Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Rihana tak tahu lagi harus bagaimana memulai hidup barunya tanpa Cahyo.
Bagi Cahyo, kehadiran Rihana sudah usai. Bagi Rihana, kehadiran Cahyo, akan selalu ada di pikirannya.
“Ri. Temani aku yuk, mau jenguk kawan,” pesan singkat itu membuyarkan lamunan Rihana.
“Siapa?” balas Rihana dengan malas-malasan.
“Yuk lah temani aku. Nanti di jalan aku jelasin. Kamu kenal baik kok sama teman aku itu.” ucap Fitriani yang buat Rihana penasaran.
“Hmm. Iya dah aku temani kamu. Tunggu dimana. Aku jemput kamu ya!” balas Rihana lagi.
“Aku siap-siap dulu. Masih pakai baju tidur ini, rencana mau tidur.” Lalu Rihana mematikan ponselnya.
Sementara Fitriani sudah standby sejak 20 menit yang lalu. Dia memastikan bahwa Cahyo masih dirawat di rumah sakit.
“Fer. Papa masih dirawat di rumah sakit kan?!” tanya Fitriani pada Fera, putri Cahyo.
“Iya Tante. Di ruang Mangkai Kamar nomor 1,” sebut Fera.
“Oke Fer. Sebentar lagi, Tante mau jenguk papa kamu ya, sama Tante Rihana.” kata Fitriani memberitahu Fera.
Mendengar nama Rihana, Fera sudah menaruh rasa emosi.
“Kenapa sih harus ada perempuan sialan itu.” gerutu Fera kesal.
Tapi, kali ini ia akan berusaha menerima kehadiran Rihana. “Semua karena papa. Kalau bukan karena Papa, aku nggak sudi ketemu sama Rihana lagi.” Fera ngomel sendiri.
Sesuai kesepakatan, Rihana menjemput Fitriani di rumahnya. Selang dua puluh lima menit kemudian, mobil Pajero Sport Rihana sudah tiba di halaman rumah Fitriani.
Rihana sengaja nggak turun. Dia hanya membunyikan bell mobilnya. Fitriani yang mendengar itu pun keluar dari rumahnya.
“Maaf ya lama nunggu,” sapa Rihana saat Fitriani memasuki mobilnya.
“Nggak apa. Aman,” balas Fitriani.
“Siapa sih Fit kawan kamu yang sakit itu?!” tanya Rihana masih penasaran.
“Nanti kamu juga kenal. Dia teman aku yang paling baik.” jawab Fitriani buat Rihana tak sabaran ingin segera melihat siapa teman baik yang dia maksudkan itu.
Rihana berusaha mempercepat laju kendaraannya.
Fitriani tiba-tiba protes, karena ketakutan saat Rihana ngebut dengan kecepatan yang tak biasanya.
“Hei jangan ngebut Rihana. Aku takut. Mana aku belum nikah,” seru Fitriani ketakutan.
Rihana yang melihat Fitriani ketakutan malah melepas tawa lebar.
“Oh iya lupa aku lagi bawa anak gadis, di samping aku!” sebut Rihana, sembari mengurangi kecepatan laju mobilnya.
Tiba di halaman parkir rumah sakit. Rihana sama sekali tak menyangka kalau yang akan dijenguknya adalah Cahyo.
Di ruang rawat inap pasien laki-laki, di kamar itu kebetulan Cahyo sedang sendiri.
Fera, sengaja menghindar keluar dari ruangan itu, agar tak bertemu dengan Rihana.
Ketika Rihana memasuki ruang rawat inap, betapa terkejut Rihana. Ternyata, teman baik yang dimaksud Fitriani itu adalah Cahyo.
“Mas Cahyo.” ucap Rihana lirih.
Perlahan, Cahyo membuka matanya.
“Rihana.” sapa Cahyo lirih. Dia lemah, berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit itu.
Hati Rihana hancur saat mendapati orang yang dia cintai itu terbaring lemah di rumah sakit.
“Ri. Maafkan kesalahan aku ya.” ucap Cahyo lagi masih dengan kondisinya yang lemah.
Tak terasa, air mata Rihana menetes.
“Kamu akan baik-baik saja Mas,” ucap Rihana sembari menggenggam erat tangan Cahyo.
“Makasih ya,” balas Cahyo.
“Kenapa kamu nggak cerita Mas kalau sakit?!” kata Rihana protes.
Cahyo terdiam dengan selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya itu.
“Aku sakit maagh ini sudah lama Ri. Cuma tadi malam aku sudah nggak kuat dan minta tolong Fitriani antar ke rumah sakit.” cerita Cahyo pelan.
“Kamu jahat Mas. Nggak mau kasih tahu aku.”
Cahyo tersenyum kecil.
“Fitriani kan sudah kasih tahu ke kamu. Buktinya kamu sekarang ada disini.” Cahyo mencoba kuat di depan Rihana.
“Iya Mas,” jawab Rihana masih bercucuran air mata.
“Cepat sehat ya sayang.” kata Rihana sembari mencium punggung tangan kanan Cahyo.
“Kamu nggak marah kan Ri sama aku, karena aku sudah jahat sama kamu, kemarin.”
Rihana menggelengkan kepalanya.
Untuk mengurangi rasa sedihnya, Rihana coba mengalihkan pembicaraan. Dilihatnya nasi jatah pasien masih tertata rapi di meja dekat tempat tidur Cahyo.
“Mas. Aku suapi mau ya. Kamu pasti belum makan.” kata Rihana dengan perasaan yang hancur.
Cahyo tersenyum. Tanda dia mau disuapi sama Rihana.
“Jam berapa ini tadi diantar nasi nya Mas?” tanya Rihana berusaha tegar.
“Nggak tahu. Mungkin waktu aku tertidur. Yang pasti itu jatah makan pagi dan siang. Belum aku sentuh sama sekali,” jelas Cahyo pelan.
“Makan ya aku suapin. Mas mau pilih lauk yang mana?! Ada SOP ikan. SOP ayam. Tinggal pilih.” sebut Rihana.
“Terserah aja mau disuapin yang mana. Mas suka,” jawab Cahyo yang terus berusaha tersenyum di depan Rihana.
“Coba sop ayam ini kayaknya seger Mas, bikin selera makan.” kata Rihana mencoba meyakinkan Cahyo.
Fitriani yang diam sejak pertama masuk ruangan. Tiba-tiba terharu melihat pemandangan tak biasa yang ada di depannya itu.
Fitriani berdoa, semoga Rihana dan Cahyo bersatu. Setidaknya, dengan mereka bersatu, mereka bisa hidup bahagia.
Apalagi, Rihana begitu bersemangat mendapatkan cinta Cahyo. Meski ditolak, Rihana terus berjuang tak mengenal lelah.
“Lekas sehat ya Mas,” ucap Fitriani yang melihat Cahyo, bersemangat saat disuapi Rihana.
“Makasih ya Fit. Kamu sudah banyak bantu aku. Kalau nggak kamu antar kemarin ke UGD, entah apa jadinya.” keluh Cahyo bercerita lirih.
“Sudah. Nggak usah dibawa ke pikiran yang hari kemarin. Kan sudah lewat Mas. Sekarang yang ada di depan kita aja, kita pikirkan,” ucap Fitriani bijak.
“Tumben lurus bicaranya!” celetuk Rihana yang berusaha memecah kesunyian suasana ruang kamar inap tempat Cahyo dirawat.
“Ri. Aku keluar dulu ya. Kamu lanjut sama Mas mu dulu,” bisik Fitriani di telinga Rihana.
Cahyo yang mendengar itu, hanya senyum-senyum kecil.
“Jangan lama-lama ya. Nanti aku tinggal kalau lama.” ancam Rihana bergurau.
“Oh iya aku kan tadi nebeng kamu ya pas ke rumah sakitnya. Hmm. Oke kalau begitu. Aku cuma mau cari sarapan. Lapar. Tadi pagi aku belum sarapan.” sebut Fitriani seraya bergegas meninggalkan ruangan itu.
Suasana kembali sunyi. Hanya Cahyo dan Rihana di ruang itu.
Cahyo tak sabaran ingin mengatakan kalau dia merasa bersalah sudah meninggalkan Rihana.
“Ri. Aku mohon maaf ya. Kemarin aku terlalu gegabah mengambil keputusan. Sebenarnya aku sayang kamu. Tapi, aku masih dilema sama Fera. Dia nggak suka kalau kita deket,” cerita Cahyo lirih.
“Mulai sekarang aku janji akan memperjuangkan hubungan kita. Aku akan terus meminta Fera, agar dia ikhlas menerima hubungan kita. Aku ingin serius Ri. Sekarang bukan waktunya lagi buat main-main. Aku sudah lama hidup sendiri. Aku butuh teman hidup Ri, yang bisa menerima aku apa adanya.” kata Cahyo yang mulai terlihat membaik.
“Sama Mas aku juga. Sayang banget sama kamu. Kamu sih kemarin menolak aku.” celetuk Rihana pelan.
“Iya maaf ya Ri. Tolong lupakan yang kemarin.” pinta Cahyo penuh harap.
Rihana hanya mengangguk kecil, dibarengi dengan senyum termanisnya buat Cahyo.(*)













