Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Seorang pengacara mendatangi kediaman Rihana.
Sebut saja namanya Herlambang.
“Selamat Pagi, nyonya. Saya pengacaranya Pak Bagas.” katanya dengan ramah.
“Iya….ada apa Pak?” tanya Rihana.
“Saya diminta untuk menyampaikan surat ini kepada nyonya. Rumah beserta isinya, akan ditarik lagi oleh Pak Bagas!” sebut pria itu dengan serius.
Mendengar itu, Rihana syok.
“Lho bagaimana ceritanya Pak rumah ini sudah diserahkan kepada saya dan saya punya bukti-bukti suratnya.” sebut Rihana sedikit gemetar.
Cahyo muncul dan ikut menemui tamu Rihana pagi itu.
“Silakan kalau mau diambil.” kata Cahyo, sembari menggenggam erat tangan Rihana.
“Sabar sayang. Biarkan saja dia ambil kalau memang itu mau nya,” ucap Cahyo pelan.
Pengacara itu terdiam.
Lalu menyodorkan setumpuk berkas penting untuk segera ditandatangani Rihana.
“Brengsek kamu Bagas!” batin Rihana.
Cahyo menggenggam tangan Rihana lebih erat.
“Nggak apa sayang. Tanda tangani aja. Nanti ada gantinya yang lebih bagus dari Allah,” ucap Cahyo kembali meyakinkan Rihana.
Mendapat dukungan dari Cahyo, Rihana pun yakin dengan tindakan yang diambil hari ini. Akhirnya, dengan mantap, Rihana menggoreskan tanda tangan nya di surat itu.
“Termasuk fasilitas ATM dan kartu kredit yang selama ini diberikan kepada nyonya, juga ditarik semua.” kata sang pengacara itu, menegaskannya pada Rihana.
“Bisa nggak Pak saya bicara dengan Pak Bagas?” ucap Rihana masih dengan menahan emosi.
“Kebetulan beliau sedang tidak ingin dihubungi. Beliau sedang berada di luar negeri, nyonya!” sebut pengacara itu.
“Dasar pria bajingan!” maki Rihana lagi dalam hati.
Setelah semua penandatanganan berkas selesai, si pengacara itu minta undur diri.
Katanya, Rihana diberi kesempatan satu hari hari ini saja, untuk segera angkat kaki dari rumah itu.
“Terkutuk kamu Bagas. Dimana tanggungjawab kamu pada Riko dan Gilang!” Rihana benar-benar merasa didzalimi Bagas.
Sepeninggal pengacara itu. Tangis Rihana pecah. Bersamaan dengan itu, Cahyo memeluk Rihana erat-erat. Dia berusaha menenangkan istrinya.
“Sudah. Jangan ditangisi sayang. Aku janji akan bangunkan istana megah buat kamu dan anak-anak. Rumah ini dan semuanya tentang Bagas, adalah masa lalu. Kubur masa lalu kamu itu dalam-dalam. Jangan izinkan dia hadir lagi di kehidupan masa depan kamu.” ucap Bagas lirih.
“Pandang aku sayang dengan penuh cinta. Percaya sama aku ya. Aku akan bangunkan istana megah buat kamu,” kata Cahyo penuh kehangatan.
Dia memegang dagu Rihana. Lalu memandang wajah istrinya itu penuh cinta dan kasih sayang.
Rihana tersenyum bahagia, mendengar kata-kata Cahyo, yang menenangkan itu.
“Udah yuk. Kita berkemas. Ambil barang-barang kamu, dan kita segera pergi dari sini.” ajak Cahyo.
“Tapi Mas,” Rihana kembali sesenggukan.
“Bagaimana dengan Riko dan Gilang?” Rihana menangis lagi.
“Biar aku yang handle mereka. Sekarang, kita menuju ke hotel. Sementara, sembari menunggu kita berangkat umroh, kita tidur di hotel dulu ya.” jelas Cahyo.
“Tapi Mas….,” Rihana ragu lagi.
“Sudah..Nggak pakai tapi tapi lagi. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Menuju ke hotel.” sebut Cahyo.
“Mas persediaan uang aku juga menipis bagaimana ini?” Rihana memang diselimuti rasa ragu yang tak ketulungan.
“Sayang….kamu ini meremehkan aku lho. Aku cium juga ini orang. Kebanyakan mikir, nanti malah kacau.” ucap Cahyo lagi lebih tegas. Hingga akhirnya Rihana menuruti semua arahan Cahyo.
Rihana hanya mengemas pakaiannya, pakaian Cahyo dan juga pakaian Riko dan Gilang, beserta sejumlah keperluan alat-alat sekolahnya.
Dengan perasaan hancur, Rihana bergegas meninggalkan rumah itu. Rumah pemberian Bagas, yang selama ini memberinya kenyamanan, dan kemewahan hidup.
“Selamat tinggal rumah mewahku,” ucap Rihana, dalam hati.
Dia percaya, takdir masa depannya kini, lebih indah bersama Cahyo.
Di salah satu hotel berbintang, Cahyo menyewa sebuah villa.
Di sana, Rihana sementara tinggal.
“Mas…makasih ya kamu sudah baik sama aku dan juga anak-anakku.” ucap Rihana lirih, dalam pelukan Cahyo.
“Udah. Kamu istirahat dulu ya disini. Tuh kalau kamu mau renang. Buat menenangkan diri, biar happy,” Cahyo menunjuk kolam renang di luar villa.
Rihana mengangguk. Tak lama, Cahyo meninggalkan Rihana.
“Aku jemput Gilang dan Riko ya.” kata Cahyo bergegas keluar ruangan.
“Iya Mas,” jawab Rihana sembari mencium punggung tangan kanan Cahyo, sebagai tanda hormat pada suami.
Di sepanjang jalan, Cahyo berjanji dalam hati. Dia akan menepati janjinya pada Rihana, akan membuat perempuan yang dicintainya itu, bahagia.
“Ya Allah kasian Rihana. Dia harus menanggung beban hidup ini. Ujian dan cobaan itu datang bertubi-tubi. Setelah ditelantarkan, sekarang malah rumahnya mau diambil sama suaminya.” batin Cahyo.
“Tapi aku bersyukur, dengan seperti itu, aku dan Rihana bisa memulai hidup dari awal. Beri hamba kekuatan ya Allah untuk menjadi suami yang bertanggungjawab,” batin Cahyo lagi.
Sepuluh menit kemudian, Cahyo tiba di sekolah Riko.
Seperti biasa, Riko sudah menunggu kedatangan Cahyo, di halte sekolah.
“Riko, kamu lapar nggak? Kita makan dulu ya. Papa lapar nih. Tapi kita jemput Gilang dulu ya. Kita makan bertiga,” kata Cahyo.
“Boleh, Pa!” jawab Riko. Riko orangnya penurut tak terlalu ribet saat hendak diajak makan di luar.
Begitu juga Gilang, dia ikut apa kata Riko. Apa yang disukai Riko, pasti disukai Gilang. Riko selalu membuat adiknya itu menurut.
Selang setengah jam kemudian, mobil Pajero Sport yang dikemudikan Cahyo itu, berhenti di depan sekolah Gilang.
Mengetahui Pajero Sport putih itu sudah di depan mata, Gilang langsung menghambur masuk ke dalamnya.
“Hai Gilang. Kita makan dulu ya…..Gilang pasti lapar juga kan?!” ucap Cahyo yang menyapa anak sambungnya itu penuh keakraban.
“Oke Pa..Gilang ikut aja apa kata Papa,” jawab Gilang dengan riang.
“Hmmmm. Kalian memang anak-anak baik.” Cahyo memuji Riko dan Gilang.
“Mama nggak diajak Pa?” tanya Riko yang merasa kurang pas saat Rihana tak berada di antara mereka.
“Mama ada acara sendiri. Makanya kita makan bertiga aja,” sebut Cahyo sedikit berbohong.
“Yah.” sahut Gilang kecewa.
“Pa. Makan KFC dong!” tiba-tiba Gilang request.
“Hei. Tumben kamu ini, Dek. Orang papa mau ajak makan nasi Padang. Kamu malah minta makan KFC.” protes Riko.
“Pengen Bang. Adek pengen makan ayam KFC.” sebut Gilang.
Spontan, Cahyo pun berusaha putar haluan, menuju KFC terdekat.
“Oke. Oke. Papa juga sudah lama nggak makan ayam KFC.” ucap Cahyo.
“Yes!” Gilang kegirangan karena keinginannya dituruti Cahyo.
“Nanti sama beli es krimnya ya Pa!” imbuh Gilang.
“Siap, Tuan Gilang!” sahut Cahyo lagi.
Saat mobil Pajero Sport itu sudah terparkir di halaman KFC, Gilang turun duluan, berlari masuk ke dalam KFC dengan semangatnya.
“Woi Dek..Kamu bawa uang nggak, pede banget masuk KFC?” canda Riko pada sang adik.
Gilang sudah kelas 3 SMP, tapi kelakuannya masih seperti bocah SD. Bahkan, sikap manjanya pada Rihana, juga masih kelihatan jelas.
“Pa..aku mau paket jumbo plus es krim!” sebut Gilang menunjuk ke papan display KFC.
“Oke.” jawab Cahyo. Dia pun langsung order paket jumbo itu pada sang pelayan..
“Tiga paket jumbo plus es krim ya Mbak,” ucap Cahyo, order pada pelayan.
Tak lama, pesanan sudah stay. Ketiganya pun makan dengan lahap, tanpa sisa.(*)













