Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam
Diam-diam, Rihana mulai mencari tahu tentang sosok Cahyo di sosial media.
Sayangnya, identitas Cahyo, tak banyak ditemukan Rihana. Hanya ada beberapa pemberitaan tentang PLN, yang didalamnya menampilkan foto Cahyo, selaku Direktur PLN.
Satu momen penting, tertangkap di layar ponsel Rihana, acara senam sehat bersama PLN, yang pernah diikutinya, ternyata ada foto Cahyo menyerahkan hadiah utama berupa motor, kepada Rihana kala itu.
“Oh iya waktu itu aku kan dapat motor yang menyerahkan hadiahnya itu kan Direktur PLN. Tapi waktu itu kenapa aku sama sekali tak mengenali kalau Cahyo itu adalah sosok yang lama aku cari. Maklum, sudah berpisah puluhan tahun dan aku tak mengingat seperti apa wajah Cahyo.” cerita Rihana pada Fitriani.
“Hmm dasarโฆโฆ! Katanya idolanya. Tapi nggak ingat sama wajah idolanya.” Fitriani mengejek.
“Hahahahaha iya. Maklum lah kan sudah aku bilang, puluhan tahun nggak ketemu.” sebut Rihana.
“Temani aku ke kantor PLN yuk.” ajak Rihana.
“Ngapain mau kesana?! Nyari Cahyo? Betul dikit kamu. Nanti dikira kita murahan.” Fitriani protes.
“Temani aku pokoknya. Bukan nyari dia, dodol! Aku mau bayar listrik bulanan.” jelas Rihana beralasan.
“Hahahahah. Tapi tujuan utama biar bisa ketemu Cahyo kan?! Jujur?” tebak Fitriani, tak salah lagi.
“Hahahaha. Jangan bilang bilang sama Bagas ya!” pesan Rihana penuh harap.
“Tapi harus ada uang tutup mulutnya, baru aku mau diam!” canda Fitriani.
“Ih dasar matre memang cewek satu ini. Nanti kita makan di KFC, tapi syaratnya waktu balik dari PLN ya!” janji Rihana.
Fitriani pun senang banget. Tapi, sebelumnya dia izin mau balik dulu ke rumah, mandi dan berdandan.
“Sebenarnya yang mau jumpa Cahyo siapa, coba?! Udah begini saja. Kamu udah oke!” protes Rihana.
Tapi sekali lagi Fitriani ngotot mau balik dulu mandi. Lagi pula, dia main ke rumah Rihana, belum mandi.
“Buruan ya sebelum jam 11.00 wib dirimu harus sampai rumah aku. Atau, aku ikut aja ke rumah kamu. Biar kita berangkat dari rumah kamu saja. Nanti baliknya aku antar lagi ke rumah kamu.”
Fitriani setuju saja dengan usulan Rihana.
Tak lama, Rihana sampai di kantor PLN. Seperti biasa, dia menuju ke loket pembayaran.
“Sudah kan bayar Listriknya? Tapi orang yang dicari, nggak ketemu.” celetuk Fitriani.
Tanpa sengaja, Fitriani melihat ada pengumuman soal senam sehat yang bakal diadakan Minggu depan.
“Ri. Lihat!” kata Fitriani menunjukkan papan pengumuman acara senam sehat bareng PLN.
“Ikutan yuk!” ajak Fitriani.
“Oh jelas.dong!” sahut Rihana penuh semangat.
“Ya sudah. Nggak ketemu Cahyo kali ini. Semoga ketemu di acara senam sehat Minggu depan.” celetuk Fitriani menghibur Rihana yang terlihat kecewa karena nggak bisa ketemu Cahyo.
Tanpa berpikir panjang, Rihana langsung menghubungi panitia senam sehat bersama, mendaftarkan diri jadi peserta.
“Oke Kak. Nama kakak kami catat ya. Nanti, saat hari H. Datang ke kantor PLN. Acara senam sehat bersamanya kita adakan di halaman kantor PLN.” jelas seorang perempuan yang dihubungi Rihana by ponsel genggamnya.
“Bayar atau gratis ya Mbak, daftar acara senam sehatnya?!” tanya Rihana masih stay di ponsel genggamnya.
“Gratis Kak.” jawab perempuan itu.
“Baik..Kak..ada yang ditanyakan lagi?” tanya perempuan itu.
“Tidak ada.” jawab Rihana singkat.
Demi persiapan acara senam sehat bersama
PLN, Rihana hunting baju senam di beberapa boutique langganannya.
Cari Baju Senam
Demikian Rihana menuliskan story nya.
Orang yang paling pertama berkomentar soal statusnya, Fitriani.
“Beuhhh. Demi si ganteng ini pasti nyari baju senam. Cari yang model sexy ya. Biar dilirik sama Pak Direktur.” kata Fitriani menanggapi story Rihana.
“Hahahahha!” balas Rihana. Dia juga melepas tawa sendiri saat membaca pesan Fitriani.
“Dasar si kepo!” tambah Rihana lagi mengirimkan balasan susulan.
Rihana berharap, acara senam sehat bersama PLN itu digelar setiap Minggu.
“Semoga aja direkturnya berbaik hati, menggelar acara senam sehatnya setiap Minggu.” kata Fitriani.
Apa yang ada di pikiran Rihana, sepertinya terbaca Fitriani.
“Hahahaha. Mau nya aku sih kayak begitu. Jadi, kalau acara itu diadakan setiap Minggu. Pasti sang direktur tampan itu kan hadir juga!” kata Fitriani berkhayal.
Masih tak puas. Setelah scrol-scrol di Face Book mencari nama Cahyo tak banyak memberinya informasi, Rihana mencoba berselancar di instagram.
Diketik dia nama Cahyo Ningrat di pencarian.
Rihana sedikit bersemangat karena ada satu akun yang menggunakan foto Cahyo Ningrat.
“Yah tapi postingannya nggak ada.” gumam Rihana sedikit kecewa.
Rihana mengambil kesimpulan, kalau Cahyo Ningrat bukan orang yang suka bermain di media sosial.
“Semoga suatu hari, ada keajaiban. Ada yang memberiku informasi soal sosok Cahyo,” batin Rihana penuh harap.
Sejenak, Rihana berusaha melupakan Cahyo, yang belakangan mengganggu pikirannya.
Gilang, tiba-tiba memaksa Rihana mengajak ke mall. Katanya mau beli tas. Karena tas lamanya sudah nggak nyaman dipakai.
Demi menuruti kemauan anak bujangnya itu, Rihana pun meluangkan waktunya buat jalan bareng Gilang, ke Mall.
“Ma. Nanti tas Gilang beli dua ya. Buat ganti-ganti.” pinta Gilang manja.
“Hmmmโฆ.untung saja mama ini banyak duit. Minta beli tas kok langsung dua. Luar biasa memang anak mama satu ini!” celetuk Rihana.
Sebenarnya nggak masalah anaknya mau minta tas berapa. Mau mahal atau murah. Itu bukan masalah serius buat Rihana.
Saat ini, yang jadi masalah serius buat Rihana, hanya ingin berpisah dari Bagas.
Di otaknya, dia hanya ingin hidup tenang tanpa drama. Batinnya sudah lama terluka akibat ulah Bagas yang seenaknya.
Suami cuek dan seenaknya sendiri sama istri. Tapi di sisi lain Rihana heran. Bagas sempat menyita kunci mobilnya saat Rihana hendak pergi ke acara reuni.
Rihana menarik nafas dalam-dalam. Terus berdoa setiap waktu, agar dia bisa terbebas dari belenggu Bagas.
Masih teringat di otak Rihana, tentang kata-kata Bagas.
“Memangnya kamu mau makan sama apa, kalau cerai dari aku? Pasti kamu bakal jadi gembel di jalanan sana!” kalimat Bagas begitu memberinya tantangan. Justru dia berpisah dari Bagas, dia bakal hidup bahagia.
“Nggak..Aku nggak akan takut hidup gembel, setelah berpisah dari dia. Uang aku banyak. Memang, tak bisa aku pungkiri. Semua uang asalnya pemberian dari Bagas. Tabungan aku cukup, meski nantinya harus menyandang status janda. Janda kaya!” seloroh Rihana menghibur diri sendiri.
“Ma..Sore ya kita ke mall,” tiba-tiba Gilang menentukan kapan waktunya mencari tas yang diinginkannya.
“Janji ya Ma. Gilang boleh beli tas dua!” Gilang memastikan apa yang dia pinta dari mamanya.
“Ya ampun Gilang. Kamu nggak percaya mama?!” protes Rihana.
“Ya nanti pas sampai mall..Mama bilang nggak usah beli tas dua..nanti kalau rusak aja, beli lagi. Kan Gilang butuh buat ganti-ganti. Satu tas sekolah. Satu lagi buat tas kalau latihan tenis meja.” sebut Gilang meyakinkan Rihana.
“Lho sejak kapan ikutan tenis meja?” tanya Rihana heran.
“Baru seminggu ini,.Ma.” jawab Gilang.
“Oh. Bagus kalau begitu. Tapi jangan sampai lupa dengan tugas utama, belajar.” Rihana mengingatkan anak bujangnya itu.
“Siap!” jawab Gilang penuh bahagia.(*)









