ISTRI PAJANGAN Bagian 8: Ulang Tahun Gilang

64

Karya: baiq desi rindrawati
Wartawan senior posmetro batam


Sepekan belakangan, Bagas jarang balik ke rumah. Dia lebih betah tidur di kantor. Apalagi, di kantor sering ada agenda rapat pertemuan dengan tim sukses.
Rihana, tak mau ambil pusing soal itu. Bagas mau pulang atau nggak, sama saja. Tidak ada bedanya. Bahkan, boleh dibilang entah sudah berapa purnama, Rihana tak lagi bersentuhan dengan Bagas. Bagas juga tak menuntut Rihana harus melayaninya di ranjang. Hidup masing-masing, itu istilah yang paling tepat.

“Rihana,” tiba-tiba mertua Rihana muncul. Setahu Rihana, tadi dia keluar sejak pagi bersepeda. Rihana tak menyadari kalau mertuanya itu sudah di rumah.

“Rihana. Kenapa Bagas nggak pulang ke rumah sudah semingguan ini?” tanya Broto, sang mertua.

Rihana bingung mau jawab apa. Tapi, sebisa mungkin Rihana tetap saja berusaha membela Bagas. Ditutupi kesalahannya. Itu karena Rihana masih segan dengan sang mertua yang super super baik itu.

“Masih ada agenda rapat bareng tim sukses, di kantornya, Pak.” jelas Rihana meyakinkan Broto.

“Kalian nggak sedang bertengkar, kan?” tanya Broto penasaran.

“Nggak, Pak.” jawab Rihana tenang.
Tapi, pertanyaan Broto tidak sampai disana. Ada pertanyaan susulan yang buat Rihana bingung harus menjawabnya dengan jujur atau menyembunyikannya.

“Ri. Bapak mau tanya. Hubungan kamu sama Bagas, sebenarnya seperti apa. Kalian masih berhubungan intim kan?” tanya Broto tanpa tedeng aling-aling.

Rihana terperangah dan salah tingkah, mendapat pertanyaan itu.
“Lagian kenapa sih bapak mertua satu ini, ngurusin soal urusan ranjang anak menantunya? Kenapa nggak tanya langsung ke anak dia sih!” gerutu Rihana dalam hati.

“Jawab Ri. Terus terang sama Bapak. Kita kan sudah sama-sama dewasa. Bapak tahu kamu nggak bahagia kan sama Bagas?” desak Broto pada Rihana.

Rihana terdiam dan coba mengalihkan pembicaraan lain.
“Pak, besok ulang tahun Gilang. Rencana anak bujang itu mau ajak Bapak makan di luar.” sebut Rihana menutupi kepanikannya karena tak bisa menjawab pertanyaan sang mertua.

“Nggak mau. Sebelum kamu jawab pertanyaan bapak,” kata Broto mengelak ajakan Rihana.

Tiba-tiba Gilang muncul.
“Kek. Kakek. Besok Gilang ultah ke- 12. Kita makan KFC ya, sama Mama.” ucap Gilang penuh bahagia dan riang gembira.

BACA JUGA:  Trailer Film Harta, Tahta, Raisa Telah Dirilis

“Besok Kakek ada kerja. Mau janjian sama kawan,” jawab Broto alasan.

“Yah. Kakek. Ayo, Kek. Sesekali kita makan bareng di luar.” bujuk Gilang lagi terus berusaha merayu lelaki gaek itu.

“Ma..berarti besok kita berdua saja. Papa sibuk kampanye terus. Nggak ada waktu buat Gilang. Kakek juga nggak mau diajak. Capek deh!” Gilang kecewa. Dia pun bergegas masuk kamar.

Rihana kembali menelan salivanya. Dia bisa merasakan bagaimana Gilang kurang kasih sayang dari Bagas.

Tapi, mau bagaimana lagi, kondisinya memang sudah separah ini. Bagas nyaris tak punya waktu buat keluarga.

“Ah masa bodoh. Situasi ini, bukan masalah besar buat aku. Semoga Gilang juga terbiasa meski tanpa perhatian Bagas.” batin Rihana bergejolak. Berharap Gilang perlahan bisa menerima keadaan ini.

Rihana mencoba mendekati Gilang yang masuk ke kamarnya.
“Sayang. Anak bujang mama. buka pintunya,” pinta Rihana yang mencoba masuk kamar Gilang tapi dikunci dari dalam.

“Batal aja Ma makan di KFC nya!” teriak Gilang, emosi.

“Sayang. Buka pintunya,” bujuk Rihana mulai panik melihat Gilang merajuk.

“Sayang. Mama mau Gilang buka pintunya sebentar saja,” pinta Rihana lagi untuk kesekian kalinya.

“Cah bagus Gilang. Buka Nak,” bujuk Broto. Kali ini, gantian Broto yang merasa bersalah. Tak memberikan perhatian ke cucunya itu.

“Gilang. Buka pintunya. Besok Kakek mau ikut makan KFC nya, boleh kan. Kakek juga kepingin makan ayam KFC. Soalnya sudah lama nggak makan ayam KFC,” sebut Broto panjang lebar.
Tanpa banyak berpikir, Gilang langsung buka pintu.

“Serius ya besok kakek ikutan makan KFC. Besok Gilang yang traktir Kek, pakai uang tabungan Gilang,” ucap Gilang yang wajahnya berubah sumringah setelah Broto menyatakan ingin ikut serta makan bareng Gilang.

“Besok jam berapa. Biar kakek batalkan saja janji ketemuan sama kawan kakek,” ucap Broto, janji pada Gilang.

“Yessss. Gitu dong Kek, untuk cucu yang paling ganteng, harus mau kalau diajak makan bareng. Apalagi makan nya ayam KFC. Mahal lho Kek, ayam.KFC itu.” cerita Gilang penuh antusias.

BACA JUGA:  Iron Family Makin Seru Kim Jung Hyun Beradu Akting dengan Geum Sae Rok

Rasa kecewa Gilang, soal Bagas yang tak ada waktu buatnya, tiba-tiba hilang, tergantikan oleh kesanggupan Broto yang berjanji mau diajak makan bareng.

“Kek. Kakek ngasih kado apa buat Gilang,” tanya Gilang, to the point.
Broto, yang kaya raya tujuh turunan itu langsung menjanjikan beli motor ninja.

“Harga motor Ninja berapa ya Gilang?!” tanya Broto serius.

“Yess! Jadi, kakek mau ngasih kado motor Ninja ya?!” tanya Gilang bersemangat.

“Iya tapi dalam bentuk uang. Soalnya kamu kan masih usia 12 tahun mana boleh pakai motor. Apalagi pakai motor ninja.” jelas Broto.

Gilang terdiam. Tapi dia juga berpikir apa yang dikatakan lelaki tua itu, benar.

“Besok, setelah makan bareng, kita ke bank ya. Gilang buka buku tabungan baru. Uang motor ninja nya kakek transfer ke rekening Gilang. Boleh diambil uang itu untuk beli motor Ninja, kalau Gilang sudah 17 tahun,” jelas Broto lagi panjang lebar.

Gilang yang sempat kecewa, akhirnya setuju dengan apa yang dibilang Broto.

“Boleh diambil untuk keperluan Gilang, kalau Gilang mau beli keperluan sekolah Gilang. Nanti, kalau sudah 17 tahun, dan Gilang kepingin beli motor ninja, baru boleh diambil saldo yang ada di rekening itu.” tambah Broto.

“Okeyyyy Kakek Broto tersayang,” Gilang langsung menghambur ke Broto, sembari mengucapkan terima kasih pada lelaki tua itu.

Sebenarnya Broto, merasa sedih. Dia tahu, cucu nya itu kurang perhatian dari orang tuanya. Terutama Bagas. Broto tahu, Bagas sibuk dengan dunia sendiri dan mengabaikan keluarga kecilnya.

Broto hanya bisa mengelus kepala bocah itu, dan mendoakan, semoga Gilang jadi anak yang hebat kelak sudah dewasa.

“Gilang. Kalau sudah peluk-pelukan sama kakek, sana masuk kamar. Besok kita ke KFC nya siangan ya.* kata Rihana pada Gilang. Gilang mengangguk bahagia, dan dia bergegas masuk kamarnya lagi.

“Ri. Bapak tahu, kalau kalian nggak bahagia sama Bagas. Mulai sekarang, aku serahkan keputusan terbaiknya sama kamu. Kamu mau bertahan atau mau bercerai dari Bagas, silakan Ri. Maaf ya selama ini bapak selalu menahan-nahan kamu, supaya kamu nggak cerai sama Bagas.” ucap Broto lirih.

BACA JUGA:  Moon Sang Min dan Shin Hyun Been Bertemu dalam Cinderella At 2 AM

Ada rasa bersalah, yang selama ini dia tak menyadarinya. Broto tahu, Rihana memendam penderitaannya itu sendiri. Broto tahu, Rihana pura-pura bahagia di depan Broto.

Tak terasa, Rihana meneteskan air mata. Dia tak tahu harus bilang apa ke Broto.

Dia sudah lama ingin melepaskan diri dari Bagas dan juga keluarga ini . Tapi, Broto masih menahannya. Kali ini, Broto ingin berlapang dada, ingin belajar menerima sesuatu yang tak utuh lagi seperti dulu.

Broto tahu, sepertinya Bagas tak mencintai Rihana lagi. Tapi, lagi-lagi, Broto hanya menduga-duga.
Faktanya, Bagas memang tak mencintai Rihana lagi. Rihana merahasiakannya.

Broto coba mengakui kesalahannya di depan Rihana, Broto meminta maaf yang sedalam-dalamnya, karena merasa gagal menjadi mertua.

“Ri..Bapak sudah anggap kamu sebagai anak sendiri. Kalau kamu nanti memutuskan pergi dari rumah ini, dari kehidupan Bagas, jangan putus tali silaturahmi sama Bapak ya.” pinta Broto lirih.

Broto kecewa dengan Bagas. Kenapa Bagas menyakiti perempuan sebaik Rihana.

Di luar sana, Broto berpikir, tak ada perempuan/ menantu sebaik Rihana. Mengalah meski diperlakukan tak adil oleh Bagas.

Rihana tak bisa berkata-kata. Dia hanya diam seribu bahasa sambil menitikkan air mata.

“Sudah Ri, jangan nangis. Bapak akan selalu ada untuk Rihana dan juga anak-anak Rihana. Mereka cucuku yang paling berharga,” ucap Broto yang matanya mulai berkaca-kaca karena menahan sedih.

Hari itu, Broto merasakan sudah berpisah dengan Rihana dan juga kedua cucu lelakinya.

“Ri. Kalau kamu nggak keberatan, biarkan Gilang dan Riko tinggal di rumah ini ya. Rumah sebesar ini, rasanya sepi tanpa kedua cucuku itu.” Broto terbata-bata mengatakan itu.

Dia merasa akan ditinggal sendirian oleh Rihana.
“Jangan lupakan bapak ya Ri. Meski selama ini aku jahat sama kamu.” pinta Broto lagi, memelas penuh harap.

Rihana masih terdiam. Tak bisa berkata-kata lagi. Tangisnya semakin pecah saat mengetahui Broto tak ingin dilupakan.
Dalam tangisnya yang pecah, Rihana hanya sanggup menganggukkan kepalanya.(*)