ISTRI PAJANGAN Bagian 81: Pindah Kontrakan

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Pagi itu, Cahyo memutuskan untuk pindah dari kontrakan Pak Baskoro. Penyebabnya tak lain karena keberadaan Zulaikha yang tak disangka-sangka, jadi tetangga Cahyo.

Pak Baskoro yang pagi itu sedang santai, merasa heran saat menerima kunci rumah dari Cahyo.

“Kenapa nggak sampai bulan Juni, Mas Cahyo? Mas Cahyo kan baru saja masuk, belum juga dua Minggu. Ini sudah mau pindah? Apa ada bagian rumah kontrakannya yang bocor atau ada bagian rumah yang rusak?” tanya Pak Baskoro panjang lebar, tanpa titik koma.

Cahyo berusaha santun menjelaskan alasan kenapa dia beserta istri harus pindah kontrakan.

“Maaf Pak. Kami terpaksa harus kontrak di dekat sekolah Riko. Biar nggak terlalu jauh kalau mau berangkat ke sekolah.” jelas Riko, terpaksa berbohong.

“Oh begitu. Tapi Mas, gimana ya saya nggak bisa mengembalikan uang sewanya. Karena kan Mas Cahyo kontraknya setengah tahun.” kata Pak Baskoro yang merasa tak enak hati dengan Cahyo.

“Oh kalau itu nggak masalah Pak. Saya ikhlas. Lagi pula, bukan kesalahan Pak Baskoro. Kami pindah karena kemauan sendiri. Pak Baskoro tenang saja. Nggak usah dipikirkan Pak soal itu,” kata Cahyo berusaha menjelaskan ke Pak Baskoro penuh hati-hati.

Pak Baskoro tetap saja merasa tak enak hati meski Cahyo mengaku kalau ia ikhlas soal uang sewa itu.

“Silakan Bapak cek lagi ya rumahnya. Insya Allah nggak ada yang rusak Pak sepeninggal kami pindah dari rumah kontrakan Pak Baskoro. Kalau memang ada yang rusak dan perlu diganti, kami siap Pak.” sebut Cahyo, santun.

“Iya saya percaya sama Mas Cahyo.” balas Pak Baskoro dengan senyumnya.

“Ya sudah Pak. Saya dan keluarga, pamit ya,” ucap Cahyo lagi, dibarengi dengan menyalami Pak Baskoro. Begitu juga Rihana, menyampaikan permohonan maafnya kalau ada kesalahan yang disengaja dan tak disengaja selama menyewa rumah kontrakan Pak Baskoro itu.

BACA JUGA:  Pengacara Sebut Tueuku Ryan Terima Transferan Dana Rp 500 Juts dari Ria Ricis, Tapi Bukan Numpang Hidup

“Terimakasih ya Mas Cahyo. Mbak Rihana. Semoga bahagia selalu ya di rumah yang baru. Sehat selalu dan murah rejeki,” ucap Pak Baskoro saat melepas keluarga kecil itu.


Cahyo dan Rihana, bingung harus bermalam dimana, hari ini. Tapi, Cahyo mengajaknya tidur di hotel, sementara mencari kontrakan baru.

Lagi pula, kurang dua hari lagi juga mau berangkat umroh.

“Mas maaf ya.” ucap Rihana merasa bersama atas situasi hari itu.

“Nggak ada yang salah, sayang dalam hal ini. Kita lebih bagus mencegah daripada lebih runyam masalahnya. Jadi lebih baik kita pergi saja dari rumah itu.”

Mendengar itu, Rihana sedikit lega. Intinya Cahyo nggak marah sama Rihana.
“Makasih ya Mas. Kamu baik banget sama aku,” Rihana memeluk suaminya itu erat sekali.

Di sebuah hotel bintang lima, Cahyo terpaksa menyewa dua kamar. Satu kamar untuk Cahyo dan Riko. Sedangkan satu kamar lagi, untuk Riko.

“Semua persiapan kita udah oke kan sayang. Kalau oke, kita tinggal on the way aja. Syukur ya kita belum beli perkakas-perkakas rumah tangga. Makanya kita bisa melenggang seperti sekarang, dan nggak ribet, harus ngurus barang-barang perkakas rumah tangga,” kata Rihana.

“Iya tenang aja sayang. Semua sudah oke. Surat-surat juga sudah oke. Semua berkas administrasi atas nama kita bertiga, aku, kamu dan Riko, beres,” jelas Cahyo meyakinkan Rihana.

“Alhamdulillah kalau begitu.” jawab Rihana lega.

“Tapi Mas, sayang banget ya Gilang nggak ikut serta,” Rihana sedikit kecewa.

“Ya…mau bagaimana lagi. Dia pun diminta menyusul ke Jogja belum direspon. Pasti dia masih sayang sama Papa nya! Ya semoga di lain kesempatan kita bisa pergi berempat,” kata Riko penuh bijak.

