Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Bagas tak berkutik saat ibunya mengenalkan seorang perempuan muda yang cantik dan menggairahkan.
“Bagas. Kenalkan ini Rara. Dia pemilik perusahaan kosmetik dan juga pemilik 20 kafe yang ada di Bandung,” sebut Fatimah, ibu Bagas yang terlihat antusias.
“Dia itu wanita mandiri. Nggak pernah menyusahkan orang lain. Apa-apa semuanya ditangani sendiri.” sebut Fatimah lagi, tanpa titik koma.
Bagas hanya diam. Bahkan pura-pura nggak respon dengan Rara.
“Kenalan dulu kalian.” Fatimah lagi-lagi berusaha mencairkan suasana. Karena, Bagas terlihat cuek dari tadi.
Rara berusaha menjabat tangan Bagas. Tapi, respon Bagas tak seperti yang diharapkan Rara. Bagas tak bersedia menyambut jabat tangan Rara.
Meski seperti itu, Rara tak ambil hati. Dia menganggap perkenalan dengan Bagas, hanya iseng semata.
Di hari Minggu yang ceria. Rara tiba-tiba datang dengan membawa sejumlah makanan dan juga barang-barang tas branded.
Menanggapi itu, Bagas langsung menuduh Rara datang ke rumahnya tak lain hanya untuk tujuan pamer.
“Bisa bawa balik nggak barang-barang ini. Mama aku nggak butuh barang-barang sampah ini!?”
Tanpa berkata-kata, Rara mengemasi barang bawaannya. Tapi lagi-lagi Fatimah datang membela.
“Bagas. Kamu nggak boleh begitu. Rara datang ke rumah kita untuk bersilaturahmi,” ucap Fatimah yang berusaha membela Rara.
“Lagian Ma..ngapain dia datang bawa tas-tas branded. Emang mama nggak mampu beli, harus dikasih sama dia? Dia itu siapa Ma..Bagas nggak tertarik sama dia. Dia nggak tipe Bagas!?” cerocos Bagas panjang lebar.
“Bagas kamu ngomong apa!” bentak Fatimah, yang tak ingin Bagas keterlaluan merendahkan Rara.
“Dia itu pengusaha sukses! Bukan kayak Rihana yang bisanya hanya nyusahin!” celetuk Fatimah yang terus merendahkan Rihana.
“Masa bodoh pengusaha atau apalah! Bagas nggak suka perempuan murahan ini!” tegas Bagas penuh emosi.
Tak lama, Bagas berlalu dari hadapan Fatimah dan Rara.
Senin sore, Rara sudah tiba di rumah Bagas. Kali ini, Rara buat kejutan. Dia menghadiahkan tiket jalan-jalan ke Singapura, buat Fatimah.
Fatimah langsung menyambut gembira hadiah yang diberikan Rara. Seumur-umur, baru kali ini Fatimah hendak melakukan perjalanan ke luar negeri.
Tak hanya sekedar tiket PP ke Singapura. Menginap 7 hari 7 malam di hotel berbintang yang ada di Singapura.
“Ya Allah, Rara. Kamu baik banget sama ibu. Baru kali ini aku dikasih hadiah istimewa seperti ini. Sama menantu sendiri saja nggak pernah, Rara.” ucap Fatimah dengan wajah sumringah dan senyum mengembang.
Mendengar itu, Rihana lebih memilih pergi dari rumah itu.
“Lihatlah. Menantu tak berguna itu pergi begitu saja tak ada etika.” celetuk Fatimah.
“Dia menantu tak berguna. Tak pernah membahagiakan mertua. Semua dinikmati sendiri..Dasar menantu pelit.” ucap Fatimah yang terus-terus menjelekkan Rihana.
Rara yang mendengar itu, hanya senyum-senyum.
Lalu, siapa sosok Rara, yang tiba-tiba muncul di depan Bagas?!
Rara adalah anak kawan Fatimah yang boleh dibilang sudah jadi pengusaha sukses.
Sayangnya, Rara belum mau menikah dengan laki-laki manapun, karena trauma masa lalu.
Kehadiran Rara di rumah Bagas sudah diatur sedemikian rupa oleh Fatimah. Karena, Fatimah tahu Rihana bersikeras hendak bercerai dari Bagas.
“Sabar ya Tante,” Rara bersikap selembut mungkin di depan Fatimah.
“Sabar ada batasnya. Kamu lihat sendiri kan bagaimana menantu aku yang itu. Dia sama sekali nggak menghargai aku sebagai mertuanya.” Fatimah blak-blakan di depan Rara.
“Iya Bu. Sabar. Besok pagi kan kita jalan-jalan ke Singapura, biar rileks!” ucap Rara yang berusaha menenangkan Fatimah.
Di lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Rara suka banget ketika Fatimah membenci Rihana. Karena, dengan seperti itu, Rara punya peluang besar untuk menggantikan posisi Rihana, sebagai Nyonya Bagas. Pemilik perusahaan tambang dan juga pengusaha property, yang kaya tujuh turunan.
Sudah lama sebenarnya Rara mengincar Bagas. Intinya, Rara akan berjuang keras, untuk mendapatkan hati Bagas.
“Besok, Rara jemput Tante Fatimah jam 06.00 wib. Karena, Fery tujuan Singapura, akan berangkat jam 08.00 wib.” sebut Rara.
“Iya Rara. Pokoknya Tante nunggu Rara.” kata Fatimah dengan semangatnya.
“Nanti malam Tante belanja cemilan ya Ra. Buat bekal perjalanan kita besok.” kata Fatimah.
“Boleh Tante..Nanti Rara transfer ya uang jajannya buat beli cemilan itu.” sebut Rara.
“Wah……benar-benar calon mantu idaman.” puji Fatimah di hadapan Rara.
“Tante berharap Bagas secepatnya bercerai dari Rihana. Karena, Tante nggak suka kalau dia jadi menantu Tante seumur hidup. Nggak berguna juga dia jadi mantu keluarga ini. Bisanya hanya nyusahin,” kata Fatimah yang terus memojokkan keberadaan Rihana di keluarganya.
Rara senyum-senyum penuh harap, agar Bagas secepatnya bercerai.
“Kamu mau kan jadi istri Bagas?” tanya Fatimah serius.
“Mau pakai banget, Tan. Secara Rara juga sudah tahu sejak lama soal siapa Mas Bagas.” kata Rara yang berlagak tahu sosok Bagas selama ini.
“Kamu cari cara ya biar bisa dekat sama Bagas. Nanti pokoknya Tante akan bantu, buat pertemuan kalian.” kata Fatimah, memberi angin segar buat Rara.
Mendengar kata-kata Fatimah, rasanya Rara berada di atas angin. Dapat dukungan seratus persen, untuk merebut hati Bagas.
Memang, di sisi lain, Bagas sedikit menolak kehadiran Rara. Apa pun yang dilakukan Rara, rasanya belum bisa membuka pintu hati Bagas. Meski demikian Rara tak akan pernah menyerah.
“Tante..Maaf, bukan Rara mau menyerah. Tapi, Mas Bagas itu di kantornya punya sekretaris pribadi yang cantik. Kabarnya mereka lagi deket. Terus gimana dong kalau begitu?!”
“Oh itu gampang. Nanti Tante cari cara biar sekretaris Bagas di kantor itu dipecat dan kamu bisa menggantikan posisinya.” lagi-lagi Fatimah masih memberi harapan angin segar buat Rara.
Demi mendapat perhatian lebih dari Fatimah, Rara turun ke dapur, dengan alasan mau masak masakan spesial buat Fatimah.
“Tante, boleh nggak Rara masak sesuatu?!” katanya tiba-tiba.
“Hmmm. Boleh dong. Memang beruntung banget kalau sampai Bagas bisa mendapatkan perempuan seperti kamu.” puji Fatimah.
Hidung Rara langsung ngembang. Merasa tersanjung dengan pujian Fatimah.
“Kamu itu ya Ra. Memang pandai ambil hati Tante. Cantik, baik hati, dan jago masak. Ya sudah Ra. Pokoknya kalian harus secepatnya jadian. Bagas harus bisa jadi suami kamu!”
Rara lagi lagi tertawa dalam hati. “Dasar perempuan begok. Mau saja dikadali. Bagaimana pun, aku harus bisa berada di tengah-tengah keluarga ini. Aku adalah calon istri sultan!” gumam Rara penuh ambisi.
Di otak Rara saat ini, dia berharap bisa menguasai harta Subroto.
“Kalau sudah ada dalam genggaman, perempuan tua bodoh ini akan aku usir dari rumah ini.”
Niat Rara licik. Hanya menginginkan harta keluarga Subroto, ayah Bagas yang kaya raya. Tajir melintir tujuh turunan.
“Rara. Kamu tidur disini saja ya. Nggak usah balik ke rumah. Nanti kalau memang mau balik, biar Tante minta Bagas mengantar kamu.” kata Fatimah. Rara pun mengiyakan apa yang dikatakan Fatimah.
Ironisnya, meski semalam tidur di rumah Bagas, justru Bagas nggak balik ke rumah. Hanya sesekali, Bagas balik ke rumah. Itupun kalau ada keperluan yang urgent.(*)













