Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Di acara panggung bebas malam Minggu. Seperti biasa, Fera selalu menghabiskan waktu bareng kawan-kawannya, di kafe.
Entah kenapa, tiba-tiba Fera terpesona dengan penampilan Riko, salah seorang vokalis band Gen Z.
“Cakep ya vokalisnya,” kata Fera yang seolah tak berkedip menyaksikan penampilan Riko di atas panggung.
“Dasar lu semua cowok lu bilang cakep?!” celetuk Gita.
“Hahahahha. Emang salah?!” sahut Fera.
“Aku suka banget lihat gaya dia dan suara dia. Khas banget!” imbuh Fera lagi.
“Hmm…Barino juga kamu bilang begitu. Ya sudah. Semua cowok di mata Lu, cakep semua. Nggak ada standart khusus. Hahahahah!” bantah Gita lagi.
“Hei, Cika. Hati-hati lu kalau punya cowok, jangan ditunjukin ke depan Fera. Nanti cowok lu dibilang cakep terus diembat Fera.” celetuk Gita tanpa tedeng aling-aling.
“Apaan sih kamu. Nggak lucu tahu. Aku bukan tipe perebut cowok orang!” seketika Fera berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Gita dan yang lainnya.
“Woi. Gitu aja lu ngambek. Becanda tahu!” pekik Gita yang berusaha mengejar Fera.
Tapi Fera terlanjur sakit hati dan tersinggung. Rasanya Fera terhina banget dengan candaan Gita.
Gita terus mengejar Fera sampai di parkiran motornya. Tapi, sekali lagi Fera tak ingin merespon Gita.
“Fer. Maafin aku. Masak iya begitu aja kamu ngambek?! Maafin aku Fera,” Pekik Gita lagi.
“Sudahlah. Aku nggak bagus di mata kamu. Aku tukang rebut cowok orang. Makanya jangan berteman sama aku.” Fera buru-buru menghidupkan mesin motornya. Berlalu secepat mungkin dari hadapan Gita.
“Gimana ini. Fera marah sama kita. Jadi, siapa yang menyelesaikan pembayaran makanan dan minuman kita ini, woi!”
Friska ambil alih situasi yang panas itu jadi suasana menyenangkan.
“Kamu bingung mau bayar makanan dan minuman kita? Tenang aja ada kartu kredit aku limitnya tak terbatas. Hahahahah!!” kata Friska dengan percaya diri.
Gita langsung terperangah mendengar itu.
“Serius woi! Kalau begitu yess bisa nambah lagi woi minumannya!” Gita langsung bersorak.
Suasana yang tadinya tegang kini berubah ceria. Mereka berlima, kembali pada aktifitas mereka, bercerita tentang banyak hal.
Termasuk Gita, mengghibah soal Fera.
“Woi. Gimana pun Fera harus tetap kita rangkul. Dia itu, punya calon mama yang tajir melintir. Konon katanya kabar berita di luar sana, papa nya Fera mau segera menikah sama cewek itu. Calon mamanya Fera yang tajir melintir itu.” cerita Gita panjang lebar.
“Kamu tahu aja cerita hidup papanya Fera?!”
“Tahu dong. Fera kan suka cerita soal papanya ke aku. Ganteng tahu papanya Fera. Masih muda.”
Di facebook. Fera mencari tahu tentang sosok Riko. Tak ada keterangan apa pun yang menjelaskan tentang keberadaan Riko. Riko sendiri, jarang mengumbar tentang kehidupan pribadinya di media sosial mana pun. Riko sedikit tertutup. Tapi, namanya mulai dikenal cewek-cewek yang suka nongkrong di Kafe Gen-Z, tempat Riko menghabiskan malam demi mencari uang tambahan jajan.
Rihana, bukan tak mau memberi lebih. Tapi, dia tetap ingin mengajarkan pada anak-anaknya tentang aturan hidup sederhana, meski bergelimang harta.
Riko pun tak ingin berpangku tangan. Dia iseng melamar gabung di band Gen-Z, dan dia diterima jadi vokalisnya. Riko pun mulai dikenal sebagai vokalis Gen-Z yang ganteng tapi dingin sama cewek-cewek.
Akun media sosial FB Riko, dikunci. Fera benar-benar penasaran dengan sosok cowok vokalis band di kafe kemarin.
“Aku harus bisa dapat cowok itu.” Fera membatin dalam hati.
Malam Minggu, Fera berniat datang ke kafe itu lagi, meski tanpa bareng geng-gengnya.
“Semoga cowok itu manggung malam ini.” kata Fera penuh harap.
Berangkat dari rumah jam 20.00 wib. Dengan celana jeans biru langit, dan kaos oblong putih pressbody, sepatu ket putih, Fera melangkah penuh percaya diri, duduk sendiri di salah satu sudut kafe.
Dengan gelisah, Fera terus menunggu kemunculan Riko di panggung kecil kafe itu.
“Datang lah Riko. Aku pengen lihat kamu nyanyi,” batin Fera bicara sendiri dalam hati.
Dilihatnya, segerombolan anak-anak muda, laki-laki dan perempuan. Mereka berenam.
Pandangan Fera, fokus tertuju pada sosok pemuda yang terlihat jaim, dengan setelan kemeja polos hitam, dengan dalaman kaos putih, bercelana jeans biru dongker, bersepatu Nike warna hitam.
Siapa lagi kalau bukan Riko. Pemuda pujaan hati yang diam-diam dia kagumi dari jauh.
“Riko.” pekik Fera kegirangan.
Meski melintas di depan tempat duduk Fera, sekumpulan grub band Gen-Z itu sama sekali tak menoleh ke arah Fera, meski Fera terlihat sibuk mengabadikan momen grub band Gen -Z, dengan kameranya.
“Ih ganteng tapi sombong. Kenapa sih nggak sedikit pun menghargai fans beratnya, sudah tahu aku foto eh ini cuek!” Fera kesal. Tapi nggak tahu dia harus melampiaskan kekesalannya itu sama siapa.
Grub band Gen-Z itu pun langsung naik ke atas panggung, mengambil posisi masing-masing.
Riko, langsung tes vokal, dengan microfon di tangannya.
Suara Riko, buat Fera kegirangan.
“Jangan sombong Riko. Kamu akan jadi milikku.” kata Fera bicara sendiri, pelan.
Riko sama sekali memang tak pernah merespon kehadiran Fera, meski sudah berulang kali bertemu di kafe itu.
Sesekali Fera memberinya uang saweran. Tapi, sekali lagi, Riko cuek. Bagi Riko, saweran dari penonton atau pengunjung kafe itu, sudah biasa.
Untuk kesekian kalinya, Fera memberikan uang saweran seratus ribu ke Riko, ketika Riko tampil di atas panggung mini kafe itu.
Tak ada ucapan atau kata-kata terimakasih meluncur dari bibir Riko. Sambil terus membawakan satu buah lagu, Riko hanya tersenyum tipis, ketika Fera menyerahkan saweran selembar uang seratus ribuan itu, pada Riko.
“Dasar sombong kamu Riko?!” maki Fera dalam hati. Tapi dia nggak merasa menyesal memberikan uang saweran itu. Hanya kesal karena respon Riko biasa saja pada Fera.
Sebagai vokalis, Riko diwajibkan ramah pada fans atau penggemarnya. Tak terkecuali dengan Fera. Tapi, sekali lagi, Riko memang tampil apa adanya. Dia sama sekali tak berusaha ramah pada penggemarnya.
Bagi Riko, tugas dia hanya bernyanyi. Beramah tamah adalah bukan kewajibannya.
Sudah satu setengah jam, Fera duduk sendiri di pojokan kursi yang dia pilih.
Fera begitu berharap dan menunggu Riko, fokus melempar pandang ke arahnya. Tapi, itu nggak akan terjadi, karena Riko adalah tipe cowok yang dingin dan cuek.
“Ih menoleh ke aku kenapa. sumpah kamu sombong banget Riko?!” Fera kesal. Karena respon Riko terhadap Fera, tak sesuai ekspektasi.
Meski demikian, Fera tak ingin menyerah. Entah kenapa, Fera begitu bertekad, ingin membuat Riko yang sombong itu bisa bertekuk lutut di kaki Fera.
“Hai..Sudah lama disini?!” suara seseorang membuyarkan khayalan Fera. Gita datang dan berusaha melakukan pendekatan pada Fera.
“Fer. Maafin aku ya yang soal kemarin,” pinta Gita to the point.
Fera masih tak merespon apa yang dikatakan Gita.
Pandangannya, berusaha fokus ke arah Grub Band Gen-Z, karena lagu yang dinyanyikan Riko, buat suasana hati Fera, bergembira.
“Fer. Kita kan sahabatan. Maafin aku ya banyak salah ke kamu, kemarin,” pinta Gita merengek ke Fera.
Fera masih cuek dan sekarang dia justru menyibukkan diri dengan kameranya, mengabadikan momen Riko yang sedang tampil di panggung.
“Fera, aku harus bagaimana lagi minta maaf sama kamu. Aku ngaku salah Fera.” desak Gita yang berusaha mengulurkan tangan, tapi tak disambut hangat oleh Fera.
“Fer. Aku janji nggak ngulang lagi,” masih kata Gita terus mendesak Fera, agar bersedia menerima kata-kata maafnya.
Gita sedih karena Fera memang benar-benar tak menghiraukan kehadirannya.
Tanpa terasa, air mata Gita jatuh, dan ia berusaha beranjak pergi dari tempat duduk Fera.
Melihat pemandangan tak menyenangkan ini, Fera berusaha tetap tenang. Karena dia memang sedang terpesona dengan kehadiran sosok Riko.
“Dia itu merusak suasana hati orang aja kerjanya!” celetuk Fera kesal.
Fera belum punya keinginan untuk memaafkan perbuatan Gita tempo hari, karena apa yang dilakukan Gita, sungguh menyakiti perasaan Fera.
“Aku nggak akan memaafkan penghinaan kamu, Gita!” batin Fera masih terluka.(*)













