ISTRI PAJANGAN Bagian 75: Gilang Ingkar Janji

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam

Udara Jogja pagi itu, begitu sejuk. Di kota ini, Rihana berjanji, akan memberikan sepenuh hidupnya pada Cahyo.
Laki-laki yang selalu dia puja sejak pertama bertemu.

“Sementara, kita menginap di hotel ya…sembari mencari rumah kontrakan,” kata Cahyo penuh antusias.

“Iya Mas,” jawab Rihana yang tak kalah antusias dan semangat, memulai hidup barunya dengan Cahyo.

Sudah sepekan, Rihana, Cahyo dan Riko tinggal di hotel.

“Mas…gimana ini kita mau sampai kapan tidur di hotel. Pasti bayarnya nggak murah, ini,” Rihana gelisah.

“Tenang sayang. Besok pagi kita lihat bareng yuk rumahnya. Aku sudah dapat rumahnya. Kalau kamu setuju, tinggal bayar. Kita sewa sementara enam bulan saja. Setelah itu kita cari lokasi tanah, yang menurut kamu bagus. Terus kita bangun istana disana.” ucap Cahyo bersemangat.

“Serius Mas?” Rihana kegirangan.
“Kalau Mas nggak sibuk. Kita lihat sore ini aja yuk. Kita nggak sabaran nih!” pinta Rihana.

“Lagian udah gerah aku, Mas tinggal di hotel begini.” ucap Rihana berusaha meyakinkan Cahyo.

“Iya. Sama aku juga gerah sebenarnya. Kalau begitu, sekarang kita istirahat dulu, sore kita jalan. Cari mobil rental. Kita ke lokasi rumahnya.” sebut Cahyo.

“Riko, ikutan nggak nanti sore, atau mau di hotel aja…istirahat?!” tanya Rihana.

“Iya Ma. Aku ikutan aja.” kata Riko mantap.

“Ma. Gilang kapan nyusul ke Jogja?” Riko tiba-tiba gelisah memikirkan adiknya.

“Coba tanya ke Gilang, dong! Tapi dia sepertinya betah menemani papa Bagas.” sebut Rihana.

“Mama juga sebenarnya bingung ini mikirin Gilang. Terus gimana juga sekolah dia kalau lama-lama di sana. Soalnya surat pindah Gilang ke sekolah di Jogja ini, sudah Mama urus.” Rihana pun ikutan panik sendiri memikirkan nasib Gilang, yang masih di bawah kendali Bagas.

“Ssttt…..Riko coba video call nih Ma sama Dek Gilang. Mama mau ikutan gabung nggak video call nya?!” tanya Riko.

BACA JUGA:  Marco Ivanos dan Debi Sagita Resmi Menikah

Tak lama, Riko dan Gilang terhubung dalam sambungan seluler video call.

Gilang mengaku masih harus menemani Bagas. Sebab, kondisi Bagas masih belum memungkinkan kalau nggak ditemani.

“Papa kasian tahu, harus ada yang merawat.” ucap Gilang meyakinkan Riko.

“Iya…..Dek. Tahu. Tapi gimana dengan sekolah kamu. Senin ini, Abang sudah masuk sekolah yang baru. Terus kamu gimana coba?” Riko mencoba menasehati adiknya.

Gilang terdiam. Tapi tak lama dia berjanji akan menyusul ke Jogja secepatnya.

“Gilang janji Bang, secepatnya ke Jogja.” ucap Gilang meyakinkan Riko.

“Kapan?!” desak Riko.
“Minggu depan ya bang. Adek temani papa Bagas sebentar. Kalau sudah agak lumayan, Papa Bagas aku tinggal,” sebut Gilang serius.

“Janji ya. Minggu depan, Abang telepon lagi, ya Gilang!” tegas Riko.

“Iya…..Oke. Ya sudah bang. Adek mau temani papa Bagas. Rencana, besok papa Bagas sudah diperbolehkan balik. Jadi besok Gilang sudah di rumah Papa Bagas,” kata Gilang lagi, penuh antusias..

Tak lama, mereka pun mengakhiri percakapan.

Rihana yang mendengar percakapan Riko dan Gilang, serasa was-was. Khawatir kalau Gilang dipengaruhi Bagas, lalu gagal pindah ke Jogja.


Sepekan kemudian, Riko mencoba menghubungi Gilang. Dugaan Riko benar. Adiknya itu bakal ingkar janji.

Kata Gilang, merasa kasian dengan Papa Bagas, tak ada yang merawatnya kalau dalam kondisi tak enak badan.

“Gilang. Kamu paham nggak sih Dek! Kamu itu masih harus sekolah. Papa Bagas itu banyak duit. Suruh aja dia sewa perawat, apa susahnya!” Riko mulai terbawa emosi karena baru kali ini adiknya itu nggak mau nurut apa kata Riko.

Padahal, biasanya apa kata Riko, Gilang pasti patuh. Nggak berani membantah.

Di mata Gilang, Riko itu pelindung yang ditakuti sama Gilang.

“Sini biar Abang ngomong sama Papa Bagas. Lagian kenapa juga Papa Bagas ini nggak mikirin Gilang. Papa Bagas kan seharusnya tahu, kalau Gilang ini seharusnya sekolah. Bukan dijadikan perawat buat Papa Bagas. Udah Dek..Kamu jangan aneh-aneh ya. Besok pagi kamu harus siap-siap berangkat ke Jogja. Nanti biar aku minta Papa Bagas belikan tiket pesawatnya buat kamu? Titik. Nggak usah pakai tapi-tapi segala!” tegas Riko lagi.

BACA JUGA:  Wanda Hara, Fashion Stylist Pria yang Disorot Publik Karena Hadir di Pengajian dengan Gamis dan Cadar Dituduh Melakukan Penistaan Agama

“Tolong berikan ponsel kamu ke Papa Bagas. Biar Abang yang ngomong ke papa, biar besok, papa mengantar kamu ke bandara.” desak Riko.

“Tapi, Bang…Papa Bagas masih sakit.” Gilang berusaha memberikan pembelaan buat Bagas.

“Iya, tahu Dek. Sini Abang mau ngomong sebentar sama Papa. Berikan ponsel kamu ke papa. Sepuluh menit aja Abang mau ngomong,” Riko ngotot mau bicara sama Bagas. Tapi di sisi lain, Gilang masih tak memberikan izin.

“Besok aja Bang. Besok kan papa pulang. Nah waktu sudah di rumah aja, Abang ngomong sama Papa Bagas ya. Kalau sekarang, kondisi papa masih kurang nyaman diajak bicara lewat ponsel.” ucap Gilang seakan bertindak sebagai dokter pribadi Bagas.

Bagas menarik nafas panjang. Dia mendengar percakapan Gilang dan Riko. Bagas tahu, Riko begitu memaksa Bagas untuk segera melepas Gilang.

“Pa………Papa tenang. Gilang akan jaga papa sampai papa sembuh.” ucapnya setelah mengakhiri percakapannya dengan Riko.

Bagas yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit itu, hanya tersenyum.

Dalam hati, dia bahagia, ternyata Gilang masih berpihak padanya.


“Ma..sepertinya Mama deh yang ngomong ke papa Bagas. Soalnya kalau aku lihat, Gilang itu dipengaruhi Papa Bagas, biar dia nggak tinggal sama mama di Jogja.” sebut Riko mencoba menduga apa yang terjadi dengan Gilang.

Rihana percaya apa kata Riko. Tapi, dia tak ingin menunjukkan itu ke Riko.

Rihana tak ingin mengajari anak lelakinya itu menanam kebencian pada Riko. Bahkan, sejauh ini, Rihana juga masih menutupi kejahatan Bagas pada kedua anak lelakinya itu.

BACA JUGA:  Choi Siwon, Jung In Sun, Lee Tae Hwan, dan Jung Yoo Jin akan Main Drama DNA Lover

“Gilang….Gilang….Andai kamu tahu papa kamu jahat, pasti kamu nggak bakal ngotot belain papa kamu,” ucap Rihana dalam hati.


“Gilang…apa kabar…..Mama rindu Gilang lho!” sapa Rihana.

“Kamu nggak rindu ya sama Mama?!” Rihana melihat pesannya belum dibuka Gilang.

Dengan perasaan was-was, sudah lima menit pesan Rihana tak kunjung dibalas Gilang.

Bahkan, setengah jam berlalu, Gilang masih belum membuka pesannya.

“Kemana anak ini?!” batin Rihana. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk meneleponnya saja.

Lagi-lagi, Rihana masih harus menelan kekecewaannya. Benar-benar tak ada respon dari Gilang.

“Riko. Coba tolong hubungi adik kamu. Mama chat, dari tadi nggak direspon.” pinta Rihana was-was.

Riko pun melaksanakan perintah Rihana. Ternyata Riko mendapat nasib yang sama. Usaha menghubungi Gilang, tak berhasil.

“Ma. Pesannya memanggil. Tandanya ponsel Gilang nggak aktif Ma.” sebut Riko. Mendengar itu dari Riko, Rihana serasa tak berdaya.

“Kemana adik kamu itu ya?!” Rihana gelisah tak menentu.

“Paling dia lagi sibuk ngurus papa Bagas Ma.” jawab Riko santai.

Dia coba menenangkan pikirannya. Membuang jauh-jauh semua prasangka buruknya terhadap Bagas.

“Nanti kalau kamu nggak sibuk. Coba hubungi lagi ya adik kamu itu. Mama sedih, kenapa sih doa ngotot merawat papa kamu. Dia itu masih bocil. Tugas dia cuma belajar. Mama yakin pasti dia dipengaruhi papa kamu, supaya betah tinggal sama dia,” Rihana su’udzon ke Bagas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *