SINOPSIS ISTRI PAJANGAN: Terjebak di Sangkar Emas

105

Karya: Baiq Desi Rindrawati
Wartawan Senior Posmetro Batam

Pembaca, mulai hari ini kami akan menerbitkan novel karya wartawati Posmetro Batam, Baiq Desi R, berjudul Istri Pajangan secara bersambung hanya di http://posmetrobatam.co. Ikuti terus kisahnya.

Awalnya, Rihana Sondak bangga menjadi Nyonya Bagas Dirgantara. Ia dikenal sebagai istri sultan, pengusaha tambang kaya raya di kotanya.
Siapa sangka, pernikahan 10 tahun itu hancur karena kelakuan Bagas yang suka main perempuan, mabuk-mabukan, dan memakai narkoba. Padahal saat itu Bagas sedang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.

Menurut Rihana, Bagas tidak pantas melenggang ke gedung DPR. Tapi bagi Rihana, itu bukan soal utama. Di kepalanya hanya ada satu keinginan: bercerai dari Bagas.

Meski Rihana berhasil melepaskan diri dari Bagas dan keluarganya, Bagas tetap mengusik ketenangannya.
Apalagi ketika Bagas tahu ada Cahyo Ningrat, pria lain yang mendekati Rihana. Bagas pun mencari cara untuk menyakiti Cahyo.

Berhasilkah Rihana menghadapi semua rintangan itu?
Ikuti kisahnya hanya di Istri Pajangan.


BAB 1: MINTA CERAI

โ€œTolong lepaskan aku. Kita berpisah baik-baik,โ€ pinta Rihana sambil berlinang air mata.
Entah sudah berapa kali ia meminta hal yang sama. Tapi Bagas, suaminya, tak pernah menggubris.

โ€œMacam betul saja kamu mau minta cerai. Memangnya kamu bisa hidup tanpa aku?โ€
Kalimat itu selalu meluncur dari mulut Bagas setiap kali Rihana meminta berpisah.

Rihana tidak peduli bisa hidup atau tidak tanpa Bagas. Yang terpenting baginya adalah bercerai.
Ia ingin pergi jauh. Mencari kehidupan baru yang lebih tenang.

Tanpa menunggu jawaban, Bagas berlalu begitu saja. Padahal pembicaraan belum selesai.

**_

โ€œKenapa, Ma?โ€
Gilang, anak lelakinya yang masih SMP, sering mendapati Rihana menangis tersedu-sedu.

BACA JUGA:  Jennie BLACKPINK Terciduk Hisap Vape di Dalam Ruangan, Menyesal dan Minta Maaf

โ€œPasti gara-gara Papa,โ€ tebak Gilang to the point.

Rihana buru-buru menghapus air matanya agar Gilang tidak mendesaknya.

โ€œMaโ€ฆ besok terima raport. Mama yang ambil ya,โ€ pinta Gilang sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.

โ€œOh iya, besok terima raport. Untung kamu bilang. Kalau tidak, Mama lupa,โ€ jawab Rihana, pura-pura biasa saja. Padahal baru saja ia menangis karena Bagas menolak melepaskannya.

Sudah hampir 15 tahun Rihana menjadi istri Bagas. Seribu suka duka mewarnai hidupnya.
Semua kebutuhan memang dipenuhi Bagas. Bisnis tambang batubaranya bahkan tidak akan habis untuk tujuh keturunan.

Tapi Rihana belum menemukan kebahagiaan yang ia cari.
Bagas tidak pernah peduli perasaannya. Ia sibuk dengan dunianya sendiri. Pesta bersama teman-teman, mabuk-mabukan, dan memakai narkoba.

Aksinya tak pernah tersentuh hukum. Polisi mana yang tidak kenal Bagas? Semua mengenalnya sebagai pengusaha tambang kaya raya. Tidak ada yang berani mengusik karena Bagas sangat royal kepada aparat.

โ€œMa, besok jangan telat ya ambil raportnya,โ€ ujar Gilang lalu berlalu.

โ€œIya. Besok antar Mama ya, Gilang,โ€ pinta Rihana.
โ€œKalau begitu Gilang yang bawa mobilnya,โ€ sahut Gilang senang. Belakangan ia memang rajin belajar menyetir.

โ€œHmmmโ€ฆ anak Mama ini memang baik. Kalau begitu Mama duduk manis ya. Gilang jadi sopirnya!โ€
Rihana mencoba tertawa. Tapi hatinya tetap perih. Tidak ada lagi tawa bahagia yang benar-benar menenangkan.

*

โ€œSudahlah, Rihana. Tidak usah bertengkar dengan Bagas. Apa yang kamu butuhkan tinggal bilang. Kurang apa lagi, Rihana?โ€
Pak Broto, mertuanya, sangat menyayangi Rihana. Ia tahu Rihana adalah menantu yang baik dan tidak banyak menuntut.

Rihana hanya tertunduk tak berdaya.
โ€œIya, Ayah. Rihana mengerti. Tapi Bagas selalu membuat Rihana sedih. Dia tidak peduli sama Rihana,โ€ ucap Rihana dengan pilu.

BACA JUGA:  Boygrup THE BOYZ Dikonfirmasi Akan Comeback Bulan Depan!

Sudah 10 tahun terakhir Bagas selalu pergi bersama teman-temannya. Menghabiskan waktu dan uang untuk hura-hura.
Memang, semua kebutuhan Rihana dan kedua anak lelakinya selalu dipenuhi. Tapi Rihana tetap tidak bahagia.
Ia merasa hidup dalam sangkar emas. Mau jungkir balik seperti apa pun, Bagas tidak peduli.

โ€œIni, pakai saja ATM Ayah. Isinya Rp1 miliar. Terserah kamu mau pakai untuk apa. Ayah tidak ikut campur. ATM ini jadi milikmu sekarang,โ€ ujar Broto sambil menyerahkan ATM miliknya kepada Rihana.

Rihana tidak menolak. Tapi batinnya tetap bergejolak. Ia hanya ingin Bagas memperhatikannya. Ingin dianggap sebagai istri yang berharga. Kenyataannya, ia hanya jadi istri pajangan.
Tidak pernah dipedulikan. Bahkan untuk urusan ranjang pun ia tidak pernah disentuh.

Broto mencoba menenangkan. Ia menatap mata Rihana dalam-dalam.
โ€œLihat Ayah. Ayah sayang sama kalian. Kamu menantu Ayah yang baik hati. Gilang dan Riko, cucu Ayah yang paling Ayah sayang. Kalian orang-orang berharga bagi Ayah. Jangan pernah berpikir pergi dari keluarga ini. Allah akan memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang sabar.โ€

Nasihat itu membuat Rihana sedikit tenang. Tapi setiap detik ia tetap ingin Bagas segera melepaskannya.

โ€œBagaimana ya Allah caranya aku melepaskan diri dari keluarga ini,โ€ gumam Rihana dalam hati.

โ€œSudah. Jangan mikir macam-macam. Mau pisah atau cerai, kasihan anak-anak nanti jadi apa kalau orang tuanya berpisah,โ€ tegas Broto, lagi-lagi berusaha mencegah perpisahan Bagas dan Rihana.

Rihana kembali tertunduk. Air matanya jatuh membasahi pipi.
Broto menghapus air mata itu dan mencium ubun-ubun Rihana, tanda sayangnya pada menantu yang sabar dan tidak banyak menuntut itu.
Rihana semakin terisak. Entah yang ke berapa kalinya ia menangis di depan mertuanya.

BACA JUGA:  Pengacara Sebut Tueuku Ryan Terima Transferan Dana Rp 500 Juts dari Ria Ricis, Tapi Bukan Numpang Hidup

*

Di kamar tidur, berdua dengan Bagas. Bukan untuk bercinta layaknya suami istri. Bagas justru menginterogasi Rihana soal ATM berisi Rp1 miliar itu.

โ€œKamu peras Ayah aku ya, sampai dia mau kasih ATM saldo Rp1 miliar ke kamu,โ€ tuduh Bagas to the point.

Rihana tidak ingin berdebat. Ia pura-pura tertidur di ranjang.

โ€œHei! Kamu tuli ya!โ€ bentak Bagas kasar.
โ€œMana ATM itu!โ€ desaknya.

Dalam diam, Rihana meneteskan air mata.
โ€œYa Allah, sampai kapan aku diperlakukan kasar seperti ini. Di satu sisi dia tidak mau menceraikanku!โ€ batin Rihana.

โ€œMana ATM itu!โ€ desak Bagas lagi. Rihana tetap diam.

Karena tidak mendapat jawaban, Bagas menarik tangan Rihana dan memaksanya bangun.
Tangis Rihana makin pecah.

โ€œMana ATM Ayah aku!โ€ bentak Bagas lebih keras.
Rihana bangkit dan mengambil ATM dari dompetnya.

โ€œBerapa nomor PIN-nya?!โ€ tanya Bagas tak sabar.
Rihana tetap bungkam. Ia sendiri tidak tahu PIN ATM dari mertuanya itu.

โ€œHei! Kamu tuli ya! Berapa nomor PIN-nya?!โ€
Rihana hanya mengangkat bahu.

โ€œKamu memang istri tidak berguna!โ€ maki Bagas.
โ€œLepaskan aku kalau begitu!โ€ tiba-tiba Rihana bersuara.

โ€œGila kamu ya! Kamu tidak mau melepaskanku, tapi seenaknya sama aku! Mau kamu apa sebenarnya, Bagas!โ€ gantian Rihana yang meninggikan suara.

โ€œHei istri tidak berguna! Bisa diam tidak!โ€ bentak Bagas.
Rihana berusaha melepaskan genggaman Bagas. Tapi semakin ia melawan, semakin erat genggaman itu selama PIN belum diberikan.

โ€œBagas! Lepaskan tangan aku! Sakit tahu!โ€ teriak Rihana.

Untung saat โ€œperang dunia ketujuhโ€ itu, di rumah tidak ada siapa-siapa selain mereka.
Mertuanya sedang keluar kota. Gilang dan Riko masih di sekolah. (*)