana hanya centang satu. “Jelas Mas Cahyo sibuk nih di kantor.” dada Rihana sesak. Serasa ditindih batu kali yang besar.

Ia tak habis pikir kenapa selalu saja Zulaikha mengganggu ketenangannya.

Kenapa juga Zulaikha mengekori kemana Rihana pergi.
Ribuan sumpah serapah buat Zulaikha rasanya tak cukup.

Setengah jam kemudian, Cahyo menelepon Rihana.
“Maaf sayang aku tadi rapat sebentar sama karyawan di kantor. Apa cerita nya perempuan brengsek itu!” kata Cahyo yang ikutan emosi.

“Aku nggak tahu lagi Mas gimana caranya menghalau dia. Rasanya aku sudah pakai seribu cara buat mengusir dia dari kehidupan kita. Tapi dia datang seperti zombi yang mengerikan!” Rihana kesal.

“Tenang sayang ya nanti kita cari solusinya. Aku akan usahakan bangun rumah kita yang di kebun rambutan itu selesai dalam waktu tiga bulan ke depan. Biar kita bisa cepat pindah dari sana!” kata Cahyo berusaha menenangkan hati Rihana.

“Iya Mas. Aku bingung Mas. Dia selalu saja mengganggu ketenangan kita,” keluh Rihana lagi.

BACA JUGA:  Kerap Kali Dikaitkan Dengan Kasus Dugaan TPPU, Raffi Ahmad Bingung

“Ya sudah. Tenangkan pikiran kamu dulu ya. Kalau perlu, rumah makanya tutup aja sementara. Kalau mau jalan-jalan, itu lebih bagus biar pikiran kamu fresh! Aku transfer Rp 2 juta ya buat jalan-jalan kemana, terserah kamu sayang!” ucap Cahyo, lalu tak lama dia mengakhiri perbincangannya dengan Rihana.

***
Tiba di rumah, Cahyo langsung minta maaf ke Rihana. Dia merasa bersalah atas hadirnya Zulaikha di tengah-tengah kehidupannya dan Rihana.

“Ri. Maafkan aku ya. Semua gara-gara aku.” kata Cahyo langsung memeluk Rihana.

Rihana sedikit bingung mau jawab apa. Tapi dia tak pernah menyalahkan Cahyo. Rihana mengutuk justru mengutuk perbuatan Zulaikha yang di luar batas.

“Kamu harus maafin aku ya Ri. Sumpah aku nggak pernah punya niatan berkhianat sama kamu. Aku benci Zulaikha.” Cahyo menangis.

Rihana baru kali ini mendengar permohonan maaf Cahyo, dan melihat air mata laki-laki itu mengalir membasahi pipi.

“Sudah Mas aku ikhlas dengan apa yang terjadi belakangan ini. Aku percaya sama kamu Mas.” ucap Rihana pelan.

Cahyo merasa bersyukur memiliki Rihana yang tak pernah menyalahkannya.

“Aku janji Ri, akan bahagiakan kamu,” ucap Cahyo lagi penuh makna.

Cahyo benar-benar merasa dia menjadi suami yang gagal karena tak bisa memberikan kenyamanan pada istri.

“Ri aku mohon ikhlas kamu sekali lagi ya. Aku bersalah atas semua yang kamu rasakan selama ini.” ucap Cahyo yang semakin erat memeluk Rihana.

“Kumohon kamu jangan punya prasangka buruk ya sama aku. Sumpah demi Allah aku sudah melupakan Zulaikha sejak dia mengkhianati aku.” tegas Cahyo lagi masih memeluk tubuh Rihana.

Cahyo takut kehilangan Rihana. Cahyo takut Rihana akan menuduhnya yang macem-macem.

“Iya Mas. Aku percaya penuh sama kamu,” kata Rihana berusaha meyakinkan Cahyo.

***
Keesokan harinya, di jam istirahat kantor, Cahyo memberikan kejutan indah buat Rihana.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 38: Pindah ke Villa

Dia menyerahkan amplop putih. Amplop itu nggak tebal. Rihana mengira itu isinya uang. Ternyata sebuah kwitansi pembayaran tanah kavling berukuran 40 x 80 meter per segi, yang telah dibeli Cahyo.

Tanah kavling itu adalah lokasi yang bakal dibangun rumah oleh Cahyo.

Cahyo menepati janjinya. Setelah umroh, dia akan membangunkan istana buat Rihana.

Lama Rihana membolak-balikkan amplop itu.
“Ini apa Mas isinya?! Uang gaji kamu? atau bonus dari kantor?!” Rihana masih belum mau membuka amplop putih itu sebelum Cahyo menyebutkan apa isi dalamnya.

“Buka aja sayang!”
kata Cahyo yang tak sabaran ingin melihat reaksi Rihana saat melihat kwitansi itu.

“Iya tapi apa?!” Rihana masih penasaran menanyakan apa isinya.

“Udah buka aja nanti tahu apa isinya?!” desak Cahyo.

Pelan-pelan Rihana membuka sisi amplop yang sengaja masih tertutup rapat itu.

“Hati-hati ya bukanya.” pesan Cahyo.

Rihana deg-degan membukanya.
Hingga akhirnya Rihana mengetahui bahwa amplop itu berisi kwitansi pembayaran tanah kavling yang luas banget.

Sudah Terima Pembayaran Uang Tanah Kavling dari Tuan Cahyo.
Luas lahan 40 x 80 meter per segi.
Tapi harganya sengaja dicoret Cahyo. Ia tak ingin Rihana protes soal harga tanah kavling itu.

Usai membaca kwitansi itu, Rihana menghambur memeluk Cahyo. Seperti bocah yang kegirangan karena dibelikan sepeda sama papa nya.

“Mas makasih yaaaa!” pekik Rihana.
“Ya Allah……kamu banyak banget ngasih hadiah aku. Kemarin Umroh. Sekarang tanah kavling yang sebentar lagi jadi istana kita.” Rihana benar-benar merasa beruntung telah mendampingi Cahyo.

Dia benar-benar dijadikan ratu sama Cahyo.

“Mas aku nggak bisa balas kebaikan kamu. Hanya Allah yang balas ya,” ucap Rihana yang tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Dia tak bisa menahan air matanya.

Karena, baru sekarang dia merasa jadi istri yang dihargai oleh suami. Dimuliakan dan dianggap berharga.

BACA JUGA:  Netizen Sebut Natasha Rizky Belum Move on Karena Unggah Foto Kenangan Bersama Desta

Cahyo pun berusaha mengusap bulir-bulir air mata Rihana yang satu per satu membasahi pipinya itu.

“Sudah. Jangan bersedih sayang. Dibelikan tanah kavling harusnya ketawa. Ini malah mewek. Aduh. Nanti Gilang dan Riko tahu mamanya mewek, dikira kena KDRT.” goda Cahyo pelan.

“Iya Mas makasih ya. Allah yang balas semua kebaikan kamu buat aku dan anak-anak.” ucap Rihana masih terharu dengan hadiah tanah kavling itu.

“Sudah…… ayo ketawa yang kuat. Hahahahah!” Cahyo malah mengajarinya ketawa.

“Ih apaan sih!” Rihana pun tersenyum.

“Eh maaf ya aku nggak bilang-bilang soal tanah kavling itu. Soalnya aku mau ngasih kejutan buat istri tercinta. Kalau dikasih tahu kan nggak seru.” cerita Cahyo.

“Besok yuk kita lihat lokasinya. Biar kamu senang. Secepatnya akan aku mulai pembangunannya.

“Nanti aku cari tukang nya dulu ya. Tolong awasi ya sayang nanti kalau sudah dibangun rumahnya. Kan soalnya aku sibuk di kantor. Jadi kamu ya jadi wakil mandor,” sebut Cahyo penuh antusias.

“Oke siap Abang Mandor. Aku akan awasi kerja para tukangnya. Biar cepet selesai dan kita bisa segera menempatinya,” ucap Rihana penuh syukur.

“Mas tapi aku mau ada syukuran kecil sebelum dimulai pembangunannya. Biar semua berjalan lancar sampai selesai.” pinta Rihana.

“Atur saja Nyonya Cahyo. Itu hak penuh kamu!” ucap Cahyo menyerahkan semuanya pada Rihana.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *