Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Sore ini, Rihana bersiap merayakan pesta pernikahannya yang ke-15 tahun.
Dipastikan, pesta itu bakal digelar mewah dan meriah. Semua teman-teman istimewa Rihana, diundang. , atau kolega-kolega Bagas, terlihat sudah hadir.
Fitriani, sahabat Rihana sejak SMA yang diundang sejak jauh-jauh hari, mengaku tak bisa hadir karena ada acara keluarga.
Kebetulan, waktunya bersamaan dengan acara yang diadakan Rihana. Rihana jelas sedikit kecewa, karena ketidakhadirannya itu.
Tapi, ya sudahlah. Rihana memakluminya. Andai Rihana ada di posisi dia, Rihana juga akan melakukan hal yang sama, mengutamakan hadir di acara keluarga, daripada memilih hadir di acara orang lain.
“Maaf ya Cui, aku nggak bisa hadir. Ada acara di luar kota,” kata Fitriani meminta maaf pada Rihana.
“Ihโฆ..apalah. Penonton kecewa nih.” balas Rihana, kecewa.
Di tengah acara pesta ulang tahun pernikahan yang sedang berlangsung, Bagas terlihat gelisah.
Seperti buru-buru hendak pergi. Padahal, acara masih berlangsung. Dia beralasan ada keperluan penting dengan rekan kerjanya, yang tak bisa ditunda lagi.
Bagas terkesan acuh tak acuh dengan acara pesta ulang tahun pernikahan yang digelar Rihana.
Memang ini ide sang mertua. Mau atau tidak mau, Rihana berusaha mewujudkan permintaan sang mertua. Katanya, pesta ini sebagai bentuk rasa syukur yang telah diberikan oleh-Nya selama ini.
Rihana berharap, setelah acara pesta ulang pernikahan usai, Bagas bakal merubah sikapnya. Lebih sayang sama keluarga kecilnya.
Pesta yang digelar di salah satu ballroom hotel berbintang itu pun, berlangsung begitu meriah. Para tamu undangan membawa kado dan memberikan ucapan selamat.
Sejenak, Rihana bahagia, dan bersyukur atas kehidupan rumah tangga yang dia jalani selama ini.
Apalagi, Rihana juga sudah dikaruniai dua orang anak lelaki yang kini beranjak remaja. Kedua putranya itu, kerap menjadi pelindung, saat Rihana tersakiti oleh sikap dan perbuatan Bagas.
Jujur, kalau bicara soal harta. Rihana memang hidup serba berkecukupan, tak kurang suatu apapun. Tapi, apalah arti sebuah harta. Jika batinnya selalu tersiksa.
Yaโฆ.setahun belakangan, kehidupan rumah tangganya, bagai berada di neraka. Bagas acuh tak acuh dengannya. Pertengkaran demi pertengkaran kecil, kerap terjadi. Hal itu, terjadi sejak Bagas mencalonkan diri jadi wakil rakyat.
Malam itu, usai perayaan pesta ulang tahun pernikahan. Rihana bertengkar hebat dengan Bagas. Bagas menamparnya, di depan anak-anak.
Semua gara-gara mister x. Dia tak sengaja mengangkat telepon Bagas yang berdering, saat ponsel Bagas, ada di atas meja rias Rihana.
Suara mister x itu adalah suara seorang perempuan, yang suaranya Rihana hafal sekali. Siapa lagi kalau bukan Novi.
Sementara itu. Kedua putranya, memang sering menyaksikan Rihana ditampar sama Bagas.
“Lancang banget kamu pegang hape aku. Istri nggak ada guna!” bentak Bagas sembari menampar Rihana, hingga pipinya memerah.
Rihana menangis sejadi-jadinya. Apalagi dia menahan sakit setelah satu tamparan tangan Bagas mendarat di pipi kanannya.
Tak lama, Bagas pun bergegas meninggalkan Rihana, dengan cueknya.
“Maโฆ.nggak usah dekat-dekat Papa. Nanti Mama bisa-bisa bonyok kalau dihajar papa terus.” ucap Gilang, anak pertama Rihana itu, menasehatinya.
Sebenarnya, Rihana tak mau anak-anaknya menyaksikan pertengkaran-pertengkaran itu.. Tapi, Bagas memang suka tak bisa mengontrol emosinya, meski di depan anak-anak.
Tak jarang, hanya karena masalah sepele. Emosi Bagas meledak-ledak. Lalu, berdebat sampai berjam-jam.
“Nggak apa-apa sayang, Mama memang yang salah. Suka kepo sama papa. Jadinya papa marah.” jelas Rihana, seolah membela Bagas.
“Tadi, kutahu masalahnya sepele kan Ma. Mama hanya angkat telepon papa. Tapi, kenapa Papa harus semarah itu, Ma. Kayak orang kesetanan begitu marahnya?” kata Gilang, dengan nada protes.
“Ya Allah, anak-anakku, mereka sudah besar, mereka sudah pandai protes atas ketidakadilan yang aku alami ini,” gumam Rihana dalam hati sedih.
“Eh gimana besok kita makan bareng yuk kemana aja kalian mau, Mama ikut,” kata Rihana berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Mauโฆโฆ..ke pantai aja Ma!” request Gilang.
“Hmmmโฆ., kan besok hari Kamis. Bukan hari libur, sayang,” kata Rihana mengingatkannya.
“Yahโฆ.Ma. Masa iya ke pantai harus menunggu hari libur. Kalau besok, pantainya sepi Ma. Lebih nyaman kalau sepi. Besok aja ya Ma.” sebut Gilang lagi, mencoba bernegosiasi dengan Rihana.
“Iya ke pantai aja Ma.” tiba-tiba Riko ikut nimbrung. Padahal dia terkesan cuek kalau diajak jalan-jalan.
“Yakinโฆ.ke pantai hari Kamis,” kata Rihana dengan terkekeh. Ya sebisa mungkin Rihana akan berusaha terlihat bahagia di depan anak-anaknya, meski sebenarnya batinnya selalu terluka.
“Eh gimana kalau kita makan yang enak-enak aja. Nggak seru, ke pantai kalau suasananya sepi.” Tiba-tiba Gilang, putra pertama itu berubah pikiran. Mencoba mempengaruhi Rihana dan Riko.
Rihana, pada dasarnya terserah mereka berdua. Kemana mereka mau, Rihana akan menurutinya.
“Ayo sut aja kalau begitu!” tantang Gilang ke Riko.
Akhirnya mereka sut. Keduanya sama-sama mengepalkan tangan, lalu menunjukkan salah satu jari mereka. Gilang menang karena dia berhasil menunjukkan jari jempolnya, dan Riko menunjukkan jari kelingkingnya.
“YESS. Berarti kita makan ya Ma. Kan aku yang menang, sut-nya!” Gilang mengacungkan jempolnya.
“Mama suka, melihat kalian selalu kompak dan akur. Sampai besar ya sayang, kalau bisa. Kalian saling sayang satu sama lain.” kata Rihana sembari merangkul keduanya, dengan tangan kanan dan tangan kirinya. Keduanya, rebah di pundak Rihana.
“Maโฆ.,” kata Gilang sepertinya dia ingin menyampaikan sesuatu.
“Hmm.”
“Nggak jadi ah Ma!” Mereka pun melepaskan diri dari Rihana, karena melihat Bagas, papanya tiba-tiba muncul.
“Aku mau makan. Kamu masak apa?” tanya Bagas dengan sikapnya yang seperti bos.
“Biasa, masak ikan asam pedas,” jawab Rihana. Ironisnya, dia tak merespon lagi setelah bertanya itu. Malah, pergi.
“Ya Allah, beri hamba kesabaran seluas lautan,” gumam Rihana membatin dalam hati.
Tak lama juga Rihana melihat dia ngeloyor keluar, menghidupkan mesin mobilnya. Bagas memang jarang di rumah. Dia lebih suka di luaran bareng teman-teman komunitasnya. Persis seperti anak-anak ABG yang suka nongkrong sana-sini.
Maklum, anak bos. Nggak berpikir bagaimana mencari peluang untuk mencari rezeki. Karena, apa yang dia inginkan, selalu dikabulkan sama bapaknya, Broto.
Orang mengenal Broto, adalah pengusaha properti terkaya di kota tempat tinggalnya saat ini.
Bagas bilang, akan ada acara reunian sama teman-teman sekolah dia, saat di bangku SMP. Rihana hanya diam. Nggak mau bertanya lebih lanjut soal itu.
“Hei. Rihana. Kamu tuli ya, aku tadi cerita, kamu nggak respon!” bentak Bagas kesal karena tak direspon Rihana.
“Iya, aku dengar,” kata Rihana.
“Kamu ikut nggak? Nggak usah aja ya!” katanya.
Rihana semakin kesal karena belum dijawab, Bagas sudah menentukan sendiri jawabannya.
“Pertanyaan dia aneh. Ditanya ikut apa nggak, tapi nggak boleh ikutan. Jadi bingung aku mau jawab apa.” gerutu Rihana.
“Lagian, kamu nggak kenal mereka,” imbuh Bagas lagi.
“Aku nggak minat!” jawab Rihana to the point.
“Siapa juga yang mau ikutan. Nggak hobby hadir di acara reuni. Bagiku, acara reunian itu, nggak ada manfaatnya. Paling, acara reunian itu cuma buat ajang pamer harta, tahta dan jabatan.” batin Rihana.
“Baguslah!” Bagas terlihat bahagia saat mengetahui Rihana nggak akan ikut serta dalam acara reunian itu.
“Ma. Mama nggak cemburu, Papa reunian sendiri?” tanya Gilang yang selalu peduli pada Rihana.
Rihana terkejut mendapat pertanyaan itu dari Gilang.
“Ya nggak sayang. Ngapain cemburu. Mama kurang suka hadir di acara reuni.” jelas Rihana meyakinkan anak lelakinya itu.
Diantara kedua anaknya, Gilang memang paling peka membaca suasana hati Rihana. Dia tahu, Rihana sebenarnya cemburu. Tapi, Rihana berusaha mengatakan bahwa dia nggak suka acara reuni.
Tak hanya pandai membaca suasana hati Rihana. Gilang juga suka menghibur Rihana kalau hatinya sedang sedih.
“Ma. Tenang aja. Kalau nggak diajak Papa reuni. Kita jalan-jalan aja ke mall,” kata Gilang lagi berusaha menenangkan hati Rihana.
“Ya ampun sayang. Mama kan sudah bilang, kalau Mama memang nggak suka hadir di acara reunian. Tahu kan, Mama itu, hobbynya makan bakso ceker,” jelasnya panjang lebar sambil terkekeh di depan Gilang.
“Mama pasti pura-pura nggak suka, kan. Tapi aslinya kepingin diajak sama Papa. Ayo ngaku lah Ma. Jangan bohong!” celetuk Gilang.
Spontan, saat dia mengatakan itu, Rihana mencubit kecil paha Gilang.
“Auwww sakit Ma!” pekik Gilang.
“Maโฆ.besok jalan ke bioskop aja yuk,” ajak Gilang yang terlihat mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Yup! Itu baru ide briliian!” jawab Rihana spontan.
“Kita nonton film Believe, yuk!” ajak Rihana.
“Setelah nonton, kita makan bakso. Gimana?” imbuh Rihana, usul ke Gilang dan Riko.
“YESS!” sahut Riko. Tapi, pada intinya mereka berdua sepertinya ingin menghibur Rihana dengan cara itu.
“Terimakasih yaโฆ..kalian selalu berusaha menghibur Mama,” kata Rihana, mengapresiasi apa yang dilakukan kedua anak lelakinya itu.
“Berarti oke kan Ma ya besok kita nontonโฆ..!” tanya Gilang minta kepastian Rihana sekali lagi.
“Iyaโฆ..sayang. Mama mau aja kalau diajak sama kalian-kalian anak Mama yang hebat-hebat ini,” jawab Rihana, sembari mengukir senyum tipis di bibir.
“YESS! Letsgo!” ucap Gilang kegirangan.
“Janji ya Ma. Tunggu kami balik dari sekolah,” imbuh Gilang lagi.
“Iya. Mama akan tunggu kalian, dan kita akan bersenang-senang!” kataku meyakinkan mereka.(*)









