JCGF 2026 Angkat Gamelan Ajeng Betawi, 8 Sanggar Tampil di TIM 11-12 Juli

71

Posmetrobatam.co: Jakarta Contemporary Gamelan Festival (JCGF) 2026 akan digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 11–12 Juli 2026. Festival ini menampilkan 8 sanggar gamelan, workshop, dan pemutaran film pendek.

JCGF 2026 mengusung misi mengangkat kembali gamelan Ajeng Betawi. Gamelan khas Betawi itu tidak hanya diposisikan sebagai objek pelestarian, tetapi juga sebagai sumber inspirasi penciptaan karya musik baru yang relevan dengan zaman.

Festival ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Ali Sadikin yang berlangsung 1–15 Juli di kawasan TIM dan Institut Kesenian Jakarta, yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

“JCGF 2026 fokus melestarikan budaya dan kesenian tradisi. Yang jadi fokus utama adalah gamelan Ajeng Betawi yang dibina Mang Olih atau Ahmad Olih dari Klub Tunas Pusaka Ipang Putra,” ujar Arham Ariyadi, panitia JCGF 2026, di TIM, Jakarta Pusat, Sabtu 4/7/2026.

BACA JUGA:  BSI Imbau Calon Jemaah Bersiap Lakukan Pelunasan Haji 1446 H

Peter Szilagyi selaku Direktur JCGF 2026 mengatakan, festival ini hadir karena suara gamelan, khususnya gamelan kontemporer, jarang terdengar di Jakarta. Padahal Jakarta adalah kota metropolitan yang menuju global city dan menjadi rumah bagi berbagai suku dari seluruh Indonesia.

“Kami melihat perkembangan gamelan berbeda-beda di tiap wilayah. Dalam satu dekade terakhir gamelan berkembang pesat, baik di dalam maupun luar negeri seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Ada grup gamelan di Jawa, Sunda, Bali, hingga Jakarta atau Betawi.

Orang tidak hanya mempelajari gamelan sebagai tradisi, tapi juga menciptakan musik baru dengan pendekatan berbeda. Banyak komposer yang mengembangkan bentuk baru seni gamelan dan tampil di berbagai festival, tapi jarang hadir di Jakarta. Seharusnya mereka juga berbagi dengan warga Jakarta agar tahu apa yang terjadi di daerah lain,” kata Peter Szilagyi, warga negara Hungaria yang kini menjadi WNI karena kecintaannya pada budaya Indonesia.

BACA JUGA:  Kemenag Luncurkan Al Quran Terjemahan Bahasa Gayo

Peter menuturkan ide awal festival ini muncul karena minimnya wadah khusus gamelan di Jakarta. “Tahun 2024 kami lacak, hanya ada satu komponis dari Bali, Dewa Alit, yang pentas di Teater Salihara. Akhirnya 2024 kami sepakat membuat forum dan platform untuk mempertemukan komposer dari berbagai wilayah, membicarakan perkembangan artistik dan ekosistem musik kontemporer khusus gamelan.

Kami mencari audiensi baru, dari generasi sepuh yang mengikuti perkembangan musik Indonesia sampai generasi Z. Tahun 2025 kami mulai mengadakan festival dengan tujuan agar tumbuh besar dan menjadi salah satu festival gamelan kontemporer terbesar di Indonesia,” imbuhnya.

Ke depan, Peter berharap JCGF bisa mendatangkan komposer dari berbagai grup di Indonesia maupun luar negeri. Tujuannya untuk memperkenalkan karya dan pemikiran mereka kepada audiens di Jakarta bahkan Indonesia.(fri)

BACA JUGA:  OJK dan SRO Gandeng Komunitas Bikers Tingkatkan Literasi Pasar Modal di Kalangan Generasi Muda