Eri, Pengusaha Bawang Goreng di Pinang Bertahan di Tengah Harga Bawang Merah dan Minyak Goreng ‘Selangit’

Waginem bersama suaminya saat mengupas bawang merah. Keduanya merupakan karyawan Eri. Foto:aiq

Pinang, Posmetrobatam.co: Sore itu, Eri, pengusaha bawang goreng merek Ilham, sedang ada di kediamannya, Kampung Mekar Sari RT 3/ RW 8 Kelurahan Pinang Kencana, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, Selasa (2/11) pukul 16.30 WIB.

Eri mengatakan dirinya sengaja libur. Ingin rehat sejenak, menikmati secangkir teh hangat bersama sang suami, Sudarmanto.

Saat Posmetrobatam..co bertandang ke rumahnya, Eri menyambut hangat penuh persahabatan.

“Silakan masuk, yuk,” katanya dengan senyum ramah.

“Maaf….dapur saya berantakan,” katanya, sedikit malu-malu.
“Beginilah, dapur pedagang bawang goreng. Dimana-mana ada bawang merah,” seloroh Eri.

“Jujur, dapurnya ini bukan sengaja disetting buat rencana usaha. Bahkan, usaha bawang goreng ini juga awalnya cuma iseng,” dengan gaya bertutur, Eri mengawali ceritanya pada Posmetrobatam.co.

“Dulu,” lanjutnya. Semua berawal dari cerita sedekah Jumat. Sekitar tahun 2021. Lewat sebuah kelompok pengajian, tiba-tiba lahir ide membuat bawang goreng untuk sedekah Jumat.

“Kalau tidak salah, anggotanya ada sekitar 7 atau 8 orang. Dengan semangat dan tekad baja, setiap Jumat kami buat bawang goreng lalu dibagi-bagikan ke orang lain.”

Setelah sedekah Jumat, meningkat lagi, punya ide untuk bisnis. “Akhirnya, kita buat bawang goreng. Hasil dari penjualan itu, dikumpulkan dan juga sebagian dibuat sedekah Jumat. Hasilnya lumayan mencengangkan. Setahun, dari hasil penjualan bawang goreng itu, terkumpul uangnya sekitar Rp50 juta.” cerita Eri penuh antusias.

“Tapi sayangnya, kelompok usaha bawang goreng yang kami bentuk itu, tak bertahan lama. Ada saja kendala yang dihadapi, hingga akhirnya kami bubar. Ya sudahlah. Mau bagaimana lagi?!.” sebut Eri sambil menghela nafas, mengenang kekecewaan itu.

BACA JUGA:  Progres Rempang Eco-City, 25 KK Sudah Tempati Hunian Sementara

Masih menurut cerita Eri, entah kenapa, sekitar April/ Mei, ia iseng ingin memulai lagi bisnis bawang goreng itu. Tercetus ide, kali ini bawang gorengnya diberi nama Bawang Goreng Ilham. Nama Ilham sendiri tak lain adalah nama keponakannya.

“Akhirnya saya mencoba mulai bisnis bawang goreng lagi. Tapi, sendiri. Bukan bersama dengan kelompok pengajian yang dulu,” ujarnya.

“Kali ini, yang bantu usaha saya, hanya suami. Kalau tidak ada tugas kantornya, suami lebih betah di rumah, bantu kupas bawang merah. Lagi pula, saya hanya ibu rumah tangga. Untuk mengisi waktu luang, saya iseng buat usaha bawang goreng ini. Alhamdulillah, suami juga ikut membantu,” cerita Eri blak-blakan.

Tidak ada karyawan pada awal merintis usaha. Selama empat bulan pertama, seluruh pekerjaan dikerjakan berdua bersama suami.

Mulai dari mengupas bawang merah, mengiris, menggoreng hingga menyiapkan produk untuk dijual.

Semuanya dilakukan dengan peralatan dan kemampuan yang ada saat itu.
Satu karung bawang merah menjadi awal perjalanan produksi bawang goreng Ilham.

“Beratnya sekitar 7,5 hingga 8 kilogram.
Kala itu, produksi masih terbatas. Dalam seminggu, saya hanya mampu mengolah satu karung bawang merah. Seiring berjalannya waktu, dan ditambah dengan semangat pantang menyerah, seminggu meningkat jadi 15 karung. Soalnya ada tetangga, Mbak Waginem, suaminya dan juga anak bujangnya bersedia membantu kupas bawang merah. Alhamdulillah kita kerjasama. Mbak Waginem terbantu, karena dapat upah dari mengupas bawang merah, dan produksi bawang goreng saya juga meningkat. Jadi kalau ditotal, sebulan bisa mengolah 60 kg bawang merah, jadi bawang goreng siap saji,” sebut Eri panjang lebar.

BACA JUGA:  Krisis Air Baku di Nongsa, BP Batam Gelar Salat Istisqa di Waduk Nongsa

Tak pernah terbayangkan, usaha yang telah dijalani kurang lebih 4 tahun itu, bukan dari sebuah perencanaan bisnis besar, tetapi dari kebersamaan bersama teman-teman dalam kegiatan sedekah Jumat.

Bawang merah yang awalnya hanya menjadi bahan pelengkap masakan di rumahnya, justru membawa perjalanan panjang bagi Eri untuk membangun bisnis dari dapur rumahnya.

Bertahan di Tengah Perubahan Harga

Menjaga usaha selama bertahun-tahun itu tak mudah. Apalagi, saat terjadi perubahan harga bahan baku.

Disana, rasanya Eri ingin menyerah. Tapi, itu bukan pilihan bagi sosok Eri, yang mulai dikenal sebagai pengusaha perempuan tangguh.

“Bayangkan saja, tahun 2023 yang waktu itu harga bawang merahnya hanya Rp90 ribu per karung. Sekarang jadi Rp210 ribu sampai Rp240 ribu. Belum lagi minyak goreng. Kenaikan harga kedua bahan tersebut berpengaruh terhadap biaya produksi dan keuntungan yang diperoleh. Ampun rasanya,” ucapnya sembari geleng-geleng kepala.

Dalam proses penggorengan, Eri mengaku konsisten menggunakan minyak goreng merek tertentu. Karena, dia tak ingin kualitas bawang gorengnya buruk, ketika harus menukar merek minyak goreng yang lain.

Tak hanya itu, persaingan harga juga semakin terasa. Produk bawang goreng kini banyak ditemukan di berbagai platform penjualan daring. Termasuk di toko Keranjang Oren.

BACA JUGA:  Menteri Investasi RI Dukung Percepatan Relokasi Masyarakat Rempang

“Kondisi ini membuat saya harus lebih cermat, memperhitungkan biaya produksi dan menentukan harga jual. Sebab, harga bahan baku tidak selalu stabil.
Tuntutannya, harga produk yang dihasilkan harus tetap mampu bersaing di pasaran. Tidak mudah bukan, bertahan di tengah perubahan harga bahan baku?” ucapnya lagi, penuh makna.

Terakhir, saat ditanya soal distribusi pemasaran produk bawang gorengnya, Eri menyebutkan, ada sekitar 60 supermarket, swalayan, warung dan toko kelontong di Tanjungpinang dan Kijang, sudah menjadi pelanggan tetapnya.

“Antar produk bawang gorengnya juga, berdua sama suami saja. Kalau suami sedang sibuk dengan urusan kantor, terpaksa antar sendiri,” kata Eri mengakhiri percakapan penuh bangga.(aiq)

Statistik artikel
Tampilan:
Klik: 0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *