ISTRI PAJANGAN Bagian 74: Bagas Masuk Rumah Sakit

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Jam 11.00 wib. Satu jam lagi, waktunya Rihana dan Cahyo, chek out.

Dari balik telepon genggamnya, Rihana meminta Riko dan Gilang juga bersiap.

Bersamaan dengan itu, Gilang mendapat pesan singkat dari Bagas, memberitahukan kalau dirinya masuk rumah sakit karena kecelakaan.

“Bang. Papa kecelakaan. Gimana ini. Aku mau lihat papa, Bang. Buat terakhir kalinya!” Gilang panik. Lalu berlari menuju kamar Rihana.

Tak sabaran, pintu kamar Rihana digedor-gedor. Karena pintunya tak dikunci Rihana, Gilang langsung masuk ke kamar.

“Ma. Om Cahyo mana?!” tanyanya dengan nada panik dan nafas terengah-engah.

“Tu di kamar mandi. Lagi mandi,” jawab Rihana yang sedang sibuk berkemas barang-barangnya.

“Ada apa Gilang??” tanya Rihana yang sedikit heran melihat tingkah Gilang yang terlihat panik.

“Ma. Boleh nggak aku nggak ikutan ke Jogja. Aku mau nungguin Papa. Papa kecelakaan Ma.” sebut Bagas dengan nada panik.

Rihana terdiam. Bingung mau jawab apa. Tapi yang pasti Rihana syok, mendengar kalimat Gilang.

Cahyo keluar kamar mandi dengan tubuhnya yang dibalut handuk dari paha sampai dada.

“Eh Gilang. Sudah siap kalian kemas barang-barangnya?!” tanya Cahyo santai.

“Om…..eh Pa. Boleh nggak tolongin Gilang antarkan ke rumah sakit!” pinta Gilang setengah mendesak.

“Siapa yang sakit, Gilang?! Tapi kita kan mau terbang ke Jogja, jam 16.00 wib sore ini,” jelas Cahyo.

“Om. Gilang nggak ikutan ke Jogja. Gilang mau menemani papa Gilang. Dia kecelakaan Pa. Please antarkan Gilang ke rumah sakit ya Pa,” katanya tak sabaran.

“Pikiran Gilang polos banget.” batin Cahyo.

Rasanya nggak tega, Cahyo menolaknya permintaan Gilang. Apalagi, Bagas adalah orang tua kandung Gilang.

Cahyo melempar pandang ke arah Rihana. Cahyo sendiri, bingung mau bagaimana menyikapi situasi ini.

Rihana hanya diam.
“Yakin nggak mau ikutan ke Jogja?” tanya Cahyo ingin memastikan soal keputusan yang diambil Gilang.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 70: Fera Minta Dibelikan Sepeda Lipat

“Yakin Pa.” jawab Gilang mantap.

“Nanti Gilang berani kan nyusul Mama sama Papa di Jogja, kalau Gilang sudah selesai menemani Papa Bagas?” tanya Cahyo penuh dengan sabar.

“Iya Pa. Nanti Gilang nyusul. Sementara ini Gilang menemani papa dulu ya, Pa…..Ma,” kata Gilang minta izin ke Cahyo dan Rihana.

“Terus sekolah kamu gimana Gilang? Mama sudah urus kepindahan kamu sekolah di Jogja,” sebut Rihana yang berusaha mempengaruhi Gilang, supaya batal ketemu sama Bagas.

“Ya nggak apa-apa Ma, sementara ini Gilang nggak sekolah. Nanti kalau Papa Bagas sudah sembuh, kembali pulih kesehatannya, Gilang nyusul Mama dan Papa di Jogja,” kata Gilang mantap, untuk kesekian kalinya.

“Gila banget anak aku satu ini. Andai tahu papa nya jahat, pasti dia nggak seperti ini,” batin Rihana.

Cahyo lagi-lagi melempar pandang ke Rihana, dan Rihana juga masih sama, seperti sebelumnya, tidak ada reaksi apa pun.

“Ma….aku antar Gilang dulu ya jumpa papa nya!” kata Cahyo serius.

“Iya Mas,” jawab Rihana yang sedikit bingung menghadapi situasi ini.

“Kenapa……si brengsek itu pakai acara kecelakaan segala. Terus mempengaruhi Gilang, biar nggak ikut aku pindah ke Jogja,” kata Rihana, dengan hati yang jengkel.

“Ma. Aku antar Gilang sebentar ya.” ucap Cahyo minta izin ke Rihana.

“Bang Riko ikutan juga lihat Papa Bagas nggak?!” Tanya Cahyo. Tapi tak lama Riko muncul dari balik pintu kamar villa.

“Jadi kan Dek lihat papa?!” tanya Riko pada Gilang, tiba-tiba. Dia terlihat sudah bersiap-siap hendak ikut serta dengan Gilang.

“Riko juga mau jagain papa Bagas dulu?!” tanya Rihana ingin tahu.

“Nggak Ma. Riko ikut ke Jogja aja.” sahut Riko.
“Jadi, Gilang aja yang jagain Papa Bagas?!” Rihana ingin memastikan.

“Iya Ma,” sebut Gilang.
“Ya sudah yuk. Buruan. Biar cepet sampai. Nanti kita telat ke bandara, kalau lama-lama,” Cahyo mengajak keduanya masuk ke dalam mobil.

BACA JUGA:  Gaya Parenting Wulan Guritno: Kepalanya Dilepas, Buntutnya Dipegang

“Mama nggak ikutan?!” tanya Gilang, sedikit terlihat kecewa, ketika melihat Rihana nggak ikut serta.

“Mama mau kemas-kemas barang dulu, Gilang. Nggak bisa ikutan. Nanti siapa yang beresin barang-barang di sini kalau mama juga ikut jenguk papa Bagas.” ucap Rihana panjang lebar.

“Kalau bukan karena dilarang Mas Cahyo, aku sudah ceritakan semua kejahatan Bagas ke aku. Termasuk ke anak-anak. Pasti anak-anak akan membenci Bagas, kalau tahu kejadian yang sebenarnya.” batin Rihana kesal.


Gito memberi kode, Cahyo yang mengantar Gilang ke rumah sakit.
Bagas berpesan ke Gito.

Dia hanya mau menerima kedatangan Gilang. Cahyo, minggir dulu.

“Seriusan Om, papa nggak ngasih izin Om Cahyo masuk?!” tanya Gilang pada Gito, nggak percaya.

Cahyo menghargai apa yang menjadi pesan Bagas. Dia pun tak lama di rumah sakit.

“Ya sudah, Gilang jaga diri baik-baik ya. Jagain Papa Bagas. Kalau Gilang mau dijemput atau mau terbang sendiri ke Jogja, kabari ya nanti Om belikan tiketnya.” kata Cahyo, seraya meninggalkan Gilang di depan ruang dimana Bagas dirawat.

Sebenarnya, Bagas hanya akting. Dia nggak kecelakaan. Tapi hanya pusing kepala.

Dokter bilang, dia hanya kurang istirahat. Tapi, Bagas merekayasa dirinya kecelakaan.

Tujuan utamanya, tak lain, Bagas nggak ingin Gilang ikut Rihana dan Cahyo pindah ke Jogja. Maka dari itu, Bagas menyusun cerita, kalau dia kecelakaan.
Bagas bersyukur, ternyata Gilang masih peduli pada Bagas.

Dia berharap, Gilang akan selalu bersama Bagas.

Melihat Bagas terbaring lemah tak berdaya, Gilang mendekat.

“Gilang, kamu datang ya?” sapa Bagas, membuka matanya pelan.

“Papa rindu banget sama Gilang.” ucap Bagas lagi.
Gilang menggenggam tangan Bagas yang terpasang jarum infus itu, erat.

“Udah Papa nggak usah banyak gerak.” kata Gilang lirih.

“Riko mana Gilang?!” tanya Bagas.
“Abang tadi mau ikutan. Tapi nggak keburu Pa. Dia lagi berkemas barang-barangnya. Jam 16.00 wib, Mama dan Papa Cahyo, sama Abang, mau terbang ke Jogja.” jelas Gilang.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 65: Hari Pertama Jadi Istri Cahyo

Tanpa Gilang bercerita, sebenarnya Bagas sudah tahu jauh-jauh hari, soal rencana keberangkatan Rihana dan suami barunya itu.

“Terus Gilang gimana?” Bagas penasaran ingin tahu jawaban Gilang.

“Tenang Pa. Nanti Gilang bisa nyusul Mama, kalau Papa udah sehat,” ucap Gilang yang berusaha menenangkan Bagas.

“Ya Allah Gilang. Baik banget kamu sama Papa,” Bagas membelai kepala anak lelakinya itu dengan penuh kasih sayang.

“Aduh……!” Bagas mengaduh karena dia terlalu banyak gerak, tubuhnya serasa sakit.

“Udah Papa jangan banyak gerak,” kata Gilang sekali lagi.

“Makanan papa masih utuh ya? Gilang suapin ya?!” tanya Gilang, sembari membuka penutup makanan bubur ayam, yang masih tertutup rapi itu.

Bagas mengaku ingin tetap makan dengan posisi terbaring. Sebab, dia pusing kalau harus duduk, meski tetap di atas tempat tidur.

“Ya sudah. Posisi papa, tidur aja nggak apa-apa. Lagian kan Gilang suapin,” kata Gilang pelan.

“Makin hari, makin bijak aja ya gaya bicaranya,” Bagas kagum dengan perubahan anak lelakinya yang kedua itu. Apalagi, lama tak bertemu Gilang. Bagas melihat, begitu banyak perubahan yang positif pada Gilang.

Dulu, susah banget kalau dilarang main Ponsel. Susah disuruh mandi. Susah disuruh makan. Sekarang, perubahan positif itu begitu nyata di diri Gilang.
“Makasih ya Gilang. Kamu masih mau peduli sama papa.” ucap Bagas lirih.
Gilang hanya mengangguk.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *