ISTRI PAJANGAN Bagian 38: Pindah ke Villa

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Sesuai janji Bagas, dia akan menuruti semua keinginan Rihana, asal dia membatalkan pengajuan perceraiannya ke pengadilan agama.

Rihana pun memanfaatkan kesempatan ini.
Rihana minta salah satu villa milik Bagas, dialihkan atas nama Rihana.

“Tanda tangani ini. Karena mulai sekarang villa di puncak itu milik aku,” tegas Rihana.

“Oh oke oke…..aku senang ternyata kamu benar-benar membatalkan pengajuan perceraian itu.” ucap Bagas sembari membaca perjanjian kepemilikan salah satu villa yang ada di Bogor.

“Aku mau cepet-cepet pindah dari rumah jahanam ini!” celetuk Rihana.

Bagas bingung mendengar rencana itu dari Rihana. Karena, kalau Rihana pindah ke villa, otomatis mama dan papanya Bagas, kesepian karena cuma berdua.

“Terus Ri. Rumah ini sepi pastinya tanpa kamu.” Bagas sedikit kecewa.

Rihana hanya diam. Karena dia nggak punya pilihan, selain harus pindah.

“Kamu nggak kasian Ri, sama mama papa aku?!” Bagas penasaran soal jawaban Dewi.

“Bukankah kehadiran aku sudah nggak dianggap lagi sama mama kamu?” kilah Rihana terang-terangan.

“Maafin mama ya Ri.” Bagas memohon penuh harap.

“Selama ini aku direndahkan dihina-hina, katanya aku ini menantu tak berguna. Coba kalau kamu ada di posisi aku?! Kamu bisa nggak menghadapi nya?” Dewi pun tak kuasa menahan air matanya.

“Semua yang aku lakukan di mata mama kamu, nggak ada yang beres menurut dia. Bagi dia, aku ini bagai sampah,” Dewi benar-benar terpaksa mengatakan itu di depan Bagas.

Hingga akhirnya Bagas pun merasa bersalah atas semua hal yang menimpa Dewi.

Tapi, Bagas juga berjanji dalam hati, nggak akan membela siapa pun dalam hal ini. Karena, dua-dua nya memang orang penting buat Bagas.

Tak lama, Bagas menyerahkan surat perjanjian itu ke Dewi.

Sejak perjanjian penyerahan aset villa milik Bagas dialihkan atas nama Dewi, Dewi pun bertekad menjauh dari rumah tempat dia tinggal bersama sang mertua itu.

BACA JUGA:  Ini Cara Aurelie Moermans Berjuang Hadapi Situasi Sulit

“Besok aku mulai pindah ke Villa itu, karena aku mau hidup tenang, tanpa harus direndahkan dan dihina setiap hari.” tegas Dewi serius.

Bagas terdiam mendengar penjelasan rencana Dewi. Tapi, Bagas sendiri tak bisa menahan langkah kaki Rihana, karena Villa
itu sudah menjadi hak Rihana.


Pagi itu Rihana bersiap memindahkan barang-barangnya ke villa yang baru saja diberikan Bagas.

Fatimah, adalah mertua yang paling sewot melihat apa yang hendak dilakukan Rihana.
“Bagas. Lihat. Istri kamu yang tak berguna ini, memilih pindah ke villa. Dia memang bukan istri idaman. Kerjanya ingin foya-foya. Dia itu mau bebas aja, biar nggak ada yang tahu kalau dia itu selingkuh!” tudingan Fatimah benar-benar menyakitkan hati Rihana.

Bagas tak merespon apa yang dikatakan mamanya itu. Karena dia tak mau Rihana bercerai dari dia, sampai proses pemilihan wakil rakyat nanti.

“Sudahlah Ma. Dia kan mau menata hidupnya biar lebih baik lagi ke depannya. Kalau dia tinggal sama mama terus nanti dia terlalu manja,” alasan Bagas sedikit membela Rihana.

“Oh jadi sekarang kamu lebih membela istri yang tak berguna ini ya ketimbang membela mama kamu?!” bentak Fatimah penuh emosi.

“Sudah ma. Jangan diperpanjang. Nanti kan mama bisa main ke villa Rihana, enjoy aja ma!” ucap Bagas sembari memeluk mamanya itu, sebagai tanda kalau dia sayang sama Fatimah.

“Nggak sudi mama main kesana?!” tegas Fatimah.
“Lho katanya mama khawatir kalau Rihana selingkuh, pengen bebas biar nggak ada yang mengawasi dia. Jadi, mama main aja kesana. Jadi mama tahu apa aja aktifitas Rihana!” sebut Bagas dengan setengah bercanda.

Fatimah melengos. Tak lama dia beranjak pergi dari hadapan Bagas dan Rihana.

Rihana hanya diam mendengar ocehan sang mertuanya. Dia pun melanjutkan rencananya, pindah ke villa idamannya.

BACA JUGA:  Kim Soo Hyun dan Kim Ji Won Rilis Foto Pernikahan di Drama Queen of Tears, Bikin Baper

“Ri. Kalau kamu sudah pindah ke villa, jangan sampai kamu lupain mama aku ya. Meski dia jahat sama kamu, tapi kumohon maafkan dia dan jangan pernah menaruh dendam ya ke mama aku,” pinta Bagas pelan.

Rihana lagi-lagi masih ingin memilih diam. Dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar, di depan Bagas.

Bagas tahu, Rihana lelah menghadapi semuanya. Tapi, bagaimana pun juga dia masih berharap pada Rihana, sabar menghadapi ini semua.

Tak banyak yang dibawa Rihana. Hanya pakaian dan sepatu. Sisanya di rumah itu tak punya hak atas barang-barang mewah yang ada di sana.

“Terus Ma..Nanti kita masak pakai apa di sana? Mama cuma bawa pakaian dan sepatu di koper.” protes Gilang, anak bujang Rihana itu.

“Tenang Gilang. Semua sudah papa siapkan buat kalian!” Bagas menyebutkan bahwa semua kebutuhan rumah itu sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Semua peralatan yang dibutuhkan untuk aktifitas apapun, ada disana.

“Yes. Makasih Pa.” Gilang kegirangan mendengar penjelasan Bagas.

“Pa. Di villa itu ada kolam renangnya nggak Pa?!” tanya Gilang penasaran.

“Oh ada dong. Semua lengkap. Kamu pasti betah di rumah. Studio musik juga papa sediakan disana.” sebut Bagas lagi penuh antusias.

“Serius Pa?” Tanya Gilang lagi penasaran banget.
” Ya udah pa yuk kita let’s go ke villa itu. Gilang udah nggak sabaran mau renang atau mau main musiknya,” sebut Gilang, sama antusiasnya dengan Bagas.

“Oke..oke..Kita on the way sekarang,” ajak Bagas.

“Gilang ikut mobil papa ya!” Gilang duluan masuk mobil Bagas. Sedangkan Riko, naik bareng mobil Rihana.

Riko tidak terlalu dekat dengan Bagas. Dia lebih dekat dengan Rihana.

“Ma. Nggak pamitan sama kakek?” tanya Riko mengingatkan Rihana.

“Kakek kamu lagi di luar. Nanti mama telepon aja kakek,” jelas Rihana.

BACA JUGA:  Raisa Ikuti Jejak 3 Musisi Perempuan yang Kisah Hidupnya Diangkat ke Layar Lebar

Setengah jam kemudian, keluarga Bagas tiba di villa yang megah itu.

Sudah belasan tahun menikah dengan Bagas, Rihana baru kali ini menginjakkan kakinya di villa itu. Villa mewah yang kesekian, milik Bagas.

Aset dan harta kekayaan keluarga Broto memang tak ada tandingannya. Tapi, Rihana sama sekali tak pernah berharap mendapatkannya.

Hidup Rihana dipenuhi Bagas, itu sudah cukup. Kebutuhan kedua anaknya juga tak pernah dia pikirkan, karena yang paling perhatian pada kedua anaknya itu adalah Broto, ayah Bagas.

Tanpa diperintah, Gilang dan Riko berkeliling mengecek semua yang ada di villa itu.

“Wow. Maaaaa. Kolam renangnya Ma. Gilang mau renang sekarang Ma.” teriak Gilang kegirangan banget.

Riko tak banyak bicara. Dia hanya ikut apa yang dilakukan Gilang. Berkelana menyisir semua bagian yang ada di villa itu.

Diam-diam, Rihana ingin berterimakasih pada Bagas yang tak perhitungan memberikan villa itu untuknya dan juga untuk anak-anak Rihana.

“Riko. Kenapa diam.aja,” Rihana mencoba mencari tahu pikiran Riko yang sedari tadi terlihat bingung seolah memikirkan sesuatu hal yang berat.

“Riko sini!” panggil Bagas. Dia mengajak ke studio musik.

Tapi, dilihatnya Riko tak segirang Gilang. Dia biasa saja melihat apa yang ditunjukkan Bagas.
“Gilang renang. Kita main musik aja yuk.” ajak Bagas yang berusaha memancing semangat Riko. Tapi lagi-lagi Riko masih biasa saja.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *