ISTRI PAJANGAN Bagian 70: Fera Minta Dibelikan Sepeda Lipat

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sesuai janji Cahyo, dia akan membelikan sepeda lipat buat Riko dan Gilang.

Tapi, kejadian tak disangka, dialami Cahyo. Entah bagaimana ceritanya, Cahyo mendapat pesan singkat dari Fera.

Fera minta sejumlah uang buat beli sepeda lipat.

Cahyo tepok jidat, heran tak habis pikir dari mana Fera tahu kalau dia sedang berada di toko sepeda bareng Riko dan Gilang.

Rihana sedikit bingung melihat wajah Cahyo yang terlihat seperti orang kebingungan.

“Kenapa Mas?” tanya Rihana ingin tahu.
“Ini, Fera minta sepeda lipat juga. Tapi dia minta uang cash.” sebut Cahyo geleng-geleng kepala.

“Oh aku tahu. Tunggu.” Rihana mendekati Riko.

“Pinjem ponsel kamu, Riko,” pinta Rihana.

“Mau ngapain Ma?!” Riko heran, dan setengah nggak ikhlas memberikan ponselnya.

“Pinjem bentar aja.” desak Rihana pada Riko.

“Ih nggak mau. Mama kan punya ponsel sendiri.” balas Riko.

Cahyo datang menengahi.
“Riko, temanan sama Fera ya?”. tanya Cahyo to the point.

“Iya om…kenapa?!” Riko makin heran melihat Cahyo dan Rihana yang saling pandang.

“Riko buat story Whatsapp lagi di toko sepeda, mau beli sepeda lipat?” tanya Cahyo lagi.

“Iya Pa. Buat happy-happy aja!” jawab Riko santai.

“Hmmmm. Pantes. Anak tengil itu minta dibelikan sepeda lipat juga!” sebut Cahyo sembari garuk-garuk kepala, meski tak gatal.

Riko kembali melihat story Whatsapp nya. Fera, adalah orang pertama yang melihat story Whatsapp yang dia tuliskan.

“Eh iya Om….Fera lihat story aku!” sebut Riko sembari melempar pandang ke arah Cahyo.

“Emang kenapa Om?” Riko heran.
“Dia minta dibelikan sepeda lipat juga!” jawab Cahyo dengan nada kecewa.

“Maaf ya Om. Riko nggak tahu kalau bakalan begini kejadiannya.” Riko merasa bersalah.

“Ya nggak apa-apa Riko. Selama papa punya uang, apapun permintaan kalian, kalau masih wajar, papa akan belikan,” jelas Cahyo dengan nada santai, kali ini.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 85: Pembeli Aneh

“Alhamdulillah,” sahut Rihana penuh bahagia. Dia bersyukur karena sudah dipertemukan dengan pria sebaik Cahyo.

Rihana merasa, Cahyo adalah dewa yang dikirim Tuhan, dari langit.

“Makasih ya Mas, kamu baik banget sama anak-anak aku.” ucap Rihana pelan.

“Pa..Maafin Riko ya….Riko salah. Nulis story sepeda itu, ini Riko hapus aja biar papa nggak marah lagi sama Riko,” kata Riko penuh penyesalan.

“Ya nggak apa Riko. Lagi pula Fera memang begitu. Sifat iri nya itu memang tinggi banget. Nggak bisa lihat orang senang.” sebut Cahyo.

Riko tertunduk. Sejak itu, Riko menghapus nomor ponsel Fera, agar aktifitas Riko tak diketahui Fera.

Riko sendiri mengaku gerah, karena dulu awalnya Fera sering mengejar- ngejar Riko. Tapi, karena Riko cuek, akhirnya Fera mundur sendiri.

Waktu itu, Fera nggak tahu kalau Riko adalah anak Rihana. Belakangan, disamping Riko cuek, Fera juga sudah tahu kalau Riko anak Rihana. Riko bersyukur, akhirnya dia bisa bebas dari kejaran Fera.

Semua berawal dari aktifitas Riko yang kerap tampil manggung di beberapa kafe.
Ketampanan Riko, mengundang decak kagum para kaum hawa yang kerap menyaksikan penampilan Riko saat menyanyi di kafe-kafe.

“Jelek-jelek begini, pernah jadi mantan Fera nih Mas,” goda Rihana, dan Riko sedikit sewot dengan candaan Rihana.

“Oh ya…….terus kalian putus gara-gara apa?” Cahyo menanggapinya dengan serius.

“Ih Mama ni bikin gosip. Mana ada aku mantannya Fera. Ogah banget punya cewek tengil kayak dia!” kata Riko masih dengan muka kotak-kotak.

“Hahahahaha, seriusan nggak mau sama dia?! Papa nya disini lho. Anaknya cantik lagi. Masak nggak mau?”
Rihana melepas tawa. Tapi, dalam hati dia hanya ingin memastikan, anak lelakinya itu nggak ada hubungan asmara dengan Fera.

BACA JUGA:  Film terlaris Kedua Sepanjang Masa, Film Agak Laen Tembus 7 Juta Penonton

“Ih nggak lucu becanda nya Mama!” Riko semakin emosi.

“Sudah-sudah!” kata Cahyo yang coba menghentikan pembahasan soal Fera.

“Jadi besok kita sepedaan bareng ya. Pagi. Mama dan Papa juga beli sepeda. Tapi sepeda gunung aja. Sepeda lipat, khusus kalian aja.” sebut Cahyo tersenyum ramah.

“Makasih dong sama papa kamu!” pinta Rihana pada Riko dan Gilang.
Spontan, kedua anak lelakinya itu mencium punggung tangan kanan Cahyo.

“Makasih ya Pa,” ucap Riko dan Gilang.

“Yup. Sama-sama Riko, Gilang!” jawab Cahyo.

Tak lama, Cahyo membayar semua bill 4 sepeda yang dibelinya itu, dengan kartu ATM nya.

“Mas. Makasih ya,” ucap Rihana untuk kesekian kalinya.

“Hmm. Mau berapa kali bilang makasih. Sekali lagi, nanti aku cium baru tahu rasa!” seloroh Cahyo. Riko mendengar itu malah senyum-senyum.


Jam 04.00 wib, Cahyo membangunkan Rihana.
“Subuhan sayang,” katanya penuh mesra, mengingatkan Rihana untuk melaksanakan kewajiban sholat lima waktu.

“Bentar Mas semenit lagi!” sahut Rihana yang masih dengan mata terpejam.

“Nggak ada toleransi kalau buat sholat..Bangun……sayang,” paksa Cahyo. Mendengar itu, Rihana pun tergugah.

Ia sangat bersyukur, ternyata hidup bersama pria itu, tak hanya sekedar mendapatkan duniawi. Rihana mendapatkan akhirat juga.

“Ya Allah kamu memang lelaki pilihan yang dikirim Allah buat aku,” ucap Rihana pelan.

“Eh pagi-pagi menggombal, dia. Udah sana mandi dulu. Biar nggak telat subuhan nya,” sembari mengecup kening Rihana.

Rihana pun bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya.
Adzan subuh berkumandang.
Rihana dan Cahyo sholat berjamaah.

Baru hari ini, dia merasa jadi istri yang beruntung. Diingatkan sholat subuh, diajak sholat berjamaah sama pria yang dia cintai.

“Makasih ya Mas,” ucap Rihana lirih. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.

“Kenapa nangis sayang?” Cahyo mengecup kening Rihana.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 74: Bagas Masuk Rumah Sakit

“Sudah. Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Mulai sekarang kamu jadi istri aku. Kita kan mau persiapan umroh bareng. Senyum dong sayang!” kata Cahyo lirih.

Rihana hanya mengangguk. Tapi, dia tak bisa menahan air matanya, ketika Cahyo mengatakan umroh bareng.

“Terimakasih Allah,” ucap Rihana lirih, sembari memeluk erat Cahyo.

“Udah ya. Jangan nangis lagi.” Cahyo beranjak pergi. Katanya dia hendak membangunkan Riko dan Gilang, buat sholat.

“Besok kita berempat ya sayang sholatnya,” ucap Rihana.

“Boleh banget.” sahut Cahyo mantap.

“Riko. Gilang. Bangun.Nak. Sholat subuh,” kata Cahyo sembari mengetuk pintu kamar keduanya.
Tak ada jawaban. Tapi Cahyo terus berusaha mengetuk pintu kamar mereka, sampai ada jawaban.

Rihana ikut mengetuk pintu kamar mereka.
“Biasa, mereka sudah sholat sih Mas, adik Abang itu. Terus tidur lagi,” jelas Rihana ingin memberitahu Cahyo.

“Oh begitu. Ya sudah, kalau begitu. Mungkin mereka tidur lagi, sekarang.” kata Cahyo.

Dia pun menggandeng tangan Rihana, masuk ke kamar, melanjutkan tidur.

“Sayang mau ngapain ini?” tanya Rihana pasang muka polos.

“Mau bobok lagi lah, saingan sama Riko dan Gilang,” Cahyo cengar-cengir.

“Eh nggak bisa. Aku nggak ikutan. Terus yang nyiapin sarapan siapa dong?!” Rihana berusaha melepaskan cengkeraman tangan Cahyo.

“Eit. Sarapan gampang. Tidur dulu sepuluh menit kan nggak masalah.” ucap Cahyo mencari alasan.
Akhirnya Rihana pun ikut apa kata Cahyo.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *