ISTRI PAJANGAN Bagian 57: Bagas Berusaha Membatalkan Pertunangan Cahyo dan Rihana

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Malam itu, Rihana bersiap menuju ke gedung Kartika, dengan gaun yang sudah dia persiapkan sejak kemarin sore.

Dengan hati yang berbunga-bunga, dia melaju bersama mobil Pajero Sportnya.

“Ya Allah terimakasih sudah menghadirkan lelaki terindah dalam hidup aku.” ucap Rihana penuh rasa syukur yang tak terhingga.

“Mas aku on the way.” ucap Rihana sembari terus mengendalikan mobilnya di jalanan, dengan hati riang gembira.

“Ri. Ban aku kempes di perjalanan. Jemput aku ya di lokasi. Lokasinya aku sharelok,” kata Cahyo.

Tiba-tiba hati Rihana merasa ada yang nggak beres. Entah kenapa perasaannya berkata lain.

“Oke.” Rihana pun meluncur ke lokasi yang dishare Cahyo.

Tak lama kemudian, Rihana sampai di lokasi. Tapi, ironisnya, di lokasi yang dishare Cahyo, justru suasananya sepi.

“Di sebuah lorong?!”
“Nggak mungkin ini. Masa iya Mas Cahyo mobilnya mogok di sebuah lorong. Aneh banget ini. Ada yang nggak beres.” batin Rihana dan rasanya memang ada yang janggal, menurut perasaan Rihana.

Rihana coba bersuara, dan mencoba memanggil nama Cahyo.

“Mas.” seru Rihana.

“Mas ….Dimana?!”
Ketika coba dihubungi lewat ponsel, ponsel Cahyo justru mati. Nomornya di luar jangkauan.

“Ya Allah, apa ini ya Allah. Sepertinya ini ada yang nggak beres.” Rihana takut bercampur deg-degan. Rasanya tak karuan, dan berpikir yang negatif soal Cahyo.

“Mas…..Cahyo,” seru Rihana lagi yang berusaha menelusuri lorong kecil itu.

Rihana menangis, dan ketakutan menghadapi situasi ini.

“Mas. Dimana kamu, Mas,” panggil Rihana lagi. Lorong panjang perdan sempit itu, suasananya menyeramkan.

Hanya ada beberapa penerangan, di sana. Beberapa rumah disana juga sepi nyaris seperti tak berpenghuni.

“Apa karena malam hari, penduduk disini tak ada yang beraktivitas di luar rumah?!” batin Rihana, ketakutan.

Semakin jauh Rihana menyusuri lorong itu, perasaannya mengatakan kalau Cahyo saat ini dalam bahaya.

“Ya Allah, ada apa dengan Mas Cahyo.” batin Rihana terus menjerit. Panik campur takut. Benar-benar tak karuan rasanya, malam ini.

Hingga ia mendapati suara samar seseorang, di salah satu rumah kosong.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 42 : Fera Mulai Memanfaatkan Rihana

“Mas…….Mas Cahyo,……,” seru Rihana lagi, berharap suara samar itu adalah suara Cahyo.

Rihana mendekati salah satu rumah kosong yang diyakini ada sumber suara samar itu berasal.

Rumah gubuk reyot tak berpintu.
Dengan perasaan was-was dan deg-degan, bercampur ketakutan yang luar biasa, Rihana mencoba menerobos masuk, ke rumah kosong tak berpintu itu. Hanya ada penerangan lampu pelita disana. Itu pun hanya ada dua lampu pelita dengan nyala api yang sangat kecil.

“Mas Cahyo,” seru Rihana lagi.

Tak lama, terdengar suara tepuk tangan seseorang, memecah kesunyian.

“Selamat datang, calon pengantin, calon istri Cahyo.”
Secepat kilat, Rihana menoleh ke arah suara itu.

“Mas Bagas, ngapain kamu disini?!” Rihana ketakutan tapi dia mencoba berusaha berani.

“Kasian ya acara pertunangan kalian batal malam ini.” sebut Bagas.

Dilihatnya, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Rihana, menunjukkan pukul 22.30 wib.

Benar kata Bagas, acara pertunangan dia dengan Cahyo, malam ini gagal.

Tapi, Rihana tak peduli. Saat ini, yang ada di otaknya, hanya ingin bertemu Cahyo.

“Mas..Kamu jangan macam-macam. Aku akan teriak sekuat tenaga aku, biar orang kampung keluar semua dan menghabisi kamu!” bentak Rihana.

“Oh silakan. Nggak ada orang di kampung ini. Karena ini perkampungan bekas pengungsi, dan sekarang pengungsinya juga sudah pada minggat.” sebut Bagas merasa bangga, karena berhasil membuat Rihana panik.

“Mana suami aku?!” bentak Rihana, dengan mata yang membulat.

“Hah. Suami? Kalian kan belum resmi menikah. Malam ini saja, kalian batal bertunangan.” Bagas mengatakan itu dengan penuh emosi.

“Sekarang apa mau kamu Mas. Kita sudah resmi bercerai. Nggak ada harapan lagi kita bersatu.” ucap Rihana penuh emosi.

“Jangan marah begitu sayang. Sebenarnya aku masih sayang sama kamu, Ri. Tapi kamu sombong banget sekarang. Apalagi ketika aku jatuh dan kalah perang di pemilihan wakil rakyat, kamu langsung pergi ke pelukan laki-laki lain. Kamu banyak berubah Ri. Kamu bukan perempuan yang dulu aku kenal pertama,” Bagas mengenang masa lalunya saat Rihana setia mendampingi dalam susah dan senang.

“Kamu penyebabnya. Kamu seenaknya main perempuan. Lalu kamu nggak peduli perasaan aku. Kamu nggak pernah memperhatikan aku. Kamu terlalu sibuk dengan dunia kamu dan perempuan-perempuan lain yang mengelilingi kamu. Kamu mana peduli dengan aku?! Kamu sadar nggak Mas itu?!” sebut Rihana dengan perasaan yang hancur. Tak terasa air matanya jatuh.

BACA JUGA:  Jazz Kekuatan Ekonomi Kreatif Batam

“Ri. Jadi kamu nggak peduli sama aku lagi ya. Lalu kamu lebih peduli dengan nyawa laki-laki ini ya?” ancam Bagas, dengan meletakkan pisau di leher Cahyo.

Cahyo tak bisa berkutik karena tangan dan kakinya diikat. Mulutnya dilakban.

Rihana pasrah melihat itu. Dia sendiri tak berdaya mau menolong Cahyo. Karena nasibnya juga diujung tanduk.

“Mas. Tolong lepaskan suami aku. Dia nggak salah apa-apa?!” pinta Rihana dengan memelas dan bercucuran air mata.

“Aku akan turuti semua keinginan kamu Mas, asal kamu lepaskan suami aku.” Rihana memelas lagi untuk yang kesekian kalinya.

“Dasar wanita jalang. Beraninya kau bela laki-laki jahanam ini di depan aku. Bahkan kau nggak peduli perasaan aku.” bentak Bagas dengan bola mata merah dan membulat.

“Ya Allah Mas. Maafin aku. Aku janji akan menuruti semua keinginan kamu.” ucap Rihana yang nyaris tak bertenaga lagi, karena melihat pisau itu masih didekatkan Bagas di leher Cahyo.

“Kalau kamu nggak mau melepaskan suami aku. Bunuh aja aku Mas. Aku ikhlas.” ucap Rihana lagi, dengan tangis yang tak henti.

“Hahahahah. Perempuan bodoh. Mau mau nya berkorban untuk laki-laki tak berguna ini. Lihatlah. Dia hanya diam membisu, tak bisa menyelamatkan kamu. Ini ya…..pria yang kau sebut sebagai suami kamu?!” Bagas semakin meledak-ledak emosinya.

Rihana kali ini bersimpuh di hadapan Bagas. Meminta keikhlasan Bagas untuk melepaskan Cahyo.

Karena, bagi Rihana, Cahyo adalah segala-galanya.

Bagas mendekat dan mencoba memeluk Rihana yang bersimpuh di hadapannya.

Bagas sebenarnya nggak ingin berpisah dari Rihana. Tapi, keputusan Rihana sudah bulat. Dia tak mau lagi bertahan dengan Bagas.

“Ri. Aku masih mencintai kamu Ri. Kita bersatu lagi ya.” gantian Bagas yang memohon pada Rihana.

“Nggak ada lagi Mas, masa depan kita. Sekarang kita jalani hidup masing-masing. Aku mohon jangan ganggu aku Mas. Aku ingin hidup tenang.” kata Rihana, yang masih dalam dekapan Bagas.

BACA JUGA:  Kontroversi Erin Taulany, Pernah Menyinggung Prabowo Subianto

Seketika, Bagas melepaskan dekapannya. Lalu membentak Rihana lagi.

“Oh kamu lebih memilih laki-laki miskin ini ya? Dia memangnya sudah ngasih istana sama kamu? Berlian? Atau mobil mewah?!” kata Bagas penuh penghinaan pada Cahyo.

Tapi, Rihana tak berharap semua itu dari Cahyo. Dia hanya ingin hidup tenang dan bahagia bersama pria pujaannya itu.

“Jawab Ri. Dia sudah ngasih apa ke kamu?!” bentak Bagas.

“Nggak ada kan?!” Kamu mau minta apa sama aku? Aku sanggup ngasih kamu, Ri, meski aku sudah kalah perang. Harta aku banyak Ri. Terus suami kamu ini. Gimana. Apa yang bisa dia kasih ke kamu.” ucap Bagas lagi masih terus merendahkan Cahyo.

Rihana lebih memilih diam. Dia tak ingin meresponya.

“Hahahah. Nggak bisa jawab. Karena, dia memang nggak bisa ngasih apa-apa sama kamu. Terus kedua anak aku nasibnya gimana kalau calon bapak tiri mereka miskin?”

Karena tak mau Cahyo terus dihina, Rihana pun berusaha menghentikan kalimat-kalimat Bagas yang penuh penghinaan pada Cahyo itu.

“Cukup Mas. Jangan biarkan aku kehilangan respek sama kamu. Cukup kamu menghina suamiku. Tapi yang pasti dia sudah banyak memberikan ketenangan batin buat aku.” sebut Rihana.
“Hahahahaha. Cuma itu? Miskin banget suami kamu ini ya?!”

“Mas cukup. Lepaskan dia Mas, karena dia nggak berdosa Mas. Sakiti aku saja kalau kamu mau?!”
Bagas kembali memeluk Rihana lagi dengan tangis yang sesenggukan.

“Ri kembalilah padaku. Aku janji akan berubah!” ucap Bagas berusaha meyakinkan Rihana. Tapi, Rihana tak ingin kembali pada Bagas. Dia hanya ingin hidup bersama Cahyo.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *