Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Tanpa perlawanan, akhirnya Bagas diamankan pihak kepolisian setelah dilaporkan Fera. Cahyo pun bebas.
Sebenarnya, penyekapan Cahyo di rumah kosong itu, berawal dari Fera yang memberi informasi ke Bagas, bahwa Rihana akan menikah dengan Cahyo. Tapi, aksi yang dilakukan Bagas, di luar dugaan Fera.
Fera bingung dan panik sendiri, setelah tahu ternyata yang dicelakai, malah Cahyo. Awalnya Fera berharap Rihana yang dicelakai Bagas. Ternyata justru kebalikannya.
Hingga akhirnya Fera membuat pengakuan yang mengejutkan Cahyo.
“Pa. Maafin Fera ya.” kata Fera pelan dengan mata berkaca-kaca.
Cahyo heran dengan sikap Fera. Tapi dia nggak bertanya lebih lanjut soal itu. Fera mengakui kesalahannya.
“Janji ya Pa jangan marah.” pinta Fera memelas. Tapi disamping itu juga takut kalau Cahyo emosi setelah mendengar cerita Fera.
Cahyo mengacungkan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah.
“Suer..Papa nggak marah. Tapi, kenapa cewek satu ini yang papa kenal sebagai cewek tomboi, eh giliran sekarang malah mewek?! Ada apa. Cerita aja Papa nggak marah.” ucapnya serius.
“Sefatal apa pun kesalahan Fera, Papa nggak marah kan sama Fera?Janji ya.” Fera minta kepastian dari Cahyo.
“Iya papa janji.”
“Pa. Papa jangan marah ya beneran ya. Fera mau jujur sama Papa.” Fera masih meminta kepastian Cahyo.
Karena gemes, Cahyo mencubit batang hidung Fera yang pesek.
“Berapa kali papa harus menjawabnya!” Cahyo gerah.
“Pa. Insiden kemarin, semua gara-gara Fera, Papa hampir saja celaka dan bahkan bisa saja kehilangan nyawa, di tangan Om Bagas.” jelas Fera dengan debar jantung yang deg-degan.
“Sudahlah sayang jangan bahas kemarin. Sekarang, Fera janji sama papa, akan berubah lebih baik lagi, ke depannya. Kalau mau bertindak sesuatu, pikir dulu apa akibatnya.” ucap Cahyo dengan bijak.
Fera lega, setelah mendengar itu dari Cahyo. Tapi di sisi lain, dendamnya pada Rihana, belum berakhir.
Fera tak mengizinkan Rihana bersatu dengan Cahyo.
Cahyo menemui Rihana di kediamannya.
“Rihana. Aku boleh berkunjung ke rumah kamu nggak. Ada sesuatu yang mau aku bicarakan.”
Tanpa berpikir panjang, Rihana mengiyakan rencana Cahyo itu.
“Silakan Mas. Aku di rumah.”
Dengan kecepatan super, Cahyo meluncur ke kediaman Rihana.
Tiba di kediaman Rihana, Cahyo langsung to the point dengan apa yang ingin dia sampaikan ke Rihana.
‘Kamu libur Mas?” tanya Rihana penasaran.
“Iya. Aku ambil cuti,” sebut Cahyo.
“Oh pantesan. Makanya tumben bisa bebas begini di jam kerja?!” kata Rihana.
Tapi, sebelum melanjutkan percakapan dengan Cahyo, Rihana minta izin ke dapur, buat kopi pahit kesukaan Cahyo.
“Buat kopinya jangan lama-lama ya. Nggak tahan nih?!” kata Cahyo mulai manja.
“Ih apaan sih pagi-pagi juga?!” ucap Rihana.
Cahyo melepas tawa.
“Lagi pula, nanti kan sah-sah aja pagi-pagi, kalau sudah sah!” seloroh Cahyo.
“Eh apaan lagi sih! Udah tunggu bentar aku buatin kopinya dulu,” Rihana bangkit beranjak ke dapur.
Tak disangka, Cahyo mengekorinya.
Diam-diam mendekati Rihana, dan melingkarkan tangannya di pinggang Rihana.
Rihana yang menyadari ulah iseng Cahyo itu, tak bisa mengelak. Dia begitu menikmati pelukan hangat di pagi hari itu.
Tak bergeming, Rihana dibuat, dengan sentuhan hangat tangan Cahyo yang kekar itu.
Pelan-pelan, bibir Cahyo menelusuri leher Rihana penuh birahi.
“Oh Mas……,” Rihana mulai membalas cumbuan Cahyo dengan penuh gairah.
“Ugh…..sayang,” Cahyo mendesah penuh gairah.
Rihana pun terpaksa menunda kopi yang hendak diraciknya itu, saat Cahyo mulai membalikkan tubuh langsingnya itu.
Rihana dan Cahyo berhadap-hadapan. Bibir mereka bertemu dan saling melumat satu sama lainnya. Sementara tangan Cahyo, tak henti menyingkap daster yang dikenakan Rihana.
Cahyo menemukan zona terlarang Rihana. Lalu tangan kekar menerobosnya tanpa ampun.
Rihana mendesah tak bisa menahan hasratnya.
Tanpa sadar, Rihana membiarkan Cahyo, menelusuri lembah terlarang itu, dan cairan hangat itu pun dicolek Cahyo.
Dia masukkan ke mulutnya.
“Nikmat banget rasanya. Ri. Aku nggak tahan Ri.” kata Cahyo pelan, berbisik di telinga Rihana.
Daster Rihana pun dilepas paksa oleh Cahyo. Kini, hanya terlihat segitiga penutup zona terlarang Rihana, dan dua gunung Himalaya itu juga sudah ditanggalkan penutupnya oleh Cahyo.
Hingga dia bebas memainkan chocochipnya dengan leluasa.
“Ugh sayang,” Rihana membalas membelai kepala Cahyo, saat mulut Cahyo dengan brutal memainkan chocochip Rihana.
Namun, sebelum permainan lebih jauh dimulai, Rihana segera menghentikannya.
“Udah sayang. Udahh. Nggak seharusnya kita lakukan ini. Anak-anak sebentar lagi pulang dari sekolah.” ucap Rihana. Sebenarnya dia menikmati permainan itu, apalagi Rihana juga sudah lama sekali tak pernah menikmati permainan yang satu itu.
Cahyo, yang menghormati Rihana, seketika menghentikan permainannya.
“Maaf ya. Aku rindu banget soalnya sama kamu,” ucap Cahyo.
“Heheheheh nggak apa apa Mas, aku juga sebenarnya rindu berat. Tapi kan kita belum sah,” ucap Rihana serius.
“Ri. Menikahlah dengan aku. Aku janji akan membahagiakan kamu,” janji Cahyo serius.
Rihana terdiam tapi di benaknya penuh bahagia.
Ini bagi Rihana adalah impiannya. Setelah gagal bertunangan, Cahyo akan berusaha langsung menjadikan Rihana istrinya.
“Ri. Kita nggak perlu tunangan lagi. Aku akan langsung menjadikan kamu istri aku. Mau kan kamu sayang?” kata Cahyo sembari memeluk erat Rihana.
“Mau ya sayang. Aku butuh kamu di hari tua aku. Aku mau kamu milikku sepenuhnya.” pinta Cahyo lagi penuh harap akan jawaban Rihana yang membuat lega hatinya.
Sengaja Rihana tak buru-buru mengiyakan permintaan Cahyo. Dia ingin tahu reaksi penasaran Cahyo.
“Aku buka paksa lagi nih kalau nggak jawab!” seloroh Cahyo.
“Coba kalau berani!” tantang Rihana.
“Mau? Boleh.” Cahyo langsung bereaksi menyentuh bagian bawah daster Rihana.
“Ih apaan ini! Nanti Gilang dan Riko tahu gimana?!” canda Rihana.
“Biarin!” celetuk Cahyo.
“Ri kumohon ya jadilah istri aku,” pinta Cahyo lagi, kembali ke inti pembicaraan.
“Mas kawinnya kamu mau apa Ri?” tanya Cahyo penuh antusias.
“Aku pingin umroh mas?!” sebut Rihana.
Tanpa berpikir panjang, Cahyo langsung mengiyakan apa yang jadi keinginan Rihana.
Dia pun memeluk erat Rihana lagi, untuk yang kesekian kalinya.
“Seminggu lagi ya kita berangkat. Besok, kita ke KUA. Seminggu setelah nikah, kita berangkat umroh bareng,” sebut Cahyo, serius.
“Serius Mas?” Rihana serasa tak percaya, karena Cahyo langsung mengiyakan apa yang jadi keinginan Rihana.
“Serius Mas?” tanya Rihana lagi, serasa tak percaya.
“Iya sayang. Serius. Pernah nggak aku main-main sama kamu?!” sebut Cahyo meyakinkan Rihana.
Sekarang gantian Rihana yang memeluk Cahyo erat.
“Terimakasih ya Allah Engkau telah mengirimkan laki-laki baik ini untuk hamba,” Rihana bahagia bukan main, pagi itu.
“Terus. Ngomong-ngomong, kopi aku kapan dibuat?!” Canda Cahyo menagih kopi yang dijanjikan Rihana.
“Hahahahaha iya. Siapa suruh ganggu aku. Tadi kan aku sudah mau buat kopinya. Mas Cahyo sih datang-datang ganggu aku!” celetuk Rihana.
Cahyo melepas tawa bahagia. Karena tak lama lagi perempuan yang ada di hadapannya itu akan jadi milik dia seutuhnya.
“Ri. Misalnya, setelah nikah, aku pindah tugas ke daerah lain, kamu mau nggak?!” tanya Cahyo.
“Terserah Mas Cahyo, aku ikut aja kemana Mas Pergi,” ucap Rihana mantap.
“Alhamdulillah kalau memang kamu mau.” Cahyo benar-benar bahagia soal itu.
“Aku tunggu di ruang tamu ya kopi orderan aku?!” Cahyo beranjak menuju ruang tamu.
Tak lama, kopi kesukaan Cahyo pun disuguhkan Rihana di ruang tamu.
“Mas. Tapi aku masih ragu dengan Fera. Mau kah dia menerima kehadiran aku di kehidupan kamu?” Rihana kembali diselimuti rasa ragunya yang tak berujung.
“Insya Allah Fera menerima. Lagi pula, sampai kapan aku harus hidup sendiri Ri? Usia aku bertambah. Mama nya Fera nggak mungkin balik sama aku. Aku sudah menutup lembaran lama hidup aku, Ri,” ucap Cahyo.
Sejenak Cahyo sedikit menyeruput kopi pahit buatan Rihana yang masih panas itu.
“Nikmat banget kopi ini. Apalagi orang yang buat kopinya. Pasti nikmat luar biasa,” puji Cahyo, buat Rihana tersipu malu.
“Ri. Kapan lagi coba, menikmati kopi buatan istri tercinta?!”
“Ri. Boleh nggak kopi ini aku bawa ke kantor?!” tanya Cahyo tiba-tiba.
Katanya dia harus buru-buru ke kantor, karena ada urusan mendadak.
“Lho katanya libur. Nggak jelas lho pejabat PLN satu ini. Libur tapi mau ngantor,” celetuk Rihana. Tapi, dia tetap ke dapur, mencari botol kosong buat menuang kopi Cahyo.
“Hahahhaha. Iya. Soalnya ada urusan mendadak,” jelas Cahyo.
Tak lama, Rihana membawa botol kosong warna pink. Lalu menuangkan kopi itu ke dalam botol.
“Ih warna botolnya pink pula. Haduh. Hahahahahha!” protes Cahyo.
“Tapi, nggak apa, yang penting isi kopinya adalah kopi buatan istri tercinta.” kelakar Cahyo.
“Hmmm. Belum juga resmi jadi istri. Ini kan baru calon istri!” celoteh Rihana.
“Hahahaha terserah lah apa saja boleh. Istri atau calon istri, yang penting kopinya nikmat!” jawab Cahyo penuh canda. Hingga akhirnya dia pamit mau ke kantor. (*)













