ISTRI PAJANGAN Bagian 69: Akhirnya Cahyo Membantu Perobatan Herlin

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Fera langsung menghambur ke Cahyo, setelah mendapatkan cek senilai Rp 50 juta. Uang sejumlah itu, sesuai dengan biaya perobatan yang dibutuhkan Herlin.

“Pa. Makasih banyak ya. Papa baik banget sama Mama. Mau bantuin biaya perobatan Mama,” ucap Fera, masih dengan posisi memeluk Cahyo penuh manja.

Melihat itu, Herlin terharu. Herlin beranggapan, ternyata pria yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya itu, masih punya belas kasihan sama Herlin.

“Pa. Papa nggak marah lagi kan sama Fera dan Mama?!” tanya Fera, yang kini terisak saat mendekap Cahyo.

“Pa. Maafin Fera ya kalau kemarin Fera nggak sopan. Karena Fera panik dan bingung Pa. Harus minta bantuan siapa, buat nyari biaya perobatan Mama,” cerita Fera dalam isak tangisnya yang tak tertahan itu.

“Sudahlah. Jangan bahas kejadian kemarin. Sekarang, kita hanya akan menatap masa depan yang penuh bahagia,” ucap Cahyo menangkan Fera.

“Tapi ingat. Jangan diulang lagi, kesalahan kamu itu ya. Kamu bisa kok minta bantu baik-baik sama Papa. Papa akan berusaha sekuat mungkin buat memenuhinya.” ucap Cahyo lagi, meyakinkan.

Tak lama, dokter spesialis ahli penyakit dalam itu datang ke ruang inap Herlin.

Iya menyampaikan bahwa proses operasi pasien Herlin, akan dilaksanakan besok pagi, sekitar pukul 10.00 wib. Keluarga, diminta menandatangani persetujuan tindakan operasi usus buntu pasien Herlin.

Sebagai bentuk dukungan Cahyo, Cahyo menandatangani surat persetujuan dari keluarga pasien itu.

“Jadi siapa ini yang tanda tangan ya?” dokter muda itu mengarahkan pandangannya ke Cahyo. Seketika, Cahyo bersedia menandatangi surat itu.

“Bapak suaminya ya?” tanya sang dokter.

Sementara waktu, Cahyo tak menjawab apa pun terkait pertanyaan soal statusnya saat ini.

Cahyo tak ingin mengumumkan pada orang lain kalau dirinya saat ini adalah mantan suami Herlin.

“Tanda tangan buat persetujuan tindakan operasi, apa salahnya, cuma tanda tangan aja. Lagian, kasian Fera, kalau semua tanggungjawabnya dibebankan ke Fera. Pasti Fera bakal cepet dewasa sebelum waktunya.” kata Cahyo lagi dalam hati.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 70: Fera Minta Dibelikan Sepeda Lipat

“Jujur sebenarnya aku kasihan banget sama Fera. Tapi aku nggak boleh nunjukin kalau aku kasian sama Fera. Biar dia tumbuh jadi perempuan yang tangguh, di segala situasi. Dia harus belajar menjaga ibunya, saat aku tak lagi berada di hidupnya.” gumam Cahyo lagi.

Dilihatnya, anak gadis satu-satunya itu tak lagi berada di ruangan rawat inap Herlin.

“Kemana bocah tengil itu,” kata Cahyo yang menemui Rihana di luar ruangan rawat inap itu.

Rihana sengaja nggak mau ikutan masuk ke dalam ruangan Herlin. Ia ingin memberi kebebasan pada Cahyo dan mantan istri nya itu.

“Aku yakin sama Mas Cahyo.” batin Rihana.

Ketika Cahyo hendak pamit pulang, tiba-tiba Fera datang dengan nasi bungkusan.

Dia menyodorkan sebungkus nasi Padang lauk dendeng batokok itu tangan Cahyo, dan juga ke Rihana.

“Makan dulu Pa. Tante Rihana. Fera dari pagi belum makan. Yuk makan bareng, kita!” ajak Fera, pada Cahyo dan Rihana.

Tapi, rasanya Rihana tak sanggup makan di rumah sakit itu. Sebab, dia menyaksikan beberapa orang yang didorong pakai kursi roda, dan juga ranjang rumah sakit, dan jarum infus yang menempel di pergelangan tangan pasien. Tentu mengurangi selera makan.

“Makanannya simpan aja buat Fera makan malam nanti,” ucap Fera.

“Jujur Tante tadi pagi, masak. Jadi Tante makan di rumah aja Fera,” jawab Rihana yang menolak secara halus, ajakan makan bersama itu.

Fera sedikit cuek. Tak peduli kata Rihana. Bagi dia, kalau ditawari makan nggak mau, ya sudah. Biarkan saja!” batin Fera.


Di depan ruang operasi, Fera menunggu dengan panik dan rasa was-was. Dia khawatir akan keselamatan Herlin.

Rihana berusaha memberikan kekuatan pada Fera.

“Fera harus yakin, proses operasinya berjalan lancar,” ucap Rihana yang berusaha menenangkan Fera yang terlihat was-was dan tak tenang itu.

BACA JUGA:  Pencipta Komik Dragon Ball Akira Toriyama Meninggal Dunia di Usia 68 Tahun

“Sholat Dhuha kita yuk,” ajak Rihana. Fera menyambut ajakan itu dengan biasa-biasa saja.

“Tante saja ya. Fera nanti saja sholat di rumah.” tolak.Fera.

Karena pada intinya Fera sebenarnya menaruh dendam pada Rihana.

Karena kehadiran Rihana di hidup Cahyo itu, Fera merasa terancam.
“Nggak usah sok-sok peduli sama keluarga aku, ya Tante Rihana. Kamu pura-pura baik kan. Supaya harta papa aku, bisa kamu kuasai.” bisik Fera dengan nada ketus.

Rihana hanya diam seribu bahasa. Dia lebih memilih diam, ketimbang ribut. Rasanya, nggak etis bukan, kalau berkelahi di rumah sakit. Pasien pasien di rumah sakit ini butuh ketenangan batin.

“Sebisa mungkin, sebaiknya tante balik saja. Sebab, di keluarga aku, Tante nggak dibutuhkan kehadirannya.” celetuk Fera dengan sinis nya.

“Ya Allah memang anak satu ini pandai bermain sandiwara di depan Cahyo. Beri dia hidayah ya Allah.” Rihana berusaha sabar dengan perlakuan yang tak semestinya dari Fera.

“Mas. Aku balik dulu boleh nggak?” pinta Rihana.

“Ada apa. Ada keperluan lain?!” tanya Cahyo. Tapi dia tentu tak akan membiarkan Rihana balik sendiri. Karena dia memang datang berdua ke rumah sakit.

“Nggak ada Mas. Siapa tahu Mas masih ingin ngobrol sama Fera,” Rihana coba menyembunyikan kesedihannya karena kata-kata kasar dari Fera.

“Ya sudah kita pulang bareng aja. Aku juga ada urusan mau ketemu kawan. Sebelum berangkat umroh semua urusan kantor harus beres,” sebut Cahyo serius.

“Oke Mas,” ucap Rihana singkat. Hingga akhirnya mereka pamit mau balik ke rumah.

Lagi-lagi Fera menghalangi rencana Cahyo hendak pulang bareng Rihana.

“Pa. Nanti aja.Fera masih kangen pengen cerita-cerita sama Papa.” ucap Fera yang berusaha menghentikan Cahyo.

Tujuan Fera cuma satu, memisahkan kebersamaan Cahyo dan Rihana.

Cahyo jadi serba salah. Tapi dia bersikap tegas. Dia nggak akan membiarkan Rihana pergi sendiri.

BACA JUGA:  Sheila Marcia Putuskan 'Tutup Pabrik' Usai Melahirkan Anak ke-5

“Papa berat ya melepas Tante Rihana balik sendiri. Kan ada gojek Pa. Aman. Iya kan Tante?” Fera melempar kedipan ke arah Rihana.

“Ya udah mas kalau masih mau ngobrol sama Fera. Aku naik gojek aja,” kata Rihana pada Cahyo.

Tapi, Cahyo bisa menangkap kalimat Rihana adalah kalimat terpaksa.

“Nggak usah. Aku mau balik juga. Ada perlu sama kawan. Nanti harus beres semua,” ucap Cahyo.

“Yah Papa. Nggak mau denger kata Fera,” protes Fera. Cahyo tak peduli apa kata Fera.

“Besok kalau ada waktu, kami kesini lagi,” ucap Cahyo.

Fera, masih tetap saja melingkarkan tangannya di pinggang Cahyo. Dia masih tak rela melepas pria itu.

“Udah ya. Papa balik dulu. Sudah ada janjian sama kawan. Lagi pula, semua urusan papa harus beres sebelum berangkat umroh sama Tante Rihana.” sebut Cahyo, dengan polosnya.

Ternyata dibalik pernyataan Cahyo tadi, menimbulkan rasa iri buat Fera.

“Pa. Ikutan dong umrohnya. Fera kan pengen juga pergi ke tanah suci. Masa iya Tante Rihana aja yang diajak. Fera kan juga pengen!” tukasnya mencoba mempengaruhi Cahyo.

Cahyo menarik nafas dalam-dalam. Dia merasa apa yang dia katakan tadi, adalah sebuah kelalaiannya.
“Ya nggak mungkin dong. Tiketnya cuma ada dua. Itu pun dapat hadiah dari kantor, sebagai kado pernikahan papa,” pungkas Cahyo. Dia dan Rihana pun bergegas meninggalkan ruang tunggu buat pasien operasi itu, secepat mungkin.
“Sebelum Fera ngomong yang aneh-aneh, aku harus pergi dari rumah sakit ini,” batin Cahyo, sembari menggandeng tangan Rihana.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *