Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Rihana tak kuasa menahan linangan air matanya, saat dia, Riko dan Cahyo, tiba tepat di hadapan megahnya Ka’bah, bangunan hitam itu,
Bangunan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya, akan dia datangi bersama lelaki yang dia cintai.
Suaranya tercekat, saat dia jujur mengatakan apa yang ada di dalam relung jiwanya yang paling dalam.
“Terimakasih Allah, Engkau telah mengirimkan laki-laki di sampingku ini, jadi pendampingku dunia akhirat.”
Ribuan doa yang selama ini dia simpan rapat-rapat di benaknya, kini dia ungkapkan, di depan Ka’bah, bersama linangan air mata yang tak terbendung lagi.
“Ya Allah, tanpa Engkau kirimkan dia ke hidupku, aku tidak akan sampai ke rumah-Mu ini…..,” ucap Rihana dalam tangisnya.
“Terimakasih ya Allah Engkau telah mengundang hamba, datang ke rumah-Mu, bersama laki-laki yang telah engkau kirimkan dia dari surga.”
Begitu juga Cahyo, di depan Ka’bah, Cahyo bersyukur, mengakui dengan sepenuh hati, dan berterimakasih kepada Allah, karena telah mengirimkan Rihana, bidadari dari surga, yang selama ini dia dambakan.
Di depan Ka’bah, Cahyo . Me-langitkan doa-doa
“Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu, jadikan perempuan di samping hamba ini, sebagai cinta terakhir hamba, untuk menuju ke surga-Mu.” Cahyo juga terlihat tak bisa menahan air matanya.
“Hamba berjanji ya Allah, akan selalu menjaga hati dan perasaannya. Hamba berjanji, akan selalu menyayangi dia dengan tulus dan sepenuh hati,” bibir Cahyo bergetar mengatakan itu.
Kalimat itu adalah janji suci yang diikrarkan Cahyo, dengan sepenuh hati, di hadapan sang pemilik takdir.
Rasanya, Cahyo dan Rihana tak ingin beranjak dari bangunan megah itu. Mereka berdua, ingin terus memanjatkan ribuan doa-doanya, sampai mereka benar-benar merasakan lelah dan tak berdaya.
Di kamar hotel tempat bermalam di tanah suci itu, rasanya Rihana tak ingin memejamkan mata.
Dia ingin terus berdoa, mengadukan banyak hal pada sang pencipta.
“Mas….terimakasih ya, kamu berusaha menjadikan aku sebagai perempuan yang paling beruntung dunia akhirat.” ucap Rihana lirih.
“Aku juga, Rihana. Merasa beruntung, Allah telah mengirimkan bidadari dari surga, untuk aku. Kamu bidadari yang aku dambakan selama ini,” ucap Cahyo, dan Rihana merasa tersanjung dengan kalimat yang diucapkan Cahyo itu.
“Jujur, entah kapan aku akan menginjakkan kaki di rumah Allah ini, kalau bukan karena aku jadi istri kamu.” ucap Rihana lagi. Kali ini dia terisak. Air matanya tiba-tiba mengalir membasahi pipi.
Kata Cahyo, semuanya sudah ditakdirkan oleh-Nya. Manusia hanya menjalani perannya. Termasuk aku, berperan jadi suami kamu, meski aku datang ke hidupmu, terlambat.” Cahyo mengukir senyum tipisnya untuk Rihana.
Setelah dua pekan di tanah suci, Rihana, Riko dan Cahyo harus bertolak ke Indonesia.
“Mas……aku masih ingin disini.” kata Rihana sembari tersenyum kecil.
“Boleh. Tapi jangan bilang rindu ya sama aku. Soalnya aku dan Riko akan balik ke Indonesia duluan,” canda Cahyo.
“Ih seriusan ini Mas. Rasanya aku ingin berlama-lama disini, berdoa setiap hari di depan Ka’bah, supaya Allah beri aku kebahagiaan dunia akhirat.” ucap Rihana serius.
“Iya. Boleh banget tinggal disini. Terus yang masakin aku di rumah, siapa?” Cahyo pasang wajah memelas.
“Hmmm. Iya….juga ya. Hehehehe. Maaf ya kalau begitu. Terpaksa deh aku harus ikutan balik barengan Pak Suami aku ini!” Rihana terpaksa ikut balik ke Indonesia bareng Riko dan Cahyo.
Akhirnya, mereka bertiga pulang, balik ke tanah air.
Untuk sementara waktu, mereka bertiga kembali bermalam di hotel, saat tiba di Indonesia.
Karena, rumah mereka belum ada. Meski demikian, Rihana dan Cahyo tetap bersabar.
“Besok pagi kita gerak ya cari kontrakan,” ucap Cahyo.
“Iya Mas. Aku ikut aja apa kata kamu,” sebut Rihana pasrah. Sejujurnya Rihana merasa bersalah, karena harus keluar dari rumah kontrakan yang baru ditempati kurang lebih dua Minggu itu.
“Maafkan aku ya Mas. Ini gara-gara aku,” sebut Rihana, sedih.
“Sudah. Nggak boleh dibahas, apa yang sudah terjadi, ya biarkan saja. Allah akan berikan kita jalan keluar dari masalah yang kita hadapi. Tinggal cari kontrakan yang baru, gampang kan?!” ucap Cahyo, berusaha membuat Rihana tak merasa bersalah.
Kata Rihana dalam hati, Cahyo memang benar-benar seperti malaikat.
Kebaikan Cahyo, sepertinya tak akan pernah dia temukan pada pria manapun.
“Udah yuk kita cari hotel di sekitaran sini saja,” ucap Cahyo santai.
Riko usul, sesuai dengan kata-kata Cahyo, dia harus cari hotel yang lokasinya dekat dengan rencana tempat sekolah Riko.
“Iya Riko, papa akan usahakan ya. Tenang saja Riko,” kata Cahyo lagi.
“Nanti, pokoknya Riko bakal dekat dengan sekolahan.” ulang Cahyo meyakinkan Riko.
Tak terlalu jauh, dari hotel tempat mereka menginap, Cahyo menemukan sebuah ruko yang disewakan pemiliknya.
“Mas. Gimana kalau kita sewa ruko saja. Nanti sekalian aku buka usaha,” usul Rihana penuh antusias.
“Eits. Istri aku nggak boleh banting tulang cari uang. Istri harus duduk santai, dan melayani suami dengan manis.” kata Cahyo.
Rihana terdiam. Tapi, dia ingin mengatakan kalau dia ingin membantu suami.
“Hmmm. Boleh kalau mau bantu suami. Bahkan dibolehkan sekali sama Allah. Tapi, bantu nya itu bantu doa,” Cahyo menjelaskannya bak ustad.
“Istri itu harus dimuliakan,” kata Cahyo lagi.
“Oh ya?!” Rihana pura-pura keki.
“Ih. Aku telan bulat-bulat baru tahu rasa.” canda Cahyo.
“Eh iya Rihana. Mas mau tanya ini? Seriusan kamu pengen tinggal di Ruko itu?” Tanya Cahyo sembari menunjuk Ruko yang ditulisi disewakan itu.
Rihana menganggukkan kepalanya.
Jujur dia mengaku ingin jualan makanan buat mengisi waktu luang saat Riko dan Cahyo tak di rumah.
“Kalau Riko sekolah, dan Mas Cahyo mulai aktif ngantor, jelas di rumah aku akan kesepian,” ucap Rihana berusaha meyakinkan Cahyo.
Cahyo merasa apa yang dikatakan Rihana benar. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menyewa Ruko itu.
Katanya lagi, Cahyo memberi kebebasan pada Rihana. Mau jualan atau mau apa saja, terserah. Intinya, Cahyo hanya ingin Rihana bahagia, dengan melakukan apa yang dia sukai.
“Ya sudah sayang kalau begitu. Kalau mau jualan, ya terserah saja. Nanti Mas beri modal secukupnya buat memulai usahanya ya,” ungkap Cahyo serius.
“Serius Mas?” Rihana heran dan kegirangan mendengar Cahyo mengabulkan keinginannya untuk buka usaha makanan.
“Mas.. beneran aku terharu hari ini. Kita baru balik umroh. Terus kamu mau kasih aku modal. Ya Allah. Aku harus mengucapkan terimakasih dengan cara apa lagi ya. Jujur aku nggak bisa balas Mas kebaikan kamu!” ucap Rihana bahagia.
“Apaan sih suami istri mau balas-balasan soal balas Budi?” Cahyo melepas tawa.
“Ya sudah kalau mau usaha, rancang aja sayang. Kan tinggal bilang butuh modal berapa. Nanti Mas siapkan buat kamu,” ucap Cahyo semakin buat Rihana bahagia.
Tak lama Rihana pun memeluk erat Cahyo, sebagai ungkapan rasa bahagianya dan rasa syukurnya.(*)













