Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Hari ini, ibu mertua Rihana, ulang tahun yang ke-52. Sebagai ungkapan turut berbahagia, Rihana berinisiatif memasak masakan yang paling enak.
Ayam bakar.
Sesuai selera, ayam bakar adalah menu kesukaan sang ibu mertua.
“Eh kamu lagi ngapain. Ini hari ulang tahun ibu aku. Harusnya kamu ke mall, beli sesuatu yang disukai ibu aku. Bukan masak masakan yang nggak jelas!” kata Bagas, setengah membentak.
“Ini aku masakin ayam bakar kesukaan ibu kamu,” sebut Rihana, berharap Bagas bakal memujinya. Tapi yang didapat Rihana malah penghinaan.
“Eh ibu aku ini orang spesial. Nggak level banget kalau perayaan ultahnya hanya dimasakin ayam bakar. Kacau kamu ya. Pelit banget jadi orang. Seharusnya kamu pakai otak dong!”
Semakin hari Bagas semakin kasar saja cara bicaranya sama Rihana.
“Sudahlah Bagas. Ibu nggak perlu diistimewakan. Ibu juga sudah tua. Apalagi kemarin Rihana bilang, kalau sudah tua, nggak usah macem-macem. Kan ibu jadi sedih, Bagas.” curhat Fatimah, ibunya Bagas.
Dia memang suka mengarang cerita buruk tentang Rihana. Tujuannya, tak lain untuk memisahkan Rihana dan Bagas.
Mendengar kalimat itu dari ibunya Bagas, Rihana langsung menangis. Padahal, tak pernah sedikitpun dia merendahkan sang mertua.
Rihana berusaha menyayangi sang ibu mertua, sama seperti menyayangi ibu kandungnya sendiri.
“Ya Allah, ibu kenapa bilang begitu. Tak pernah sedikit pun Rihana berniat menyakiti perasaan ibu.” kilah Rihana membela diri.
Bagas terdiam. Lalu berlalu dari hadapan keduanya.
“Rihana. Kamu memang menantu tak berguna. Kamu nggak sama dengan Novi, sekertaris Bagas. Padahal dia itu cuma sebagai sekretaris. Tapi baik banget seperti bidadari. Cantik. Banyak duit. Dia selalu saja membelikan makanan yang ibu mau.”
Rihana merasa benar-benar direndahkan, untuk kesekian kalinya.
Tapi berbeda dengan Broto, sang mertua laki-laki, selalu memberikan nasehat kalau Rihana harus selalu rukun dengan Bagas. Broto tak menginginkan Rihana berpisah dengan Bagas.
Setelah membatalkan niatnya untuk memasak ayam bakar kesukaan Fatimah, Rihana buru-buru ke kamar mandi. Dia bersiap hendak pergi saja, jalan-jalan buat menenangkan pikiran.
Sahabat terdekatnya, Fitriani, dia hubungi.
“Fit dimana posisi kamu? Makan apa yuk, aku lapar.” kata Rihana lewat sambungan ponselnya.
Tanpa berpikir panjang, Fitriani mengiyakan ajakan Rihana. Seperti biasa. Mereka ketemu di rumah makan Padang kesukaan Rihana.
“Ulang tahun kamu ya?” tanya Fitriani sembari melepas tawa.
“Ulang tahun apaan. Aku pergi dari rumah tadi, dalam kondisi diinjak-injak sama ibu mertua aku, tahu.” cerita Rihana sambil berkaca-kaca, menahan tangis.
“Lah kenapa?”
“Dia kan ulang tahun. Terus aku sudah siap-siap mau masakin ayam bakar kesukaan dia. Tak tahu nya, datang Bagas, dia hina-hina aku, katanya aku nggak ada otak. Karena, di hari ulang tahun ibunya itu, aku cuma masakin masakan nggak berguna!” Rihana tak kuat menahan air matanya. Hingga akhirnya bulir-bulir bening itu jatuh membasahi pipinya.
“Ya Allah Ri, sabar yaโฆ!” kata Fitriani sembari menggenggam erat tangan Rihana.
“Sabar ya kamu yang kuat.” tambah Fitriani.
“Ibu mertua aku itu juga ternyata bangga-banggain Novi di depan aku. Apa nggak sakit hati aku!” Rihana menangis sesenggukan.
“Aku merasa nggak ada harga dirinya di depan ibu mertuaku itu. Ditambah Bagas juga ikutan memojokkan aku. Ya Allah. Rasanya ingin cepet-cepet cerai, aku dari Bagas.”
“Sabar Rihana..Ingat anak-anak.” Fitriani mengingatkan sahabatnya itu.
“Aku memang belum cerita ke mereka. Tapi mereka setidaknya sudah tahu bagaimana Bagas memperlakukan aku, dengan kasarnya.”
“Ya jangan cerita ke mereka dulu. Kasian nanti bisa jadi beban pikiran mereka, Ri,” Fitriani masih terus berusaha menenangkan Rihana.
“Iya Fit. Aku tapi harus cerita ke mereka. Lagi pula, mereka juga sudah beranjak remaja. Mereka harus tahu seperti apa hubungan kedua orang tuanya.”
Dari hari ke hari, Rihana selalu mendapat perlakuan kasar dari Bagas. Memang Bagas jarang main tangan. Tapi, kata-kata Bagas sering buat Rihana ingin cepat-cepat bercerai dari Bagas.
Di tengah fokusnya Rihana membahas soal niatan dia mau cerai dari Bagas, tiba-tiba dia melihat Cahyo melintas di depannya.
Lagi-lagi dia sendiri.
“Fit. Fit. Diam dulu, ada yang lewat,” bisik Rihana tiba-tiba.
“Siapa?” Fitriani penasaran.
“Kamu lihat pria itu. Yang duduk sendiri, di pojokan.” ucap Rihana pelan, tapi dia tak menunjuk ke arah meja Cahyo.
“Aku yakin dia itu pria lajang.” tiba-tiba Fitriani berkomentar soal Cahyo.
“Lajang? Darimana kamu tahu?!” gantian Rihana yang penasaran.
Rihana sama sekali tak menyangka bertemu Cahyo lagi, di rumah makan terbesar di kota tempat tinggal Rihana.
Rumah makan Pinang Dibelah Dua. Rumah makan terbesar tiga lantai, dengan ciri khas bangunan Sumbar.
Saban hari, rumah makan ini ramai dikunjungi pelanggannya. Ada ratusan jenis masakan Padang, tersedia di rumah makan ini.
Rihana dan Fitriani, penyuka sambal ijo, dan dendeng batokok. Kalau janjian, paling sering janjian makan siang di rumah makan ini.
“Sayang ya dia nggak lihat kamu. Kalau lihat kamu, aku yakin pasti dia jabat tangan kamu,” celetuk Fitriani dengan percaya diri.
Mendengar itu, Rihana hanya melepas tawa.
“Tapi, Ri, setidaknya, dengan hanya melihat Cahyo melintas, luka batin kamu gara-gara Bagas dan si ibu mertua kamu yang Mak lampir itu, sedikit terobati. Iya nggak?!” Fitriani memang paling jago menghibur teman yang lagi sedih.
“Hmm. Kamu ini bisa aja!” Rihana masih malu-malu mau mengungkapkan isi hati dia yang sebenarnya. Tapi Fitriani tahu kalau Rihana diam-diam mengagumi sosok Cahyo, sang Direktur PLN itu.
“Fit. Kita tungguin dia lewat lagi mau nggak Fit, temani aku duduk disini. Kamu boleh pesen dendeng batokok lagi. Atau kalau mau dibawa balik, bungkus juga nggak masalah.” kata Rihana memberi angin segar buat Fitriani pesen dendeng Batokok kesukaannya itu.
“Hmmm. Serius ini. Boleh bungkus?” Fitriani kegirangan karena hari itu dia bisa makan dendeng batokok sepuasnya.
“Kalau kolesterol, darah tinggi naik, aku nggak tanggungjawab ya!” Rihana tiba-tiba menakut-nakuti Fitriani.
“Ih. Aku didoain yang jelek!” protes Fitriani.
Rihana melepas tawa.
“Hahahaha. Ya sudah ambil saja apa salahnya. Perkara nanti kolesterol atau darah tinggi naik, kan bisa ke dokter.” balas Rihana dengan santai.
“Hmmm. Iya iya. Nanti uang nya buat ke dokter, aku minta kamu juga ya?” Fitriani ingin memastikan minta jaminan ke Rihana soal biaya ke dokter kalau sakit.
“Oke..Tenang aja! Ada uang Bagas sama aku. Hahahahaha!” celetuk Rihana.
Tak lama, Rihana mendekat ke meja kasir, membayar semua tagihan mereka makan berdua.
“Mbak. Boleh nggak kami tetap duduk di tempat kami tadi, soal nya menunggu kawan datang.” kata Rihana minta izin ke kasir.
“Oh iya. Mbak. Nggak masalah. Silakan.” kata perempuan di meja kasir itu dengan ramahnya.
Fitriani bingung. “Nunggu kawan datang?”
“Oh si direktur ganteng itu kan?” bisik Fitriani.
Rihana malah melepas tawa.
“Kamu nunggu dia lewat kan?!”
Rihana masih melepas tawa. Mereka kembali ke tempat mereka semula, sembari memantau Cahyo dari kejauhan.(*)









