Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Rihana mengetuk pintu ruang kerja Bagas. Tapi tak ada suara. Rihana tahu, Bagas sudah datang pagi ini. Mobil Pajero sportnya saja sudah di parkiran.
Pandangan mata Rihana, tertuju pada helm milik Novi. Karena sekretaris baru Bagas itu naik motor saat ke kantor.
Rihana kembali mencoba mengetuk pintu ruang kerja Bagas. Masih sunyi tak ada sahutan suara Bagas atau Novi.
“Kemana sih orang ini.”
Di saat itu juga, terdengar suara seorang perempuan berbisik, dan mengatakan,”Pelan-pelan sayang.”
Rihana mengernyitkan dahinya. Mendekatkan daun telinganya di pintu kerja Bagas.
“Suara Novi.” tebak Rihana.
“Ihโฆ.sayang..pelan-pelan.”
Suara manja perempuan itu terdengar lagi.
Mendengar itu, Rihana merasa terbakar api cemburu.
Dia menarik nafasnya dalam-dalam. Lalu, dihembuskan pelan-pelan ke langit-langit ruangan kantor partai milik Bagas itu.
“Ya Allah. Aku semakin yakin harus bercerai dari Bagas,” Batin Rihana mulai merasakan luka yang teramat perih, kali ini.
Rihana memejamkan matanya.
“Ya Allah beri aku kesabaran seluas samudera, untuk menghadapi semuanya.”
Sebenarnya selama ini Rihana cuek, meskipun Bagas tak pernah mempedulikannya.
Tak lama, akhirnya Rihana balik kanan, buru-buru meninggalkan kantor Bagas.
Sejak kejadian itu, Rihana tak mau lagi ke kantor Bagas. Tapi dia mencari cara balas dendam sama Novi.
Di sepanjang perjalanan pulang, Rihana benar-benar emosi dan hatinya bergemuruh menyimpan amarah.
“Ma. Ke mall yuk.” ajak Gilang, anak lelaki Rihana.
“Tapi Mama masih capek Gilang. Sorean dikit ya kita ke mall nya.” jawab Rihana, menolak ajakan Gilang.
“Yahโฆโฆ.Gilang pergi sendiri aja Ma.”
“Ya udah. Pergi sana sendiri. Lagi pula, Mama mau istirahat aja Gilang, Mama lelah hari ini,” jelas Rihana panjang lebar.
“Ma,” Gilang nempel-nempel Rihana, dan pura-pura mijitin pundak belakang Rihana.
“Maโฆ..,” ulang Gilang lagi.
Kalau sudah begitu, itu tandanya dia minta transferan buat jajan atau ke mall.
“Hmmm. Pasti minta uang kan. Buat ke mall-nya.” kata Rihana to the point ke anak bujangnya itu.
Gilang spontan tertawa, tapi dia tetap memijit pundak Rihana selama belum dikabari sudah ditransfer uang yang dia minta.
Rihana meraih ponselnya. Membuka ponselnya, lalu tak lama dia menunjukkan bukti uang yang diminta Gilang sudah ditransfer ke rekening Gilang.
Melihat itu, Gilang langsung mencium pipi kanan dan pipi kiri Rihana, lalu bergegas meninggalkan rumah, sembari mengucapkan terimakasih ke perempuan yang sudah membesarkannya itu.
“Makasih Mama sayang. Gilang pergi dulu.” ucapnya setengah berteriak dan menjauh dari Rihana.
“Dasar. Punya anak bujang malah kerjanya kayak anak cewek. Doyan ke mall.” Rihana tepok jidat.
Ponselnya berbunyi. Novi mengirim emoticon orang tersenyum.
“Maksud dia apa cobak kayak begini. kirim emoticon orang ketawa ke aku.”
“Maaf kak cuma mau ngasih kabar, kata Tuan, tadi kenapa nggak dibuka aja pintu. Nggak dikunci kok. kami kan ada di dalam sedang sarapan,” tulis Novi panjang lebar. Chat itu dikirim ke nomor WhatsApp Rihana.
Rihana tak ingin membalasnya. Tapi, dia membaca pesan itu, penuh amarah.
“Sialan. kita lihat saja nanti. permainan akan segera dimulai,” batin Rihana kesal.
Dimatikannya ponsel Rihana. Lalu, dia benar-benar ingin rebahan saja di rumah. Padahal, waktu masih menunjukkan pukul 10.00 wib.
“Tuan. Tadi sepertinya nyonya datang. Ada suara ketukan, saat kita asik menikmati waktu pagi ini.”
Mendengar itu, Bagas cuek.
Dia malah menarik tangan Novi lagi, dan dia meminta perempuan muda itu duduk di atas meja kerjanya.
Novi masih belum mengenakan bajunya. Masih terlihat jelas dengan pemandangan gunung kembarnya yang tertutup bra. Sedangkan rok spannya masih menempel di tubuhnya, menutupi bagian bawah zona terlarangnya itu.
Dinaikkannya kedua kaki Novi di paha Bagas yang pagi itu dengan posisi duduk di balik meja kerjanya. Bagas juga tak mengenakan pakaian kemeja atasnya, tapi celana panjangnya belum ditanggalkan.
Dia telanjang dada. Siap beraksi menelusuri bagian terlarang Novi yang masih tertutup rapi, dibalik rok span-nya itu.
“Kaki kamu mulus ya Nov, dengan nafas yang memburu, menjelajahi setiap inchi tubuh Novi yang juga tampak pasrah dengan permainan Bagas pagi itu.
Karena kurang puas, Bagas menarik tangan Novi, dan mengajaknya pindah ke sofa, di ruangan kerjanya itu.
Sekali lagi, Novi benar-benar menyerahkan diri ke Bagas. Karena tujuan besarnya memang ingin merebut hati Bagas.
Novi ingin pria itu luluh dalam pelukannya.
“Nov, ugh!” Bagas kian tak sabar. Dia melepas paksa rok span pendek yang dikenakan Novi.
Sekarang, Novi terlihat seperti barby yang hanya mengenakan celana dalam dan bra.
Tak lama, Bagas juga melepas paksa bra hitam yang dikenakan Novi. Maka, dengan begitu dia bebas bermain di area kedua gunung kembar Novi.
“Ugh Nov,” Bagas memaksa Novi duduk di atas tubuhnya, agar dia bebas memainkan gunung kembar Novi yang masih kencang itu.
“Ugh aku sudah lama nggak merasakan ini, Nov,” nafas Bagas semakin memburu, berpacu dalam melodi.
Novi, tanpa permisi, tiba-tiba melepas kancing celana Bagas yang sedari tadi masih melekat di bagian tubuh bawah Bagas.
Akhirnya, sesuatu yang lama tak dia mainkan dengan Rihana itu, mengeras. Novi pun memegangnya dengan leluasa. Menggiring benda itu ke arah Zona segitiganya.
“Sayang. Tapi jangan dimasukkan.” tolak Bagas.
Bagas masih ingin permainan panjang pagi itu, tanpa harus buru-buru untuk mengakhirinya.
“Ugh, sayang. kamu cantik banget pagi ini,” puji Bagas saat dia masih asik bermain di area dua gundukan kembar itu.
Novi mendekatkan wajahnya ke wajah Bagas. Tak lama, bibir keduanya saling bertautan.
“Ogh. Sayang, aku mau kita ke puncak sama-sama.” bisik Novi di telinga Bagas.
Bagas, dengan paksa melepas area penutup zona segitiga milik Novi. Tangannya dengan bebas menelusuri zona segitiga terlarang itu.
“Sayang aku nggak tahan.”
Bagas tiba-tiba ingin menerobos zona segitiga Novi, dan Novi terlihat pasrah karena memang itu tujuan terbesarnya.
“Ugh..,” keduanya sama-sama menuju ke puncak.
Bagas lega. Karena sudah lama dia tak melakukan itu dengan Rihana.
Setelah sama-sama menuju ke puncak. Novi, terdiam. Dia masih dengan posisi memeluk erat tubuh Bagas.
Tak lama, Bagas, buru-buru menghempaskan tubuh Novi.
“Cepat ke kamar mandi. Setengah jam lagi aku ada rapat pertemuan dengan masyarakat Pulau Berdaulat. Kamu harus ikut.” perintah Bagas.
Sebelum Novi benar-benar menuju kamar mandi, Bagas mendaratkan ciuman tak terduga ke bibir Novi lagi.
“Ini ada sesi kedua, nanti malam.” bisik Bagas.
“Ih apaan sih!” kata Novi. Padahal, hati kecilnya sangat berharap itu.
“Sudah sana cepat bersihkan tubuh kamu!” perintah Bagas serius.
“Dua puluh menit lagi kita harus on the way ke lokasi pertemuan,” sebut Bagas memerintahkan Novi bersiap untuk mendampingi Bagas ke acara pertemuan yang dimaksud Bagas.(*)









