ISTRI PAJANGAN Bagian 98: Permainan Sesi Kedua

Karya: baiq desi rindrawati wartawan senior posmetro batam

Pagi itu, Rihana bersemangat menyiapkan bubur ayam kesukaan Cahyo.

Sementara Cahyo sendiri, sedang di kamar mandi.
Sebelumnya, ia meletakkan ponsel di meja makan, tanpa khawatir. Apalagi, selama ini, Rihana memang tak pernah sembarangan membuka ponsel Cahyo.

Namun, rasa penasaran Rihana tak bisa ditepis. Bersamaan dengan itu juga, ada panggilan dari nomor tak dikenal, hingga berkali-kali, ke ponsel Cahyo. Tak ada nada dering. Ponsel nya hanya getar.

Rihana pun mencoba mengangkatnya. Tapi Rihana sengaja tak ingin bersuara. Rupanya si penelepon juga tak mau bersuara.

Satu pesan masuk di ponsel Cahyo.
Foto seorang bocah perempuan yang diperkirakan Rihana, usia bocah itu sekitar 4 tahunan.

“Wajahnya mirip kamu kan Mas” tulis si pengirim pesan itu.

Seketika semangat Rihana, runtuh. Apa maksud dari pesan itu? Rihana bisa menebak, kalau si pengirim pesan itu adalah perempuan. Pikirannya tertuju pada Zulaikha. Karena, selama ini Zulaikha yang terus mengejar Cahyo. Bahkan, Zulaikha seakan tak peduli, kalau Cahyo sudah beristri.

Seketika, tangan Rihana gemetar. Dia buru-buru meletakkan ponsel itu lagi di meja makan, karena didengarnya Cahyo hampir keluar dari kamar mandi.

Rihana tak ingin Cahyo tahu, kalau dia baru saja membuka isi pesan di ponselnya itu.

Rihana bergerak ke wastafel, pura-pura mencuci piring. Karena disana memang ada beberapa piring kotor yang diletakkan Riko dan Gilang, setelah sarapan.

Cahyo meraih ponselnya. Tapi, dia tahu, satu pesan dari Zulaikha telah terbuka.
“Aduh. Kenapa aku teledor tadi?! Rihana sudah baca pesan ini.” pikir Cahyo, menarik nafas dalam-dalam, penuh penyesalan.

Cahyo mendekati Rihana, dan mendapati perempuan itu dengan wajah murung dan mata berkaca-kaca.

Cahyo mematikan air kran wastafel. Lalu mengambil piring di tangan Rihana yang sedang dia cuci itu.

BACA JUGA:  Produksi Film Dosa Mustrik Dipercayakan Pada Hadrah Daeng Ratu

Ia menarik tangan Rihana perlahan, lalu mengajaknya duduk, berhadap-hadapan.

“Ri..Kamu tadi baca pesan di ponsel aku ya. Aku nggak marah kok. Karena kamu berhak tahu semuanya. Karena kamu.istriku.” ungkap Cahyo sembari menarik tubuh Rihana dalam dekapannya.

“Aku mau cerita soal semua kekacauan aku belakangan ini. Tapi janji ya Ri…..jangan marah sama aku.” pinta Cahyo serius. Cahyo menggenggam erat tangan Rihana, dengan kedua tangannya.

“Bukankah aku juga sudah janji sama kamu, Ri. Nggak akan ada lagi rahasia diantara kita. Apapun itu, kamu berhak tahu,” imbuh Cahyo lagi, buat hati Rihana tenang.

Rihana tak berkata sepatah kata pun. Dia hanya ingin mendengar kata-kata jujur dari Cahyo.

“Terimakasih ya Allah kamu sudah mengirimkan laki-laki ini untuk aku.” batin Rihana.

Rihana merasa semakin menyayangi Cahyo dengan sepenuh hati.

“Kamu masih percaya sama aku kan sayang?” Cahyo menatap mata Rihana dalam-dalam.

Tanpa, kata, Rihana hanya menganggukkan kepalanya.

“Demi Allah sekarang rumahku cuma kamu. Kamu tempatku pulang yang paling aku jaga.” Cahyo memeluk erat Rihana.

Pelan-pelan, air mata Rihana menetes. Dia merasa, bersama Cahyo, dirinya lebih dihargai.
“Zulaikha cerita kalau dia punya anak dari aku.” cerita Cahyo pelan.

Rihana mencoba tak bereaksi atas apa yang baru saja dia dengar.

“Tapi yakinlah Ri, aku nggak percaya begitu saja apa kata Zulaikha. Meskipun dia mengirimkan bukti foto anak yang dia katakan itu adalah anak aku. Aku bukan pria bodoh yang gampang dimanfaatkan perempuan iblis itu, Ri. Kamu percaya kan sama aku?!” Cahyo menekankan kalimat itu untuk kesekian kalinya, memaksa Rihana percaya padanya.

Rihana tiba-tiba menangis.
Tapi dia tak ingin berkata-kata.

Cahyo berusaha menenangkan Rihana dalam dekapannya.

“Kumohon. Jangan pernah tidak mempercayaiku ya Ri. Karena aku nggak punya siapa-siapa selain kamu, sebagai sandaran hatiku,” pinta Cahyo lagi penuh makna.

BACA JUGA:  Angkat Isu Kekerasan Anak, Film Horor-Crime-Action 'Memburu Pemangsa' Tayang 24 September

Rihana mencoba mempercayai semua yang dikatakan Cahyo.
“Jangan menyerah Rihana. Cahyo tetap akan menjadi milikmu. Apapun rintangan yang ada di depan kamu, hadapi!” batin Rihana bicara dengan dirinya sendiri.

Rihana melirik jam dinding di ruang makan. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.15 wib.

“Mas. Kamu nggak ngantor?! Ini sudah jam 07.15 wib. Biasanya kamu kan sudah di kantor jam 07.00 wib. Kalau sekarang mau pergi ke kantor, nanti kamu telat nggak Mas?!” sebut Rihana panik sendiri setelah menyadari waktu perlahan sudah menunjukkan pukul 07.15 wib.

“Sudah……kalau soal itu gampang banget. Kan aku bos nya di kantor. Telat dikit kan anak buah nggak bakal marah. Mereka pasti mengira kalau bosnya ada urusan penting di luar,” terang Cahyo, dan Rihana masih merasa nggak enak sama Cahyo. Rihana menduga, semua gara-gara dia.

“Maafin aku ya Mas.” ucap Rihana penuh penyesalan.

“Aku sengaja nggak mau ngantor. Soalnya, tadi aku melihat perempuan yang aku sayang sedang menangis. Menangisnya gara-gara aku,” sebut Cahyo sembari mendekap erat tubuh Rihana.

Tak lama, Cahyo menggendong tubuh Rihana, menuju kamar mereka.

“Mas ……!” pekik Rihana.
“Karena baru siap mandi, aku mau kamu juga mandi di kamar kita saja. Terus…..aku mau menikmati hot milk!?” bisik Cahyo pelan.

“Tapi, nggak perlu mandi juga kamu cantik sayang.” bisik Cahyo yang merebahkan tubuh Rihana di ranjang.

Tanpa banyak bicara, Cahyo langsung membuka semua pakaian Rihana. Hingga yang tersisa, hanya bra dan segitiga penutup zona rahasia nya itu.

“Ugh…….pagi-pagi memang asyik sayang, jalan-jalan ke goa yang gelap ini,” Cahyo langsung membuka penutup segitiga zona terlarang milik Rihana.

“Bersih sayang ya..Semalam kamu babat semua ya?!” bisik Cahyo dengan gairah kelelakiannya yang terus memuncak, pagi itu.

BACA JUGA:  Rilis Trailer Pertama, Jimin dan Jungkook BTS akan Lakukan Perjalanan dalam Acara Bertajuk 'Are You Sure?'

Apalagi, Gilang dan Riko sudah ke sekolah. Jadi, Cahyo bebas berselancar di goa gelap milik Rihana, tanpa ada yang mengganggu.

“Ugh sayang kamu nakal banget pagi ini,” Rihana tak kuasa menahan gairahnya saat lidah Cahyo bebas menembus goa gelap itu tanpa permisi.

Rihana begitu menikmati permainan Cahyo pagi itu.
“Sayang kamu di atas ya!” pinta Cahyo, dan dalam hitungan menit, Rihana sudah bertengger di atas benda perkasa milik Cahyo itu.

“Agh memang nikmat banget kalau kamu yang diatas sayang!” kata Cahyo yang terus berusaha mengendalikan suasana pagi yang super hot itu.

“Sayang aku hampir sampai puncak nih?!” bisik Cahyo, hingga akhirnya rudal itu berhasil melepaskan tembakan paling dahsyat, ke sasaran yang tepat.

Cahyo mengecup kening Rihana, dengan tubuhnya masih tanpa sehelai benangpun.

Rihana pun berbisik lemah di telinga Cahyo.
“Ulang lagi yuk Mas,” katanya lirih setengah menggoda.

“Oh pasti. Makanya nggak usah pakai apa-apa dulu. Karena aku lebih suka melihat pemandangan asri ini,” goda Cahyo.

Rihana tak terlalu menghiraukan apa yang dikatakan Cahyo. Karena dia hanya menunggu permainan sesi kedua.

“Sayang. Ini efek makan sate kambing kayaknya, gairahmu memuncak. Buktinya sampai minta lanjut sesi kedua.” bisik Cahyo.

Sesi kedua ini, Rihana pegang kendali, dia yang menguasai keadaan. Cahyo, hanya pasrah, menikmati permainan yang dilancarkan Rihana.

Untuk kesekian kalinya Cahyo pun bergairah membalas permainan panas Rihana.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *