Karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam
Tidak seperti biasa, Cahyo yang pagi-pagi bersiap ke kantor, hari ini dia pura-pura bangun kesiangan.
“Mas. Nggak ke kantor?!” Rihana berusaha membangunkan Cahyo yang terlihat masih memejamkan matanya, dibalik selimut.
Cahyo menggeliat lalu bertanya jam berapa, ke Rihana.
“Jam 06.30 wib. Biasanya Mas kan udah rapi, jam segini. Tumben?!” kata Rihana yang duduk di pinggir tempat tidur kamarnya.
“Eh kok kamu malah sudah rapi. Mau kemana?” tanya Cahyo sembari menyipitkan matanya yang masih terlihat menahan kantuk.
“Biasa…..dari pasar. Beli bahan-bahan untuk rumah makan,” sebut Rihana.
Tanpa aba-aba, Cahyo menarik Rihana dalam pelukannya.
“Tunggu sayang. Nanti Riko dan Gilang mau sarapan. Aku harus nyiapin sarapan.” Rihana mengelak.
Tapi, dengen sigap, Cahyo mengecup bibir Rihana. Lalu, tangan kekarnya itu berselancar di balik baju yang dikenakan Rihana.
“Tunggu sayang. Nanti malam aja ya lanjut main biliar nya.” Rihana menolak dengan halus lalu berusaha melepaskan diri dari Cahyo.
Namun, sekuat apa pun tenaga Rihana untuk melepaskan diri dari Cahyo, Cahyo malah mengunci kuat tubuh Rihana dalam pelukannya.
Karena hasrat kelelakiannya pagi itu tak bisa dielakkan lagi.
“Sayang. Kamu nakal sih pagi ini. Wangi parfume kamu itu menggoda banget.” bisik Cahyo.
Sejenak, Cahyo bangkit lalu mengunci pintu kamarnya.
Melihat itu, Rihana pun tak bisa menolak lagi.
“Sayang. Orang dua itu mau sarapan gimana?!” bisik Rihana.
“Sebentar aja, nggak sampai sejam. Paling sebelas menit aja.” ucap Cahyo lirih sambil terus berselancar menanggalkan semua kain penutup yang menghalangi tubuh Rihana.
Rihana begitu menikmati permainan pagi itu. Cahyo, tak bisa menahan lagi hasratnya.
Seketika, Rihana dikunci di bawah tubuh kekar Cahyo. Lalu, menembakkan serangan rudalnya itu tanpa ampun.
Keduanya seketika sama-sama berada di puncak.
“Sayang.Makasih ya pagi ini. Kamu cantik banget. Wangi. Makanya aku pengen berat tadi main biliar nya??” bisik Cahyo di telinga Rihana. Rihana terdiam.
Tak lama, dia buru-buru membersihkan dirinya di kamar mandi. Lalu mengenakan lagi pakaiannya yang ditanggalkan Cahyo tadi.
“Jadi, Mas kamu libur hari ini? Ini sudah jam 07.00 wib lho?!” kata Rihana yang berdandan lagi, serapi mungkin
“Hari ini aku ada acara. Temani ya ke acara itu.” sebut Cahyo, yang gantian masuk ke kamar mandi, membersihkan diri.
“Acara apa Mas?!” tanya Rihana.
*Acara peresmian.” jawab Cahyo singkat.
“Peresmian apa Mas?!” Rihana masih penasaran.
“Aku juga nggak tahu. Cuma aku disuruh hadir aja di acara itu.” sebut Cahyo serius.
“Hari ini libur aja dulu ya rumah makan mu!?” perintah Cahyo.
Rihana tak membantah. Terpaksa hasil belanjaannya untuk bahan-bahan masakan rumah makan, disimpan di kulkas.
Rihana pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit mewah. Maklum, istri pimpinan PLN harus rapi dan terkesan mewah.
Tapi, meski demikian, Rihana tak terlalu berlebihan dengan perhiasan emas. Paling hanya sekedarnya saja.
“Ma…Riko dan Gilang mau berangkat,” teriak Riko dari luar kamarnya.
“Oh ya sayang sebentar. Mama nggak siapin sarapan buat kalian. Kalian sarapan di kantin aja ya?!” pinta Rihana.
Dia menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribuan buat Riko dan Gilang.
“Makasih ya Ma. Bagusnya tiap hari Ma. Mama nggak usah menyiapkan sarapan. Biar kami sarapan di kantin saja,” Riko tampak kegirangan mendapat selembar uang lima puluh ribuan itu.
Tidak dengan Gilang. Karena, lagi-lagi Gilang masih terlihat murung, lantaran belum bertemu Bagas.
“Kita berangkat sekalian nganterin anak-anak ya,” kata Cahyo.
“Oh oke.Mas,” jawab Rihana.
“Yuk barengan sama Papa Cahyo aja. Soalnya kita sekalian mau ke acara peresmian,” sebut Cahyo pada Riko dan Gilang.
Keduanya pun menurut saja apa kata Cahyo.
Setelah mengantarkan Riko dan Gilang ke sekolahnya masing-masing. Cahyo mengajak Rihana sarapan terlebih dahulu.
“Sarapan dulu yuk sayang. Aku lapar.” kata Cahyo.
Rihana juga mengaku lapar setelah permainan biliar tadi pagi.
Cahyo hanya cengar-cengir.
“Setelah sarapan, kita on the way ke acara ya Mas?”
“Iya…..”
Tiga puluh menit kemudian, Cahyo dan Rihana telah menyelesaikan sarapannya.
Cahyo pun mengajak Rihana melanjutkan aktifitas berikutnya. Sesuai perkataan Cahyo, menghadiri acara peresmian.
Tapi, Rihana dibuat bingung saat mobil Cahyo berhenti di depan sebuah showroom mobil.
“Acaranya disini?” tanya Rihana bingung.
“Iya, yuk. Turun,” ajak Cahyo.
Dua pegawai showroom mobil berlogo H itu menghampiri Cahyo dan Rihana.
“Selamat pagi, Pak…..Ibu…..Selamat datang di showroom mobil kami,” sapanya dengan ramah dan penuh penghormatan.
“Pagi…!” jawab Cahyo, lalu disusul Rihana juga menjawab sapaan dua karyawan itu.
“Sayang. Kamu suka nggak HRV hitam ini.” tanya Cahyo pada Rihana.
“Maksudnya? Gimana Mas?!” Rihana masih bingung.
Sementara dua karyawan showroom itu hanya senyum-senyum melihat Rihana yang kebingungan.
“Pak…..ini keluaran Honda terbaru. Lebih spesifiknya, bapak boleh lihat di brosur ini. Kita ada tiga warna yang saat ini ready. Hitam, Putih dan Merah.” sebut salah seorang dari karyawan showroom itu.
“Hitam cakep kan sayang ya?!” tanya Cahyo lagi, semakin buat Rihana bingung, mau menjawab pertanyaan Cahyo.
“Kok bengong sih sayang kamu?!” kata Cahyo lagi.
“Cakep kan warna hitam?! Exotic!” kata Cahyo sembari memeriksa fitur mobilnya.
“Oke. Saya mau yang hitam.” kata Cahyo.
“Oke Pak. Kita buatkan kwitansi pembayarannya ya.” sebut karyawan itu lagi.
“Mas. Ini gimana sih maksudnya?!” Rihana tambah bingung melihat Cahyo mau mentransfer sejumlah uang untuk pembayaran mobil itu.
“Kami antar atau langsung dibawa pulang sendiri Pak?!” tanya karyawannya setelah selesai menyiapkan sejumlah administrasi pembayaran mobil yang dibeli Cahyo.
“Antar saja ke alamat saya ya?!” pinta Cahyo.
“Oke siap.Pak. Terimakasih atas kepercayaannya menggunakan Honda.” ucap sales mobil Honda itu dengan ramah.
***
Di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Rihana lebih banyak diam. Karena dia masih bingung dengan kelakuan Cahyo hari ini.
“Hei……yang ulang tahun kok malah bengong?!” kata Cahyo dan Rihana baru sadar kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 37 tahun.
“Ya ampun Mas. Lupa lho aku kalau hari ini aku ulang tahun.” ucap Rihana sambil terkekeh.
“Lah kok bisa malah kamu yang ingat?!” Rihana terkekeh.
“Ya Elah..Ulang tahun sendiri lupa!” Cahyo pun heran.
“Iya Mas maklum jarang ada yang ngerayain ulang tahun aku.” Rihana pasang wajah nelangsa.
“Ya sudah. Hari ini kan sudah kita rayakan tadi pagi. Terus kadonya on the way menuju ke rumah. Aku pilihkan mobil yang paling mewah buat istri aku tercinta ini?!” sebut Cahyo.
Mata Rihana membulat.
“Hah. Jadi mobil itu untuk aku?” tanya Rihana tak menyangka.
“Iyaaaaaa sayang. Terus kalau bukan buat kamu. Buat siapa coba? Buat anak-anak?! Ya belum waktunya?!” sebut Cahyo.
Pagi itu, hati Rihana berbunga-bunga. Dapat hadiah mobil dari Cahyo.
“Mimpi apa aku semalam ya Mas. Dapat mobil mewah dari kamu?!”
“Dikasih istana. Dikasih mobil. Ya Allah, nikmat mana lagi yang engkau dustai?” Rihana bersyukur banget punya Cahyo yang begitu mencintai dan bertanggungjawab pada hidup Rihana.
Rihana pun spontan memeluk erat Cahyo, yang sedang fokus mengemudi itu.
“Nanti aja peluknya di rumah sayang,” balas Cahyo.
“Eh nggak apa sih.. Rejeki nggak boleh ditolak. Dipeluk ya Alhamdulillah,” canda Cahyo.(*)













