Batam, Posmetrobatam.co: Ada ketenangan di wajah Delvi Yani. Namun, di balik ketenangan itu, tersimpan semangat yang tak pernah berhenti menyala. Perempuan kelahiran Batam, 30 September 2005 itu memilih taekwondo bukan sekadar sebagai cabang olahraga. Ia menjadikannya jalan hidup. Jalan panjang yang ditempuh dengan disiplin, pengorbanan, dan keyakinan.
Bersama Taekwondo Kharisma Bangsa Batam, Delvi tumbuh menjadi atlet yang tak hanya mengejar kemenangan. Ia membangun karakter. Menempa mental. Menguatkan hati. Setiap latihan adalah ruang belajar. Setiap pertandingan adalah ujian untuk menjadi lebih baik.
Prestasinya berbicara lantang. Tahun 2024 ia meraih prestasi gemilang. Di Wu Kwon Taekwondo Championship 2024 di Malaysia, Delvi meraih medali emas nomor poomsae. Langkahnya berlanjut ke Singapura. Pada 10th Daedo International Taekwondo Open Championship 2024, ia kembali berdiri di podium tertinggi setelah merebut medali emas poomsae.
Semangat itu tidak surut pada 2025. Di 5th Han Wong Worldwide Open Online Poomsae & Speed Kicking Championship yang diselenggarakan dari Skotlandia, Delvi kembali mempersembahkan emas pada nomor speed kick.
Belum berhenti di sana. Dalam 2025 Taekwondo Changmookwan Singapore Online International Championships, ia menyapu dua medali emas sekaligus. Satu dari nomor poomsae. Satu lagi dari speed kick. Penampilannya yang konsisten juga mengantarkannya menerima penghargaan Outstanding Performers Award untuk kategori Speed Kicking Beginner.
Masih pada tahun yang sama, Delvi kembali menunjukkan kelasnya. Dalam 11th Daedo Taekwondo Open Championships 2025 di Singapura, medali emas poomsae kembali dibawanya pulang.
Deretan prestasi itu lahir dari latihan yang tidak mengenal kata cukup. Dari pagi yang dimulai lebih awal. Dari sore yang ditutup dengan keringat. Dari hari-hari ketika rasa lelah harus dikalahkan oleh tekad.
Di luar arena pertandingan, Delvi juga dipercaya memimpin. Menempuh pendidikan di Universitas Internasional Batam (UIB), ia mengawali pengabdian sebagai Sekretaris Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Taekwondo selama satu periode. Kepercayaan itu kemudian membawanya menjadi Ketua UKM Taekwondo selama dua periode berturut-turut. Sebuah amanah yang menunjukkan bahwa kepemimpinan lahir dari keteladanan.
Bagi Delvi, taekwondo memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar medali.
“Bagi saya, Taekwondo bukan hanya sekadar olahraga atau seni bela diri, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup,” ujarnya.
Selama menjadi atlet hingga pelatih, ia telah belajar banyak hal. Taekwondo tidak hanya melatih fisik, tetapi juga membentuk disiplin, rasa hormat, pengendalian diri, dan semangat pantang menyerah.
“Teknik seperti flying side kick hingga pemecahan papan bukan sekadar menunjukkan kekuatan, tetapi juga melatih fokus, keberanian, dan kepercayaan diri,” tuturnya.
Kini, langkah Delvi kembali mengarah ke panggung internasional. Pada Agustus 2026, ia dijadwalkan tampil dalam Wu Kwon Championship 2026 pada nomor poomsae. Sebulan berselang, September 2026, ia kembali bertanding di Changmookwan Singapore Championship pada nomor poomsae dan speed kick.
Perjalanan Delvi Yani belum selesai. Masih banyak arena yang menunggu. Masih banyak tantangan yang harus ditaklukkan. Namun, selama disiplin tetap menjadi pijakan dan kerja keras terus menyala, setiap langkah yang ia ayunkan akan selalu membawa harapan.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri. Tetapi juga untuk Batam. Untuk Indonesia. Dan untuk mimpi-mimpi yang terus tumbuh di setiap hentakan kaki seorang atlet taekwondo.(chi)













