Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Pertama menginjakkan kaki di rumah kontrakan tipe 50 itu, Rihana sudah jatuh hati.
Suasananya nyaman. Tetangga yang ada di komplek itu lumayan berada semua.
Sepertinya komplek perumahan itu, komplek orang-orang berada.
“Gimana Pak?” kata Pak Baskoro, pemilik rumah kontrakan itu, pada Cahyo.
Cahyo melempar pandang ke arah Rihana. Minta persetujuan.
Rihana, malah balik bertanya ke Riko.
“Gimana Rik, menurut kamu, nyaman nggak rumah ini?!” tanya Rihana pada Riko, anak lelakinya itu.
“Riko sih terserah mama aja. Tapi, menurut Riko bagus juga kok Ma, rumahnya,” sebut Riko meyakinkan Rihana.
“Oke.Mas!” kata Rihana pada Cahyo.
Spontan, Cahyo pun berjanji akan mentransfer sejumlah uang sewanya ke rekening Pak Baskoro.
“Bapak cek saja ya uangnya sudah saya transfer ke rekening bapak.” kata Cahyo menunjukkan bukti transfer nya itu ke Pak Baskoro.
“Mohon dikirim ke nomor WhatsApp saya ya Pak.” pinta Pak Baskoro.
“Oh oke oke….Pak saya kirim ke nomor Bapak ya,” janji Cahyo.
“Oke.Pak. Terimakasih. Semoga betah tinggal di rumah kontrakan saya. Kalau ada perlu apa-apa, kabari saya saja,” katanya, sembari menyerahkan kunci rumahnya ke Cahyo.
“Siap.Pak..Terimakasih.” ucap Cahyo.
Pria paruh baya itu pun berlalu dari hadapan Rihana dan Cahyo.
“Yuk Ri, kita balik ke hotel. Kemas barangnya. Malam ini kita tempat rumahnya.” ucap Cahyo. Mereka pun bergegas pergi meninggalkan rumah itu, menuju ke hotel, mengambil barang-barang.
Bersamaan dengan itu, seorang perempuan muda, tiba-tiba memanggilnya penuh kegembiraan.
“Mas Cahyo ya?!” sapa perempuan itu, membuka kaca mobilnya. Lalu meneriaki nama Cahyo. Seperti tak menghiraukan keberadaan Rihana di samping nya.
Cahyo tertegun. Takdir mempertemukan Cahyo dengan perempuan sepuluh tahun silam, yang pernah membuatnya patah hati berkeping-keping.
“Zulaikha?!” sapa Cahyo balik.
Cahyo terlihat salah tingkah di depan Zulaikha.
“Mas Cahyo tinggal di rumah Pak Baskoro?!” tanya Zulaikha dengan senyum cerianya itu.
“I….iya. Kenalkan ini istri dan anak aku.” ucap Cahyo, tapi Zulaikha biasa saja meresponnya.
Bahkan, tak lama kemudian, Zulaikha pamit mau jalan duluan.
Mobil HRV hitam itu pun melesat meninggalkan Cahyo dan Rihana.
Rihana tampak tidak suka dengan pertemuan tak sengaja antara Cahyo dan perempuan muda itu..
Di sepanjang perjalanan balik ke hotel, Cahyo bimbang. Kenapa takdir harus mempertemukan dia dengan Zulaikha lagi.
Dulu, Cahyo begitu mencintainya. Tapi orang tua Zulaikha menolak. Penyebabnya, soal status duda Cahyo.
Orang tua Zulaikha mengaku tak merestui hubungan anaknya dengan Cahyo.
Kejadian sepuluh tahun silam itu, membuat Cahyo menutup diri untuk cinta yang mengetuk hatinya. Tapi, rupanya Tuhan berkata lain, Rihana ditakdirkan jadi pengganti Zulaikha.
Rihana masih terlihat kesal. Perubahan mendadak, terlihat dari sikap Cahyo yang tiba-tiba lebih banyak diam.
Rihana masih ragu untuk menanyakan siapa perempuan yang begitu terlihat bahagia saat menyapa Cahyo.
“Ah biarlah. Bukannya setiap orang punya masa lalu. Mungkin itu dulu mantannya Mas Cahyo. Aku bisa merasakan, bagaimana perempuan tadi begitu bahagia, saat menyapa Mas Cahyo,” pikir Rihana berusaha melupakan tragedi itu.
Bagi Rihana, kejadian itu tragedi yang tak pernah dia sangka-sangka.
“Mas…..besok aja kita pindah ke rumah itu ya. Kan belum dibersihkan juga,” pinta Rihana.
Cahyo pun mengiyakan permintaan Rihana.
“Kita mampir ke swalayan ya Mas. Beli sapu dan pengepel,” Cahyo tampak tak meresponnya.
“Boleh kan Mas?” Rihana mulai melihat Cahyo tak fokus saat bicara dengan dirinya.
“Hmm. Boleh. Mau beli apa?” tanya Cahyo.
“Ih kan…..nggak denger apa kata-kata aku. Tadi aku bilang mau beli sapu dan pengepel,” sebut Rihana sedikit emosi.
“Pasti gara-gara ketemuan sama cewek tadi, makanya nggak fokus bicara sama aku!” kata Rihana, sewot.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba ada kucing yang menyeberang jalan. Terpaksa, Cahyo harus mengerem mendadak.
“Kan…..beneran nggak konsentrasi.” celetuk Rihana masih pasang wajah sewot.
“Ya kan nggak sengaja sayang, kita hampir aja menabrak kucing tadi. Kalau tahu mau ada kucing menyebrang, aku pasti pelan-pelan,” sebut Cahyo mencoba membuat Rihana memakluminya.
“Pasti gara-gara cewek itu. Tetanggaku idolaku,” sindir Rihana masih sewot.
“Ih ayolah sayang..Dia bukan siapa-siapa. Cuma teman biasa,” jelas Cahyo serius.
“Nggak mungkin kalau teman biasa. Sepertinya dia bahagia banget ketemu kamu, Mas. Tadi, aku perhatikan. Sepertinya kamu juga senang ketemu dia.” Rihana makin memojokkan Cahyo.
“Ya ampun, Riko. Ini mama kamu kenapa ya. Minta dicium kayaknya,” canda Cahyo.
“Nggak usah becanda Mas. Kamu senang kan ketemu cewek tadi!” Rihana mulai terlihat emosi.
“Ya udah kita batalkan aja tinggal disana. Bagaimana?!” tanya Cahyo pasrah.
“Ya nggak begitu!” sahut Rihana.
“Ya sudah kalau begitu, aku mohon maaf ya, kalau pertemuan tadi dengan cewek itu kamu nggak suka. Maaf ya, sayang,” kata Cahyo yang merasa bersalah dengan kejadian tadi.
“Sekarang terserah kamu aja Ri, mau lanjut tinggal disana ayo. Atau kita ikhlaskan saja uangnya. Kita cari lokasi lain. Kalau mau diminta uang sewanya sepertinya nggak mungkin,” Cahyo pasang wajah memelas.
Rihana terdiam. Tak lama, Rihana meminta maaf ke Cahyo, karena sikap cemburunya yang berlebihan.
“Jadi, gimana ini. Kita cari rumah lain atau tetap memilih rumah itu. Lagian aku janji setengah tahun ke depan, aku akan bangunkan kamu istana.” ucap Cahyo dengan sabar.
“Iya Mas. Maaf ya kalau aku berburuk sangka sama kamu, Mas,” Rihana menyesal.
“Ya sudah, aku juga minta maaf ya.” tambah Cahyo lagi. Cahyo pun menggenggam tangan Rihana, erat.
“Ehmmm……!” Riko hanya senyum melihat dua orang itu rukun kembali.
“Sudah selesai kan Ma ya drama lima menitnya. Drama korea, kalah romantis kalau dibanding drama Mama dan Papa yang baru saja diputar.” Riko melepas tawa, buat Rihana dan Cahyo.
“Ya begini Riko, kamu kalau cari cewek, harus kayak mama kamu, nggak gampang marah kalau ada masalah. Apalagi ada masalah tiba-tiba ketemu cewek lain?!” celetuk Cahyo melirik Rihana.
Spontan, Rihana langsung mencubit paha Cahyo.
“Aduh bisa biru ini, paha aku, kena cubit sakit banget,” kata Cahyo sambil mengaduh kesakitan.
“Ma….Kita tidur di hotel aja Ma, semalam lagi. Rumahnya tadi, serem nggak sih. Kan sudah lama kosong. Belum dibersihkan. Belum didoain,” protes Riko.
“Iya Riko, malam ini masih tidur di hotel. Besok kita bereskan dulu rumah itu. Disapu, dibersihkan debu-debunya. Kalau sudah bersih, baru kita tempati.” jelas Rihana.
Riko senang.
“Ma. Nanti kita makan di Malioboro Ma. Katanya disana makanannya enak-enak dan murah, plus cewek-ceweknya cantik-cantik,” sebut Gilang.
“Boleh….,” Rihana dan Cahyo setuju. Seketika, Cahyo pun tancap gas dengan mobil rental itu, menuju ke Malioboro.
“Coba telepon adik kamu. Lagi ngapain dia. Nanti kalau pas di Malioboro. Pamerin makan-makanannya ya. Biar dia ngiler.” Rihana cengar-cengir.
“Oke..Ma. Buat mama, apa sih yang nggak Riko lakuin? Semua demi mama.(*)













