ISTRI PAJANGAN Bagian 54: Cahyo Balik ke Rumah

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Hari ini, Rihana dandan secantik mungkin. Dia berencana menjemput Cahyo.

Sesuai informasi dari pihak rumah sakit, Cahyo sudah diizinkan pulang ke rumah, hari ini.

Pagi-pagi sekali, jam 06.00 wib, Rihana sudah tiba di rumah sakit.

“Selamat pagi Mas,” sapa Rihana, dan Cahyo langsung sumringah.

“Eh belum dilepas ya selang infusnya. Jadi balik hari ini kan Mas?!” tanya Rihana yang terlihat ragu karena melihat jarum dan selang infus itu masih melekat kuat di tangan kiri Cahyo.

“Jadi dong. Tadi malam dokternya sudah konfirmasi ke kita. Tapi, tunggu perawat yang cek pagi dulu datang, kalau sudah dicek, aku pulang.” ucap Cahyo bersemangat.

“Tapi sudah enakan ya Mas badannya. Udah nggak ngerasa sakit lagi kan perut kamu?!” Tanya Rihana ingin memastikan.

“Alhamdulillah, sekarang nggak Ri. Sekarang sudah agak enakan. Nggak boleh makan yang pedes-pedes.”

“Oh jelas dong itu. Sekarang aku punya tugas baru nih. Memantau Mas Cahyo, kalau makan nggak boleh ada cabe. Awas kalau pakai curi-curi makan pedesnya.” Rihana sedikit cerewet kali ini.

Tak disangka, Cahyo melepas tawa sedikit kuat.
“Gimana cara nya mau memantau makan aku, kita aja nggak tinggal serumah. Bisa aja dong aku curi-curi makan sambel atau cabe.”

“Ih. Awas aja kalau sampai curi-curi makan pedesnya.” ancam Rihana, sembari mencubit mesra lengan kanan Cahyo.

“Ih belum jadi istri, sudah berani cubit-cubit calon suami. KDRT ini. Kekerasan di ruang teman,” celetuk Cahyo, sembari pura-pura mengaduh kesakitan.

“Ih kan nakal dia kalau udah sehat.” kata Rihana, pelan tapi dengan manja.

Tanpa mereka sadari, tatapan mereka bertemu, dan Cahyo memandang lekat-lekat wajah Rihana.

“Cantik banget kamu Ri,” kata Cahyo, dan dia menarik tubuh Rihana, hingga rebah di dadanya.

“Jadilah istriku, Ri,” bisik Cahyo di telinga Rihana.
“Mau pakai banget,” jawab Rihana pelan.

BACA JUGA:  Jin BTS Segera Merilis Album Solo Jadi Global Brand Ambassador Gucci

Keduanya tak menyadari, ada perawat yang ingin mengecek kondisi Cahyo, sebelum dia benar-benar diizinkan pulang ke rumah.

Wajah Rihana memerah karena menahan malu. Dia pun buru-buru berdiri, menjauh dari ranjang Cahyo.

“Maaf suster, silakan,” kata Rihana yang masih menahan malunya itu.

“Maaf ya ibu, kita cek kondisi bapak dulu, sebelum pulang ke rumah.” ucap Suster itu sembari menempelkan alat pengecekan tensi darahnya.

Tak lama, disusul dengan kehadiran Dokter Dirga, dokter ganteng yang menangani Cahyo selama dirawat di RS.

“Pak Cahyo dipersilakan pulang. Obatnya jangan lupa diminum sesuai aturan. Sementara waktu, makan yang halus-halus ya. Bubur. Jangan makan yang pedes-pedes Pak ya,” jelas Dokter Dirga panjang lebar.

Cahyo hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti.

“Seminggu lagi, jadwal kontrol juga harus datang lagi ya Pak ke RS,” tambah Dokter Dirga serius.

Sekali lagi, Cahyo hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Rihana, hanya senyum-senyum saat dokter Dirga pesan kalau Cahyo juga nggak boleh telat makan.

“Oke Dok. Terimakasih ya,” ucap Rihana yang mewakili Cahyo.


Di sepanjang perjalanan, Cahyo lebih banyak diam. Tapi, di sisi lain dia sedang asik memandang ke arah Rihana.

“Calon istri aku ini, selain cantik, pintar dan baik hati,” puji Cahyo.

Rihana pura-pura cuek. Karena dia memang tak terbiasa dipuji laki-laki.

“Mas…Mulai besok, aku buatin bubur ya, tiap hari aku antar ke rumah kamu.” kata Rihana yang coba mengalihkan pembicaraan.

“Sanggup emang buat bubur tiap hari?” kata Cahyo sangsi.

“Hmmm..Aku ini, calon istri yang rajin buat makanan mas. Jangan sepele sama aku! Hahahahahah!

Cahyo terlihat bahagia saat bercerita dengan Rihana.

“Iya iya sudah percaya. Kalau begitu, sebelumnya makasih ya Ri, perhatian kamu!” kata Cahyo, sembari menggenggam erat tangan kiri Rihana.

“Tunggu Mas. Kalau tangan aku satu nya dipegangi, nggak fokus ini nanti nyetir nya.” ucap Rihana yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan kekar Cahyo.

BACA JUGA:  Marco Ivanos dan Debi Sagita Resmi Menikah

“Oh iya ya. Maaf maaf.”

Bukannya dilepas, justru makin digenggam erat sama Cahyo.

“Ri. Sebelum puasa aku akan lamar kamu ya. Kamu mau nggak jadi istri aku?!” ucap Cahyo to the point.

Seketika, Rihana terkejut dan nyaris saja menabrak kucing yang sedang menyeberang jalan.

“Jantung aku mau copot Ri. Baru aja aku keluar dari rumah sakit.” seloroh Cahyo.

“Iya maaf, soalnya aku terkejut tadi dengar perkataan Mas Cahyo. Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba dilamar. Apa nggak oleng mobil aku ini,” kata Rihana yang berusaha menormalkan laju mobilnya itu.

“Mau nggak Ri. Kamu belum jawab lamaran aku.” desak Cahyo serius.

“Eh tunggu aku lagi nyetir, nanti oleng lagi, nabrak kucing nyebrang, bisa bahaya kita,” kata Rihana yang pura-pura tak ingin buru-buru mengiyakan apa yang dikatakan Cahyo tadi.

“Nggak apa. Bahaya. Asal berdua.” seloroh Cahyo.

“Ih apaan ini. Nggak lucu. Aku nggak mau kalau diajak bahaya.” celetuk Rihana.

Cahyo malah melepas tawa.
“Eh lagian siapa juga yang mau ngajak bahaya.”

“Aku turunkan juga nih pejabat PLN di jalanan kalau macem-macem sama aku!” canda Rihana.

“Tega emangnya?!” tanya Cahyo.

“Tega aja sih. Apa susahnya tinggal berhenti, terus aku suruh turun paksa dia!” sebut Rihana dengan nada bergurau yang khas.

“Ri. Jangan buru-buru sampai di rumah aku. Kita keliling dulu kemana,” pinta Cahyo persis seperti anak kecil.

“Ih permintaan yang aneh ini. Udah kayak bocil. Hahahahaha!” celetuk Rihana.

Cahyo malah tertawa lepas.
“Beneran Ri. Aku masih mau sama kamu, masih kangen Ri,” ucap Cahyo serius.

Rihana terdiam. Sejujurnya, Rihana juga merasakan hal yang sama. Apalagi, kemarin Rihana sempat ditolak.

BACA JUGA:  ISTRI PAJANGAN Bagian 44: Cahyo Jemput Fera

Bahkan, sejak penolakan itu, Rihana berpikiran, dunianya sudah kiamat. Nggak ada harapan lagi bersama Cahyo.

Tapi, rupanya takdir berkata lain. Fitriani nekad mempertemukan Rihana dengan Cahyo.

Karena, dengan seperti itu, Fitriani berharap, Rihana bisa bahagia lagi, seperti hari kemarin saat bersama Cahyo.

“Sepertinya aku harus berterimakasih sama Fitriani Mas,” kata Rihana mulai berubah serius.

“Kenapa? Karena dia Mak Comblang?!” Cahyo cekikikan.

“Iya itu yang pertama. Kedua, dia berusaha menolongku, agar aku bisa bersatu sama kamu, Mas.” kata Rihana blak-blakan.

“Iya ya. Dia teman baik aku sih. Pertama kenal kamu, ya lewat dia. Aku suka ngorek-ngorek info tentang kamu, ya lewat dia. Aku ngerasa cocok aja sama kamu, Ri. Kamu perempuan yang selama ini aku cari!?” Gantian Cahyo yang jujur soal perasaannya ke Rihana.

“Tapi, boleh tanya nggak Mas?!” kata Rihana, lebih serius.

“Hmm. Apa itu?!”
“Kenapa Mas nolak aku kemarin?” Pertanyaan Rihana susah dijawab Cahyo.

“Kalau Fera mau terima kamu, aku nggak akan melakukan itu Ri. Kemarin dia bilang nggak mau lagi anggap aku papanya, kalau sampai aku bersatu sama kamu.” sebut Cahyo jujur.

“Iya ya. Terus Mas menyerah begitu saja?” untuk kesekian kalinya pertanyaan Rihana susah dijawab Cahyo.

“Iya. Maaf ya Ri. Ternyata keputusan aku kemarin salah. Ternyata aku masih sayang dan cinta sama kamu. Mungkin, aku sakit, semua gara-gara mikirin kamu, Ri. Sejujurnya aku nggak bisa melupakan kamu.” ucap Cahyo panjang lebar lagi.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *