Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Entah ada angin apa, hari ini, pagi-pagi Bagas tiba-tiba balik ke rumah.p
Rara yang sok dekat langsung mendekati Bagas dengan manja.
“Selamat pagi, Mas. Semalam Rara nungguin Mas Bagas. Eh tapi Mas Bagas nggak balik ke rumah. Rara kecewa. Tapi Rara terus berharap Bagas balik ke rumah,” kata Rara yang nggak segan-segan duduk di dekat Bagas.
“Heh..Perempuan gila. Bisa diam nggak!? Aku balik ke rumah mau tenang. Ini malah ada kamu. Sial banget aku pagi ini,” Bagas emosi dan berusaha menjauh dari Rara.
Dia masuk ke kamar, dan mendapati Rihana sedang melakukan video call dengan Cahyo.
Bagas langsung mengambil ponsel Rihana.
“Apaan sih. Kepo banget!” celetuk Rihana.
Tak lama, dengan sigap Rihana berhasil merebut ponsel itu dari tangan Bagas.
“Dasar perempuan murahan!” teriak Bagas.
Rihana berusaha tenang menghadapi Bagas.
“Lebih baik diam. Lagian kenapa dia ngurus urusan aku. Selama ini kemana aja. Bukannya dia selama ini cuek sama aku?” Rihana kesal karena merasa privasinya terganggu oleh Bagas.
“Maka dari itu, ceraikan aku sekarang,” tiba-tiba Rihana mengungkapkan itu di depan Bagas.
“Kamu bilang seribu kali minta cerai pun aku nggak akan menuruti keinginan kamu.” jawab Bagas tegas.
“Kenapa alasannya. Bukannya kamu juga sudah sibuk ngurus perempuan-perempuan lain di luar sana. Kamu peduli nggak sama aku. Sama anak kita? Nggak kan?!” Rihana mulai terbakar api emosi.
Dia nggak tahan ingin mengungkapkan semuanya di depan Bagas.
*Plakkk!
“Hentikan omongan ngawur kamu!” bentak Bagas.
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Rihana. Bersamaan dengan itu, Rihana pergi meninggalkan Bagas.
Datang Rara yang berusaha meredakan emosi Bagas.
Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Bagas, tanpa malu-malu. Ironisnya Bagas tak menolak saat Rara mendekatinya.
Tapi, tak lama, Bagas berusaha menepis tangan Rara yang tadi melingkar di pinggangnya.
“Mas. Mau kemana?” teriak Rara.
Rara pingsan. Tubuhnya tergeletak di lantai kamar Bagas.
Bagas terlihat panik melihat Rara pingsan tak sadarkan diri.
Dia pun berbalik arah, terpaksa menggendong tubuh Rara, lalu membaringkannya di ranjang tidur Rihana.
Bagas pun berusaha menyadarkan Rara yang masih memejamkan matanya.
“Nyusahin orang aja ini!” celetuk Bagas yang emosi bercampur panik.
“Ma…..maa…..Rara Ma.” teriak Bagas dari balik ponsel genggamnya. Kebetulan, Fatimah, berada di luar.
“Kenapa dia?” tanya Fatimah dari seberang.
“Ini dia pakai pingsan segala. Mama dimana. Kalau bisa, suruh dia balik ke rumahnya. Nyusahin orang saja dia ini Ma?!” desak Bagas dengan emosi yang meninggi.
“Ya itu calon istri kamu, Bagas. Dia layak kamu sayangi. Karena dia memang perempuan hebat!” sebut Fatimah, malah mengalihkan pembahasan yang berbeda.
“Ah sudahlah Ma. Urus aja Rara. Nih dia pingsan di kamar Rihana. Aku mau pergi ada urusan!” Bagas masih terus terbakar api emosi gara-gara ulah Rara yang pakai acara pingsan.
Tanpa belas kasihan, Bagas meninggalkan Rara di kamar Rihana. Dia pun bergegas pergi.
Berselang tiga puluh menit kemudian, Fatimah, datang. Dia berusaha menenangkan Rara.
“Sabar dulu ya Nak Rara. Bagas memang sedikit tempramen,” kata Fatimah, sembari mengoleskan minyak angin kayu putih ke pelipis Rara.
“Gimana sudah agak mendingan?!” tanya Fatimah yang sedikit khawatir akan keadaan Rara.
Rara memperbaiki posisinya. Dia duduk dengan menyandarkan punggungnya.
“Tante, saya balik saja hari ini. Mungkin Mas Bagas nggak benar-benar tertarik sama Rara,” ucap Rara pelan.
“Jangan putus asa begitu Nak Rara. Saya yakin, aslinya Bagas itu suka sama Nak Rara,” Fatimah berusaha meyakinkan Rara agar tak buru-buru pergi dari rumahnya.
Di sisi lain, Rara melakukan itu, hanya pura-pura. Dia bertekad bagaimana pun caranya dia harus bisa menakhlukkan hati Bagas. Karena jadi menantu Subroto adalah impiannya sejak masih duduk di bangku SMA.
Terbayang di otak Rara, jadi menantu Subroto adalah hal yang paling membanggakan.
“Nak Rara, satu malam lagi ya di rumah Tante. Nanti Bagas kan balik, Nak Rara bisa lebih dekat lagi sama Bagas.” lagi-lagi Fatimah membujuk Rara.
Masih dengan akting yang dibuat-buat, Rara mengatakan kalau dia sebenarnya masih pusing kepala.
Jadi, Rara pun menerima tawaran Fatimah.
“Boleh banget Nak Rara, mau semalam atau dua malam di rumah Tante, nggak masalah. Tante dengan senang hati menerima Nak Rara di rumah ini,” wajah Fatimah berubah sumringah. Dia merasa berhasil mempengaruhi Rara untuk tetap bermalam di rumahnya.
Rihana tiba-tiba muncul dan mengambil alih suasana pagi itu.
“Hei perempuan iblis. Kamu ada izin siapa masuk ke kamar aku!” bentak Rihana emosi yang mendapati Rara tidur di atas ranjangnya.
Rara hanya senyum-senyum sinis. Dia merasa dapat dukungan dari Fatimah, yang juga tiba-tiba muncul di depan pintu kamar Rara.
“Hei menantu tak berguna. Bukan hak kamu, mengusir Rara. Dia adalah tamu Bagas dan yang berhak mengusir Rara adalah Bagas!” bentak Fatimah.
“Ma…..aku masih punya hak di rumah ini, selama aku belum bercerai dari Bagas.”
Untuk kesekian kalinya Rihana membantah saat dia dibentak Fatimah. Padahal, selama ini Rihana berusaha diam dan mengalah saat sang mertua memarahinya.
Tanpa diduga, Fatimah mendekat dan berniat melayangkan tamparan ke pipi Rihana. Tapi, Rihana berhasil menampiknya.
“Mulai detik ini, nggak ada yang bisa merendahkan, aku Ma. Karena aku juga manusia yang butuh dihargai.” tegas Rihana, dan kalimat itu membuat Fatimah tak bisa berbuat apa-apa.
“Aku istri Bagas Ma, dan aku juga punya hak atas rumah ini.” ucap Rihana dengan lantangnya.
“Kalau Mama nggak suka dengan aku, silakan Mama pergi dari rumah ini, beserta perempuan iblis ini!” bentak Rihana lagi masih diselimuti emosi yang terus memuncak.
“Jangan kurang ajar kamu ya Rihana. Kamu itu cuma menantu miskin. Nggak punya apa-apa. Seharusnya kamu bersyukur bisa diterima jadi menantu keluarga Subroto. Ingat itu Rihana!” Mata Fatimah membulat, penuh emosi.
“Oh itu rejeki aku. Aku miskin, terus dapat suami kaya raya. Berarti itu sudah menjadi takdir aku Ma?!” kata Rihana dengan bangganya.
“Jangan sesumbar kamu Rihana. Lihat saja aku akan balas perbuatan kamu ini. Kamu sama sekali nggak menghargai aku sebagai mertua kamu?!” kelakar Fatimah.
Mendengar kalimat itu, Rihana justru mentertawakan Fatimah.
“Oalah Ma. Mama minta dihargai? Bagaimana saya menghargai Mama kalau Mama saja sewenang-wenang sama aku. Terus Mama anggap aku menantu tak berguna. Dimana otak Mama, Ha!” bentak Rihana balik.
Mata Fatimah semakin membulat. Tak lama dia pun beranjak pergi dari kamar Rihana, diikuti Rara yang sedari tadi menjadi penonton perang mulut antara Fatimah dan Rihana.
“Hahahaha kamu kira aku bisa dipermainkan, dibodoh-bodohi, Fatimah. Rihana sekarang, berbeda dengan Rihana yang dulu. Sekarang aku akan lawan habis-habisan kalau mertua sialan itu merendahkan aku.” Rihana merasa puas hari ini, setelah berhasil melemahkan benteng pertahanan Fatimah.(*)













