Karya: baiq desi rindrawati
wartawan senior posmetro batam
“Nyonya Cahyo. Posisi dimana?! Aku jemput ya?!” Cahyo mengirim pesan itu ke Rihana.
“Nyonya Cahyo?!” Rihana senyum-senyum sendiri membaca chat singkat itu dari Cahyo.
“Hallo. Apakah pemilik nomor WhatsApp ini ada?!” canda Cahyo lagi, masih lewat chat.
Belum sempat Rihana membalas pesan Cahyo yang pertama, pesan kedua sudah ada.
“Iya….maaf Mas. Tunggu aku on the way.” balas Rihana masih ke-GR an baca pesan Cahyo tadi.
“Apakah berkenan kalau saya jemput saja?! Kendaraan kamu parkir dimana gitu.” kata Cahyo lagi.
“Nggak apa Mas saya langsung saja ok the way ke Kafe Queen yang Mas Cahyo maksud kemarin.” balas Rihana.
Bagi Rihana, tawaran untuk dijemput Cahyo itu, sangat mustahil dia terima. Apalagi baru pertama mau ngedate. Jelas Rihana jaga image.
“Oh begitu. Baiklah Nyonya Cahyo.” balas Cahyo lagi, sengaja berniat untuk menggoda Rihana.
“Ih Nyonya Cahyo. Apa nggak GR aku kayak begini, pakai dipanggil Nyonya Cahyo segala,” gumam Rihana yang masih senyum-senyum sendiri.
Nyaris seperempat jam, Rihana di dalam mobilnya, ke-GR an baca chat dari Cahyo. Kata-katanya buat Rihana tersanjung tingkat dewa.
“Berapa menit lagi kira-kira yang sampai. Soalnya dari tadi saya di kafe ini sudah setengah jam, menunggu Nyonya Rihana. Mana terus dilirik sama cewek-cewek yang ada di sini. Hahahahaha!” Cahyo sedikit menguji mental Rihana, dia ingin tahu apa respon Rihana kalau tahu dirinya jadi pusat perhatian perempuan lain.
Membaca pesan itu, Rihana pun langsung tancap gas.
“Iya Mas ini on the way.” balas Rihana dibalik kemudi mobilnya.
Dalam hitungan tiga puluh menit, Rihana sampai di parkiran Kafe Kaisar, tempat yang disebutkan Cahyo kemarin lewat chat.
Debar jantung Rihana mulai tak karuan. Antara bahagia dan tak percaya diri, saat dia melangkah menemui Cahyo.
“Saya di meja paling belakang, nomor 39.” kata Cahyo memberitahu Rihana, yang sudah dilihatnya sampai ke Kafe Kaisar.
“Oke.” dengan debar jantung yang bergemuruh, Rihana mencoba tenang, saat menuju ke meja 39 yang disebutkan Cahyo.
“Silakan duduk, Nyonya Cahyo,” sapa Cahyo, dan Rihana pun tersenyum manis, saat menjabat tangan Cahyo.
“Maaf,” kata Rihana.
“Iya nggak apa, saya tahu nyonya Cahyo sibuk ya?!” katanya pelan.
“Jujur, saya sudah lama mengenal kamu,” sebut Cahyo yang to the point.
“Hah seriusan?!” Rihana heran.
Tapi, sebelum keduanya melanjutkan perbincangan, seorang pelayan kafe datang menyodorkan buku menu makanan dan minuman, ke hadapan Rihana.
“Pesan apa…..Mas Cahyo?!” tanya Rihana hati-hati.
“Saya pesan kopi cappuchino,” jawab Cahyo.
Rihana pun ikutan pesan minuman yang sama.
“Makannya, makan apa Nyonya?!” Cahyo menatap Rihana penuh mesra.
Cahyo menunjukkan sikap yang romantis dan mesra. Bahkan, bisa dibilang, cara bicara Cahyo di depan Rihana, bukan seperti pasangan baru kenal. Tapi, seperti pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara.
“Makannya skip dulu ya. Masih kenyang,” kata Rihana, yang sok-sok berlagak diet di depan Cahyo.
“Oke sementara itu dulu ya Mas,” kata Cahyo pada pelayan laki-laki muda itu. Akhirnya, perhatian Cahyo kembali fokus pada Rihana.
“Hana. Boleh nggak aku panggil kamu Hana?!” untuk pertama kali, Rihana merasa tersanjung, dengan panggilan yang terdengar berbeda itu.
“Oh nggak masalah Mas.” jawab Rihana yang masih deg-degan saat berkomunikasi dengan Cahyo.
“Ri. Coba biasa aja kamu. Jangan kamu perlihatkan kalau kamu cinta mati sama laki-laki di hadapan kamu ini.” itu bisikan hati Rihana. Mengingatkan Rihana agar berusaha tenang di hadapan Cahyo.
“Kenapa tegang begitu?” protes Cahyo, saat mengamati Rihana.
“Takut ya sama orang PLN?!” Cahyo melempar senyum termanisnya ke Rihana.
“Eh nggak juga sih.” Rihana salah tingkah.
“Jadi, apa dong kalau begitu. Kalau nggak takut, kenapa kelihatan tegang begitu. Kayak tegangan listrik?!” Cahyo melepas tawa kecil.
“Nggak Mas. Aku biasa saja,” kilah Rihana yang berusaha menyembunyikan ketegangannya di depan Cahyo.
“Hana. Boleh nggak aku dekat sama kamu. Jujur aku sudah lama tahu kamu.” kata Cahyo, yang to the point lagi.
Dia melanjutkan mengungkapkan isi hatinya yang sempat tertunda saat pelayan kafe itu datang.
Rihana hanya mengangguk. Tanda permintaan Cahyo disetujui.
“Aku sangat berterimakasih sama Fitriani. Dia kawan aku dari SMA. Terus dia cerita kalau kamu sedang proses cerai dengan suami kamu. Makanya aku berani dekati kamu,” ucap Cahyo lagi terus terang.
*Deg!
Ternyata selama ini Cahyo mengamati Rihana. Dia tahu kehidupan luar dalam Rihana.
“Oh iya kalau aku, jujur aku sudah menduda sejak tiga tahun ini.” cerita Cahyo tanpa malu-malu.
Dalam hati, Rihana bersorak.
“Yess!”
“Boleh nggak Hana, aku dekat sama kamu. Kamu belum menjawab sepatah katapun.” Cahyo masih memandangi lekat-lekat, wajah ayu Rihana yang terlihat begitu meneduhkan jiwa orang yang memandangnya.
Rihana kembali menganggukkan kepala. Tapi, lagi-lagi Cahyo masih belum puas. Dia ingin kepastian dengan kata-kata atau balasan pasti dari Rihana. Disetujui atau nggak, permintaan Cahyo.
“Kumohon Hana. Aku sudah lama mengamati kamu. Aku tahu cerita hidup kamu, dari Fitriani.” Cahyo kembali mendesak Rihana.
“Aku mau hidup sama kamu sampai tua nanti,” pengakuan Cahyo kembali membuat Rihana merasa berada di awan. Tersanjung sampai ke langit ke tujuh.
Satu lagi yang mengejutkan Rihana.
Cahyo tahu kalau Rihana juga cinta mati sama dirinya.
“Kamu perempuan tepat yang selama ini aku cari. Kata Fitriani kamu juga sayang sama aku. Aku itu sempat mikir. Kok bisa ada perempuan yang belum kenal seratus persen sama aku, kok bisa jatuh cinta atau cinta mati sama aku. Bagi aku, itu perempuan hebat yang selama ini aku cari.” kata Cahyo panjang lebar.
Pengakuan-pengakuan Cahyo, buat Rihana terperangah dan nggak bisa berkata-kata lagi, selain hanya menerima semua kenyataan yang ada.
“Maaf ya Hana kalau aku terlalu jujur mengungkapkan. perasaan aku. Kemarin aku cari waktu, kapan ya waktu yang tepat buat mengungkapkan semuanya,” tambah Cahyo.
Rihana lebih banyak diam, karena dia merasa tersanjung dengan pengakuan-pengakuan Cahyo.
Rihana merasa dirinya dibutuhkan laki-laki itu.
Di sisi lain, kalau boleh jujur, Rihana juga sebenarnya ingin meluapkan semua isi hatinya tentang Cahyo.
“Jangan terlalu cepat Ri, kamu harus jaga image dulu. Nanti kamu dikira perempuan gampangan. Lagian baru ketemuan juga hari ini.” gumam Rihana, dalam hati.
“Jangan kecewakan aku ya Hana..Mulai sekarang kita jalan berdampingan ya. Tunggu waktu yang tepat aku akan menjadikan kamu ratu satu-satunya di hidup aku.” pernyataan Cahyo buat debar jantung Rihana semakin tak karuan.
Bagi Rihana, pertemuan dan semua pengakuan-pengakuan Cahyo di depannya itu, seperti mimpi di siang bolong.
“Hana. Janji….ya. Kamu akan jadi teman aku sehidup semati.” desak Cahyo lagi.
“Jangan anggap aku laki-laki penggoda ya. Memang, selama ini aku ingin banget dekat sama kamu, dan menjadikan kamu satu-satunya di hati aku.
Rihana benar-benar tak punya pilihan, selain mengiyakan apa yang dikatakan Cahyo. Karena, selama ini memang dia berharap bisa mendapatkan hati Cahyo.
“Kini, semesta mulai mencoba mendekatkan kamu ke aku.” Cahyo berlagak mendadak puitis.Rihana yang melihat itu, hanya senyum-senyum.(*)













