ISTRI PAJANGAN Bagian 90: Gilang Sakit

Karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam

Rihana terbangun. Ia menyipitkan matanya, saat melihat jam dinding di kamarnya menunjukkan pukul 02.00 wib.

Ponselnya bergetar. Karena penasaran, ia meraih ponsel di atas meja rias nya itu.

Ada pesan berulang dari nomor kontak tak dikenal. Dilihatnya foto profil si pengirim. Ternyata itu dari Bagas.

Dibukanya satu persatu pesan itu. Tapi, Rihana belum sadar sepenuhnya apa isi pesan itu.
Kepalanya masih berat karena menahan kantuk.

Rihana membaca ulang pesan itu. “Ri. Gilang sakit. Dia aku titipkan dengan ibuku. Soalnya aku lagi ada masalah. Aku lagi nggak di rumah untuk sementara ini. Kalau kamu ada waktu, tolong jemput saja Gilang, bawa ke Jogja!”

Seketika, rasa kantuknya hilang.
Matanya membulat membaca pesan itu sekali lagi.

“Ya Allah Gilang?!” pekik Rihana, hingga membuat Cahyo kaget dan terbangun.

“Kenapa Ri?!” Cahyo langsung panik melihat Rihana nangis di tengah malam buta itu.

“Sayang. Tenangkan dirimu dulu,” Cahyo memberinya segelas air putih agar Rihana meneguknya barang sedikit saja.

“Gilang Mas,” bibirnya gemetar menceritakan soal pesan yang dikirim Bagas.

“Gilang dititipkan ke ibunya Bagas. Bagas entah kemana katanya lagi ada masalah! Waras nggak sih dia Mas?!” Rihana menangis sesenggukan.

“Ya Allah, Nak!” Rihana semakin panik karena saat mencoba menghubungi Gilang, panggilan telepon Rihana tak direspon.

“Kamu menelepon siapa?” tanya Cahyo yang berusaha ingin menenangkan Rihana yang sedang di luar kendali, paniknya.

“Sudah nggak usah telepon Bagas. Nggak bakal diangkat kalau memang ceritanya seperti itu.” saran Cahyo.

“Aku menelepon Gilang Mas.” sebut Rihana.

“Kan Gilang katanya lagi demam tinggi. Nggak mungkin angkat ponselnya kalau ada yang telepon.” kata Cahyo, semakin buat Rihana gemetar.

“Gilang.Tunggu Mama. Ya Nak. Besok mama balik ke Jakarta. Jemput Gilang.” Rihana seperti kehilangan arah malam itu.

BACA JUGA:  Film Lebaran 2026: Senin Harga Naik, Drama Hangat tentang Keluarga dan Warisan Toko Roti

Dia begitu mengutuk Bagas yang dinilainya tak bertanggungjawab akan keselamatan Gilang.

“Besok kamu dan Riko bisa berangkat pagi. Jadwal terbang pesawatnya jam 09.00 wib. Aku antar kalian ke bandara jam 07.00 wib ya.” Cahyo menunjukkan tiket pesawat atas nama Rihana dan Riko, yang sudah dibelinya secara online.

Rihana tak bisa berkata-kata. Cahyo memang begitu pengertian dan paham apa yang diinginkan Rihana.

“Maaf ya sayang aku nggak mendampingi kalian saat ke Jakarta jemput Gilang. Masalahnya aku baru saja libur panjang. Mau minta izin cuti lagi, aku nggak enak nanti apa kata orang kantor.” ucap Cahyo sedikit tak nyaman karena tak ikut serta menjemput Gilang ke Jakarta.

“Ya Allah Mas nggak masalah. Ini aja tiketnya aku makasih banyak, sudah dibantuin,” aku Rihana terharu.

Dia pun memeluk erat Cahyo.
“Udah. Tidur. Biar besok nggak kesiangan.” kata Cahyo berusaha memeluk Rihana dalam tidurnya.

“Makasih ya Allah Engkau telah mengirimkan malaikat ini untuk menjadi pendampingku.” gumam Rihana, yang merasa dilindungi saat dia membutuhkan kehadiran Cahyo.

Rihana berusaha memejamkan matanya dalam dekapan erat Cahyo. Tapi sia-sia. Dia masih memikirkan anak lelakinya, yang kini sedang bertaruh nyawa tanpa kehadirannya di sisi.

Cahyo pun spontan terbangun lagi, karena melihat Rihana tak henti menangis.

“Sayang, jangan ditangisi. Tapi doakan Gilang, supaya dia diberi tenaga sama Allah, sampai ketemu kamu dan bisa terbang ke Jogja, secepatnya.” bisik Cahyo yang berusaha menenangkan Rihana.

Dada Rihana rasanya masih sesak. Dia bahkan tak akan memaafkan Bagas, kalau sampai terjadi apa-apa sama Gilang.

Cahyo mengusap bulir-bulir air mata Rihana. Membelai rambutnya, lalu mendekap erat perempuan itu.

“Yuk kita berdoa buat Gilang. Kita sholat hajat aja. Memohon besok dilancarkan segala urusan kamu saat menjemput Gilang,” Cahyo pun mengajak Rihana mengambil air wudhu.

BACA JUGA:  Usung Tema ENCOUNTERS, Jakarta Film Week 2026 Digelar 21-25 Oktober

Cahyo mengajaknya menghadap Allah. Meminta pertolongan-Nya.
Setelah itu, Rihana merasa lebih tenang batinnya.

“Makasih ya Mas. Kamu selalu menjaga aku, dengan segenap kasih sayangmu,” Rihana mencium punggung tangan kanan Cahyo.

Cahyo pun mencium kening Rihana penuh kasih sayang.
“Tidur lagi yuk, sayang. Biar besok bisa bangun subuh,” Cahyo menuntun tangan Rihana, menuju pembaringan.

***
Jam lima, selepas sholat subuh, Rihana dan Riko sudah bersiap-siap dengan sejumlah barang bawaannya. Tak banyak. Hanya bawa kaos oblong dua lembar untuk ganti baju nanti saat tiba di Jakarta.

Begitu juga dengan Cahyo, sudah bersiap.
“Cek ya sayang, uang saku buat kalian selama di perjalanan menuju ke Jakarta, sudah aku transfer ke rekening kamu ya, sepuluh juta.” sebut Cahyo sembari mengirimkan bukti transfer pada Rihana.

Lagi lagi Rihana tak bisa berkata banyak atas kebaikan Cahyo.
“Mas, sekali lagi makasih banget ya atas pertolongan kamu. Tapi, jujur ya, aku nggak bisa balas kebaikan kamu satu per satu. Nggak sanggup aku, sayang?!”

Rihana meneteskan air mata lagi. Rasanya, berat banget menghadapi hidup, jika menyangkut keselamatan anak-anaknya.

“Beri kesembuhan untuk Gilang, ya Allah. Jaga dia selama aku belum ada di sampingnya.” bisik Rihana lirih.

Setelah semuanya beres, Cahyo pun mengantar Rihana dan Riko sampai bandara.

***
Satu setengah jam kemudian, pesawat yang ditumpangi Riko dan Rihana, dengan rute tujuan Jogja – Jakarta, mendarat dengan selamat di bandara Soekarno – Hatta.

Tak sabaran, Rihana dan Riko segera mencari taksi menuju ke kediaman Bagas.

Tiba di rumah Bagas, Rihana justru dipersalahkan sama Fatimah, dituduh sebagai ibu yang cuek, tak peduli dengan anak, ibu yang tak becus, ibu yang goblok dan makian lainnya yang tak pantas diterima Rihana.

“Ya Allah. Ibunya Bagas ini seenaknya menuduh aku!” Rihana nelangsa menerima kata-kata tuduhan buruk itu dari Fatimah.

BACA JUGA:  Inilah Yang Bikin Giring Ganesha Kangen Bareng Nidji

“Hai satu lagi. Ingat ya. Sebelum kamu pergi, ganti semua biaya makan dan uang jajan Gilang, selama tinggal di rumah saya!” pinta Fatimah yang begitu kejam.

Mendengar itu, Rihana terperangah. Dia sama sekali tak menyangka Fatimah akan melakukan itu pada Gilang. Padahal Gilang itu cucunya sendiri. Darah daging Bagas. Bukan anak tiri.

“Maaf Bu kalau Gilang sudah menyusahkan. Kalau boleh tahu, saya harus ganti berapa Bu, biaya Gilang selama tinggal disini.” tanya Rihana berusaha merendah, meski harga dirinya direndahkan orang tua Bagas.

Baginya, harga diri itu tak penting. Sekarang, yang terpenting adalah segera membawa Gilang ke rumah sakit terdekat agar dia segera diberi pertolongan dokter.

Rihana tak habis pikir, betapa kejam, kelakuan Fatimah, mantan ibu mertuanya itu.

“Sekarang ya, kamu jangan kabur dulu. Ganti sekarang uangnya.” desak Fatimah.

Rihana bingung menyikapi itu. Dia berusaha menghubungi Cahyo meminta pendapat.

“Coba tanya ke mantan ibu mertua kamu itu, kalau diganti lima juta bagaimana?! ucap Cahyo memberi saran ke Rihana.

“Maaf ya Mas aku bingung mau cerita ke siapa kalau nggak cerita soal ini ke kamu,” Rihana merasa nggak enak hati karena terus meminta Cahyo memenuhi keperluannya.

“Ya ela sayang. Sudah nggak usah mikir macem-macem. Sekarang pikirkan Gilang gimana bisa selamat dan segera dibawa ke rumah sakit atau ke klinik, agar segera mendapat pertolongan.” pesan Cahyo serius.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *