ISTRI PAJANGAN Bagian 84: Papan Karangan Bunga yang Telat Datang

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Zulaikha sengaja terlambat saat mengirimkan papan bunga ucapan selamat, ke tempat usaha rumah makan Bintang milik Rihana.

Ironisnya, papan ucapan selamat itu ditujukan Zulaikha bukan untuk Rihana. Tetapi, buat Cahyo.

Zulaikha tertawa puas saat mengetahui reaksi Rihana yang emosi melihat papan ucapan selamat itu buat Cahyo.

“Selamat ya Mas Cahyo, atas pembukaan Rumah Makan Bintang. Tertanda, dari mantan terindah.”

Ketika Tio, si karyawan Sunrise itu hendak menurunkan papan bunga di depan ruko, Rihana langsung menolak mentah-mentah.

Dia tahu persis, pasti itu ulah Zulaikha.

“Mas. Kamu punya otak nggak, mau meletakkan papan bunga ini depan ruko saya?!” Rihana datang dan mendekati pria muda itu, penuh emosi.

“Tapi Mbak, saya hanya karyawan yang melaksanakan perintah bos saya,” jawab Tio santai.

“Saya nggak peduli sama kamu. Ini area tempat saya. Kamu nggak bisa dong seenaknya di area tempat tinggal saya!” bentak Rihana emosi.

Akhirnya Tio mencoba menghubungi Zulaikha by ponsel genggamnya.

“Mbak. Gimana ya. Mbak Rihana, marah Mbak, saat mengetahui saya mau meletakkan papan bunga ucapan selamat di depan ruko nya.” ucap si Tio, karyawan toko papan bunga ucapan selamat itu, memberitahu Zulaikha.

“Jadi, terpaksa saya angkat balik saja Mbak papan ucapannya. Tapi tolong dibayar Mbak ya. Soalnya kan Mbak Zulaikha sudah order papan bunga ini,” kata pemuda itu khawatir kalau papan bunga nya tidak dibayar.

“Oh tenang Mas. Saya akan tetap bayar. Saya bertanggungjawab atas orderan saya itu.” Zulaikha meyakinkan Tio.

“Awas aja kalau bohong. Saya viralkan kamu Mbak. Order papan bunga ucapan selamat, tapi nggak bayar.” kata Tio bicara sendiri.

“Apa Kang?! Orang nya nggak mau bayar ya?!” tanya Bagong, rekan Tio.

“Ini…yang buat aku bingung. Pemilik rumah makan ini, ngamuk saat kita mau pasang papan bunga di depan ruko dia. Sedangkan orang yang order papan bunga, sepertinya bermusuhan sama pemilik rumah makan ini.” sebut Tio.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 71: Bagas Balas Dendam

“Hmmm itu urusan emak-emak Kang. Mumet kalau ikut campur urusan ras terkuat di bumi ini,” Bagong melepas tawa.

“Awas aja kalau nggak dibayar. Aku viralkan di media sosialnya,” Tio kesal.

“Jadi, papan bunga ini kita bawa balik lagi kang?” tanya Bagong bingung.

“Iya soalnya mbak itu marah papan bunga nya dipasang depan ruko dia.” Tio sedikit kecewa dengan pekerjaan dia yang nggak bisa dituntaskan.

“Tapi kang. Kata-kata ucapan di papan bunga itu sedikit aneh ya! Tertanda nya itu kok dari mantan terindah. Wah kacau sih. Pantesan Mbak pemilik rumah makan ini menolak,” sebut Bagong sok tahu.

“Udah yuk balik aja kita. Papan bunga ini kita kembalikan lagi ke toko.” ucap Tio mengemudikan pick up itu dengan kecepatan tinggi.

“Kang. Jangan sampai kenapa-kenapa ya kita. Nggak bisa santai ya jalannya. Takut kang. Jalanan kan sedang ramai-ramainya di jam makan siang ini?!” Bagong ketakutan melihat Tio begitu kencang melaju di jalanan.

“Hahahahaha. Udah kayak cewek aja kamu ini. Penakut!” seloroh Tio.

“Kang….awas Kang..Sepeda motor!” pekik Bagong saat melihat mobil pick up yang ditumpanginya itu nyaris menyenggol pengendara sepeda motor yang bawa keranjang dagangan kanan kiri.

Diliriknya Bagong, berkeringat. Wajahnya pucat. Bagong memang begitu ketakutan. Akhirnya Tio sedikit mengurangi laju kecepatan pick up nya.

Tak lama, Tio melepas tawa, mentertawakan Bagong yang memang terlihat ketakutan.

“Oalah. Baru juga sekali diajak ngebut, sudah ketakutan. Wajah pucat pasi!” ucap Tio.

“Kalau sepi sih nggak masalah. Kang. Ngebut, ayo! Kalau ramai begini, takut Kang!” ucap Bagong terus terang ke Tio.

“Iya iya baiklah. Nanti lain kali kita buat ngebut lagi ya!” Tio suka saat melihat Bagong panik ketakutan.

BACA JUGA:  Ahyeon Muncul di Visual Film BABYMONSTER

“Kamu, kalau ketakutan, coba pejamkan mata aja!” Tio memberi saran.

“Mau dipejamkan matanya atau nggak, kalau memang takut ya takut, Kang!” ucap Bagong serius.

“Ya sudah lain kalau kalau diajak ngebut, jangan takut lagi. Kita ini, jadi kurir pengantar papan bunga ke pelanggan, butuh kecepatan ekstra saat di jalanan. Kalau jalannya kayak keong, gimana mau cepat sampai ke lokasi?!” kata Tio meyakinkan Bagong.


Zulaikha akan mencari cara, supaya papan bunga itu sampai dipajang di depan ruko Rihana.

Dia kembali menghubungi Tio, karyawan sunrise untuk mengirimkan papan bunga tadi.

“Mas aku kirim ya uang papan bunganya yang tadi. Tolong kirimkan nomor rekening kamu ya Mas,” Zulaikha berjanji akan menepati ucapan nya sendiri, ke Tio.

Tio pun buru-buru mengirimkannya ke Zulaikha.

“Ok,” balas Zulaikha.
Beberapa menit kemudian, Zulaikha pun mengirimkan bukti kirim uang papan bunganya.

“Mas. Bisa nggak ya. Papan bunga itu tolong kirimkan di jam tengah malam. Sekitar jam 01.00 wib. Tuan rumahnya pasti sudah tidur di jam segitu,” pinta Zulaikha sedikit aneh.

“Mbak. Jam kerja saya sudah habis kalau tengah malam. Nggak mungkin mbak.” tolak Tio.

“Ya sudah saya bayar berapa upahnya. Tapi saya minta papan bunga itu Mas pasang tepat di depan ruko,” desak Zulaikha.

Mendapat tantangan pekerjaan yang sedikit sulit itu, dan ditambah dengan janji ada upahnya lebih, Tio bersemangat.

“Tapi Mbak, upahnya bayar di muka!” tantang Tio.

“Kalau upahnya sudah dibayar, baru saya akan kirimkan papan bunga tadi ke ruko itu,” pinta Tio bernegosiasi dengan Zulaikha.

“Oh oke oke.” Zulaikha langsung setuju.

“Jadi, berapa tambahan biayanya?!” tanya Zulaikha lagi.

“Seratus ribu Mbak.” Tio asal sebut.

Bagong terdiam. Dalam hati, dia hanya bisa mengelus dada melihat kelakuan brengsek kawannya itu.

BACA JUGA:  Inilah Sejumlah Film Pemenang Balinale 2024

“Kita bagi dua ya nanti kalau dapat seratus ribu!” sebut Tio.

“Nggak lah Kang. Itu kan uang Akang!” Bagong segan mau mengatakan iya.

“Iya kan kita ngerjainnya sama-sama nanti. Kita turun jam setengah dua malam saja. Biar nggak banyak yang lihat aktifitas kita.” jelas Tio serius.

“Buat Akang aja. Aku masih pegang uang di dompet aku,” tolak Bagong dengan halus.

Bagong tak mau kecipratan dengan dosa yang dilakukan Tio. Jadi, dia lebih baik menolak secara halus.

“Ya sudah nanti kita makan bareng aja. Oke..Nggak boleh nolak!” tegas Tio pada Bagong.

Bagong lagi-lagi terdiam. Dia nggak tahu harus bagaimana menghindari ajakan makan dari Tio itu.


Tepat jam 01.00 wib, pick up yang dikemudikan Tio, berhenti di depan ruko Rihana.

Suasana rumah makan yang baru diresmikan keberadaannya pagi tadi itu, sudah sepi. Tio berpikir, pemiliknya sudah tertidur pulas.

Dengan penuh hati-hati, Tio meletakkan papan bunga ucapan selamat itu tepat di depan ruko Rihana.

Melihat aksi nekad karyawan toko papan bunga, yang diam-diam meletakkan papan bunga di depan tokonya itu, Rihana geleng-geleng
kepala.

“Awas aja besok aku akan buat perhitungan Mas sama kamu. Maksudnya apa ya, karyawan yang satu ini. Sudah dilarang tapi malah tengah malam buat, dikirim lagi ke alamat rumah aku. Sialan dia itu!” pekik Rihana.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *