ISTRI PAJANGAN Bagian 15: Rihana Sakit

88

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Hari ini, Rihana nggak sanggup keluar kamar, karena dia merasakan pusing kepala yang tak tertahankan.

Biasanya, sakit darah rendah Rihana kumat.

Ibu mertuanya, ngomel-ngomel saat mengetahui Rihana tak bangun-bangun, karena hari sudah siang.

“Bangun Ri. Gimana ini mau sarapan nggak ada yang bisa dimakan. Meja makan masih kosong nggak ada makanan apa-apa!” teriak sang ibu mertua.

“Sudahlah Bu. Kita kan bisa cari sarapan di luar. Mungkin Rihana itu lagi nggak enak badan. Nggak mungkin kalau dia sehat dia nggak bangun-bangun,” bela Broto, dan itu buat Fatimah sewot.

“Bela aja menantu tak berguna itu.” celetuk Fatimah.

Sudah sebulan ini, dua orang pembantu di rumah Rihana, berhenti. Mereka nggak sanggup karena sang majikan (Fatimah) selalu saja ngomel tiap hari. Ada saja kesalahan yang tidak disukai Fatimah.

Fatimah kembali menggedor-gedor pintu kamar Rihana.
“Bangun. Kamu nggak bisa enak-enakan. Bangun siapkan masakan hari ini buat menyambut tamu spesial!” desak Fatimah sembari terus menggedor-gedor pintu kamar Fatimah.

Fatimah berusaha tenang karena dia memang dalam kondisi kepalanya pusing kliyengan.

“Ya Allah sabarโ€ฆ..sabar.” ucap Rihana lirih.

Dia pun berusaha bangkit dari tempat tidurnya. Bergerak menuju pintu, dan pelan-pelan dia membuka pintunya.

“Kamu ini ya. Menantu tak berguna. Sana cepat ke dapur siapkan makanan tamu spesial aku. jam 12.00 nanti dia bakal datang.” perintah Fatimah dengan kasar.

Rihana kali ini benar-benar menolak perintah Fatimah.
“Maaf Bu. Saya nggak sanggup. Kepala saya lagi pusing, ini kliyengan rasanya kalau berdiri lama-lama,” jelas Rihana pelan, dengan posisi yang masih berdiri di pintu kamarnya, sembari memegang gagang pintu.

“Alasan saja kamu!” bentak Fatimah.

“Ini apa pagi-pagi marah-marah. Sudahlah kalau memang Rihana sedang sakit, kenapa kamu paksa. Kamu kan bisa beli, bu. Di luaran sana banyak warung atau rumah makan yang menyediakan aneka masakan.” sebut Broto.

BACA JUGA:  First Club Berbagi Paket Sembako dan Santunan, di Momen Iduladha

Tiba-tiba Broto menutup pintu kamar Rihana, dan menarik tangan Fatimah.

“Kamu ini ya Bu. Keterlaluan. Kalau kamu sendiri dalam posisi sakit, terus dipaksa beraktifitas, nggak mungkin kan?” kata Broto menasehati istrinya yang dinilainya keterlaluan sikapnya kepada Rihana.

“Sudahlah Pak. Nggak usah bela-bela dia. Dia itu menantu kere yang cuma numpang hidup di rumah kita. Pernah nggak dia ngasih sesuatu yang berharga buat bapak. Nggak pernah kan?!” kata Fatimah penuh emosi, merendahkan Rihana.

“Kalau dia enak-enakan tidur, memang dia putri raja?! Enak saja!” Fatimah masih sewot.

“Sudahlah bu. Ayo aku antar kalau kamu mau beli makan. Nggak usah maksa Rihana masak. Dia kan sudah bilang kalau dia kepalanya pusing. Kliyengan. Tapi masih saja kamu paksa. Betul-betul keterlaluan kamu ini Bu,” Broto malah menyalahkan Fatimah.
Mengetahui Broto membela Rihana, Fatimah semakin merengut.

“Nanti itu ada tamu spesial aku. Masa iya disambut dengan masakan yang asalnya beli dari warung. Bapak ini yang bener saja!” protes Fatimah.

“Ya ampun. Apa susahnya Bu, beli makanan yang enak dan mahal, kan sama juga. Nggak usah dibuat ribet kayaknya Bu. Ini masalah sepele. Bisa diatasi!” terang Broto lagi masih terus berusaha menyadarkan Fatimah.

Di sisi lain, Rihana curiga. Tamu spesial yang dimaksud ibu mertuanya itu pasti Novi, sekretaris sialan itu.

“Tamu spesialnya pasti Novi. Nggak. Nggak mau aku berkorban masak, demi sekretaris sialan itu.” batin Rihana.


Siang selepas adzan Dzuhur. Rihana baru saja melaksanakan sholat lima waktu.

Terdengar suara perempuan yang begitu khas, yang sering dia dengar. Siapa lagi kalau bukan Novi.

BACA JUGA:  Akun Instagram Pribadi Ammar Diumumkan Dijual, Buka Harga Rp 2 Miliar

Benar dugaan Rihana. Novi, sekretaris Bagas itu datang dengan buah tangan yang lumayan mewah. Gift buah-buahan, kue dan juga tas merk ternama yang pernah diminta ibu mertuanya.

“Hmmm. Aku nggak pernah iri apa yang dilakukan Novi. Siapa tahu, dengan seringnya Novi muncul di hadapan sang ibu mertua, suatu hari aku bisa bebas, dari keluarga ini. Ya aku bisa memulai hidup yang baru bersama Cahyo?!” Rihana berkhayal.

Fatimah kembali mengetuk pintu Rihana. Tapi kali ini ketukan pintunya sedikit sopan.

“Ri..Ada tamu. Bantu ibu ya buatkan teh, kasian Novi kedinginan. Tadi dia sempat kehujanan. Apalagi ini masih hujan deras di luar sana.”

“Riโ€ฆ..bangun Ri. Kasian Novi. Tolong buatkan teh buat Novi.” ulang Fatimah.

Tapi, sekali lagi Rihana tak ingin meresponnya.
“Emang aku pikirin!” batin Rihana, kesal.

Di hari kedua Rihana sakit, dia masih tak ingin keluar kamar. Sengaja dia berdiam di kamar. Untungnya, ada stok Indomie dan panci listrik buat ganjal perut selama sakit.

“Ya Allah. Sakit pun Indomie.” tulis Rihana di status WhatsApp dan Instagram.

Hanya dalam hitungan semenit. Tiba-tiba ada yang memberi komentar atau menanggapi status Rihana.

Tanpa diduga, Cahyo berkomentar.
“Semoga lekas sembuh ya Mbak Rihana.” kata Cahyo lewat kiriman chatnya.

Rihana mengernyitkan dahinya. Lalu memperbesar foto profil si pengirim chat, berulang kali. Gambar pria berkacamata yang berpose di depan kantor PLN.

Nama si pengirim chat, Cahyo. “Bener ini si direktur PLN ganteng itu?! Kapan ya aku bertukar nomor ponsel sama dia?” Rihana masih bingung, penasaran, dan bahagia. Perasaan itu semua campur aduk.

Seketika, semangat Rihana muncul. Rasa sakit kepala yang membelenggunya selama dua hari ini, hilang seketika.

BACA JUGA:  Ayu Ting Ting Kembalikan Semua Seserahan Lettu Fardhana

Cahyo obatnya.
Buru-buru dia menghubungi Fitriani. Mengabarkan hal itu ke Fitriani.
Fitriani melepas tawa.
“Yes!” sembari melepas tawa.

“Fit..Serius ini. Aku heran..Kenapa dia bisa tahu nomor ponsel aku?” Rihana bingung. Berniat mencari jawabannya ke Fitriani. Eh malah Fitriani ketawa-ketawa.

“Ingat ingat lagi, kapan kalian bertukar nomor handphone.” desak Fitriani serius.

“Selamat memulai petualangan cinta yang baru ya. Kan ini yang kamu mau, bersatu sama Cahyo..Cieโ€ฆcieeeeโ€ฆselamat ya,” ucap Fitriani menggoda, sekali ikut berbahagia, karena apa yang menjadi impian Rihana, sepertinya sebentar lagi bakal terwujud.

“Serius ini Fit. Penasaran aku. Dari mana dia tahu nomor aku.” ucap Rihana lewat sambungan ponsel genggamnya itu.

“Coba cek semua sosmed kamu. Kamu ada mencantumkan nomor ponsel nggak. Mungkin si ganteng itu tahu nomor kamu dari sosmed.” saran Fitriani.

“Hmmm iya ya. Bukan kamu yang ngasih ke dia?” tanya Rihana masih dibalut rasa penasaran.

“Kapan aku ketemu dia? Terus dia kapan menghubungi aku? Nggak pernah, RI!” jelas Fitriani meyakinkan Rihana.

“Ya siapa tahu kamu jumpa dia!” ucap Rihana.

“Hmmm. Kalau ada kesempatan jumpa sama si ganteng itu, sudah aku tikung kali?! Hahahahah!” Fitriani melepas tawa.
“Dasar calon pelakor! Parah!” protes Rihana.
“Ya becanda kali. Ih belum juga aku tikung, pemiliknya sudah marah-marah. Lagian, aku itu, bukan pagar makan tanaman.” tepis Fitriani masih dengan nada bercanda.

“Eh ngomong-ngomong. Pas dia merespon status kamu itu, kamu balasnya apa?! Makasih sayang. Gitu ya?! Hahahaha!”

“Ih apaan. Jadian sama dia aja belum. Nanti aku dibilang norak pula, kalau panggil sayang?! Aneh-aneh aja kamu ini!” Rihana protes.

“Ya udah kalau mau lanjut balas-balasan chat sama si ganteng. Udah dulu ya! Aku mau tidur aja!” pungkas Fitriani seraya menutup percakapannya.(*)