Bintan, Posmetrobatam.co: Orang-orang yang telah lama tinggal di Tanjungpinang, Kota Gurindam Negeri Pantun, pasti tak asing lagi jika ada yang menyebut nama Lorong Bintan. Lorong Bintan ini, tepatnya berada di Jalan Bintan.
Lorong ini, banyak menyimpan seribu satu cerita tentang kehidupan perempuan-perempuan malam. Di lorong Bintan ini juga, banyak bangunan tempo dulu, yang sudah ditinggal pemiliknya. Meski demikian, beberapa bangunan lama yang ada di sana, masih berdiri kokoh.
Sementara itu, Jalan Bintan sendiri, beberapa aktivitas perdagangan masyarakat, kedai kopi, dan toko-toko di kawasan kota lama ini, terlihat cukup aktif. Kuliner di Jalan Bintan yang paling terkenal adalah mie lendir. Jejak budaya masyarakat Melayu dan Tionghoa, berbaur disana.
Mereka hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Lalu, apa yang menarik dari cerita di Lorong Bintan? Lorong Bintan dikenal orang sebagai gang sempit dan rumah-rumah tua banyak ditinggal pemiliknya. Lorong Bintan begitu dikenal dengan cerita kehidupan perempuan-perempuan malam.
Pagi itu, Senin (28/9) jam 10.00 WIB. Matahari Kota Tanjungpinang tak terlalu terik. Beberapa kendaraan roda empat terlihat berderet parkir di sepanjang jalan, bagian sisi kiri jalan yang hanya satu arah itu.
Sementara, Arif (bukan nama sebenarnya), pria setengah baya, juru parkir Jalan Bintan itu tampak duduk santai, di salah satu emperan toko. Kata Arif, saat pagi hari sampai menjelang sore, aktifitas di jalan Bintan ini tampak biasa saja.
“Kalau siang, suasananya biasa saja. Coba lihat waktu malam. Pasti ada yang berbeda. Banyak cewek-cewek dengan dandanan menor, pakai baju sexy, berkeliaran di sini. Ini, sudah terkenal dari dulu. Terutama saat malam minggu. Bentuknya macam-macam. Mau yang manis, gendut, pendek, atau bahenol tinggal pilih, asal cocok harga,” cerita Arif, sambil terkekeh.
Malam itu, jelang pukul 20.00 WIB. Posmetrobatam.co, kembali menelusuri jalan Bintan. Aktivitas di Jalan Bintan perlahan mulai lengang. Pemilik toko dan kedai kopi, sudah menutup tempat usaha mereka.
Tapi, beberapa kendaraan masih silih berganti, parkir di kawasan Jalan Bintan ini. Juru parkir disana juga sudah berganti orang. Namun, di sebuah gang sempit, Lorong Bintan, kehidupan malam justru mulai bergerak.
Di depan sebuah rumah sederhana, beberapa perempuan mulai menampakkan diri. Mereka duduk dalam suasana temaram, sembari sesekali memperhatikan orang yang melintas di lorong.
Mereka disebut sebagai perempuan pekerja malam yang sebagian besar bekerja secara freelance. Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal Berdasarkan informasi yang dihimpun, terdapat sekitar empat kamar yang disediakan oleh seorang pengelola yang biasa dipanggil Aak (nama samaran).
Kamar-kamar tersebut digunakan ketika terjadi transaksi antara perempuan dan pelanggan. Tarifnya berkisar Rp120 ribu hingga Rp150 ribu untuk sekali kencan singkat. Dari setiap penggunaan kamar, pengelola mendapatkan setoran atau uang sewa sekitar Rp25 ribu.
“Pria-pria yang datang ke Lorong Bintan, biasanya sudah banyak yang tahu, berapa harus bayar tarif untuk mendapatkan layanan esek-esek satu jam itu. Kebanyakan orang kerja kapal yang singgah di lorong Bintan ini,” sebut Ujang (bukan nama sebenarnya) yang mengaku sebagai perantara para pria-pria pekerja kapal dan perempuan-perempuan malam Lorong Bintan.
Untuk keseharian Ujang sendiri, mengaku sebagai sopir angkot. Katanya, kalau ada pekerja kapal yang kebetulan singgah di Tanjungpinang, dan butuh wanita penghibur, Ujang langsung menawarinya dengan membawa pria-pria pekerja kapal itu, menuju Lorong Bintan.
Lumayan, kata Ujang, dia dapat fee, setelah mengantar pekerja-pekerja kapal itu. Di luar kamar, malam terus berjalan Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin hanya sebuah lorong kecil di tengah permukiman.
Tetapi bagi mereka yang bekerja di sana, lorong tersebut menjadi tempat mencari penghasilan. Sebagian perempuan yang bekerja secara freelance disebut tidak menetap di lokasi. Ada yang tinggal di Tanjungpinang, ada yang datang dari Batam dan Tanjung Balai Karimun.
Ketika dini hari tiba, lorong Bintan kembali senyap. Perempuan-perempuan itu satu per satu meninggalkan tempat tersebut. Lampu-lampu rumah mulai redup. Lorong yang sejak malam menjadi saksi aktivitas mereka kembali seperti biasa.
Terakhir, sebagai penutup cerita, Ujang bisa tahu, soal penghasilan perempuan-perempuan freelance itu. “Mereka, semalam bisa mengantongi uang Rp500 ribu sampai Rp1 juta, setelah dipotong biaya sewa kamar setiap melakukan transaksi dengan pelanggan,” sebut Ujang meyakinkan.
Di sisi lain, ada yang unik dari cerita lorong Bintan. Salah satu rumah yang tak jauh dari bisnis yang dikelola Aak, diketahui pernah terbakar dan meninggalkan bangunan yang tidak lagi utuh.
Di antara rumah-rumah dengan bekas arang dan bagian bangunan yang rusak itu, aktivitas malam Lorong Bintan tetap berlangsung. Kini, bekas bangunan yang pernah dilalap si jago merah pada awal 2026 itu, mulai dibenahi.
Garis police line dilepas Dua pria yang mengaku dapat job membersihkan puing-puing bekas kebakaran itu, terlihat fokus mengangkat sampah dan juga kusen-kusen pintu dan jendela yang bekas terbakar itu, ke salah satu sudut pekarangan rumah.
Menurut Ujang, rumah bekas kebakaran itu, bakal difungsikan lagi oleh pemiliknya. Katanya, biar Lorong Bintan semakin menyala di malam hari. Apalagi, cewek-ceweknya yang pernah freelance di sana juga sudah tak sabaran ingin kembali melancarkan aksinya di rumah itu, seperti dulu lagi.(aiq)