Rihana mengamini kata Cahyo, tapi dengan perasaan sedih.

BACA JUGA:  Luna Maya Hadirkan Kembali Sosok Suzzanna di Film Santet Dosa di Atas Dosa

“Ya kita beri kesempatan dia untuk memilih. Dia juga perlahan beranjak dewasa. Dia tahu dengan pilihannya seperti apa.” ucap Cahyo berusaha menenangkan Rihana.

“Tapi aku gelisah Mas. Aku takut Gilang harus hidup dengan ibu tiri, suatu hari nanti. Nggak kebayang andai itu terjadi sama anak aku Mas. Aku nggak terima Mas, kalau dia harus hidup bersama ibu tirinya.” Rihana terus berprasangka buruk terhadap Bagas.

Karena, Rihana tahu, Bagas tukang main perempuan. Meski demikian, Rihana melihat, belum ada satu perempuan pun yang akan dinikahi Bagas.

“Ya sudah doakan yang baik-baik saja buat Gilang. Kalau bisa, coba sering-sering diajak ngobrol meski lewat ponsel. Ajak dia bicara dari hati ke hati, supaya dia mau pindah ke Jogja. Masa depan dia kan masih panjang. Kalau sampai sekolahnya berantakan, kasihan Gilang. Efeknya, lima atau sepuluh tahun lagi akan dirasakan Gilang sendiri.” kata Cahyo lagi, pada Rihana.

“Itu dia yang aku takutkan Mas. Dia seolah-olah nggak peduli dengan masa depannya sendiri. Dia nggak peduli, hidupnya nanti seperti apa. Anaknya masih labil,” keluh Rihana kesal.

Cahyo terdiam. Karena, bersamaan dengan itu, sebenarnya Cahyo juga sedang mengkhawatirkan nasib Fera, anak gadisnya yang saat ini tinggal bersama Herlin, sang mantan istri.

Tiba-tiba Rihana tersadar, sebenarnya Cahyo sedang tak fokus mendengar pembicaraannya.

“Sudah ah. Nggak usah mikir yang sedih-sedih. Kita keluar yuk cari makan, sembari jalan-jalan lihat suasana sore kota Jogja yang indah ini.” kata Cahyo yang berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Yesss. Tapi belum mandi nih?!” celetuk Rihana yang kegirangan mau diajak jalan sore sama Cahyo.

“Rik. Mama sama papa mau keluar nih. Kamu ikutan nggak?!” tanya Rihana by ponselnya.

Riko mengaku sedang tak berminat keluar dari kamar. Dia mau tidur-tiduran di kamar.

BACA JUGA:  Gus Samsudin Ditahan Polda Jatim, Pesulap Merah Kirim Bunga Papan

“Kalau mama pergi makan, Riko titip gudeg ya, bungkus!” pesan Riko pada Rihana.

“Oalah…. dasar orang Jogja nyasar yang satu ini ketagihan makan gudeg.” celetuk Rihana by ponselnya.

“Ya Ma…..titip belikan nasi liwet, sayur gudeg dan wedang rempah uwuh!” sebut Riko lagi.

“Hmm. Banyak banget titipnya. Satu aja kenapa Riko!” protes Rihana. Tapi rupanya Riko tak mau membatalkan salah satu pesanannya itu.

“Pokoknya Riko tunggu ya Ma. Riko malas mau ikutan. Belum mandi juga nih! Riko masih ngantuk juga!” sebutnya lagi seraya mengakhiri percakapannya dengan Rihana.

“Dasar pemalas memang anak satu ini.” sebut Rihana kesal.

“Ya sudah kita berdua aja. Oke!” Cahyo tampak bahagia di momen itu.

“Lagi pula, status kita kan juga masih status pengantin baru. Wajar, sayang kalau lebih sering berduaan. Riko memang anak yang pintar. Dia tahu mamanya dan papa nya mau berduaan aja. Makanya dia pura-pura nggak mau ikutan jalan sama kita.” Cahyo malah cengar-cengir mengatakan itu.

“Ya sudah aku mandi dulu ya, Mas,” kata Rihana.

“Eh tunggu dulu, kita main biliar dulu, atau kita mandi bareng,” bisik Cahyo, menggoda Rihana.

Rihana tampak tak berdaya menolak ajakan Cahyo.

“Mas…..kamu jangan pernah berubah ya sama aku,” bisik Rihana, saat Cahyo menatap wajahnya lekat-lekat.

Cahyo tak menghiraukan kata-kata Rihana.
“Sttt….dilarang bicara saat permainan biliar dimulai,” Cahyo menyentuhkan jari telunjuknya ke bibir Rihana. Rihana pun tampak menikmati permainan singkat itu.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *