Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Pagi itu, Rihana sengaja ke kantor Sekretariat Partai Rakyat Merdeka. Sebab, ada barangnya yang tertinggal.
Dengan nada sinis, Rihana bicara kasar sama Novi.
“Hei. Kamu sektretaris Bagas ya. Tahu diri kamu ya kalau jadi sektretaris suami saya! Awas kalau kamu macam-macam. Bisa viral wajah kamu aku buat!” Ancam Rihana.
Sebenarnya Rihana nggak peduli dengan hadirnya Novi. Tapi, dia merasa terganggu melihat kehadiran sekretaris pribadi Bagas, sepagi itu di kantor sekretariat Bagas.
Novi yang merasa tak bersalah, berusaha tak melawan. Tapi, di sisi lain, dia bergumam dalam hati, suatu saat dia akan menaklukkan Bagas di pelukannya.
“Jangan main-main kamu, Rihana. Kamu pikir kamu siapa, beraninya marah-marah sama aku. Aku rebut suami kamu, nanti kamu baru tahu rasa!” ancam Novi, dalam hati.
Karena, dia tak mau terlihat jahat di depan Rihana.
Rihana sebenarnya cemburu, ingin marah sama Bagas saat mengetahui Bagas menjadikan perempuan itu sebagai sekteraris pribadinya. Tapi, apa daya. Bagas cuek dengan perasaan Rihana. Ironisnya, meski cuek, Bagas tak bersedia melepas Rihana, meski dia memohon pada Bagas, agar mereka bercerai saja.
Usai mendapatkan barang yang tertinggal di kantor sekretariat itu, Rihana buru-buru meninggalkan ruangan Bagas.
Dia tak ingin, Bagas melihatnya di kantor itu.
Rihana puas, karena punya kesempatan memarahi Novi. Sebenarnya, Rihana sudah tahu dari Jeri, kalau Novi dijadikan sekretaris pribadi Bagas, selama sepekan ini.
Sebelum dia benar-benar meninggalkan sekretariat kantor Bagas, Rihana mengancam Novi.
“Kalau kamu mau hidup lebih tenang, tinggalkan kantor suami saya.” katanya dengan mata membulat dan emosi yang memuncak.
Sudah sepekan ini dia menahan amarahnya. Rihana tak suka melihat gaya berpakaian Novi yang terlalu sexy.
“Kamu nggak layak jadi sekretaris suami saya. Jadi kamu harus sadar diri. Perlu kamu tahu juga ya. Dalam.waktu dekat, ada sekretaris baru lagi yang lebih cantik, dan elegan, bakal direkrut suami saya.” imbuh Rihana penuh kebencian pada Novi.
Mendapat cemooh panjang lebar dari Rihana, Novi diam saja. Namun, dibalik semua itu, Novi menyimpan rasa sakit yang mendalam. Karena, Novi merasa Rihana sudah menginjak-injak harga dirinya.
“Sabar, Nov. Kamu nggak perlu emosi merespon perkataan nenek lampir yang satu ini,” ucap Novi dalam hati.
Sebenarnya Rihana tak peduli tentang sekretaris Bagas. Baginya saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan diri sendiri.
“Rihana. Kamu masak apa hari ini. Kalau nggak masak, kita makan di luar saja yuk!” ajak Beby, sahabat Rihana.
Tanpa berpikir panjang, Rihana menyambut ajakan sahabatnya itu.
Di cafe puncak, mereka ketemuan seperti biasa.
“Eh kenapa merengut saja, Nyonya Bagas?!” celetuk Beby yang spontan saat bertemu Rihana.
“Biasa. Pak suami sombong itu sekarang punya sekretaris baru.” Rihana sewot saat mengatakan itu.
“Cemburu?” celoteh Beby.
“Ih nggak!” bantah Rihana.
“Terus kenapa kamu sewot kalau Bagas punya sekretaris baru?” kata Beby memprotes Rihana.
“Kesel banget aku sama cewek itu. Banyak tingkah dan merasa sok cantik?!” sebut Rihana sambil memainkan ponselnya. Dia berniat menunjukkan foto wajah sekretaris Bagas yang baru itu.
“Nih lihat. Banyak gaya kan cewek sekertaris Bagas yang tak seberapa itu.” kata Rihana menyodorkan ponselnya ke Beby.
“Eh tunggu-tunggu. Ini kan cewek brengsek yang sudah merebut Taro dari aku. Seriusan dia jadi sekretaris baru Bagas?” tanya Beby yang tiba-tiba benci melihat kehadiran cewek dalam foto yang ada di ponsel Rihana.
“Cewek ini namanya Novi kan?!” Beby semakin berapi-api membahas kehadiran Novi di kehidupan Rihana dan Bagas.
“Iya,” jawab Rihana singkat.
“Oh jadi kita punya musuh yang sama!” Beby seperti macan yang dibangunkan dari tidurnya.
Entah kenapa, tiba-tiba di pikirannya muncul rencana balas dendam ke Novi.
“Tenang beib. Aku bantuin kamu gimana caranya menghancurkan cewek sialan itu! Hahahahaha!” Beby melepas tawa.
“Aku punya strategi. Aku minta maaf aja sama dia. Kalau target sudah masuk perangkap. Kita bisa leluasa balas dendamnya!” sebut Beby.
“Hah. Seriusan kamu mau pakai cara itu?” tanya Rihana ragu.
“Iya kita lihat saja nanti bagaimana respon dia. Tolong berikan nomor ponsel dia.” pinta Beby.
“Oke nanti aku minta nomor ponselnya ke Bagas.” Rihana scrol-scrol nama Novi di Facebook dan sosial media lainnya.
“Tapi dia nggak pernah foto sama cowok. Dia fotonya di sosmed, sendiri aja.” Rihana menunjukkan sosial media milik Novi.
“Kamu nggak tahu ya. Sudah aku bilang dia kan cewek sialan. Buaya betina. Taro, setelah direbut dia, dia tinggalin. Kan cewek brengsek kalau kayak gitu!” cerocos Beby tak ada titik koma.
“Oke. Beib. Mulai sekarang kita bekerjasama,” Rihana membuat perjanjian dengan Beby.
Rihana juga sejak awal melihat Novi, muncul emosi. Karena penampilan Novi yang tak dia sukai.
Pagi di kantor sekretariat Partai Rakyat Merdeka.
Seperti biasa. Novi sudah stay sejak pukul 07.00 wib.
Rihana yang mulai punya rencana balas dendam dengan Beby, melancarkan aksinya.
“Nov. Kamu kenal Beby?!” tanya Rihana dan Novi sedikit terperangah.
“Bukannya kalian pernah bersaing ya mendapatkan cowok impian kalian?” celetuk Rihana.
“Hehehehe. Tapi kami sudah nggak pernah kontak-kontak lagi, Kak,” sebut Novi.
“Dia pengen minta maaf sama kamu. Dia bilang kalau ketemu Novi, titip salam.” cerita Rihana mulai menyusun siasat.
“Oh yaโฆ.kawan kakak juga ya Beby itu?” tanya Novi yang mulai terlihat santai.
“Hmmโฆ.,” jawab Rihana malas-malasan.
“Kalau kamu ada waktu. Ini nomor ponsel Beby. Siapa tahu kalian mau reunian. Hahahahahah!” ucap Rihana sembari melepas tawa.
“Oh oke..Kak.. nanti aku coba hubungi dia.” janji Novi di depan Rihana.
Tak lama, Rihana pun meninggalkan kantor sekretariat Partai Rakyat Merdeka itu, karena dia tahu, setengah jam lagi pasti Bagas sudah di kantor ini.
“Permainan baru saja dimulai.” gumam Rihana.
Bagas tiba di kantor sekretariat. Dilihatnya Novi masih sibuk memainkan ponselnya. Tak menyadari kalau Bagas sudah ada di hadapannya.
“Hei cantik.” sapa Bagas, dan seketika Novi merasa tersanjung.
“Tadi orang rumah aku kemari ya?” tanya Bagas dan dia mendekati Novi.
Tanpa basa-basi, Bagas menarik tangan Novi, mengajaknya ke ruangan kerja Bagas.
“Pagi ini, aku mau sarapan yang lain,” debar jantung Bagas tak karuan saat melihat paha mulus Novi, yang terlihat jelas, karena memakai rok kantoran yang terlalu pendek.
Ironisnya, Novi tak menolak, saat tangan kekar Bagas itu, mulai membelai lembut pahanya.
Novi duduk di atas meja kerja Bagas, dan Bagas duduk di kursi. Tak segan-segan, tangan Bagas mulai bergerilya ke zona lainnya yang lebih menggoda.
“Pagi ini kamu cantik dan harum.”puji Bagas.
Sebelum berkelana terlalu jauh. Bagas mengunci ruangan kerjanya, agar tak ada orang yang mengganggu sarapan paginya bareng Novi.(*)









