ISTRI PAJANGAN Bagian 40: Anak Cahyo Datang

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Seorang perempuan muda datang bertamu ke villa Rihana.
Namanya Fera. Dia adalah remaja tanggung yang masih duduk di bangku kelas tiga SMA.

Kata Fera, dia sengaja membuntuti mobil papa nya dari belakang.

Cahyo yang mengetahui kehadiran Fera, langsung terkejut.
“Fera!”
“Papa ngapain kesini. Ini rumah Tante Rihana kan?” kata Fera yang to the point.
Cahyo lebih heran lagi saat Fera mengatakan itu di depannya.

Rihana hanya bisa diam melihat pemandangan yang tak dia harapkan itu.

“Oh Cahyo punya anak gadis!” batin Rihana sedikit kecewa.
Dia berpikiran selama ini Cahyo adalah duda yatim piatu yang tak punya siapa-siapa di kota ini.

“Kita lihat saja seperti apa endingnya,” pikir Rihana lagi.

“Fera. Mau kenalan nggak sama Tante Rihana?!” tanya Cahyo yang terlanjur kepergok Fera saat berada di villa Rihana.
“Kenapa papa nggak cerita Fera, kalau papa kenal sama Tante Rihana.” kata Fera, yang terlihat kagum dengan villa Rihana yang megah itu.

Kali ini Fera pura-pura pasang wajah ramah di depan Rihana yang sedari tadi hanya mematung di taman, yang tak jauh dari Cahyo dan Fera berbincang.

“Papa jago ya cari pengganti mama.” Fera mulai mengomentari Cahyo.

“Makanya yuk. Kenalan sama Tante Rihana,” ajak Cahyo lagi, serius.

“Nggak deh Pa. Papa lanjut aja. Fera mau janjian sama kawan, ke mall.” ucap Fera, dan seraya dia beranjak pergi meninggalkan Cahyo.

Cahyo sedikit lega sepeninggalnya Fera.
Setidaknya tidak ada lagi yang mengganggu pertemuannya dengan Rihana.

Cahyo mendekat ke taman tempat Rihana lama mematung disana.

“Eh maaf ya Rihana. Kaget aku tiba-tiba diikuti sama Intel.” seloroh Cahyo sembari melepas tawa.

“Aku heran aja dia itu ngikuti aku dari mana ya?!” Cahyo bingung sendiri.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 33 Rihana Menggugat Cerai Bagas

“Cantik ya anak gadis Mas itu?!” puji Rihana.
“Biasa aja,” balas Cahyo.
“Mamanya pasti cantik ya Mas?” ucap Rihana yang berusaha mengambil hati Cahyo.

“Nggak ah. Mamanya biasa juga. Baru, papa nya yang ganteng. Bener nggak?” Cahyo tampak bahagia siang itu.

“Uh dasar. Muji diri sendiri,” protes Rihana.
“Hahahah!” Cahyo melepas tawa.
“Tapi kan memang beneran ganteng. Kalau jelek, pasti kamu nggak mau kan sama aku?!” ucap Cahyo makin percaya diri di depan Rihana.

“Hahahaha mau aja sih. Asal setia.” sahut Rihana yang juga terlihat bahagia.

“Eh ngomong-ngomong gimana. Jadi nggak makan siangnya Mas. Lapar tahu aku!” Rihana menuntut janji Cahyo yang katanya mau ngajak makan siang di rumah makan langganan.

“Ngomong-ngomong, rumah makan langganan itu tempat pertama kali aku lihat kamu, Ri,” ucap Cahyo yang mencoba mengenang masa itu.

“Hahaha..masa iya. Paling gombal!” protes Rihana.

Tapi di sisi lain, Rihana juga menganggap rumah makan Padang itu adalah rumah makan kenangan.

Rihana juga sejujurnya sering menghabiskan waktu makan siangnya di sana, demi bisa melihat Cahyo.

Padahal waktu itu Rihana belum sedekat seperti sekarang ini, dengan Cahyo.

Semua, gara-gara Rihana dapat hadiah motor dari acara PLN. Waktu itu, kepala cabang PLN nya tak lain adalah Cahyo.

“Waktu dapat hadiah motor itu, aku terpesona sama kesopanan seorang kepala cabang PLN.” cerita Rihana baper.

“Masa iya?! Bohong pasti. Bukan terpesona karena kesopanannya. Tapi, karena kegantengannya pasti,” Lagi-lagi Cahyo melepas tawa.

“Udah ah. Yuk kita gerak ke rumah makan itu. Cacing-cacing perut aku sudah keroncongan sejak pagi. Sekarang sudah mau jam 14.00 wib.” protes Rihana.

Akhirnya keduanya beranjak pergi menuju ke rumah makan nasi Padang langganannya itu.

“Mas. Kamu serius ya mau boyong aku ke Jogja??” Rihana kepikiran sama perkataan Cahyo yang katanya mau boyong Rihana kalau misalnya nanti berjodoh.

BACA JUGA:  Inilah Zodiak-zodiak yang punya Sifat Pemalu dan Tidak Mudah Terbuka Pada Orang Lain

“Aku sih tergantung kamu. Kalau kamu mau, aku akan usahakan.” janji Cahyo.

Tapi, Cahyo sendiri masih meragukan status Dewi yang masih jadi istri Bagas.

“Terus bagaimana dengan Bagas?” tanya Cahyo to the point. Karena, untuk memboyong Rihana ke luar kota, statusnya harus sudah bebas dari Bagas.

“Dia janji kalau kalah dia ceraikan aku. Kalau menang dia akan mempertahankan aku. Tapi, dia mau kalah atau menang, sampai proses pemilihan nanti, aku mau cerai aja dari Bagas,” kata Rihana meyakinkan Cahyo.
“Serius?!” Cahyo masih ragu.

“Hmm,” Dewi mengukir senyum tipis di sudut bibirnya.

“Emang apa alasan kamu mau cerai dari Bagas?” tanya Cahyo penasaran.

“Hal yang paling menyakitkan bagi istri, saat sering diabaikan. Tapi, kalau sama perempuan lain, suami kita mesra banget,” protes Rihana.

“Hmmm. Jadi selama ini banyak dicuekin ya?!” goda Cahyo sembari mendaratkan ciuman mendadak ke pipi Rihana.

Rihana menarik nafas dalam-dalam. Dia tak ingin berkomentar banyak setelah dapat ciuman tak terduga itu dari Cahyo.

“Terus anak-anak gimana? Gilang dan Riko? Mereka terima nggak kalau kedua orang tuanya cerai?!” tanyanya lagi.

“Mereka pasti menerima. Karena mereka tahu, gimana Bagas memperlakukan aku,” sebut Rihana mantap.


Di rumah makan Padang itu, Rihana tak sengaja bertemu Fitriani.

“Ehem…!” sapa Fitriani, yang kehadirannya tak disadari Rihana.
“Dunia milik berdua ya?!” seloroh Fitriani.

Rihana melempar senyum ke arah Cahyo. Cahyo, terlihat malu-malu di depan Fitriani.

“Berarti, kontrak kerjasama Mak Comblang udah berakhir ya Mas Cahyo?!” canda Fitriani.

“Harusnya diperpanjang,” sahut Rihana.
Lagi lagi Cahyo senyum-senyum sambil melempar pandang ke arah Rihana.

“Fitriani merasa bahagia karena dilihatnya Rihana mulai bahagia.
“Lanjut deh kalian. Aku mau beli nasi dibungkus aja. Makan di rumah.” kata Fitriani yang tak ingin terus-terusan jadi pengganggu dalam pertemuan Rihana dan Cahyo.

BACA JUGA:  Dalam Waktu Singkat, ENHYPEN Pecahkan Rekor untuk Pre-Order Stok Album ‘ROMANCE: UNTOLD’

“Gabung aja sekalian yuk Fit,” ajak Cahyo. Tapi Fitriani menolak ajakan itu.

“Aku sudah bikin es buah di rumah. Jadi, setelah makan nasi Padang, makan es buah,” sebut Fitriani.
“Hmmm iya deh yang lagi buat es buah tapi nggak woro-woro. Takut diminta jatah preman nya ya. Hahahahah!” celetuk Rihana menggoda Fitriani.

Hingga akhirnya Fitriani meninggalkan rumah makan itu, setelah pelayan menyerahkan nasi bungkus pesanannya.

Tak lama, Cahyo dan Rihana pun beranjak pergi dari rumah makan itu, setelah cacing-cacing perut mereka kekenyangan.

“Besok aku jemput lagi ya makan siangnya,” ucap Cahyo sebelum Rihana benar-benar meninggalkan mobilnya.

“Boleh banget,” jawab Rihana yang kegirangan dalam hati.

“Ya Allah makasih atas semua kebahagiaan yang Engkau kirimkan buat aku hari ini.” ucap Rihana dalam hati.

Satu hal yang tak terduga lagi, terjadi, sebelum Rihana benar-benar meninggalkan mobil Cahyo, tangan kanan Rihana ditarik Cahyo. Satu kecupan dadakan, mendarat lagi untuk yang kedua kalinya. Rihana hanya tertegun.

“Jaga diri baik-baik ya sayang. Kalau ada apa-apa, kabari aku ya. Jangan sampai nggak dikabari. Kalau sampai lupa, aku ngamuk nih,” kata Cahyo yang penuh perhatian.
Rihana hanya menganggukkan kepalanya dan seketika itu, dia keluar dari mobil Cahyo.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *