Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Sepertinya Fera, masih terus mencari cara, mengganggu kehidupan Cahyo, dan Rihana.
Fera belum bisa benar-benar ikhlas, melepas Cahyo, menikah dengan Rihana.
“Pa. Belikan Tiket PP ke Jogja. Fera ingin banget jalan-jalan ke Jogja. Tapi beli tiketnya dua ya Pa. Soalnya, Mama juga mau ikutan jalan-jalan ke Jogja.” tulis Fera, di pesan singkat WhatsApp yang dia kirim ke Cahyo.
Cahyo geleng-geleng membaca pesan itu. Dia menduga, pasti ada sesuatu yang mereka rencanakan dibalik permintaan tiket PP ke Jogja ini.
“Mau apa lagi, orang dua ini.” batin Cahyo.
“Tiap bulan sudah aku kirimkan uang buat kebutuhan mereka. Aku bukan laki-laki pengecut yang lari dari tanggungjawab. Kenapa mereka masih mengganggu kehidupan aku!” protes Cahyo masih berontak dalam hati.
Cahyo masih tak ingin merespon chat Fera. “Tapi sudahlah. Cuek saja. Sebab, tak semua keinginan anak harus dituruti.” pikir Cahyo kesal.
Tiba-tiba Rihana mendekati Cahyo, yang sedang termenung di depan teras rumah kontrakan itu.
“Kenapa sayang,” sapa Rihana manja.
“Ini……. Fera minta dibelikan tiket, PP, Jakarta-Jogja!” sebut Cahyo, sembari menunjukkan bukti percakapan dia, dengan Fera.
“Oh ya…! Mungkin mereka rindu kamu Mas. Makanya mau menyusul Jogja?!” balas Rihana pura-pura biasa saja. Padahal, sebenarnya Rihana nggak rela, kalau Cahyo harus bertemu Fera atau mantan istrinya itu.
“Rindu apa? Tai kucing kalau rindu. Pasti mereka sedang merencanakan sesuatu,” Cahyo berprasangka buruk, pada Fera dan Herlin, mantan istrinya itu.
“Merencanakan apa, memangnya Mas?” Rihana penasaran.
“Ya sepertinya yang aku lihat, ada sesuatu niat jahat, sedang mereka rancang.” ucap Cahyo serius.
“Hmmm. Sudah seperti dukun aja suami aku ini ya!” Rihana terkekeh.
“Tapi Mas, mereka bakal ganggu kita lagi sepertinya.” imbuh Rihana mulai cemas.
“Nah itu dia. Kamu tenang saja Rihana. Aku nggak akan menuruti keinginan Fera. Aneh-aneh saja dia itu. Bukankah dia sedang fokus pendaftaran ke jenjang bangku kuliah. Ini malah mau keluyuran!” Cahyo menggerutu.
“Maaf ya sayang aku harus cerita sama kamu. Aku nggak mau ada rahasia apa pun antara kita,” Cahyo garuk-garuk kepala meski kepala nya tak gatal.
Sebenarnya dia tak ingin menceritakan tentang ulah anak perempuannya itu, ke Rihana. Tapi, Cahyo merasa harus menceritakannya, agar Rihana tak salah paham.
“Kalau Fera ngotot mau ke Jogja gimana Mas!” Rihana ingin tahu apa ketegasan Cahyo terhadap Fera dan mantan istrinya itu.
“Aku rasa, yang ngotot ke Jogja itu mama dia. Soalnya, Fera harus mempersiapkan kelanjutan pendidikannya ke bangku kuliah.
Jadi, harus fokus. Bukan malah mau kelayapan nggak jelas.” tegas Cahyo lagi.
“Iya ya….,” sahut Rihana.
“Memangnya Rihana mau lanjut kuliah dimana Mas?!” Rihana penasaran.
“Nah itu dia. Mungkin dia mau lanjut kuliah di Jogja. Dia minta tiket PP Jakarta – Jogja itu kan sebuah kode keras dari dia. Pasti kalau dia kuliah di Jogja, bakal sering cari masalah sama aku!” Cahyo berburuk sangka lagi, pada Fera dan mantan istrinya itu.
Rihana bingung menanggapinya.
Di lubuk hati Rihana yang paling dalam, sebenarnya dia was-was juga kalau Fera dan Herlin ikut pindah ke Jogja, dengan alasan kuliah Fera di Jogja.
“Ya Allah jangan dekatkan mereka ke keluarga aku. Aku nggak mau keluarga aku kacau, hanya gara-gara kehadiran mereka di tengah-tengah hidupku,” Rihana menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan-pelan ke langit-langit depan teras.
“Kalau mereka pindah ke Jogja. Kamu siap nggak dengan segala resikonya?!” tanya Cahyo penasaran. ingin tahu.
Rihana terdiam. Dia menggerakkan bahunya. Tanda tak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya Cahyo juga merasa tak tahu harus berbuat apa lagi, untuk menghadapi Fera dan Herlin, andai nanti mereka ngotot minta pindah ke Jogja.
Sudah sepekan lamanya. Cahyo benar-benar tak ingin merespon permintaan Fera.
Tak berhasil memaksa Cahyo menuruti permintaannya, gantian Rihana jadi sasaran Fera.
“Tante Rihana. Tante kan banyak uang. Fera mau jalan-jalan ke Jogja. Belikan tiket buat Fera, sama mama Fera, PP,” kata Fera tanpa ragu.
“Mas. Lihat!” kata Rihana sembari menyerahkan ponselnya ke tangan Cahyo.
“Fera chat ke kamu ya,” kata Cahyo, langsung bisa menebak apa yang jadi kelakuan Fera.
Cahyo langsung memblokir nomor kontak Fera, agar tak bisa mengganggu Rihana lagi.
“Sudah aku blokir nomornya, biar dia nggak kebiasaan ganggu kamu, Ri. Maaf ya atas ketidaknyamanan ini. Anak aku itu selalu saja mengusik ketenangan hidup kamu,” ucap Cahyo merasa bersalah pada Rihana.
“Ya nggak apa-apa Mas, namanya juga anak muda. Pasti kemauan dia harus dituruti,” Rihana berusaha memakluminya.
“Kalau sudah besar, apalagi Fera itu sudah mau masuk ke bangku kuliah. Tapi kelakuannya masih seperti bocah TK. Apa-apa harus dituruti. Gila banget!” seloroh Cahyo merasa lelah batin.
“Pa. Tante Rihana jahat banget. Kenapa dia blokir nomor ponsel Fera! Fera salah apa?!”
Beberapa menit setelah Cahyo memblokir nomor kontak Fera dari ponsel Rihana, Fera mengirim pesan itu ke Cahyo.
Cahyo geleng-geleng.
“Siapa yang mengajari dia seperti itu. Jadi orang, manipulatif banget. Padahal aku nggak pernah mengajari Fera seperti. Bener-bener malu aku lihat kelakuan nya!” keluh Cahyo serius.
Waktu sudah menunjukkan pukul 23.00 wib, Rihana sudah tertidur. Sementara, ponsel Rihana yang diletakkan di atas meja riasnya itu, bergetar.
Cahyo yang tahu password ponsel Rihana, langsung membuka ponsel itu.
“Tante. Tega banget blokir nomor aku. Padahal aku cuma minta dibelikan tiket PP Jakarta – Jogja. Paling harganya juga berapa. Kenapa sekarang Tante pelit sama Fera!” tulis Fera di nomor WhatsApp Rihana.
Tak sabaran, Cahyo langsung menelepon Fera saat itu juga.
“Fera. Kamu ini kenapa ya. Kalau kamu nggak ganggu Tante Rihana, hidup kamu nggak bahagia ya. Parah kamu ya. Suka ganggu ketenangan orang lain?! kata Cahyo, to the point pada Fera, yang malam itu habis-habisan dia marahi tanpa ampun.
Fera terperangah mendengar suara Cahyo yang marah-marah, dibalik ponsel genggamnya itu.
“Pa…Fera cuma mau minta tiket PP Jakarta -Jogja. Kenapa papa dan Tante Rihana pelit, sekarang sama anak sendiri!” kata Fera yang blak-blakan tanpa di tahan-tahan lagi, kalimatnya.
“Kamu jangan kurang ajar ya sama orang tua,” kata Cahyo mulai terbakar emosi, saat mengatakan itu.
“Papa sudah penuhi kebutuhan kamu dan ibu kamu. Tapi kamu masih saja mengganggu kehidupan papa. Mau kamu apa sebenarnya Fera.” tegas Cahyo setengah membentak Fera.
Mendengar suara Cahyo yang nyaris seperti orang kesetanan itu, Fera memilih diam.
“Sekali lagi, kamu masih ganggu Tante Rihana. Papa akan stop semua fasilitas yang selama ini papa berikan buat Fera dan Mama kamu.” ancam Cahyo serius.
“Pa…..aku nggak ganggu. Aku cuma mau minta tiket PP aja Pa. Papa keterlaluan banget sekarang. Pelit sama anak sendiri.” bersama dengan kalimat terakhir itu, Fera segera mengakhiri percakapannya dengan Cahyo.(*)













