ISTRI PAJANGAN(Bab 2 : Pertemuan Keluarga)

111

Karya: baiq desi

wartawan senior posmetro batam

Rihana. Mana Bagas?!” tanya Mona, kakak ipar Rihana, dengan nada sinis.
“Tadi ada kerja, Kak. Jadi dia nggak bisa ikutan.” jelas Rihana, sedikit berbohong.
“Ah ….paling dia lagi dugem sama kawan-kawannya. Itulah makanya kamu kurang pandai jaga diri. Jadinya, suami tak betah di rumah. Apalagi tampilan istri di rumah, pakai daster melulu. Pasti bikin suami nggak betah di rumah.” celetuk Mona, buat Rihana hanya bisa mengelus dada.
“Sabar ya Allah.” gumam Rihana, berusaha menahan emosinya.
Kalau bukan kakak ipar, mungkin sudah dia lempar dengan piring tempat kue yang ada di depannya itu.
Rihana juga sebenarnya paling malas kalau hadir-hadir di acara pertemuan keluarga dari pihak Bagas. Karena, kakak iparnya, Mona memang mulutnya judes dan pedas. Ada saja hal-hal sederhana yang selalu disalahkan atau dikomentari Mona. Boleh dibilang, perkataan-perkataan Mona, selalu pedesnya melebihi cabe setan (cabe yang punya level paling pedas diantara cabe lainnya).

Mona tiba-tiba memuntahkan makanan dari mulutnya.

Hek! Hek!

Mona sengaja melakukan itu karena dia tahu kue yang dia makan, adalah kue buatan Rihana.

“Ini kue apa sih, nggak enak banget rasanya. Sampai mau muntah aku!”
“Sepertinya kue mau basi, dibawa sama Rihana!” tuduh Mona, to the point, dan terkesan tak lagi berpikir panjang apa reaksi Rihana saat Mona melontarkan kalimat itu.

“Kalau kamu nggak suka dengan keluarga ini, nggak usah buat masalah. Aku laporkan kamu ke polisi karena ada niatan jahat, meracuni kita!” ancam Mona pada Rihana.

“Ya Allah Mbak. Kue nya itu saya buat tadi sore jam 16.00 wib. Selesai buat kue, sekitar waktu mau Maghrib. Jadi, nggak mungkin Mbak kalau kue ini basi.” tegas Rihana, sembari mencoba mendekatkan penciumannya ke kue yang dia bawa tadi.

BACA JUGA:  Check-up Sambil Liburan? KPJ Pasir Gudang Punya Jawabannya

“Nggak basi kok, Mbak.” jelas Rihana yang matanya mulai berkaca-kaca, karena terus dipojokkan sama Mona.

“Dasar hidung kamu aja yang nggak beres. Makanan mau basi, dibilang nggak basi!” Mona menyodorkan kue itu ke hidung Rihana.

Rihana kaget. Dia heran. Kenapa ada kue yang mau basi?
“Ini sabotase!” batin Rihana.

“Makan itu kue basinya!” bentak Mona dengan sadisnya.

“Nggak mungkin ya Allah kue yang aku buat jam 16.00 wib, jam 20.00 wib sudah basi. Mustahil ya Allah.”Rihana sedih dan air matanya pun jatuh membasahi pipi.

“Halah nggak usah pakai drama. Pura-pura sedih. Nggak jamannya lagi, berakting.” kata Mona dengan kasar.

Sebagai kakak ipar, sebenarnya dia nggak merestui pernikahannya dengan Rihana. Sebab, di mata Mona, Rihana itu hanya anak orang biasa.
Bahkan, boleh dibilang anak orang tak punya. Tapi, karena cinta Rihana begitu tulus kepada Bagas, membuat Bagas terpesona.

“Dulu, aturan Bagas itu nikah sama anak jenderal. Gara-gara kamu pelet pasti ya si Bagas. Makanya dia suka sama kamu. Padahal, wajah pas-pasan!” Mona terus berusaha menjatuhkan Rihana, seenaknya.
Rihana semakin terisak. Ditambah lagi, kue yang dia bawa dari rumah buat acara pertemuan keluarga itu, dibuang Mona ke tong sampah.

“Sabar ya Allah, sabar.” gumam Rihana dalam hati, untuk yang kesekian kalinya.

Tiba-tiba Broto
muncul, dari balik pintu kamarnya.
“Eh kalian sudah kumpul rupanya. Maaf ayah baru bangun. Tadi benar-benar capek banget. Sampai nggak sholat Maghrib, nggak sholat isya,” keluh Broto penuh penyesalan.

Broto mengarahkan pandangannya ke Rihana yang dilihatnya sepasang bola mata bening itu, terliha merah dan wajahnya begitu sembab.

BACA JUGA:  Hubungan Nikita Mirzani dan Sekpri Prabowo Mulai Terang-terangan

“Kenapa lagi, Rihana. Sini. Kita akan makan bersama malam ini,” sapa Broto pada Rihana.

Sapaan mertuanya itu sedikit mengurangi kepedihan batinnya.

Kalau tidak karena menunggu Broto bangun dan berkumpul bareng, mungkin Rihana akan memilih beranjak pergi dari pertemuan keluarga besar Bagas.

Tiga orang perempuan setengah baya, yang tak lain adalah pembantu di rumah Broto, berangsur-angsur mengeluarkan makanan yang sudah matang, di meja makan.

“Cepet sedikit ya Ijah, menyiapkan makanannya. Karena saya mau rapat keluarga,” pinta Broto serius.
Salah seorang dari mereka yang bernama Ijah, menganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti akan permintaan Broto.

Tak lama, rapat keluarga dimulai. Sutiya, mengajak Rihana duduk di dekatnya.
“Sini Rihana.” ajak Sutiya.
Mona masih sinis, mengarahkan pandangannya ke Rihana.

“Ih mama pilih kasih sama Mona. Kenapa malah menantu yang dirangkul.” protes Mona yang tak terima melihat Rihana diistimewakan mamanya.

Melihat anak gadisnya protes, Broto pun tersenyum.
“Kalian semua istimewa di mata aku. Nggak ada beda,” celetuk Broto, menjawab protes Mona.

Mendengar itu, Rihana tenang. Setidaknya dia nggak terlalu tersiksa dengan sikap Mona yang terus-terusan berusaha menjatuhkan Rihana.

“Assallamuallaikum. Tolong dengarkan saya bicara sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan.” ucap Broto.
“Mau nggak kalau kita jalan-jalan bareng selama seminggu. Rute perjalanan kita, ke Bali dan Jogja.” sebut Broto serius.

Seketika Mona langsung bersorak. Yes!
“Soal tiket pesawat, nanti ayah yang akan beli secara kolektif.” janji Broto.
“Wah semakin bahagia mendengar rencana jalan-jalan ini,” kata Mona lagi tak ingin diam.

“Untuk anak-anak aku, dan juga menantu-menantuku yang aku sayangi, persiapkan diri kalian ya, untuk jadwal jalan-jalan nanti!” pesan Broto.
“Oke Yah!” beberapa orang menjawab hampir bersamaan.
“Rihana..Bagaimana?! Ada yang mau ditanyakan. Apa kamu nggak keberatan kalau kita jalan-jalan bareng satu keluarga?!” tanya Broto ke arah Rihana yang duduknya tak jauh dari dia.

BACA JUGA:  Ini Alasan Wulan Guritno Gugat Perdata Mantan Kekasihnya, Sabda Ahessa

Rihana menjawab singkat.
“Siap. Iya ayah, Rihana ikut,” sebut Rihana yang berusaha menetralkan suasana hatinya, di saat Mona masih terus melancarkan pandangan yang sinis ke arah Rihana.

“Ya sudah kalian tinggal persiapkan pakaian dan juga perlengkapan lainnya yang akan dibawa.” sebut Broto serius.

“Tiga hari lagi kita berangkat,” imbuhnya.


Di rumah, Rihana masih tak habis pikir soal kue basi yang dituduhkan kakak iparnya itu.

“Nggak mungkin rasanya kalau aku buat kue itu cepat basi.” ucap Rihana kembali mengamati kue risol di tangannya.

Dia coba membuka isi kue risol itu. Sungguh di luar nalarnya.
“Kenapa isinya beda dengan yang aku buat?” Rihana bingung.

Dengan praduga tak bersalah, Rihana mencurigai Mona.
“Jangan-jangan dia sengaja membawa kue risol basi itu ke acara pertemuan keluarga, dan kebetulan dia tahu aku buat kue risol. Makanya dia sengaja menjatuhkan aku dengan tuduhan keji itu.” Rihana sedih mengingat tuduhan Mona.
“Oh iya dia tahu aku buat kue risol, setelah dia lihat status ak di WA. kemarin aku kan posting buat kue risol.” gerutu Rihana lagi masih dirundung rasa penasaran.

Tak lama, datang Bagas. Dia juga tiba-tiba menyalahkan Rihana.
“Maksud kamu apa. Bawa kue basi ke acara keluarga aku. Malu-malu in aku saja sebagai suami!” kata Bagas, menyalahkan Rihana.
Rihana hanya diam. Dia tak ingin berdebat. Karena, dia tahu, berdebat dengan Bagas, akan selalu kalah.(*)