ISTRI PAJANGAN Bagian 27: Kampanye Akbar

Karya: baiq desi rindrawati

wartawan senior posmetro batam

Sesuai jadwal, Bagas akan menggelar kampanye akbar. ALokasinya di lapangan bola yang lokasinya tak jauh dari rumah.

“Ri. Tolong dampingi aku kampanye, kali ini saja,” pinta Baga pada Rihana.

Rihana terdiam. Karena selama ini memang dia nggak ingin ikut campur soal kegiatan kampanye Bagas.

Lagian, kata Rihana, bukannya Bagas sudah punya sekretaris pribadi, yang posisinya seperti sudah menggantikan posisi Rihana.

Semua diurus sama sekretariat pribadi. Rihana cemburu? Awalnya cemburu. Tapi semua tak berlangsung lama. Rihana merasa sudah tak dibutuhkan lagi sama Bagas. Hingga akhirnya Rihana pun bersikap hambar ke Bagas.

Entah sampai kapan Rihana bertahan dengan kondisinya yang sekarang.

“Ri. Tolong aku kali ini saja. Nggak enak dilihat orang-orang sekitar lingkungan kita, kalau kamu nggak hadir di acara kampanye akbar kali ini.” Desak Bagas.

Rihana masih tak ingin bicara dengan Bagas.

“Kamu minta apa sih, akan aku turuti. Biar aku bisa lihat kamu hadir di acara kampanye aku. Sekali ini saja?!” ulang Bagas dengan nada hampir emosi.

“Cerai!” sebut Rihana to the point.
“Okey. Oke. Setelah aku memenangkan pemilihan ini kita cerai.

“Tapi ingat. Anak-anak sama aku!” Bentak Bagas dengan suara meninggi.

“Oh nggak bisa. Mereka harus ikut mamanya!” kata Rihana, dengan mantap.

“Oh nggak bisa dong. Kan kamu yang minta cerai!” tukas Bagas kesal.

“Tak ada yang bisa memutuskan, kecuali pihak pengadilan.” ucap Rihana dengan mantap.

“Bisa nggak sih, sekali aja bantu aku kali ini. Oke kalau memang cerai, kita akan cerai. Tapi, kumohon bantu aku kali ini. Kamu hanya hadir di acara kampanye aku, ” Bagas memohon dan merendah ke Rihana.

Dia sampai bersimpuh di kaki Rihana. Tapi, bagaimana pun, Rihana bukan orang jahat.

Rihana pun luluh. Dia bersedia menuruti permintaan Bagas.
Sesuai jadwal, kampanye akbar akan digelar esok pagi, dari jam 08.00 wib.

BACA JUGA:  Wajib Nonton Drakor ini, ‘Wedding Impossible’ Dibintangi Moon Sang Min dan Jeon Jong Seo

“Nanti tugas aku apa saja waktu di kampanye kamu,” Rihana merelakan bicara baik-baik dengan Bagas.

Padahal, sebenarnya dia nggak berminat sama sekali dengan kampanye Bagas.

“Makasih ya kamu masih mau bantu aku,” ucap Bagas, usai menghabiskan makanan nasi gorengnya di meja makan.

“Tugas kamu cuma dampingi aku saja Ri. Sembari bagikan kaos dan uang bensin buat yang hadiri acara kampanye aku.” ucap Bagas memberitahu Rihana.

“Bagi-bagi uang bensin?!” Rihana heran.

“Nggak. Untuk yang satu itu aku nggak mau ikut campur. Bisa kena tangkap tangan sama orang Bawaslu nanti kita.” protes Rihana serius.
“Ganti saja dengan uangnya dengan paket sembako,” Rihana memberi ide.
Sejenak Bagas terdiam. Tapi tak lama dia memerintahkan anak buahnya untuk menyediakan sembako sebanyak 1000 paket sembako. Dalamnya ada beras, gula, minyak goreng dan Indomie 5 bungkus.

“Kalau begitu nanti kamu yang koordinir ya Ri, pembagian paket sembakonya.” sebut Bagas.

“Kampanye,” Rihana menulis kata itu di story media sosialnya.

Orang pertama yang menanggapinya adalah Cahyo.

“Kalau orang PLN boleh hadir nggak ya. Mbak Rihana!” tanya Cahyo lewat chat, sembari membubuhkan emoticon orang tertawa.

“Dengan senang hati kami tunggu kehadirannya,” balas Rihana dengan hati yang berbunga-bunga.

Pelan-pelan, doa Rihana terjawab. Dia bisa dekat dengan Cahyo.

“Kapan ada waktu, Mbak Rihana. Kita makan malam.” pertanyaan Cahyo semakin membuat Rihana deg-degan.

Ia baca berulang-ulang pertanyaan itu, sampai dia lupa membalasnya.
“Oalah..orangnya online tapi balasnya entah kapan-kapan.” protes Cahyo mengirimkan pesan itu ke Rihana.

Rihana pun ketawa-ketawa sendiri. Dia nggak tahu lagi mau mengungkapkan kebahagiaannya kepada siapa.

“Iya……Mas Cahyo,” balas Rihana masih senyum-senyum sendiri.

“Kapan kita makan malam bersama?!” tanya Cahyo lagi, penasaran karena belum dijawab Rihana.

BACA JUGA:  Inilah Zodiak-zodiak yang punya Sifat Pemalu dan Tidak Mudah Terbuka Pada Orang Lain

“Malam ini bisa?!” tanya Cahyo lagi masih terus mendesak Rihana segera menjawab pertanyaannya.

“Hmmm. Boleh…..,” jawab Rihana, dengan debar jantung yang semakin tak karuan, karena saking bahagianya.

“Oke…..saya tunggu dimana nanti?”
Rihana masih bingung mau jawab apa.

*Menghubungi Fitriani.
“Fit..Gimana ya..Cahyo minta aku datang ke acara makan malam. Gimana?! Temani dong!” pinta Rihana serius, dan sedikit terdengar panik, nada bicaranya.

“Lho kok bisa ngajak aku. Nggak mungkin dong, kalian yang pacaran, aku ada di tengah-tengah kalian. Jadi obat nyamuk dong aku!” jawab Fitriani.

“Jadi gimana. Aku sama siapa ketemuan sama Mas Cahyo?!” Rihana masih panik.

“Beuhhhh. Sekarang sudah ada kemajuan. Panggilnya Mas Cahyo.” Fitriani mentertawakan Rihana.

“Iya habis gimana lagi. Aku panggil nama saja, pasti nggak sopan. Ya aku panggil Mas aja. Kan dia orang Jawa ya?!” kata Rihana memastikan.

“Luar biasa ya. Beberapa kita nggak ketemuan, eh tiba-tiba udah dekat aja sama gebetannya.” Fitriani nyeletuk lagi, godain Rihana.

“Hahahahah. Doain aku ya Fit, biar bisa bersatu sama Mas Cahyo. Aku cinta mati, Fit, sama dia.” ucap Rihana, to the point dan blak-blalak ke Fitriani.

“Fit..Bentar ya..Dia VIdeo Call nih. Bingung aku. Angkat nggak ya?” Rihana makin salah tingkah dibuat Cahyo hari ini.

“Ok….kalau begitu..Terima aja lah. Kalian ngobrol.” desak Fitriani.

Rihana pun buru-buru menuju kamar, lalu menguncinya dari dalam.

Dengan perasaan deg-degan, Rihana menerima panggilan video call dengan Cahyo, untuk pertama kalinya.

Deg-degan debar jantungnya.
Akhirnya Rihana video call dengan Cahyo.

“Apa kabar Mbak Rihana?” sapa Cahyo dengan ramahnya, dan senyum termanis.

“Mas. Sebelumnya, maaf ya. Kita video call kayak begini, ada yang marah nggak nanti?” tanya Rihana deg-degan bercampur dengan hati yang berbunga-bunga.

“Ada nih.” Cahyo menunjukkan kucing betina, kucing anggora yang diberinya nama Rihana.

BACA JUGA:  Gaya Parenting Wulan Guritno: Kepalanya Dilepas, Buntutnya Dipegang

“Dia namanya Rihana juga,” katanya sembari melepas tawa.
“Ih…..seriusan?!” Rihana penasaran.
“Iya dia tidurnya hari-hari sama saya. Lihatlah. Dia nggak bisa diam lihat saya video call sama Mbak Rihana, saingan dia!” canda Cahyo buat Rihana tertawa kecil.

“Dia manja sama saya..,” lanjut Cahyo.
“Oh ya……,” Rihana masih senyum-senyum video call sama Cahyo.

“Eh boleh nggak aku panggil Rihana saja..Usia kamu pasti masih 30 tahunan..Saya kan sudah mau 45 tahunan,” kata Cahyo.

Rihana tak menjawab.
“Boleh.Kan…..Rihana?” tanya Cahyo.

“Nanti aku jemput dimana kamu?” tanya Cahyo, kali ini langsung ke inti persoalan.

Bingung. Lagi lagi Rihana bingung mau jawab apa.
Karena di hatinya dipenuhi dengan bunga-bunga bermekaran.

“Hei…..kenapa diam aja si cantik satu ini?!” desak Cahyo.

Rihana semakin tak ketulungan bahagianya. Entah mimpi apa dia semalam. Hari ini ditelepon Cahyo lewat video call.

“Pokoknya dandan yang cantik dan sexy, saya jemput Rihana di lokasi yang saya share nanti ya. Ya sudah sampai ketemu malam nanti,” Cahyo mengakhiri panggilan video call nya.

Rihana masih tak percaya. Dia mencubit paksa kedua pipinya. Tapi sakit banget.

“Bismillah. Semoga ini langkah terbaik aku, ke arah yang lebih baik, bareng orang yang aku cintai,” gumam Rihana dalam hati.

Namun, yang pasti hari ini hati Rihana berbunga-bunga.

Tak lama dia pun menuliskan story di ponselnya, Kampanye Membawa Berkah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *