ISTRI PAJANGAN Bagian 92: Bagas Menghilang

Karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam

Gilang sedih, kecewa dan tak bersemangat ketika harus meninggalkan Bagas tanpa pamit.

“Ma. Kemana ya Papa Bagas. Nomor nya nggak aktif lagi. Kemarin papa Bagas bilang kalau ada urusan keluar kota. Tapi nomor ponselnya sudah dua pekan ini nggak aktif lagi Ma.” Gilang gelisah memikirkan keberadaan Bagas.

Dalam hati, Rihana bersyukur akan hal ini. Setidaknya, Gilang bisa lepas dari Bagas.

“Ya sabar aja sayang. Mungkin papa kamu benar-benar sibuk ada urusan di luar kota,” kata Rihana berusaha meyakinkan Gilang.

“Terus gimana Ma. Besok pagi kalau papa Bagas, tahu Gilang nggak lagi di Jakarta. Papa Bagas pasti kepikiran Gilang Ma.” Gilang terus merasa tak tenang.

“Ya gimana lagi. Mama juga nggak tahu.” Rihana terlihat pasrah.

“Lagian Dik. Papa Bagas juga kan nggak mikirin Gilang. Papa itu sibuk mikir diri sendiri. Buktinya Gilang di rumah sakit, Papa nggak peduli. Tanya kabar atau apalah. Mana coba buktinya?! Nggak peduli kan dia?!” Riko berusaha mempengaruhi pola pikir Gilang.

“Sadar…Dik. Sadar…..jangan pernah berharap sama manusia yang tak pasti.” ucap Riko lagi.

Gilang terdiam. Tak lama dia lebih memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang rumah sakit itu.

“Sudahlah Dik. Masa depan kita masih panjang. Pikirin itu Dik. Kita perlu menuntut ilmu. Perlu meraih impian. Perlu mengejar cita-cita. Biar jadi orang kaya, Dik,” ucap Riko lagi seolah berdiplomasi.

“Dik. Besok temani Abang makan gudeg ya. Enak banget gudeg di Malioboro,” Riko coba mengalihkan perhatian Gilang.

“Dik. Bangun. Jangan tidur melulu. Udah sehat kan?!” Riko menggoda Gilang. Mengganggunya tak henti.
Menarik ujung jempol kaki Gilang berkali-kali.

Gilang tetap saja tak tergoda dengan apa yang dilakukan Riko, abangnya.

“Gilang. Mama beli susu hangat buat kamu ya,” kata Rihana sembari membelai lembut kepala Gilang.
Dalam posisi rebahan itu, Gilang menganggukkan kepalanya.

“Oke. Tunggu. Mama ke kantin.” kata Rihana bergegas meninggalkan ruangan rawat inap Gilang.

“Ma…..aku juga mau satu ya!” teriak Riko yang terlambat pesan minuman susu panas ke Rihana.

“Oke!” sahut Rihana dari jauh.

“Gilang. Papa Bagas itu jahat tahu. Kalau memang dia sayang kita kenapa kita dibiarkan terlantar sekarang?! Papa nggak peduli kan kita mau hidup atau mati. Sejak berpisah dari Mama, papa itu jahat Dik! Harusnya kamu sadar akan hal itu. Jangan pernah diberi tempat buat papa. Ingat Dik Mama berjuang sendirian demi kita!” Riko melanjutkan menasehati Gilang.

Gilang masih membisu. Dia berpikir keras, kenapa belakangan ini, papanya itu berubah.
Padahal, setahu Gilang, Bagas itu perhatian. Sayang sama Gilang.

BACA JUGA:  Raih Popularitas Dalam Waktu Singkat, ILLIT Sapu Bersih Chart Musik Korea

Sedikit banyak, apa yang dikatakan Riko abangnya itu, diterima Gilang.

“Sudah nggak usah dipikir lagi Papa Bagas. Dik, kalau kita sudah sukses nanti, kita tunjukan ke papa, kalau kita adalah anak-anak yang tanggung dan tak mudah menyerah dengan keadaan. Kalau papa sekarang cuek, ya biarkan saja. Itu urusan dan hak papa. Kita sebagai anaknya memang tetap harus berbakti. Tetap kita hormati papa. Menyayangi papa. Semua itu wajib Dik. Ya…..kita harus bangkit mulai dari sekarang. Jangan hanya karena papa menghilang, terus kita mikirin dia. Lepas kan papa. Biarkan saja dia mau pergi kemana dia suka. Tugas kita hanya mendoakan Dik? Mendoakan yang terbaik buat papa. Oke.” ucap Riko panjang lebar.

Riko meraih tangan Gilang. Lalu menggenggamnya erat.
“Yuk. Semangat meraih mimpi. Nanti kalau sudah sukses kita cari papa sampai dapat ya!” imbuh Riko penuh antusias.

Dengan sisa-sisa semangat nya, Gilang berusaha mengukir senyum kecil di sudut bibirnya.

“Senyumnya yang ikhlas dong Dik?!” canda Riko yang melihat adiknya itu, terpaksa tersenyum.

“Masak dikit banget senyumnya. Pelit!” Riko terus mencoba membangkitkan semangat Gilang.

“Nih minuman susu panasnya. Biar fit. Besok kan kita terbang ke Jogja. Harus bener-bener fit ya sayang,” kata Rihana pada Gilang.

“Punya ku mana Ma?!” Riko menagih pesanannya.

“Oh iya ini,” Rihana menyodorkan satu cup susu panas ke Riko.

“Tumben Ma. Bang Riko suka susu?! Biasa kan katanya nggak enak.” protes Gilang.

“Sejak tinggal di Jogja, Abang kamu itu doyan semua, Dik?!” sebut Rihana sambil cengar-cengir.

“Iya kok kayaknya enak gitu lihat Gilang minum susu hangat. Jadi ya Abang coba tes. Eh beneran enak ternyata!” kata Riko memberi alasan.

“Ma. Mama nggak punya nomor ponsel papa Bagas yang lainnya ya. Siapa tahu Mama punya,” perhatian Gilang balik ke Bagas lagi. Rihana hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskan pelan ke langit-langit ruang rawat inap itu.

“Kalau Mama punya nomor lainnya, pasti Mama berikan ke Gilang. Nanti ya coba kita tanya nenek. Besok sebelum terbang ke Jogja, kita pamit ke nenek dulu,” jelas Rihana.

Rihana kembali teringat kekejaman orang tua Bagas. Dia minta ganti rugi soal biaya Gilang selama tinggal di rumahnya.

“Ya Allah. Astagfirullah!” gumam Rihana.
Tapi, dia berusaha melupakan kejadian.
“Semoga orang tua Bagas diberi hidayah,” Rihana memberi doa terbaik buat mantan mertuanya itu.

“Nggak usah mampir-mampir ke rumah Nenek Ma. Nenek aja jahat sama Mama. Masa iya Nenek minta ganti rugi biaya selama Gilang tinggal di rumah Nenek. Nggak etis banget, jadi nenek!” Riko emosi mengatakan itu.

BACA JUGA:  Luna Maya Hadirkan Kembali Sosok Suzzanna di Film Santet Dosa di Atas Dosa

Gilang terdiam.
Rihana juga tak mau membahas itu lagi. Apa yang dikatakan Riko memang benar.

Rihana tak tahu apa yang ada di otak mantan mertuanya.

“Apa karena sedang terpuruk hidupnya, lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang?! Dada Rihana sesak, serasa ditindih batu kali besar.

“Tapi Ma….meski nenek jahat sama Mama. Kita nggak boleh balas jahat ke nenek. Kita tetap pamit ya, Ma besok. Gilang mau mengucapkan terimakasih sudah diterima tinggal di rumah nenek, kemarin,” kata Gilang penuh harap.

“Iya Gilang. Kita memang harus tetap berbuat baik sama siapa pun..Mama bangga dengan ketulusan hati kamu, Gilang,” Rihana memeluk erat anak bujangnya itu.

Riko tepuk jidat mendengar perkataan Rihana.

“Kalau aku jadi mama. Ogah banget pamit segala. Dia itu nenek lampir yang jahat Ma!” ucap Riko kesal.

“Hus!” Rihana mencoba menghentikan caci maki Riko pada mantan mertuanya itu.

“Nggak boleh Bang, menghina nenek!” tukas Gilang.

“Iya….iya..
.oke….oke….Nggak boleh menghina nenek. Maafin Abang!” Riko terpaksa melakukan itu demi menyenangkan hati Gilang.

“Atau…..Ma. Kalau mama nggak mau ke rumah nenek, sambungkan Gilang dengan Nenek Ma, lewat ponsel Mama. Gilang mau ucapkan terimakasih. Biar besok Mama nggak repot harus mampir lagi ke rumah Nenek. Kendaraan kita juga nggak ada kan Ma?!” pinta Gilang pada Rihana.

“Oh oke. Sayang. Tunggu ya Mama telepon nenek dulu,” sebut Rihana sembari mencoba menghubungi mantan mertuanya itu.

Tiga kali Rihana mencoba menghubungi ponsel mantan mertuanya itu.

“Gilang. Nomor Nenek nggak aktif. Mama sudah coba menelepon sampai tiga kali. Ini coba aja dengarkan apa jawaban dari ponsel mama.” Rihana menyerahkan ponselnya ke Gilang.

“Iya sudah Ma. Nggak apa. Nanti saja kalau sudah di Jogja aja kita kabari nenek. Nanti Gilang bilang terimakasih.” ucap Gilang penuh semangat.

Rihana bersyukur mendengar keputusan Gilang.

“Ya sudah besok, setelah keluar dari rumah sakit, kita langsung sewa taksi ke bandara ya. Terus menunggu pesawat tujuan Jogja, di bandara aja ya. Disana kan banyak makanan dan minuman. Kita mau beli apa aja ada.” ucap Rihana lega.

“Pesawatnya jam berapa Ma?” tanya Riko.
“Sorean kayaknya jam 16.00 wib.” sebut Rihana.

“Kita jalan ke mall aja dulu Ma. Cuci mata. Baru kalau mau mendekati jadwal pesawatnya, kita on the way ke bandara?!” pinta Riko.

“Ya ela. Tapi nggak apa-apa kalau memang kalian mau ke mall dulu. Beli jajanan.” Rihana memberi lampu hijau buat Riko.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 37: Proses Mediasi

“Mas. Besok aku sama anak-anak jalan ke mall ya sembari nunggu jadwal pesawatnya.” Rihana minta izin ke Cahyo lewat pesan singkatnya.

“Iya sayang. Silakan. Nanti aku tambah ya uang jajan buat kalian,” balas Cahyo.

“Masih cukup Mas. Paling mereka beli kopi susu Jco!” sebut Rihana.

“Iya nggak apa. Siapa tahu kamu mau beli sesuatu. Aku tambah aja uangnya ya sayang.”

Tak lama, Cahyo langsung menyerahkan bukti transfernya ke Rihana, uang sejumlah Rp 5 juta.

“Ih dibilang masih cukup. Ini malah ditambah!” Rihana bingung harus bilang apa, selain kata terimakasih.

Rihana pun mentransfer sebagian uang yang diberikan Cahyo, ke Riko dan Gilang, masing-masing Rp500 ribu.

“Kalian cek ya. Tadi Papa Cahyo transfer buat kalian jajan besok di mall,” kata Rihana memberitahu kedua anak bujangnya itu.

“Ma. Bilang ke papa Cahyo, tiap hari ya transfernya!” canda Riko.

Rihana hanya senyum-senyum.
“Baik ya Ma, Papa Cahyo.” puji Gilang.

“Bilang makasih ya Ma. Dari Gilang dan Bang Riko,” kata Gilang pelan.

“Aman itu. Papa Cahyo paling senyum-senyum.” jawab Rihana.

***
Malamnya, Rihana tahu, Gilang terlihat gelisah, memikirkan keberadaan Bagas.

Apalagi, besok sudah waktunya harus berangkat ke Jogja.

“Ya Allah beri ketenangan buat anak hamba, ini ya Allah,” gumam Rihana berdoa dalam hati.

Sejujurnya dia sedih melihat Gilang yang terus kepikiran sama Bagas.

“Sayang banget dia sama Bagas,” pikir Rihana.
Berbeda dengan Riko, yang terlihat acuh tak acuh pada Bagas. Bahkan, Riko terkesan cuek sama Bagas.

Dia akan terlihat sangat marah, ketika Rihana disakiti Bagas. Masih segar dalam ingatan Rihana, dua tahun yang silam, Rihana dipukul Bagas.

Riko langsung menyarankan ke aku kalau nggak usah lagi dekat-dekat sama Bagas. Kalau perlu, pisah saja sama Bagas. Riko ingin melindungi Rihana. Tapi dia nggak tahu harus bagaimana. Apalagi usia Riko masih sangat belia. Tentu nggak etis kalau terlalu ikut campur dengan urusan orang tuanya.

“Beri kemudahan anak hamba dalam segala ya Allah,” doa Rihana di tengah sepinya malam.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *