Batam, Posmetrobatam.co: Sumber daya manusia (SDM) disiapkan agar berdaya saing. Disnaker Batam pun memberikan bekal pelatihan bersertifikat, yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor industri. Meski sudah mengantongi sertifikat, pekerjaan tak kunjung didapatkan.
Kepala Disnaker Kota Batam, Yudi Suprapto mengatakan, salah satu kompetensi yang masih banyak dibutuhkan industri adalah juru las, terutama untuk sektor galangan kapal (shipyard), fabrikasi, dan offshore yang berkembang pesat di Batam.
“Kondisi kebutuhan tenaga las di kawasan industri Batam saat ini masih cukup banyak yang belum terisi. Informasi itu kami peroleh dari sejumlah Human Resources Development perusahaan,” kata Yudi kepada wartawan, Rabu (8/7).
Menurut dia, kebutuhan tersebut menjadi dasar Disnaker Batam membuka pelatihan juru las 5G Shielded Metal Arc Welding (SMAW) yang mulai dilaksanakan pada Senin (6/7).
Pelatihan tersebut diikuti 12 peserta yang merupakan lulusan SMA/SMK sederajat dan sedang mencari pekerjaan.
“Batam merupakan daerah dengan jumlah industri shipyard, fabrikasi, dan offshore terbanyak di Indonesia sehingga kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi tersebut masih tinggi,” ujar dia.
Selain pelatihan las, Disnaker Batam juga membuka pelatihan dan bimbingan teknis yang bersertifikasi untuk 3.024 orang pada tahun 2026.
“Pelatihan las ada beberapa macam ada 3G hingga 6G, lalu ada pelatihan welding, scaffolding, K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja), teknisi listrik, dan masih banyak lagi, ada 82 kategori pelatihan,” katanya.
Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh sertifikat dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Balai Latihan Kerja (BLK), dan Disnaker Kota Batam.
Menurut Yudi, pelatihan berbasis kompetensi menjadi salah satu upaya pemerintah daerah meningkatkan daya saing pencari kerja sekaligus menekan angka pengangguran.
“Melalui pelatihan ini diharapkan para pencari kerja memiliki kompetensi dan sertifikasi sesuai peluang kerja yang ada. Kompetensi dan sertifikasi menjadi modal besar untuk menambah rasa percaya diri dalam menghadapi dunia kerja,” katanya.
Ia menjelaskan, selama pelatihan peserta tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga pengetahuan dan etika kerja yang menjadi kebutuhan industri.
“Dalam pelatihan berbasis kompetensi, peserta dibekali pengetahuan, keterampilan, dan attitude atau etika kerja sehingga lebih siap memasuki dunia kerja,” ujar dia.
Meski demikian, Yudi menegaskan, pelatihan tidak menjamin peserta langsung memperoleh pekerjaan setelah lulus.
“Pelatihan dan penempatan kerja merupakan dua hal yang berbeda. Disnaker Batam membantu memfasilitasi serta menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja,” katanya.
Sementara itu, Adi warga Sekupang mengatakan, ia sudah memiliki sertifikat untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai keahliannya, tapi tak kunjung diterima kerja.
“Saya sudah berbulan-bulan belum mendapatkan kerja. Memang susah cari kerja di Batam ini. Belum lagi kalo tidak punya kenalan di PT-nya, tak bakal dapat diterima,” ucapnya.(ant)









