Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Di acara Jumat Berkah, amal PLN, bagi-bagi kue ke masjid. Cahyo, meminta anak buahnya mengantarkan kue pesanannya, untuk acara Jumat berkah di masjid.
Sepertinya takdir mempertemukan Rihana dan Cahyo kembali.
Yuda, membuka pintu Bagasi. Lalu menurunkan beberapa dus air Aqua. Begitu juga dengan kuenya.
Bersamaan dengan itu, Rihana juga berada di Masjid yang sama dengan Cahyo.
“Mbak Rihana,” sapa Cahyo masih dengan posisi di dalam mobilnya. Tapi dia membuka kaca pintu mobilnya.
Deg!
Jantung Rihana bertalu-talu. Antara bahagia dan salah tingkah saat lelaki itu menyapanya.
Mendengar namanya dipanggil, Rihana menganggukkan kepala, sembari tersenyum tipis di sudut bibirnya.
“Iyaโฆ.Pak.” kata Rihana, nggak tahu harus ngomong apa.
“Saya duluan yaโฆ..,” katanya, gegas meninggalkan halaman masjid dan juga Rihana yang masih mematung disana.
“Duh Gusti. Bisa-bisanya ketemu dia. Mana nggak ada persiapan. Muka kucel.” gumam Rihana dengan debar jantungnya yang mulai teratur.
Tak lama, Rihana memberitahu soal ini ke Fitriani.
“Tadi, rasanya tak karuan aku pas ketemu dia. Kok bisa sih dia di masjid yang sama. Dia kayaknya abis ngirim kue buat Jumat berkah. Tapi yang nganter ke dalam masjid, anak buah dia,” cerita Rihana serius.
“Dia itu, kalau sedekah, nggak tanggung-tanggung. Jumat berkah itu program pribadi dia.” cerita Fitriani yang seolah tahu persis apa yang sering dilakukan Cahyo.
“Kok tahu aja kamu. Mantap!” celetuk Rihana.
Rihana merasa ditakdirkan bertemu Cahyo, hari ini. Baginya, itu sebuah anugerah paling indah.
Baru juga Rihana menjejakkan kaki. Fatimah, ibu mertuanya langsung menghujani pertanyaan yang buat Rihana semakin tak betah di rumah itu.
“Kamu. Jangan sok jadi ratu di rumah ini. Pergi seharian. Nggak ingat kewajiban sebagai istri. Memang benar-benar istri tak berguna!” kata Fatimah, ngoceh tak henti.
Rihana diam membatu, mendengar ocehan ibu mertuanya itu. Karena kalau dijawab, pasti urusannya jadi panjang.
“Kemana aja kamu. Sudah jadi ibu rumah tangga, gayanya masih saja seperti anak ABG. Dimana otaknya?!” celetuk Fatimah dengan kasarnya.
“Astagfirullah. Sabarโฆ..sabar.” gumam Rihana yang berusaha menghindar. Tapi, sang ibu mertua malah mengekorinya.
“Hei. Menantu tak berguna. Kamu tuli apa bisu. Diajak bicara malah minggat!” Fatimah semakin emosi melihat Rihana cuek.
“Sabar ibu, Rihana ganti baju. Terus ibu mau dimasakin apa. Biar Rihana masak Bu,” kata Rihana mencoba sabar menghadapi sang mertua yang sikapnya selalu saja kasar padanya.
“Aku mau kamu siapkan kue bolu pisang. Buat oleh-oleh Novi.” sebut Fatimah.
“Ya ampun. Novi lagi. Novi lagi. Masa iya aku harus ngelayani bocah brengsek tak berguna itu!” maki Rihana dalam hati.
Kalau urusan buat kue bolu, Rihana jagonya. Nggak pakai lama, bolu pisang kesukaan mertuanya, sudah pasti terhidang di meja makan.
Tapi bolu pisang kali ini, dia buat berbeda dari yang biasanya. Dia sengaja buat kue bolu dengan rasa yang super asin.
“Rasain kamu Novi!” Rihana kesal.
“Buat resepnya yang bener. Aku mau Novi makan kue yang terenak. Satu lagi, awas kalau kamu bilang itu buatan kamu. Dia tahunya kue bolu pisangnya, buatan aku!” ancam Fatimah mewanti-wanti Rihana.
Mendengar itu, Rihana tertawa dalam hati.
“Kamu pikir hebat ya Novi, bisa menguasai keluarga Tuan Broto dan Nyonya Fatimah yang terhormat. Rasakan pembalasan aku.” Rihana cekikikan sendiri di dapur.
Seperti biasa. Setelah kue bolu pisang itu terhidang di meja makan, Fatimah pasti membungkusnya dengan kotak mika. Lalu, di luarnya dihias dengan tali pita kertas.
Tak sabaran, Rihana menunggu jam lima sore, karena kabarnya Novi mau datang ke rumah jam lima sore, selepas jam kerja kantor.
Adzan ashar baru saja dikumandangkan.
Diliriknya sesekali jam dinding di kamarnya.
“Satu jam setengah lagi Novi datang,” pikir Rihana. Selepas sholat ashar dia pun rebahan di kamarnya.
Hingga akhirnya, suara manja perempuan brengsek itu, terdengar di rumahnya.
“Cepetan dong Bu. Serahkan kuenya,” gumam Rihana yang tak sabaran menyaksikan kue buatannya itu diserahkan ke Novi. Rihana mematung di balik pintu kamarnya, sembari pasang telinga, mendengarkan percakapan ibu mertuanya itu, dengan Novi.
“Makasih ya ibu sayang, kue nya. Pasti kue buatan ibu, enak banget.” puji Novi di depan Fatimah.
Rihana cekikikan mendengar itu dari balik pintu kamarnya.
“Hahahaha rasain kamu, Nov. Biar kapok kamu!” ungkap Rihana merasa puas dengan permainan yang dia ciptakan buat balas dendam kepada Novi.
Kue bolu pisang itu terlihat menggoda. Novi pun buru-buru memotong pita penalinya.
Diirisnya satu potong kue itu lalu digigitnya.
“Ya ampun ini kue apa ya. Huek! Asin banget.” Novi langsung memuntahkan kue yang sempat dia masukkan sedikit ke rongga mulutnya itu.
“Ya ampun ibunya Bagas ini gimana sih. Perempuan tua bangka sialan. Dia ngerjain aku atau apa. Buat kue seasin ini rasanya.” Novi kesal merasa ditipu sama Fatimah.
“Jangan-jangan dia ngerjain aku kali ya!” Novi emosi. Lalu membuang kue itu ke tong sampah.
“Gila. Gue dikerjain sama mama kamu!” keluh Novi lewat sambungan telepon genggamnya, saat menghubungi Bagas.
“Lho kok bisa kuenya asin?” tanya Bagas yang menganggap lucu cerita Novi.
“Iya sayang. Kue dari mama kamu, asin banget. Sampai udah aku buang ke tong sampah. Bukan aku menolak. Tapi, kalau kamu rasakan kuenya, memang asin banget!” sebut Novi.
“Hahahah. Kamu pasti ngelawak ya?!” Bagas tak percaya.
“Ih serius. Kamu datang ke rumah aku deh. Biar kamu buktikan sendiri gimana rasa kuenya!” pinta Novi.
Dia sengaja meminta Bagas datang ke rumahnya, biar dia bisa berduaan sama Bagas.
Karena, niatan Novi, tak hanya sekedar berduaan. Tapi dia mau buat story di ponselnya, dan bakal dia kirim ke Rihana.
“Tapi aku masih sibuk ini.” kilah Bagas.
“Sibuk apa. Bukannya setelah jam lima tadi kita sepakat nggak ada kegiatan partai lagi?” Novi protes.
“Kamu jangan larang-larang aku. Istri aku saja nggak pernah melarangku aku mau balik jam berapa!” bentak Bagas lewat ponsel genggamnya, lalu mengakhiri percakapannya dengan Novi.
Bagas memang tipe laki-laki yang sulit ditaklukkan. Dia tak ingin terlalu diatur siapa pun. Rihana tahu persis itu.
Novi pun menelan kekecewaannya. Niatnya untuk pamer ke Rihana, gagal.
“Pokoknya suatu hari nanti, kamu harus mau menuruti keinginan aku, Tuan Bagas. Wajib hukumnya!” kata Novi bertekad ingin menakhlukkan Bagas, dan mendapatkan seutuhnya cinta Bagas.
“Sayang. Beneran kamu nggak mau datang ke rumah aku. Aku kangen?!” Novi terus merayu Bagas.
“Aku lagi sibuk. Kenapa kamu ini. Sekretaris nggak berguna.” Bagas emosi membalas chat Novi.
“Ya aku kan rindu. Ingin berduaan sama kamu. Bukankah ini sudah di luar jam kantor. Ini sudah jam 22.00 wib.” rayu Novi, tak ingin menyerah.
“Hei. Sekretaris gila. Bisa diam nggak. Kalau nggak bisa diam. Mulai malam ini kamu aku pecat!” ancam Bagas dan dia langsung mematikan ponselnya.
Novi tak menyangka kalau Bagas berbuat sekasar itu.
Meski demikian, dia tak akan menyerah.
“Pokoknya Bagas harus jadi milikku!” Novi kesal.(*)









