TIM Ekspedisi Patriot untuk Warga Tanjung Banon, Percepat Pengembangan Rempang

Kampung Tanjung Banon, Pulau Rempang.

Pembangunannya sudah berjalan hampir tiga tahun. Sejak awal tahun 2024 silam. Ratusan rumah bertipe 45 dengan model dan cat yang sama terhampar di areal perbukitan
di Kampung Tanjung Banon. Inilah rumah untuk warga Sembulang, direlokasi dari dampak proyek Rempang Eco City. Ratusan Kepala Keluarga (KK) sudah menempati
kawasan yang terletak di Pulau Rempang ini. Pemindahan penduduk ini juga dikembangkan sebagai wilayah transmigrasi modern oleh Kementerian Transmigrasi bersama BP
Batam.

Foto bersama Tim Posmetro, Perwakilan Kelurhan SEmbulang, warga Tanjung Banono dan Tim Ekspedisi Patriot.

Gersang memang kesannya. Panas. Mungkin karena Tim Posmetro tiba di lokasi itu menjelang tengah hari, Kamis (22/10). Tapi kesan itu terasa wajar, karena memang area
pemukiman ini belum banyak ditumbuhi pohon yang bisa menjadi peneduh. Melihat deretan rumah dari ujung ke ujung masih sangat jelas, tanpa harus terhalang apa pun.
Warna merah tanah seakan menambah suhu panas pancaran matahari. Meski beberapa pohon dan tumbuhan sayur sudah mulai ditanami warga yang menghuni di sana,
terasa belum cukup untuk merasakan sejuk dan membentengi terik siang itu.

Foto bersama TEP ITS. 
Foto bersama TEP IPB.

“Memang masih gesang, karena belum banyak ditanami pohon,” ujar Ari, salah satu dari Tim Eskpedisi Patriot (TEP) UI yang sempat berdiskusi dengan posmetro soal
pendampingan yang dilakukan timnya. TEP ini adalah program Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia, tujuan dibentuknya adalah untuk melakukan riset, kajian,
pendampingan, dan pemberdayaan di kawasan transmigrasi guna mempercepat transformasi wilayah tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan
serta mengentaskan kemiskinan.

Bangunan rumah untuk warga yang di relokasi dari Sembulang ke Tanjung Banon.

Berawal dari diskusi bersama TEP UI inilah, rasa penasaran Tim Posmetro untuk turun ke Kampung Tanjung Banon untuk melihat langsung kondisi terkini dan kehidupan wrga
yang telah direlokasi ke sana. “Ini adalah transmigrasi yang mewah menurut kami, belum ada transmigrasi atau pun relokasi semewah ini,” ujar Ari berkomentar.

Meski siang itu udara yang penas dengan sengatan mataharinya, seperti tertutupi dengan kondisi bangunan rumah dan fasilitas yang diberikan pemerintah untuk warga yang
direlokasi. Rumah dengan tipe 45. Luas lahan 500 meter per segi. Perabot rumah, mulai kulkas, sofa, kitchen set, tempat tidur semua disediakan. Soal air dan listrik terpenuhi
dan sangat lancar. Bahkan, setiap rumah dipasangi filter air. Tiap rumah juga disediakan sepeda listrik. Row jalan di komplek itu pun lebar-lebar. Dan yang paling penting
untuk jaman sekarang, sinyal internet pun lancar.

Salah satu kolam karpet bantuan pemerintah untuk warga.
Tanaman warga di pekarangan rumah.

“Semua ada. Tinggal masuk. Bahkan tiap bulan kami masih dapat bantuan sembako,” ujar Agus, salah seorang warga.

Rumah Agus persik di pojok jalan. Di depan Kantor Koperasi Produsen Transmigrasi Merah Putih Barelang (KPTMP). “Area rumah saya kebetulan, lahannya lebih dari lima
ratus meter,” ujar Agus.

Dari sekian banyak rumah yang dibangun di sana, tampak yang paling hijau sekelilingnya. Ada tanaman pisang, cabe dan berbagai tanaman sayuran lainnya tumbuh di
sekeliling pekarangannya. Ada pula lingkaran kolam ikan terpal yang dipasang di bagian pekarangan belakang, dan halaman samping. “Ini juga bantuan dari kementrian.
Semua. Mulai dari bibit sampai alat alat kolam ini,” lanjut Agus yang juga ketua KPTMP.

Foto bersama TEP ITB yang membudidayakan Rumput Laut di darat.

Pemukiman di Kampung Tanjungbanon ini, sudah dihuni oleh ratusan kepala keluarga. “Saat ini, untuk pembangunan tahap pertama di Tanjung Banon ini telah dihuni oleh
sekitar 287 kepala keluarga,” ujar Tuty Kusumaningrum, S.Ag. Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Masyarakat (Kasi PPKM) Kelurahan Sembulang,
Kecamatan Galang, Kota Batam yang menemui Tim Posmetro di lokasi mewakili Lurah Sembulang, Zainal S.I.P.

BACA JUGA:  Gubernur Pimpin Rakor IMT-GT 2023, Siapkan Kepri Jadi Tuan Rumah yang Baik

Diakuinya saat ini di Tanjung Banon sudah sangat berkembang. Geliat aktifitas masyarakat mulai dari perikanan, pertanian, dengan dukungan dari pemerintah untuk
meningkatkan perekonomian masyarakat. Tuty juga menyebutkan, untuk bidang UMKM juga sudah mulai terlihat perkembangan di Rempang Eco City. “Banyak bantuan dari
pemerintah seperti pembinaan pembinaan, seperti kehadiran tim patriot (TEP) ini,” ujarnya melanjutkan.

Pelabuan Tanjung Banon.
Kapal nelayan bantuan dari pemeritah.

Bahkan di Kampung Tanjung Banon ini Ada pula kelompok ibu-ibu yang juga mengerjakan kerajinan, seperti membatik dan juga eco print, dan merangkai bunga plastik.
Produk produk ini, juga dijadikan sebagai produk untuk kebutuhan pengujung atau wisatawan yang kesana.

“Kalau kain batik mungkin panjang dan lebih besar ya medianya, jadi kami juga membuat untuk tas tangan, dompet,” ujar seorang ibu yang menjadi pengrajin batik di sana.

Ada Kelompok Sadar Wisata yang saat ini juga tengah mengembangkan wisata mangrove dan memancing. Ini juga disebut berkolaborasi dengan aktifitas koperasi yang yang
dipimpin Agus.

Layaknya aktifitas masyarakat pada umumnya, di Tanjung Banon masyarakatnya tidak hanya nelayan dan bertani saja. Ada pula yang berencana membuat rumah makan.
Salah satunya Musdar, seorang pensiunan guru yang mengaku sudah dua tahun tinggal di Tanjung Banon. Di samping rumahnya saat ini sedang dibangun untuk rumah
makan. “Ya menunya masakan Melayu lah. Mungkin namanya nanti Rumah Makan Rempang Eco City,” ujarnya saat ditemui di selah sela aktifitasnya membangun rumah
makan itu.

Dia mengaku sangat senang berada di Tanjung Banon. “Alhamdulillah senanglah. Kita semua dapat bantuan. Sejauh ini sangat nyaman,” ujarnya menegaskan.

TEP UI Lakukan Pendampingan Tiga Sektor

Tak hanya mencukupi semua kebutuhan masyarakat yang direlokasi ke Tanjung Banon dari Sembulang, pemerintah juga seperti halnya menurunkan TEP dari berbagai
kampus ternama. Seperti halnya dijelaskan Ari, salah satu anggota TEP UI yang berkunjung ke posmetro. TEP ini adalah program Kementerian Transmigrasi Republik
Indonesia, tujuan dibentuknya adalah untuk melakukan riset, kajian, pendampingan, dan pemberdayaan di kawasan transmigrasi guna mempercepat transformasi wilayah
tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan serta mengentaskan kemiskinan.

Tim yang turun di gelombang kedua ini, dijelaskan Ari adalah dalam tahapan implementasi.

“Tahap kedua ini, menjalankan rekomendasi tahun lalu. Ada tiga sektor yang menjadi konsen kami; perikanan, sektro UMKM dan Pariwistaa,” ujarnya menjelaskan.

Untuk Sektor perikanan ini, dituturkan Ari saat ini dipayungi dua koperasi, yaitu koperasi merah putih dan koperasi transmigrasi. Sedangkan untuk UMKM saat ini, TIm
Eksperduisi telah memayungi 21 UMKM.

“Harapannya bisa sergera mendapatkan ijin edar, PIRT dan sertifikasi halal,” ujarnya.

Dan yang terakhir pariwisata. Ari mengatakan, di Rempang Eco City yang menjadi tempar relokasi wraga, atau transmirasi ini ada tiga potensi wista. Pertama mangrove, ada
Pulau Mubut Darat, dan juga wisata mancing.

“Sedang kami golkan ke Kementrian kehutanan dan swasta,” ujarnya lagi.

Dari kerja TIm Eskpedisi yang dinaungi Kementrian Transmigrasi ini, Ari dan rekan-rekannya berharap, apa yang ada di masyrakat Rempang Eco City kemanfaatannya lebih
produktif.

BACA JUGA:  PLN Batam Tingkatkan Keandalan Listrik untuk Mendukung Pertumbuhan Kota

“Kami harap UMKM sudah ada ijin dan pasar, seblum kerja tim ekspedisi berakhir. Salah satunya sat ini, warga di sana telah juga mengahsilkan tangkapan ikan juga saat ini
sebulan dua ton, sebagian di ekspor ke Singpaur. Ini dengan cara tradisional. Harapan kedepan bisa modern, dengan kedepan dan bisa sampai 10 ton,” tuturnya
menjelaskan.

Tim Eksepedisi Patriot ini, telah melakukan pengamatan dan penelitian, dari 11 kampung yang direlokasi ke Rempang Eco City, sudah bangun 600 rumah. Saat ini yang sudha
terisi ada 300 rumah.

“Golnya ini program transmigrasi tidak hanya perpindahan penduduk, tapi juga bisa muncul perumbuhan ekonomi baru, dan bisa mencapai kesejahteraaan masyarakat,” kata
Ari menjelaskan.

Saat ini, kata Ari, riset Tim Eksepedisi Patriot masyarakat yang tinggal di Rempang Eco City merasa nyaman.

“Kami door to door. Sudah 94 pseren mereka nyaman sudah tinggal di sana. Karena memang dikomparasikan dengan sebelumnya, jauh lebih nyaman.
Salah satu yang ditanggung pemerintah juga ganti rugi tanah, per meter, kebun, dan pohom yang ditanam,” tuturnya lagi.

TEP IPB Dampingi Warga Tanam Holtikultura

Siang itu Tim Posmetro juga menjumpai TEP ITB yang sedang melakukan pendampingan untuk tanaman pekarangan bagi warga sekitar. TEP IPB ini melakukan pelatihan,
pendampingan untuk warga agar bisa memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk ditanami tanaman jenis holtikultura, seperti cabai, sayuran dan sejenisnya.

“Ini melalui berbagai tahapan. Saat ini sudah dalam tahapan monitoring. Target kami ada lima puluh kepala keluarga. Dan ini yang akan harapannya akan diajarkan kembali
oleh warga kepada yang lainnya,” ujar Aldi, salah satu TEP ITB.

Menurut Iswan dan Isti rekan dari TEP IPB yang lainnya, harpannya dengan pelatihan ini juga memberikan pengetahuan untuk warga terkait tanaman pengarangan yang bisa
memberikan manfaat lebih kedepannya. “Saat ini sudah ada yang juga panen. Namun, ini soal cuaca dan media tanam sangat berpengaruh,” ujar Iswan.

Pendampingan dari TEP IPB ini juga diharapkan bisa meningkatkan penghasilan bagi warga yang telah mendapatkan pelatihan.

Pengembangan Rumput Laut ITB dan Galangan Kapal ITS

Sedangkan dari TEP ITB sedang mengembangkan budidaya rumput laut Ulva lactuca (selada laut). Mereka membangun instalasi untuk penanaman rumput laut di darat.

Menurut salah seorang TEP ITB jeis rumput laut ini disebut Ulva lactuca atau selada laut. Bibit ini didatangkan dari luar wilayah dan diaklimatisasi karena belum tumbuh
secara alami di Rempang.

“Metode budidayanya berbasis daratan, yang dilengkapi bak budidaya, sistem aerasi, dan atap paranet,” ujar seorang anggota TEP ITB.

Seperti halnya program TEP yang lainnya, sistem ini ditujukan bagi warga dan transmigran untuk mempermudah budidaya tidak perlu lagi ke laut, namun bisa langsung di
darat. Budadaya ini, dikembangkan menjadi banyak produk. “Ada nori,
keripik, nugget,” lanjutnya menjelaskan.

Dengan proses pengembangan ini, diharapkan memiliki potensi budidaya rumput laut yang besar. Diakui pemanfaatannya belum optimal karena kualitas produk kering yang
dihasilkan masih rendah akibat metode pengeringan tradisional yang bergantung pada cuaca, serta minimnya keterampilan masyarakat dalam diversifikasi produk
pascapanen.

BACA JUGA:  Tingkatkan Tata Kelola Data, Pemko Batam Canangkan Kelurahan Cantik 2026

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, TEP ITB melakukan pembudidayan langsung berupa pengadaan dan instalasi alat pengering. “Ini bisa ditanam langsung, dan
dikeringkan menggunakan alat pengering yang seperti kami buat ini,” ujarnya.

Satu lagi TEP yang juga hadir untuk pengembangan di Rempang. TEP ITS juga hadir untuk mengembangan. TEP ITS melakukan uji kelayakan untuk membangun galangan
kapal. Selain fokus pada nelayan kecil di Rempang, TEP ITS bersama Kementerian Transmigrasi juga melakukan penilaian (asesmen) terhadap rencana Proyek Strategis
Galangan Kapal Terpadu di lahan transmigrasi Kecamatan Galang, Kota Batam.

TEP Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terlibat aktif dalam kolaborasi bersama Kementerian Transmigrasi RI untuk mendorong ekonomi lokal dan mengawal proyek
industrialisasi di Kawasan Transmigrasi Rempang. Ada juga pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG) di Rempang.

Dalam Festival Transmigrasi 2026 yang berpusat di
Tanjung Banon, Pulau Rempang, tim TEP 25 ITS 2026 merancang dan mengimplementasikan lima teknologi tepat guna dalam empat klaster utama untuk membantu nelayan
pesisir:

Ada juga membangun solar farm (pembangkit listrik tenaga surya), rantai dingin (Cold Chain): Penyediaan fasilitas cold storage komunal berbasis energi terbarukan untuk
menjaga kesegaran hasil tangkapan nelayan pesisir agar tidak rugi.
Lalu ada juga pengelolaan lingkungan dengan Sistem pengolahan limbah (IPAL) dan instalasi thermal
incinerator.

Tentu dengan tujuan guna mempercepat transformasi wilayah tersebut menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berkelanjutan serta mengentaskan kemiskinan. TEP
ITS juga melakukan penguatan koperasi nelayan lokal dan pelatihan operasional dasar bagi warga. Untuk program ini, TEP ITS; Safrizal, Nana, Putri dan Didik yang hadir
saat kunjungan Posmetro, juga berharap kerja mereka bisa menignkatkan taraf hidup masyarakat kelak.

Penelusuran tarakhir TIm Posmetro menuju pelabuhan. Tampak dermaga panjang yang menjorok ke arah laut. LIngkungan pelabuhan nampak rapi dan masih bersih. Kapal
nelayan bantuan dari Kementrian Transmigrasi tampak sandar berjajar di ponton plastik yang juga bantuan dari pemerintah. “Semuanya dari pemerintah mulai dari kapal dan
alat tangkap ikan juga dibantu,” ujar Ari, dari TEP UI menjelaskan.

Memang semua yang ada di Tanjung Banon ini masih dalam proses pembangunan. Jalan masuk ke Tanjung Banon pun tak semuanya mulus. “Tapi nanti akan dibangun jalan
atau akses kesini,” ujar Rois Syahroni, Ketua RT 01 RW 06, Tanjung Banon.

Rois mengaku sangat nyaman tinggal di Tanjung Banon ini. Semua fasilitas terus dipenuhi oleh pemerintah untuk menunjang kehidupan masyarakat yang lebih baik lagi.
“Sekarang sudah dibangun sekolah SMA,” ujarnya.(***)

Statistik artikel
Tampilan:
Klik: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *