Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Cahyo merasa ada yang aneh dengan sikap anak gadisnya saat bertemu di rumah makan, tadi siang.
Memang, untuk mendekati Fera, tidaklah mudah. Harus bisa bicara dari hati ke hati. Karena, Fera keras kepala dan merasa menjadi orang yang paling benar.
Cahyo tahu, hal ini mewarisi sifat mantan istrinya (mamanya Fera).
“Kemana dia ini. Ditelepon ponselnya nggak aktif.” Cahyo kesal.
Cahyo harus mencari tahu soal kejadian tadi siang, sampai dia benar-benar menemukan jawabannya.
Satu-satunya jalan, Cahyo harus menemui Fera di sekolahnya. Kalau datang ke rumahnya, mantan istrinya pasti berpikiran lain.
“Kalau begitu besok aku sempatkan ke sekolah Fera,” kata Cahyo bicara sendiri.
Sebagai referensi, Cahyo kembali ingin mengorek informasi dari Rihana. Apa yang sebenarnya terjadi sampai Fera berlaku seperti tadi siang.
“Ri. Dimana. Besok, aku ke rumah kamu ya. Sebelum ke kantor. Penting.” ucap Cahyo.
“Lho pagi-pagi mau bicara apa Mas?! Jangan pagi-pagi banget. Gilang dan Riko masih di rumah. Jam tujuh mereka baru berangkat ke sekolah,” sebut Rihana serius.
“Iya. Oke. Kalau begitu, aku datang jam tujuh lewat ya, besok.”
Rihana hanya membalas dengan mengirimkan emoticon jempol.
Malam semakin larut. Cahyo benar-benar kepikiran soal Fera yang sikapnya rada aneh kemarin.
“Ri. Boleh video call nggak. Nggak bisa tidur ini aku.”
Pesan itu langsung dibalas Rihana, dan Rihana menelepon dengan panggilan video call.
“Ri. Jujur Ri sama aku. Sebenarnya Fera main ke tempat kamu kemarin ngapain Ri. Kurasa ada kaitannya, antara dia main ke rumah kamu dengan kejadian dia melarikan diri waktu di rumah makan. Kenapa harus menghindar dari kita, kalau memang nggak ada apa-apa?!” desak Cahyo serius.
“Mas janji ya jangan marah kalau sudah aku kasih tahu.” Rihana ingin memastikan lebih dulu sebelum bercerita lebih lanjut ke Cahyo.
“Iya iya aku janji.” debar jantung Cahyo tak karuan dan campur penasaran. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang nggak beres, dilakukan Fera.
“Kalau marah, hukumannya apa?!” tanya Rihana.
“Bercumbu sama kamu, sehari semalam?!” sebut Cahyo asal.
“Ih ngacau..Mana ada hukuman kayak begitu. Serius ini Mas. Hukumannya apa kalau kamu marah!” tegas Rihana.
“Hmmm apa ya. Aku mau nya itu aja!” Cahyo melepas tawa.
“Ih ngacau banget pejabat PLN ini.” celetuk Rihana. Tak lama, dia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya ke Cahyo.
“Hah. Apa?! Dia minta uang sekolah karena telat bayar 6 bulan?” Cahyo langsung emosi.
“Nggak beres memang Fera. Nggak bener itu kalau aku nggak ngasih uang sekolah. Setiap bulan aih udah tunaikan kewajiban aku, meski aku sudah cerai dari ibu dia?!” emosi Cahyo makin memuncak.
“Terus kenapa kamu kasih?!” bentak Cahyo.
“Dia datang nangis-nangis karena kata dia, nggak boleh ikut ujian buat mereka yang belum bayar uang sekolah bulanan.” jelas Rihana.
Cahyo menarik nafas panjang. Lalu menghembuskannya pelan-pelan ke langit-langit ruang kamar tidurnya.
“Bikin malu aku saja Fera ini,” ucap Cahyo, kecewa.
“Siapa yang ngajari dia jadi preman kayak begitu. Pasti ibunya dia ini?!” tuding Cahyo kesal.
“Ya udah Mas nanti tanya ke dia, hati-hati aja. Jangan ngegas. Kasian dia itu. Dia sebenarnya baik. Tapi butuh kasih sayang dari orang tuanya. Kumohon ya Mas jangan sampai keras ke dia.” pinta Rihana serius.
“Ya makasih..Udah dulu ya. Aku mau jumpai Fera,” kata Cahyo seraya menutup percakapannya dengan Rihana.
Tak ada pilihan lain. Cahyo harus menemui Fera di rumahnya. Agar mantan istrinya juga tahu kelakuan anak gadisnya di luar sana, sudah melenceng dari didikan orang tua.
Herlin terkejut melihat kedatangan Cahyo.
Meski deg-degan, Herlin berusaha biasa saja.
“Mana Fera.” tanya Cahyo sedikit pelan pada Herlin, mantan istrinya itu.
“Sebentar lagi dia balik sekolah.” sebut Herlin dengan debar jantung yang masih tak karuan.
“Ya Allah dia masih tampan seperti dulu pertama aku mengenal dia.” puji Herlin dalam hati.
“Andai saja waktu bisa diputar lagi, sejujurnya aku masih ingin bersama dia. ya Allah.” batin Herlin.
“Ah tapi itu mustahil,” Herlin buru-buru menepis khayalan itu.
“Ada apa Mas cari Fera?!” tanya Herlin deg-degan saat dia memandang lekat-lekat wajah Cahyo masih terlihat tampan di mata Herlin.
“Tahu nggak apa yang sudah dilakukan Fera di luar sana. Dia sudah pandai menipu orang?!” Cahyo mulai emosi saat mengungkapkan kalimat pembuka itu.
“Ya ampun maksud kamu apa Mas?” Herlin panik.
“Iya dia sudah jago nipu orang. Bilang ke orang, kalau aku nggak ngasih dia uang sekolah tiap bulan,” sebut Cahyo yang mulai kesal dan emosi.
“Siapa yang ditipu dia Mas?!”
“Rihana. Calon istri aku?!” kata Cahyo to the point.
“Oh jadi dia kemari, hanya karena ingin melindungi calon istrinya?!” batin Herlin protes.
Tapi, di sisi lain, Herlin nggak punya hak buat protes ke Cahyo karena mereka sudah bercerai.
“Maksud nya gimana kok bisa Fera menipu Rihana?!” Herlin terus penasaran.
Sebegitu penting nama Rihana di hati mantan suaminya itu, sampai dia rela bela-belain datang dan ingin marah sama Fera.
“Oh jadi kamu mau marahin Fera, Mas ya tujuan kamu datang ke rumah aku?!”
“Iya. Kalau bisa, tolong jangan ajari dia yang nggak betul. Dia itu sebenarnya baik. Tapi, karena kurang perhatian dan kasih sayang, jadinya dia hidup salah arah?!” sebut Cahyo meyakinkan Herlin.
“Maksud kamu apa ya Mas. Aku dengar dari tadi kamu terus memojokkan Fera. Dia itu darah daging kamu Mas. Anak kandung kamu. Dia bukan anak tirimu.” gantian sekarang Herlin yang emosi.
“Iya aku tahu. Tapi aku nggak sudi punya anak penipu. Dia itu sudah menipu Rihana. Minta uang ke Rihana satu juta delapan ratus ribu rupiah. Alasannya dia nggak dikasih uang sama aku. Bayangkan coba. Begitu pandai dia mengarang cerita bohong ke Rihana. Siapa yang ngajari dia jadi pembohong kayak begitu?!” Cahyo emosi dengan menggebrak meja ruang tamu, keras sekali.
Herlin terdiam.
Tak lama, Fera datang.
“Assallamuallaikum.” ucap Fera
Lalu, seketika itu juga, Cahyo menarik tangannya dan memaksa Fera duduk juga di ruang tamu itu.
Karena merasakan tarikan tangan Cahyo sakit banget, Fera sedikit mengaduh.
“Apa maksud kamu cerita ke Tante Rihana kalau kamu nggak dikasih uang selama 6 bulan. Terus kamu merengek minta uang ke Tante Rihana, satu juta delapan ratus. Maksud kamu apa coba jelaskan di depan papa!?” desak Cahyo tegas.
Fera hanya diam tak bergeming saat Cahyo mendesak Fera.
Sesekali Cahyo menggebrak meja, bertujuan untuk membuat Fera takut.
Tak ada penjelasan apa pun dari Fera. Cahyo kesal.
“Hai kamu bisu?!” bentak Cahyo pada Fera.
Meski didesak dan dibentak Cahyo, sekali lagi, Fera bersikukuh tak mau jujur.
“Kamu mau jadi apa Fera, kecil-kecil belajar menipu?!” bentak Cahyo lebih kuat lagi.
Dibalik semua itu, Fera beranggapan bahwa semua ini karena ulah Rihana.
“Pasti perempuan sialan itu ngadu ke papa kalau aku sudah minta uang ke dia. Dasar Rihana sialan. Lihat saja pembalasan aku nanti?!” ancam Fera dalam hati.
“Jawab. Jangan hanya diam?! Kamu punya mulut kan?! Kamu mau masuk neraka?” bentak Cahyo.
Fera malah nangis sesenggukan. Dia tak berkata-kata sepatahpun.
“Nggak usah akting. Kalau kamu orang yang jujur, harusnya kamu bicara apa adanya. Bukan malah nangis.” kata Cahyo terus memojokkan Fera.
“Sekarang aku tanya kamu Fera. Pernah nggak papa nggak ngasih duit kalau kamu minta?! Kenapa kamu tega jelek-jelekkin papa di depan Tante Rihana, kalau papa nggak ngasih duit buat bayar sekolah selama 6 bulan. Maksud kamu apa kayak gitu?! Hah?!!” Cahyo semakin emosi dengan kata-katanya.
“Jawab!” ulang Cahyo lagi membentak Fera.
Fera masih tak bersuara. Dia masih terus menangis tak henti.
“Bahaya kamu ini!? Di depan baik, di belakang kamu ternyata menusuk papa?!” Cahyo terus mengeluarkan semua uneg-unegnya.
“Nggak menyangka aku Fera, kamu sekejam itu sama papa. Memfitnah seenak kamu?!”
Tiba-tiba Herlin bersuara. Memprotes Cahyo yang sedari tadi terus-terusan memarahi Fera.
“Mas. Sudahlah. Fera masih muda. Dia banyak khilaf. Maafkan dia Mas,” pinta Herlin serius.
“Apa?! Aku harus memaafkan dia?! Dia aja nggak ada etika sama orang tua. Dia juga nggak ada minta maaf sama aku. Aku ini orang tua dia. Dia sadar nggak sih?!” tukas Cahyo kesal.
“Iya Mas aku atas nama Fera, tolong maafkan dia.” pinta Herlin memohon pada Cahyo.
Tak lama, Fera pun akhirnya buka suara.
Dia menghambur ke Cahyo.
“Pa. Maafin Fera. Fera nggak akan mengulangi lagi,” katanya lalu dia bersimpuh di kaki Cahyo.
Cahyo pun luluh, mendapati anak gadisnya itu rela bersimpuh di kakinya.
Diusapnya kepala Fera. Tapi Cahyo tak mengatakan sepatah katapun. Lalu tak lama dia beranjak pergi meninggalkan Herlin dan juga Fera.(*)













