karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam
Dokter Diana mengatakan, jika Gilang terlambat dibawa ke dokter, nyawa nya tak akan tertolong lagi.
Rihana gemetar mendengar penjelasan itu.
“Gilang demam tinggi. Bersyukur, ibu sudah cekatan membawanya kemari,” ucap Dokter Diana.
“Iya Dok. Terimakasih sudah menyelamatkan anak saya,” kata Rihana berterimakasih pada dokter cantik spesial penyakit dalam itu.
“Insya Allah dua hari sembuh, dengan dosis obat yang saya berikan ini,” sebut Dokter Diana, menyerahkan selembar resep obat itu ke Rihana.
“Gilang istirahat yang cukup dulu ya. Jangan terlalu banyak beraktifitas.” pesan Dokter Diana pada Gilang.
Gilang hanya sedikit menganggukkan kepalanya. Posisinya masih terbaring lemah tak berdaya, di tempat tidur ruang UGD.
“Sebentar lagi pindah ke ruangan rawat inap ya sus, tolong pasien dibantu,” pinta Dokter Diana, pada dua suster yang mendampinginya di ruang UGD itu.
“Baik Dok,” dua suster itu menjawab kompak, perintah Dokter Diana.
Tak lama, Gilang dipindah ke ruangan rawat inap.
“Mas. Sekarang Gilang sudah di ruang rawat inap. Kata Dokter Diana, dua hari insya Allah sehat, dan boleh balik ke rumah.” sebut Rihana memberitahu Cahyo.
“Alhamdulillah ya Allah.” ucap Cahyo ikut senang.
“Ya sudah aku boking tiket ya buat kalian bertiga balik ke Jogja,” kata Cahyo lagi.
“Iya Mas makasih ya……..,” balas Rihana.
Hanya dalam hitungan menit, Cahyo memberikan bukti pembayaran pembelian tiket pesawat Jakarta-Jogja, buat Rihana, Riko dan Gilang.
“Cepet banget Mas belinya. Kan tiga hari lagi aku baliknya,” kata Rihana.
“Ya nggak masalah, sayang. Yang penting kan itu tanggal penerbangannya sesuai dengan jadwal rencana kamu balik ke Jogja.” sebut Cahyo.
“Iya sih. Ya udah makasih banyak ya Mas. Semoga murah rejeki selalu, panjang umur selalu, sehat selalu,” ucap Rihana memberi doa terbaiknya.
Perlahan, Rihana bisa tersenyum karena melihat Gilang mulai menunjukkan perkembangan yang bagus.
“Ma. Mau minum susu,” pinta Gilang.
“Oh oke sayang. Mama beli di kantin rumah sakit ya. Tunggu sayang ya. Gilang ditemani sama Bang Riko ya.”
Rihana bergegas menuju kantin Rumah Sakit, membeli minuman susu panas yang diminta Gilang.
Rihana tak henti bersyukur. Tuhan masih menyelamatkan Gilang.
“Ya Allah sayang, maafkan Mama ya. Andai kemarin Mama langsung ajak Gilang ke Jogja, pasti kejadiannya nggak kayak begini. Sakit tapi ditelantarkan sama papa kamu. Ya Allah. Dimana hati nurani kamu, Bagas.” gumam Rihana penuh emosi.
“Mbak saya mau pesen susu panas ya dua cup!” pesan Rihana.
Pelayan kantin itu dengan cekatan melayani permintaan Rihana.
“Oke. Mbak. Tujuh belas ribu ya satu cup.” sebut pelayan itu.
Tak lama, orderan Rihana selesai dan dia mempercepat langkahnya, segera menuju ruang inap tempat Gilang dirawat.
Rihana menarik nafas panjang, setelah menyaksikan Gilang begitu bersemangat menghabiskan satu cup susu panas yang dia belikan itu.
Sudah jadi kebiasaan Gilang, kalau sedang tak enak badan, dia selalu minta dibuatkan susu panas.
Sayangnya kalau soal makan, Gilang memang sedikit agak susah.
Maunya dia minum susu banyak-banyak.
“Gilang. Nanti setelah Gilang sehat, kita ke Jogja ya.” ucap Rihana memberitahu Gilang.
Gilang hanya menganggukkan kepalanya, tanda bersedia diajak ke Jogja.
“Papa gimana Ma?!” tanya Gilang yang masih terlihat mengkhawatirkan nasib Bagas.
“Gampang, sayang. Nanti kalau Gilang rindu sama papa Bagas, Gilang tinggal video call,” sebut Rihana santai.
Padahal, dalam hati Rihana, dia tak mau Gilang memikirkan Bagas. Bagas sudah menelantarkannya. Gilang harus belajar melupakan Bagas.
Tapi, bagaimana pun, ikatan antara anak dan bapak memang tak bisa diputus begitu saja.
“Ma. Gilang mau telepon papa Bagas.” pintanya.
Dengan terpaksa, Rihana pun mencoba menghubungi Bagas dengan ponselnya.
Sesuai harapan Rihana. Ternyata nomor ponsel Bagas tak aktif.
“Alhamdulillah nggak aktif nomor nya?” gumam Rihana puas.
Sementara itu, dilihatnya Gilang tampak kecewa mengetahui nomor Bagas tak bisa dihubungi.
“Mungkin papa kamu lagi di luar kota, Gilang. Lagi sibuk. Lain kali aja ya.” kata Rihana memberi nasehat.
Gilang hanya terdiam.
“Besok, kita coba lagi telepon papa kamu ya,” Rihana berusaha membuat Gilang tak kecewa.
Lagi-lagi sepertinya Gilang masih kecewa.
Rihana terus mencoba menghubungi nomor Bagas, untuk menyenangkan hati Gilang. Tapi, memang nomornya tak aktif. Rihana pun pasrah.
“Ma. Kalau dalam tiga hari ini papa nggak bisa dihubungi. Gimana Gilang mau pamit ke Jogja. Papa pasti sedih kalau Gilang langsung berangkat ke Jogja.” ucap Gilang pelan.
“Ya Allah. Sayang banget dia sama Bagas. Padahal Bagas sudah menelantarkan Gilang.” gumam Rihana kesal.
“Nanti sekolah Gilang gimana. Gilang kan sudah banyak ketinggalan pelajaran sekolah. Gilang harus kejar ketertinggalannya.” Rihana berusaha memberi pengertian pada Gilang.
Sejenak, Gilang masih berpikir. Tapi akhirnya dia setuju untuk berangkat ke Jogja bareng Rihana.
“Nanti Gilang kalau sudah sekolah di Jogja kan bisa hubungi papa Bagas.” ucap Rihana lagi yang terus berusaha meyakinkan Gilang agar dia lebih memikirkan tentang sekolahnya.
Akhirnya Gilang bisa menerima dengan lapang dada, penjelasan dari Rihana.
“Nanti, kalau di Jogja, mama cari sekolah terbaik buat Gilang ya.” Rihana memberi angin segar buat Gilang, biar semangat.
“Enak Dik, kalau sekolah di Jogja. Abang tiap hari makan gudeg.” cerita Riko yang tiba-tiba bicara.
Padahal, Riko, sedari tadi lebih banyak diam, karena tak tahu harus cerita tentang apa ke adiknya itu.
“Apa hubungannya sekolah sama makan gudeg!” celetuk Gilang lalu melepas tawa.
“Oh iya ya. Nggak nyambung!” kata Riko mengklarifikasi ceritanya itu.
“Pasti Abang lagi fokus main free fire kan?!” kata Gilang to the point menebak apa yang dilakukan Riko.
“Hahahaha Iya nih Dik!” sahut Riko tapi dia lagi-lagi masih fokus sama ponselnya.
“Gimana ID Free Fire kamu masih aktif nggak. Beli Abang diamond dong! Traktir diamond yang agak banyak ya. Kan adik dapat uang banyak dari papa Bagas!” celetuk Riko.
Gilang tertawa. Dia langsung mengatakan kalau game free fire nya sudah tidak dia mainkan lagi.
Kata Riko, saban Minggu, kalau papa Bagas nggak sibuk, Riko selalu diajak trabas sama motor Xtrail nya.
“Wah ……iya ya. Seru dong kalau begitu. Terus mana sekarang motor xtrail nya?!” tanya Riko penasaran.
“Udah dijual sama nenek,” sebut Gilang.
“Ha?! Dijual. Kok bisa dijual. Kenapa?!” Riko heran sekaligus mau mentertawakan Gilang. Tapi, dia berusaha menahan tawa nya.
“Katanya nenek butuh uang. Akhirnya sama Papa Bagas dijual motornya!” sebut Gilang.
Rihana sedikit heran. Dia berpikir kalau kehidupan keluarga Bagas saat ini sedang terpuruk?
“Kok bisa sih Dik, nenek butuh uang terus jual motor kamu?!” tanya Rihana penasaran.
“Iya rumah itu mau disita Bank Ma.” cerita Gilang serius.
“Hah. Serius Gilang. Disita Bank?! Gilang tahu dari mana?!” tanya Rihana semakin heran.
“Nggak tahu Ma. Dalam waktu dekat rumah yang sekarang ditempati papa Bagas dan nenek, mau disita Bank,” jelas Gilang sekedarnya.
Dia nggak tahu persis apa yang sedang terjadi dengan Bagas.
“Ya Allah,” gumam Rihana.(*)













