Dari Pulau Kasu untuk Nelayan Kepri, Iman Sutiawan Dorong Penataan Pesisir dan Bantuan Alat Tangkap

91

Batam, Posmetrobatam.co: Angin laut berembus pelan di pesisir Pulau Kasu. Di antara riak air yang memantulkan cahaya sore, suara mesin pompong bersahutan dengan tawa anak-anak pulau yang berlari di tepi dermaga. Di tempat seperti inilah Iman Sutiawan tumbuh dan mengenal kehidupan. Laut bukan hanya bentang alam baginya, tetapi ruang belajar tentang kerja keras, harapan, dan perjuangan hidup masyarakat pesisir.

Mungkin karena itu, setiap kali berbicara tentang nelayan, nada suaranya selalu berbeda. Lebih dekat. Lebih personal. Ia memahami bagaimana cuaca menentukan isi dapur keluarga, bagaimana ombak bisa menjadi sahabat sekaligus ancaman, dan bagaimana kehidupan masyarakat pulau sering berjalan jauh dari gemerlap pusat kota. Dari pengalaman itulah lahir kepedulian yang terus ia bawa hingga kini, ketika dipercaya memimpin DPRD Provinsi Kepulauan Riau.

Dalam berbagai perjalanan kerjanya, Iman tak hanya datang untuk seremoni. Ia memilih berjalan menyusuri kampung, duduk bersama warga, mendengar cerita nelayan, dan melihat langsung persoalan yang mereka hadapi. Di Desa Baru Limau, Kecamatan Ungar, Kabupaten Karimun, misalnya, ia melihat sebuah kampung nelayan yang menyimpan semangat besar untuk maju. Rumah-rumah sederhana berdiri menghadap laut, sementara warga berharap kampung mereka semakin tertata, indah, dan produktif.

BACA JUGA:  Intelkam Polda Kepri Bentuk FGD, Gen Z Banyak Tertipu Loker ke Luar Negeri Via Medsos

Dari pertemuan-pertemuan sederhana di tepi pantai itu, banyak gagasan lahir. Penataan kawasan pesisir, penguatan ekonomi nelayan, hingga pembangunan fasilitas pendukung menjadi pembahasan yang mengalir alami bersama masyarakat. Bagi Iman, pembangunan pesisir bukan hanya soal beton dan proyek fisik, melainkan tentang menjaga denyut kehidupan masyarakat laut agar tetap tumbuh dengan martabatnya sendiri.

Perhatian itu juga terlihat ketika ia kembali menginjak tanah kelahirannya di Pulau Kasu. Hari itu, ia berjalan meninjau pembangunan jalan sepanjang 3.200 meter yang bersumber dari dana pokok pikiran. Jalan yang perlahan terbuka di antara perkampungan itu mungkin tampak sederhana bagi sebagian orang. Namun bagi masyarakat pulau, jalan adalah urat kehidupan—memudahkan anak pergi sekolah, mempercepat akses kesehatan, dan membuka ruang ekonomi yang lebih luas.

Di tengah perjalanan meninjau pembangunan, Iman beberapa kali berhenti menyapa warga. Sesekali ia bercanda dengan nelayan yang baru pulang melaut, sesekali mendengar keluhan ibu-ibu tentang kebutuhan kampung. Tidak ada jarak yang terlalu formal. Sebab ia tahu, pembangunan yang baik selalu lahir dari percakapan-percakapan sederhana dengan masyarakat yang merasakan langsung dampaknya.

BACA JUGA:  Bintan Raih Terbaik I di Ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi 2026

Kepeduliannya kepada nelayan juga hadir dalam bentuk nyata. Boat mesin, sampan ketinting, jaring, bantuan budidaya, hingga alat tangkap disalurkan ke berbagai wilayah pesisir di Batam dan pulau-pulau sekitarnya. Di Tanjungriau, ia mendampingi Anggota DPR RI Dapil Kepri dari Partai Gerindra, Endipat Wijaya, menyerahkan puluhan sampan lengkap dengan mesin ketinting kepada para nelayan. Bantuan itu mungkin tak langsung mengubah segalanya, tetapi setidaknya memberi tenaga baru bagi mereka yang setiap hari bertaruh dengan ombak demi keluarga di rumah.

Yang menarik, perhatian Iman tak berhenti pada bantuan semata. Saat melihat proses pembuatan sampan untuk masyarakat, ia justru menyoroti tangan-tangan terampil anak pulau yang membuatnya. Baginya, sampan bukan sekadar alat transportasi laut. Ada pengetahuan turun-temurun, ada rasa terhadap laut, dan ada identitas masyarakat pesisir yang hidup di dalamnya. Karena itu, mendukung nelayan juga berarti menjaga budaya maritim agar tidak hilang ditelan zaman.

BACA JUGA:  Mempelajari Nilai-nilai Budaya, Agama dan Adat di Museum Raja Ali Haji Batam

Di sisi lain, kepedulian itu tampak ketika ratusan nelayan Kabupaten Bintan datang menyampaikan aspirasi terkait kebijakan Vessel Monitoring System (VMS) atau Sistem Pemantauan Kapal Perikanan. Iman menerima mereka untuk berdialog. Ia mendengar kegelisahan para nelayan kecil yang khawatir kebijakan tersebut justru memberatkan kehidupan mereka. Sebagai seseorang yang besar di lingkungan nelayan, ia memahami bahwa kebijakan seharusnya hadir untuk melindungi, bukan menjauhkan masyarakat dari laut yang menjadi sumber hidup mereka.

Barangkali itulah yang membuat banyak masyarakat pesisir merasa dekat dengannya. Sebab di tengah berbagai jabatan dan kesibukan politik, Iman Sutiawan tetap membawa cara pandang seorang anak pulau, bahwa laut harus dijaga, nelayan harus diperhatikan, dan pembangunan harus benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat kecil. Di Kepulauan Riau, tempat laut menjadi halaman depan kehidupan, kepedulian seperti itu bukan sekadar program kerja. Ia adalah bentuk keberpihakan yang nyata.**