ISTRI PAJANGAN Bagian 88: Zulaikha Terus Mengejar Cahyo

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sesuai jadwal yang disusun Zulaikha, hari ini adalah peresmian gerai kuliner miliknya.

Waktu menunjukkan pukul 08.00 wib. Sejumlah tamu undangan mulai berdatangan.

Zulaikha berharap, Cahyo akan hadir di acara itu.

“Mas kamu hadir kan di acara aku?!” tanya Zulaikha, lewat chat pesan singkat ponselnya.

“Sial pesan itu centang satu.” Zulaikha mulai tak tenang. Dia terlihat mondar-mandir di tengah kedatangan para tamu-tamu VIP dan VVIP nya itu. Dia tak henti terus mengawasi rumah makan Rihana yang sudah buka sejak jam 07.00 wib itu.

“Mana nih nomor ponsel dia nggak aktif. Mungkin nomor aku diblokir lagi,” pikir Zulaikha yang mulai terlihat gusar.

Zulaikha pun terpaksa mengganti nomor ponselnya dengan nomor yang baru.

Dia kembali mencoba mengkonfirmasi Cahyo, agar hadir ke acaranya.

“Mas…..kumohon kali ini kamu hadir ya di acara aku?!” pinta Zulaikha pada Cahyo.

Beberapa detik kemudian, dia melihat pesannya itu terkirim.
Zulaikha sedikit lega melihat pesannya itu centang biru.

Meski pesannya terbaca oleh Cahyo, pesan Zulaikha tak dibalas.

“Sombong banget kamu Mas Cahyo. Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu nanti. Aku nggak akan lelah berjuang untuk menaklukkan kamu!” batin Zulaikha kesal.

Kursi yang disediakan untuk tamu undangan, hampir penuh. Zulaikha pun meminta pada MC, segera memulai acara peresmiannya.

Dimulai dari acara tari persembahan. Selanjutnya, kata sambutan dari Zulaikha, selaku owner gerai kuliner Bintang.

Zulaikha sengaja menamai bisnisnya, sama dengan nama usaha rumah makan yang sedang dijalankan Rihana. Gerai Kuliner Bintang.

Saat sang pembawa acara menyebut bisnis Zulaikha dengan nama Gerai Kuliner Bintang, Rihana mendadak emosi.

“Apa maksudnya coba! Buka usaha di dekat area usaha aku. Lalu menamai bisnis nya dengan nama Gerai Kuliner Bintang! Sinting kali dia ya!” gerutu Rihana.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 58 : Setelah Gagal, Rihana Dilamar Lagi

Cahyo yang mendengar itu juga terlihat emosi. Tapi dia pura-pura cuek. Bahkan, Cahyo lebih mementingkan keluar dari rumah, agar tak menyaksikan prosesi peresmian gerai milik Zulaikha itu.

“Maaf ya aku ada rapat di kantor. Jadi jaga hati dan pikiran kamu ya sayang. Jangan kepancing emosi soal Zulaikha.” ucap Cahyo, mengingatkan sang istri.

Rihana menganggukkan kepalanya. Tak lama, Cahyo buru-buru pergi meninggalkan rumahnya.

Zulaikha gerak cepat, saat melihat Cahyo hendak masuk ke mobilnya.

“Mas tunggu!” teriak Zulaikha.

Bersamaan dengan itu, Rihana juga gerak cepat mendekati Cahyo.

Rupanya gerakan Rihana lebih gercep. Dia berhasil menghalangi Zulaikha yang berusaha ingin mendekati Cahyo.

“Kamu ini perempuan nggak punya harga diri ya. Mengejar-ngejar suami orang, di tempat umum seperti ini. Kamu juga nggak punya otak, buka usaha di dekat area rumah makan aku. Dimana akal sehat dan otakmu kamu letakkan. Di dengkul ya!” Rihana emosi, hingga meluapkan semua uneg-uneg yang ada di hatinya itu.

Cahyo, langsung menarik tangan Rihana, masuk ke mobilnya.
“Sayang. Kita pergi aja dari sini.” ajak Cahyo.
“Tunggu. Perempuan murahan ini harus dikasih pelajaran!” kata Rihana sembari menepis tangan Cahyo.

Cahyo pun tak bisa menghentikan Rihana yang tiba-tiba tersulut emosi itu.

“Apa perlu aku umumkan di acara ini, kalau kamu itu pelakor kelas kakap. Berusaha merebut suami aku!”
“Hei perempuan udik. Siapa yang mau merebut suami kamu. Aku itu, niatnya hanya mengundang suami kamu, ke acara aku. Nggak lebih dari itu?!” kata Zulaikha mencari pembelaan diri.

“Kamu nggak perlu undang dia. Suami aku nggak butuh kamu undang! Acara sampah. Suami aku nggak akan sudi kamu undang. Paham kamu sampai disini?! bentak Rihana lagi, penuh emosi.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 70: Fera Minta Dibelikan Sepeda Lipat

“Sombong banget kamu Rihana. Lihat saja nanti! Aku akan rebut suami kamu, supaya jatuh ke pelukan aku!” sumpah serapah Zulaikha dalam hati.

“Mas Cahyo nggak pantas mendapatkan kamu. Karena sebenarnya Mas Cahyo itu milikku!” batin Zulaikha lagi.

Setelah puas memaki Zulaikha, Rihana kembali ke rumah makannya. Sedangkan Cahyo memilih segera hengkang dari sana.


Hari pertama jualan, lima kontainer milik Zulaikha itu ramai diserbu pembeli. Ditambah lagi ada promosi diskon untuk hari pertama, hingga sepekan ke depan, buat pembeli pertama.

Zulaikha merasa puas melihat kesuksesan di hari pertama itu. Semua dagangan Zulaikha dari lima kontainernya itu ludes terjual.

Sedangkan usaha rumah makan Rihana, kondisinya sangat menyedihkan, hari itu. Hanya ada dua pembeli yang datang.


“Mas…..masih di kantor ya?!” tanya Rihana yang sedikit panik hari itu.

Apalagi, melihat dagangan makanannya masih utuh. Hanya laku dua bungkus nasi, hari itu.

“Iya. Sebenarnya masih ada rapat!” ucap Cahyo. Cahyo tahu pasti Rihana akan mengadukan soal nasib dagangan makanannya yang tak laku hari itu.

“Sabar ya sayang. Kalau sudah beres, aku akan balik secepatnya?!” janji Cahyo.

Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas malam, Cahyo tak kunjung pulang dari kantor.

Rihana penasaran. Dia menduga, Cahyo sibuk banget di kantornya.

Saat jam dinding menunjukkan pukul satu tengah malam, Cahyo baru saja tiba di rumah.

Rihana masih terjaga.
“Maaf ya sayang. Aku sengaja pulang larut malam, karena memang mau menghindar, dari acara Zulaikha. Sumpah demi Allah aku akan menghindari dia.” aku Cahyo mencoba meyakinkan hati Rihana.

Cahyo tak ingin Rihana cemburu soal Zulaikha.

“Percaya sayang, nggak ada perempuan lain yang bisa menaklukkan hatiku, selain kamu. Kamu satu-satunya di hati aku. Aku mohon percaya ya sama aku!” pinta Cahyo penuh harap.

BACA JUGA:  Wika Salim Dipeluk dan Panen Saweran

Rihana bersyukur mendengar itu.

Mereka berpelukan erat, seakan tak ingin dipisahkan oleh apapun.

“Jadi, Mas gimana dong dengan warung aku. Hari pertama perempuan itu buka gerainya, warung makan aku sepi pengunjung. Aku sedih melihat ini. Makanan aku, nggak laku. Solusinya gimana?!” keluh Rihana bimbang.

Dengan sabar, Cahyo memberikan saran, ketika makanannya tak laku, dibagikan saja ke panti asuhan.

“Insya Allah nanti akan ramai pembelinya di warung kamu! Kamu tahu kan sayang. Ini namanya jualan strategi jalur langit. Hasilnya lihat saja nanti. Pasti rejeki kamu mengalir deras. Pembeli banyak berdatangan.”

“Tenang ya sayang. Jangan khawatir. Allah nggak tidur. Kalau ada yang dzalim dan berbuat curang ke kita. Mereka akan kualat. Sebab Allah yang akan membalasnya.”


Rihana mencoba tenang, meski banyak tekanan yang membuatnya emosi.

“Kamu nggak usah mikir modal. Tenang aja ya sayang. Aku pasti bantuin kamu!”

Tak lama, Cahyo langsung mentransfer sejumlah uang buat tambahan modal usaha Rihana.

“Pokoknya, mulai sekarang, kita fokus sama usaha kita. Jangan pernah tergoyahkan oleh keadaan.” Cahyo membelai pelan rambut Rihana yang tergerai itu.

“Makasih ya Mas kamu selalu mendukung aku dalam segala hal. Kamu selalu mendukung aku untuk bertumbuh!” Rihana memeluk erat Cahyo.

“Oh iya dong kalau itu, wajib. Suami mendukung istri itu sudah harga mati. Tak bisa ditawar-tawar lagi.” ucap Cahyo penuh percaya diri.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *