Ketika Udara Tak Lagi Aman untuk Dihirup, Dikepung Kabut Asap

Ilustrasi: kabut asap di Batam.

LANGIT yang biasanya menjadi pemandangan sehari-hari kini tertutup kabut asap. Bukan hanya jarak pandang yang menurun, tetapi udara yang dihirup masyarakat di sejumlah wilayah Kalimantan juga telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah menyebabkan kualitas udara memburuk dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat.

Salah satu wilayah yang terdampak cukup serius adalah Kalimantan Barat. Di Pontianak, kualitas udara dilaporkan mencapai kategori berbahaya akibat tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5. Kondisi serupa juga terjadi di beberapa wilayah Kalimantan lainnya dengan kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Asap Karhutla Ganggu Pernapasan

BACA JUGA:  Realisasi Investasi Batam Tembus Rp38,97 Triliun, Amsakar: Kepastian Regulasi Kunci Tarik Investor

Asap dari kebakaran hutan dan lahan mengandung partikulat halus yang dapat masuk kesaluran pernapasan. Paparan asap dapat menyebabkan berbagai keluhan kesehatan, seperti batuk, iritasi mata dan tenggorokan, hingga gangguan pernapasan. Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Dampak kesehatan mulai terlihat dari meningkatnya kasus gangguan pernapasan. Data Kementerian Kesehatan yang dilaporkan Reuters mencatat jumlah kasus gangguan pernapasan di wilayah terdampak meningkat dari 50.891 kasus pada 1 September menjadi lebih dari 113.000 kasus pada 9 September 2026.

Aktivitas Masyarakat Ikut Terganggu

Kabut asap tidak hanya berdampak pada kesehatan. Aktivitas masyarakat juga ikut terganggu akibat jarak pandang yang menurun dan kualitas udara yang tidak mendukung kegiatan di luar ruangan.

BACA JUGA:  Semarak MTQH Sagulung 2026, Amsakar Dorong Pengamalan Al-Qur’an dan Kepedulian Lingkungan

Di beberapa daerah, kegiatan pendidikan bahkan harus disesuaikan dengan kondisi udara.
Pemerintah daerah mengambil langkah untuk mengurangi aktivitas luar ruangan sebagai upaya melindungi masyarakat dari paparan asap.

Upaya Penanganan Terus Dilakukan
Pemerintah dan berbagai pihak terus melakukan pemantauan kualitas udara serta penanganan kebakaran. Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk memantau kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara memburuk.

Karhutla yang terjadi di Kalimantan menunjukkan bahwa kebakaran hutan bukan hanya persoalan lingkungan. Ketika asap menyebar ke pemukiman, dampaknya langsung dirasakan masyarakat melalui udara yang tercemar dan meningkatnya risiko gangguan kesehatan.(*)

(Alief Putra Diata, Siswa SMK N 7 Batam)

BACA JUGA:  Segudang Prestasi di Usia Dini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *