Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Udara Jogja pagi itu, membuat Rihana lebih bersemangat. Bangun pagi-pagi sekali, menyiapkan sarapan buah Cahyo, dan anak lelakinya, Riko.
Riko tiba-tiba muncul. Dia request ingin makan gudeg asli Jogja.
“Ma….makan gudeg di Malioboro lagi dong!” katanya dengan manja ke Rihana.
“Hmmmm. Rupanya anak mama yang satu ini cocok dengan masakan khas Jogja ya. Nanti sore, bilang sama Papa Cahyo, minta antar makan ke Malioboro ya!” kata Rihana.
“Yuk sekarang aja Ma. Pagi-pagi sarapan nasi lauk gudegnya! Kan mama bisa bawa mobilnya?!”
“Yeah mama aja belum mandi..Papa kamu juga masih tidur,” Rihana menolak.
“Yahhh…..mama. Lapar nya sekarang Ma. Ingin sarapan nya sekarang Ma.” desak Riko, merengek.
“Nggak usah pakai mandi Ma. Soalnya, mandi atau nggak mandi, mama tetap cantik. Nggak percaya coba tanya ke Papa Cahyo!” kata Riko coba memuji Rihana.
“Dasar. Ada mau nya, puji-puji mama!” Rihana melepas tawa.
Cahyo tiba-tiba muncul di tengah perbincangan pagi itu.
“Eh kalian ketawain apa nih!” tanya Cahyo. Tak lama dia minta dibuatin kopi susu.
“Mas….anak bujang satu ini, tiba-tiba ngidam sarapan sama gudeg. Heran aku!” celetuk Rihana.
“Iya Ma. Enak soalnya gudeg Jogja itu!” kata Riko menimpali.
“Ya sudah papa minum kopi sebentar ya. Terus kita go ke Malioboro!” Cahyo langsung memberi sinyal hijau pada Riko.
“Papa mandi lima menit ya. Terus kita go ke Malioboro!” Cahyo pun bergegas menuju ke kamar mandi.
“Mama mandi juga lah sebentar ya,” ucap Rihana.
Sementara Riko, malah sibuk main ponsel.
Tak lama, ketiganya bersiap menuju ke Malioboro.
“Parah ini anak bujang, ngidamnya ngalah-ngalahin orang hamil. Harus dituruti makan nasi gudeg nya! Rihana langsung melepas tawa.
Tahu diomongin, Riko malah cuek, masih asik main ponsel.
“Ya kan namanya juga lapar ya nggak Bang!” Cahyo terkesan membela Riko.
“Iya bener Pa. Mama pasti malas nganterin aku kan?” tuduh Riko seenaknya.
“Iya lagian kamu aneh banget. Dari kemarin lho makan gudeg terus. Apa nggak bosan?” celetuk Rihana.
Cahyo senyum-senyum melihat perdebatan itu.
“Ya sudah nanti selain makan di tempat, kita take away juga buat stok di rumah ya, Rik!” Cahyo memberi saran.
Di sepanjang perjalanan, Rihana terpana dengan suasana pemandangan kota Jogja. Rasanya tenang dan adem. Tidak seperti kota Jakarta, yang penuh hiruk pikuk perkotaan sibuk
“Rihana..Semoga kamu dan anak-anak betah ya tinggal di kota Jogja ini,” kata Cahyo penuh harap.
“Bahagia banget Mas.” jawab Rihana, diikuti Riko yang juga mengaku sangat bahagia.
“Ma….kita di Jogja aja jangan pindah-pindah lagi. Disini tenang Ma.” ucap Riko memberi saran Rihana.
“Tergantung papa kamu. Kalau dimutasi ke kota lain lagi, ya Mama bakal ikutan papa kamu.” jelas Rihana.
“Sepertinya kota Jogja ini adalah kota paling nyaman buat menghabiskan masa tua.” kata Cahyo penuh semangat.
“Iya Mas. Kemana pun kamu pergi, aku ikut,” celetuk Rihana.
“Pa. Cepetan Pa. Lapar ini,” Riko tak sabaran, karena Cahyo mengemudikan mobil nya dengan santai.
“Oh oke. Kita ngebut kalau begitu. Siap-siap ya!” sahut Cahyo.
“Mas jangan macem-macem ya. Pakai ngebut segala. Biasa aja. Nggak usah dengar kata Riko.” protes Rihana.
“Memang lokasinya jauh. Sabar dong!” imbuh Rihana.
Tapi, sepertinya Riko tak peduli apa kata Rihana. Sambil menahan perutnya yang keroncongan, Riko tetap fokus memainkan ponselnya.
“Rik. Coba telepon adik kamu. Lagi ngapain dia. Dia itu harus sekolah. Dibiarkan malah dia semakin betah sama Papa Bagas.” cerocos Rihana, kesal.
“Rik!” panggil Rihana lagi.
“Bentar Ma. Riko bisa kalah ini kalau harus menelepon Gilang. Nanti aja ya. Paling Gilang sibuk ngurus Papa. Riko tahu itu!” kata Riko berusaha meyakinkan Rihana.
Rihana mulai khawatir. Khawatir kalau Bagas mempengaruhi Gilang, dan Gilang nggak mau ikut Rihana, tinggal di Jogja.
“Game nya nanti dulu Riko. Tolong hubungi adik kamu itu. Lama banget sih papa kamu itu sakitnya. Ini sudah sepekan. Gilang belum ada kabar kapan mau nyusul ke Jogja.” kata Rihana panjang lebar.
“Iya juga ya Ri…..Gilang sepertinya sayang banget sama papa nya!” kata Cahyo menimpali.
“Sepertinya kamu harus tegas Rihana. Desak Gilang suruh cepat ke Jogja. Soalnya dia kan harus melanjutkan sekolahnya.” Cahyo memberi saran Rihana.
“Itu dia Mas, aku bingung lihat anak aku yang satu itu.” jawab Rihana serius.
“Kalau nggak, kamu yang telepon dia Mas. Beri dia pengertian kalau Gilang harus melanjutkan sekolahnya. Apalagi, dia itu masih duduk di bangku SMP. Mau jadi apa dia, kalau nggak sekolah.” Rihana benar-benar khawatir soal Gilang.
“Pa….nanti sama beli cemilan lain ya Pa.” pinta Riko.
“Punya anak cowok kok kayak punya anak cewek. Kerjanya ngunyah aja!” protes Rihana soal request Riko yang minta dibelikan cemilan.
Cahyo hanya senyum-senyum. Lalu menyanggupi memenuhi permintaan Riko.
“Nanti kita cari ya Bang, pusat oleh-oleh Jogja. Pasti banyak banget aneka cemilan disana,” sebut Cahyo bersemangat.
“Yes!” teriak Riko kegirangan.
Selang satu jam kemudian, mobil Avanza yang dirental Cahyo itu akhirnya tiba di sebuah warung pinggir jalan yang ramai pembelinya.
Riko buru-buru turun dari dalam mobil itu, diikuti Rihana dan juga Cahyo.
Tanpa banyak cerita, Riko langsung order nasi campur plus lauk sayur gudeg.
“Satu ya Budhe nasinya. Nasi campur lauk gudeg!” sebut Riko tak sabaran.
Setelah sang penjual menakar nasi dan meletakkan lauknya di atas nasi, piring itu disambut antusias oleh Riko.
“Makan bang habisin,” seloroh Cahyo, geleng-geleng lihat porsi jumbo nasi campur yang dimakan Riko.
“Satu lagi ya Budhe,”. pesan Cahyo.
Sepuluh ribu, lauknya macam-macam. Lauk favorit, sayur gudeg.
“Sepiring kita berdua ya Rihana..Nggak habis aku kalau makan sendiri.” kata Cahyo, yang order nasi campur lauk nya sama seperti orderan Riko.
Akhirnya Rihana makan sepiring berdua dengan Cahyo.
“Ma. Jadi kan take away gudeg nya. Nanti buat Riko makan malam.” pinta Riko semangat.
“Ya iya Mama bungkusin nanti baliknya. Itu habisin dulu Riko.” protes Rihana.
Cahyo geleng-geleng lihat Riko yang bersemangat sarapan dengan gudeg.
“Harus cari menantu orang Jogja nih kayaknya.” seloroh Cahyo iseng.
Rihana langsung protes.
“Jangan dulu main cewek. Awas aja kalau main cewek. Aku tonjok baru tahu!” ancam Rihana sambil menunjukan tangannya ke Riko, tapi nggak serius.
“Kerja dulu, baru main cewek. Mau dikasih makan apa, anak gadis orang kalau kecil-kecil nikah!” tegas Rihana.
Cahyo malah melepas tawa. Kata Cahyo, serem.
“Serem. Mama kamu ya. Main tonjok aja nih!” lirik Cahyo ke arah Rihana.
“Kalau pacaran aja boleh kan. Ma. Soalnya cewek-cewek Jogja kan kalem-kalem kayaknya!” bantah Riko.
“Nggak boleh! Awas aja kalau ketahuan sama Mama. Nih mau kena bogem mentah?!”
Rihana kembali menempelkan bogem tangannya ke pipi Riko, tapi nggak serius.(*)













