ISTRI PAJANGAN Bagian 4: Sekretaris Baru

80

Karya: baiq desi rendrawati
Wartawan senior posmetro batam

Siapa yang tak kenal Bagas. Sebagai anggota Sekjen Partai Rakyat Merdeka, Bagas merasa bangga.
Nyaris setiap sosialisasi / kampanye di kampung-kampung, Bagas selalu jadi pusat perhatian.

Orang menyebutkan calon wakil rakyat yang ganteng maksimal.
Lain halnya dengan Rihana. Bagi Rihana, Bagas itu bagai sosok suami yang brengsek maksimal.

Betapa tidak, Rihana mau ngapa-ngapain, Bagas tak peduli. Di pikiran Bagas saat ini, bagaimana caranya biar dia bisa melenggang ke gedung DPR.

“Hubungi bagian iklan Media Kebangsaan. Pasang iklan. Dicari sekretaris pribadi,” perintah Bagas ke Jeri, salah seorang tim inti pemenangan Bagas.

Jeri langsung melaksanakan perintah Bagas, untuk menghubungi kontak salah seorang bagian iklan, di kantor Media Kebangsaan.

Sehari setelah pemasangan iklan, ada satu orang yang mengirimkan surat lamarannya kantor DPC Partai Rakyat Merdeka.

Namanya Novi. Perempuan usia dua puluh lima tahunan itu, sudah lama ingin terjun ke dunia politik. Tapi, Novi sendiri, tak tahu bagaimana caranya.

Maka dari itu, dia beranggapan, melamar jadi sekretaris pribadi Bagas, adalah kesempatan emas untuk memulai karir politiknya.

“Pokoknya aku harus diterima jadi sekretaris pribadi tuan Bagas. Kalau diterima jadi sekretarisnya, aku bakal bisa belajar politik sama Tuan Bagas,” pikir Novi penuh antusias.

Pucuk dicinta ulam tiba. Novi merasa, Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya. Setelah berhasil melewati tahapan interview, dan bersaing dengan pelamar lainnya, Novi akhirnya yang memenangkan persaingan.

Novi diterima, dan langsung kerja.
“Jer! Panggil ke dalam sekretaris baru itu!” perintah Bagas, pada asisten pribadinya itu.

Novi yang tampak deg-degan itu, mengekor di belakang langkah Jeri.

“Duduk!” perintah Bagas. Sedangkan Jeri, tanpa diminta, langsung meninggalkan ruangan Bagas.

“Kamu pernah kerja jadi sekretaris pribadi orang partai nggak?” tanya Bagas to the point ke Novi.

BACA JUGA:  Jennie, Jisoo, Rosรฉ, dan Lisa Terlihat Kompak Bersama, di Ulang Tahun Debut BLACKPINK

Novi menggeleng.
“Aduh. Kenapa kamu melamar jadi sekretaris saya. Saya cari yang pengalaman. Kacau banget ya kamu. Terlalu percaya diri.” kata Bagas ceplas-ceplos di depan Novi.

Novi tertunduk. Dia nggak tahu harus balas apa.

“Jadi saya nggak diterima ya Pak?” tanya Novi, memberanikan diri.
“Kalau kamu merasa nggak sanggup, ya mundur saja.” kata Bagas acuh tak acuh, mengatakan itu pada Novi.

“Novi kan nama kamu ya!” tanya Bagas, lalu dibarengi dengan anggukan Novi.

“Ya sudah. Kamu boleh pergi dari sini,” ucap Bagas masih pasang mode acuh tak acuh.


Pagi-pagi Novi sudah parkir mobil di depan kantor Partai Rakyat Merdeka.

Sesuai petunjuk Jeri, dia harus masuk kantor hari ini. Apalagi, hari ini adalah hari tersibuk buat Bagas. Ada kunjungan Ketua Umum Partai Rakyat Merdeka.

Tanpa diminta Bagas, Novi pun stay di kantor, sejak pukul 07.00 wib pagi.

“Oh kamu nggak mengundurkan diri ya?!” tanya Bagas yang tiba-tiba muncul tanpa disadari Novi.

Ternyata Bagas sudah stay di kantor sekretariat, sejak pukul 06.00 wib. Dia rela pagi-pagi stay di kantor karena memang mempersiapkan diri untuk acara penyambutan sang ketua umum Partai Rakyat Merdeka, Roi Khan.

Pertanyaan yang nggak penting buat Novi. Sebenarnya menusuk banget pertanyaan itu. Tapi, demi mengambil hati Bagas, Novi berusaha cuek dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Bagas.

“Siapkan sarapan saya!” pinta Bagas.
“Anjay!” maki Novi dalam hati.
“Sekretaris pribadi itu nyiapin sarapan Bos ya!?” protes Novi lagi dalam hati. Tapi dia nggak berani melontarkan protes itu ke Bagas. Karena, Novi tahu. Efeknya, pasti kena pecat langsung.

Saat Novi tak menjawab. Bagas justru protes lagi.
“Sanggup nggak jadi sekretaris pribadi. Cuma disuruh nyiapin sarapan aja nggak bisa kan. Gimana dengan tugas berat lainnya!” celetuk Bagas lagi.

BACA JUGA:  Raditya Dika Disorot Karena Adegan Ranjangnya dengan Ariel Tatum

“Siap Pak! Saya akan cari sarapannya. Kalau boleh tahu, bapak request makanan apa?!” tanya Novi sedikit tegas kali ini.

“Siapa suruh kamu panggil aku dengan sebutan Bapak. Memangnya saya bandot tua?!” Bagas terlihat emosi saat mengatakan itu.
“Hmm. Laki-laki ini cerewet banget. Banyak kali protesnya!” batin Novi dalam hati, kesal.

“Kalau bukan karena aku butuh kerjaan, sudah aku tinggal saja bandot satu ini!” maki Novi lagi, dalam hati, masih kesal.

“Baik Tuan. Maafkan saya,” Novi mengklarifikasi panggilannya buat Bagas.

“Jadi, maaf tuan. Kalau boleh tahu, Tuan suka makan apa?”

“Nasi goreng, telor ceplok dengan saos tiram, dan timun. Plus taburan bawang goreng. Minumnya teh hangat dengan sedikit gula.” sebut Bagas, panjang.

“Busyet! Kemana nyarinya!” kata Novi, dalam hati.
Saat Novi hendak beranjak pergi dari ruangan Bagas, pria muda itu menarik tangan Novi. Novi terperangah. Debar jantungnya, tak karuan.
Tak sengaja, Novi menatap tajam ke wajah Bagas.
Bagas, tanpa basa-basi, mengatakan bahwa dia butuh sarapan cepat, sebelum banyak orang datang ke kantor sekretariat itu.

Wajah Novi dan Bagas berdekatan, saat Bagas mengatakan dia butuh sarapan yang cepat.

“Kalau lama, kamu yang aku makan buat sarapan pagi ini,” ancam Bagas dan Novi tak kuasa untuk melawannya.

Tak lama, Novi berusaha melepaskan genggaman tangan Bagas.

“Cantik juga kamu ya, Nov!” bibir Bagas nyaris mendarat di bibir Novi.

Adegan yang tak pernah disangka-sangka Novi sebelumnya.
Ada getar hati yang tak biasa dia rasakan, pagi itu.

Saat Novi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bagas, Bagas malah menarik tubuh Novi, dalam pelukannya.
“Kita lanjutkan nanti malam pertemuan kita. Sekarang carikan aku sarapan pagi. Kalau tidak, kamu yang akan aku makan!” Ancam Bagas penuh gairah pada Novi.

BACA JUGA:  Film Siksa Kubur dan Badarawuhi di Desa Penari Tembus 2 Juta Penonton

Novi pun segera meninggalkan ruangan Bagas, setelah pria muda itu akhirnya melepaskan genggaman tangannya.


Setengah jam kemudian, nasi goreng request Bagas, berhasil didapatkan Novi.

Dengan hati-hati, Novi menyajikan makanan itu di meja kerja Bagas. Tapi, siapa sangka, Bagas justru tak terima.

“Hei Novi. Kamu belajar dimana. Nasi dihidangkan di meja kerja. Kamu begok atau apa?!” Bagas emosi.

“Maaf Tuan. Saya akan segera memindahkan makanan itu,” kata Novi yang terlihat panik karena dimarah Bagas.

Tapi, Novi sendiri bingung. Di kantor sekretariat mana mungkin ada meja khusus untuk menghidangkan makanan.

Akhirnya dia minta bantu Jeri, bertanya padanya.
“Oh gampang, letakkan saja di meja kerja bos Bagas.”

Jawaban Jeri semakin buat Novi bingung.
“Masalahnya, tadi aku letakkan di meja kerjanya dia marah, Bang!” balas Novi dari balik telepon genggamnya.

“Oke. Kalau begitu, hidangkan saja di meja dekat ruangan kerja saya. Biasa bos Bagas makan disana.” jelas Jeri, dan Novi segera memindahkan makanan itu ke ruang kerja Jeri.
Jeri, asisten khususnya Bagas itu, punya ruangan pribadi juga.

Setelah semua makanan tersusun rapi di meja kerja Jeri, Novi memberitahu ke Bagas, kalau makanan buat sarapannya sudah di meja kerja ruangan Jeri.

Bagas diam tanpa kata, semberi melangkahkan kaki menuju ruangan Jeri.
“Nov. Mana air putihnya. Kamu mau saya mati, makan nggak dikasih minum?” protes Bagas.
Novi segera mengambil air botol mineral yang lupa tak disuguhkan di meja Jeri.
“Maaf Tuan, lupa saya ambil, tadi!” kata Novi minta maaf ke Bagas.

“Dasar sudah nenek-nenek. Jadi pikun!” celetuk Bagas.

“Sialan. Aku dibilang nenek-nenek. Awas aja kamu, Bagas. Suatu saat, aku buat kamu bertekuk lutut di hadapan aku.” gerutu Novi kesal.(*)